Pentingnya Tata Kelola Data Dan Informasi Kebencanaan

26 Desember menjadi momen berharga bagi kita untuk mengingat kembali peristiwa bencana tsunami yang melanda di Aceh. Bencana tsunami yang terjadi pada minggu pagi ini berasal dari sebuah gempa dahsyat berkekuata 9.3 skala richter yang berasal dari laut lepas Samudra Hindia. Bencana alam ini tidak hanya merobek dan menghancurkan pembangunan infrastruktur saja. Tapi juga berdampak besar bagi psikologi kehidupan masyarakat Aceh saat ini. Duka bencana alam ini pun menjadi momen ingatan bersama bagi Indonesia dan warga dunia.

Bentang alam Indonesia memang tak bisa lepas dari kebencanaan. Jajaran gunung berapi aktif, patahan lempeng bumi, serta potensi gempa dan tsunami menjadi bagian yang tidak terpisah dari wilayah kepulauan ini. Untuk itu, peristiwa bencana tsunami dan gempa yang terjadi pada 20 tahun lalu di Aceh, menjadi refleksi penting saat ini dan di masa depan.

Masyarakat Aceh mengenang narasi besar peristiwa gempa dan tsunami Aceh melalui banyak cara. Pembangunan monumen, museum, pendekatan budaya dan agama menjadi jalan sosial pemulihan pascabencana. Memori kolektif ini masih bisa kita temukan pada tempat, benda, peristiwa, dan cerita-cerita di masyarakat. Peristiwa ini menjadi ruang koletif bersama bagi penyintas untuk mengingat, melupakan, sekaligus meningkatkan kesadaran kesiapsiagaan bencana di masa depan.

Bencana alam memang bukan hanya terjadi di Aceh saja. Dalam periode momen ini juga bencana terjadi di wilayah lainnya. Tsunami Pangandaran, gempa di Bantul dan Yogyakarta, meletusnya Gunung Merapi, gempa di Padang dan Mentawai, erupsi Gunung Sinabung, tsunami dan gempa di Palu, gempa Cianjur, hingga peristiwa meletusnya Gunung Lewotobi di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur.

Berbagai peristiwa bencana alam besar ini menjadi fakta bahwa kita hidup dan menjadi bagian dari risiko rawan bencana. Dimensi kebencanaan juga semakin kritis dan diperparah akibat perubahan iklim dan perilaku pembangunan yang massif di berbagai daerah di Indonesia.

Mendirikan memori kebencanaan melalui pendekatan infrastruktur tentu saja tidak cukup sebagai bagian dari membangun kesadaran mitigasi kebencanaan. Terlebih pembangunan ini tidak melibatkan kesadaran kolektif para penyintasnya. Mitigasi kebencanaan juga tidak hanya selesai dengan urusan pembentukan badan kebencanaan hingga ke level desa. Tapi juga merancang, mengolah, dan menjadikan seluruh data dan informasi sebagai kunci penting dalam membangun ekosistem mitigasi kebencanaan. Ibaratnya, data dan informasi ini seharusnya menjadi jantung utama mitigasi kebencanaan.

Combine Resource Institution (CRI) sebagai organisasi sipil di Indonesia mencatat peranan penting tata kelola data dan informasi kebencanaan ini. Keterlibatan CRI khususnya pada pembelajaran peristiwa gempa dan tsunami di Aceh, bencana gempa dan meletusnya Gunung Merapi, dan Gunung Sinabung. Tiga peristiwa besar ini menjadi pembelajaran berharga bagi CRI dalam memetakan penanganan kebencanaan ke depan. Khususnya, bagaimana mengelola penangangan kebencanaan yang melibatkan banyak aktor, komunitas, lembaga sipil, private, dan lembaga pemerintah secara efektif.

CRI berpandangan bahwa keputusan yang tepat bersumber dari ketersediaan data dan informasi yang akurat yang terkelola dengan baik. Mulai dari pengumpulan data di lapangan, pengamatan, penelitian, kebijakan, hingga data-data sektoral lainnya. Berbagai sumber data dan informasi ini harus selalu dikelola secara berkala, aktif, agar bisa menjadi rujukan penting dalam menyusun kebijakan strategis penanganan bencana. Termasuk di dalamnya untuk menyusun peta kebencanaan hingga ke level desa.

Peranan BPBD selaku pemangku kebencanaan daerah memang menjadi ujung tombak dalam penanganan bencana secara formal dalam mengelola data dan informasi ini. Tentu saja dukungan lintas sektoral pemerintahan perlu memperkuat peranan BPBD lebih jauh agar lebih maksimal dan menjadikan tata kelola data dan informasi ini menjadi bagian inti dari kelembagaan BPBD. Peran BPBD bukan hanya menjadi komandan saat penanganan bencana saja. Tapi juga melingkupi peran yang lebih strategis dan vital.

Data dan informasi ini penting sebagai rujukan utama bagi pemerintah untuk menyusun kebijakan yang akurat, tepat, dan strategis. Termasuk mendorong dan menyediakan ruang kolaborasi bagi lembaga non pemerintah untuk terlibat lebih jauh. Baik keterlibatan dari komunitas, organisasi sipil, hingga publik lebih luas. Peta data dan informasi ini menjadi syarat penting dalam membangun ekosistem mitigasi kebencanaan dalam pembangunan yang lebih holistik.

Hingga saat ini CRI berperan dan menekankan pentingnya Sistem Informasi Desa (SID) di berbagai wilayah kabupaten di Indonesia. Khususnya di Kabupaten Gunungkidul, Sleman, dan Buleleng, di Bali Utara. SID tidak hanya sekedar berperan dalam mengolah data di desa tapi juga mencakup isu kebencanaan. Data kebencanaan desa ini menjadi model sekaligus penyedia informasi penting dalam memotret peta kebencanaan lebih luas lagi. Pemodelan ini bisa dikembangkan lebih jauh melalui SIKK atau Informasi Kebencanaan Kabupaten yang lebih terintegrasi melalui aplikasi berbasis internet yang ramah bagi siapapun.

Pengalaman di lapangan, pembelajaran penanganan saat terjadi bencana, komunikasi lintas lembaga, hingga inovasi teknologi tepat guna dan fungsional menjadi model dalam mengembangkan gagasan yang lebih kolaboratif dan terbuka. Aspek lain yang tak kalah penting, adalah memaksimalkan peranan komunikasi sebagai media sekaligus teknologi dalam menyediakan data dan informasi kebencanaan sesuai kultur warga setempat.

Praktik dan pembelajaran penanganan kebencanaan ini pun pernah menjadi rujukan bagi komunitas Meister Toya-Usu Geopark di lereng Gunung Usu dan pemerintahan daerah di Hokkaido, Jepang pada 2015. Tiga perwakilan radio komunitas Jalin Merapi yang berada di lereng Gunung merapi berkesempatan untuk berbagi pengalaman mitigasi kebencanaan melalui pengelolaan radio komunitas.

“Saya pernah ke Indonesia dan belajar dari Indonesia tentang pengurangan resiko bencana, gunung api dan tentang pemetaan kawasan rawan bencana. Apa yang saya pelajari saya terapkan di Jepang dengan membuat sistem pembelajaran dan penyadaran mitigasi bencana. Sistem itu berjalan dengan baik sekali di sini. Indonesia memang sangat maju dan berpengalaman dalam pengelolaan kebencanaan,” jelas Okada, senior Komunitas Meister Toya-usu Geopark menjelaskan.

Gunung Usu pernah erupsi pada tahun 2000 dan mengakibatkan kampung di sekitar gunung rusak dan mengakibatkan tiga orang warganya meninggal dunia. Erupsi Gunung Usu menjadi pembelajaran bagi warga desanya untuk melakukan tindakan mitigasi kebencanaan secara mandiri di tingkat lokal.

Radio komunitas di Indonesia memang masih eksis dan menjadi media penyebar informasi yang efektif bagi satu wilayah. Sekalipun tantangan saat ini menghadapi persoalan sumber daya, persyaratan penyiaran, dan digital. Namun, peranan radio komunitas masih relevan dan tidak bisa tergantikan dengan perkembangan teknologi digital sekalipun. Hingga saat ini, bagi warga Gunung Usu, radio komunitas masih melayani untuk menyediakan hiburan, sarana edukasi, dan informasi kebencanaan.

Jepang tentu saja serius dan disiplin dalam melaksanakan upaya mitigasi kebencanaan di tingkat nasional hingga ke daerah. Mereka menyadari geografi wilayah Jepang tidak bisa lepas dari risiko kebencanaan. Untuk itu, ketersediaan data dan informasi yang akurat, tepat, dan efisien, menjadi bagian penting dalam pembangunan dan budaya keseharian mereka. Pengalaman efektifitas data dan informasi inilah yang menyelamatkan ribuan nyawa mereka ketika terjadi tsunami pada tahun 2011 silam.

Warga Jepang menjadi manusia pembelajar dan menyerap berbagai pengalaman penting dari berbagai negara lain. Termasuk penanganan kebencanaan yang melibatkan inisiasi komunitas di Gunung Merapi melalui Jalin Merapi. Praktik-praktik baik inisiasi komunitas ini sangat berharga untuk kembali dipelajari dan disesuaikan dengan perkembangan saat ini.

Sumber daya, teknologi, komunikasi, dan pengetahuan tentu saja mengalami perubahan besar dibandingkan dua puluh tahun lalu saat terjadi tsunami dan gempa di Aceh. Mitigasi kebencanaan yang kolaboratif, dukungan inisiasi komunitas dan organisasi sipil, hingga membangun tata kelola data dan informasi yang utuh, menjadi agenda utama dalam membangun mitigasi kebencanaan hingga ke level desa.

Agenda di tahun 2025, CRI bersama Pujiono Center juga bergerak untuk memitigasi kebencanaan di wilayah pesisir Jawa Selatan. Mulai dari Tasikmalaya hingga ke Trenggalek dengan fokus pendampingan pada komunitas sekolah melalui pengembangan akses penguatan internet. Jawa Selatan juga masuk dalam peta rawan bencana tinggi. Program ini dirancang untuk merespon ancaman potensi gempa megathrust yang dilansir oleh BMKG.

Mitigasi kebencanaan adalah upaya tanpa lelah untuk membaca alam dan merespon tindakan manusianya dengan tepat. Data dan informasi membantu kita memandu kehidupan lebih baik.

Di penghujung akhir tahun 2024 ini juga menjadi momen untuk membaca kembali linimasa kebencanaan di Indonesia. Sejauhmana kita sudah tepat dan benar dalam melihat penanganan kebencanaan ini. Tidak hanya menyikapi bencana yang disebabkan oleh alam saja. Melainkan oleh perilaku manusianya sendiri yang cenderung desktruktif dan eksploitatif.

Refleksi Evaluasi CRI 2024: Memperkuat Pilar Kelembagaan

Dua dekade perjalanan bagi Combine Resource Institution atau CRI melibatkan diri dalam kerja-kerja penguatan sipil melalui tata kelola pengetahuan. Combine lahir pascareformasi dan mulai mengembangkan ragam inovasi teknologi tepat guna, seperti radio komunitas, produksi konten lokal, respon informasi kebencanaan, pengembangan sistem informasi desa, hingga keamanan dan perlindungan data.

Berbagai inovasi sosial, teknologi, maupun pendampingan bersama warga ini, menjadi mercusuar bagi lembaga untuk terus tumbuh, berdampak, dan memberi makna. Tentu saja perjalanan panjang ini tidak mudah dan telah melewati banyak cerita. Berbagai pengalaman pendampingan, pengembangan inovasi, komunikasi kelembagaan, penguatan jejaring, hingga peningkatan kapasitas sumber daya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari tumbuh kembang sebuah kelembagaan.

Pengalaman inilah yang menjadi pembelajaran berharga sekaligus pendewasaan bagi organisasi Combine untuk berkontribusi nyata bagi masyarakat. Ibaratnya, seperti sebuah pohon. Ia harus tumbuh menjulang tinggi, mengakar, dan tak henti memberi manfaat bagi siapapun.

Di penghujung akhir tahun 2024 ini, refleksi berharga bagi organisasi CRI untuk membaca berbagai aktivitas program, cara kerja, dan langkah strategis lainnya di sepanjang tahun ini. Terlebih kerja-kerja organisasi sipil saat ini perlu adaptasi, responsif, mandiri, serta rendah hati untuk tetap mengakar dan terus menjaga pilar idealisme.

Seluruh keluarga besar CRI, mulai dari pengurus CRI saat ini, Pembina, Pengawas, dan Pengurus Yayasan Lembaga Sumber Daya Kombinasi Indonesia berkumpul di Ruang Media Combine pada tanggal 16 – 22 Desember 2024. Tujuannya pertemuan ini untuk mengevaluasi seluruh kegiatan program, perencanaan kerja ke depan, serta pembenahan sumber daya manusia organisasi.

Tak hanya itu. Bagi kami, pertemuan ini pun sangat istimewa karena ada kesempatan berharga untuk saling mengenal diri lebih akrab sebagai bagian dari keluarga besar CRI.

Perubahan Organ Yayasan CRI 2024

Saat ini, Pembina Yayasan Lembaga Sumber Daya Kombinasi Indonesia (CRI) telah mengambil keputusan mengenai Perubahan Organ Yayasan sebagai bentuk pengembangan kelembagaan terkait organisasi pengurus ke depan. Keputusan yayasan yang diterbitkan melalui berkas Nomor 02/CRI/Board/XI/2024 ini menghasilkan beberapa poin perubahan:

Pertama, Yayasan menyetujui pengunduran diri saudara Akhmad Nasir sebagai Sekretaris Yayasan.

Kedua, mengangkat Mulya Amri sebagai Ketua dan Anggota Dewan Pembina baru bersama Dodo Juliman Widianto, Shita Laksmi, Ayu Diasti Rahmawati sebagai Anggota Dewan Pembina.

Ketiga, mengangkat Agustiawan Syahputra sebagai Ketua Dewan Pengawas Yayasan bersama Bahruddin dan Wasingatu Zakiyah sebagai Anggota Dewan Pengawas Yayasan.

Keempat, mengangkat Ranggoaini Jahja sebagai Ketua Pengurus bersama Ade Tanesia sebagai Sekretaris, dan Budhi Hermanto sebagai Bendahara.

Perubahan struktur organisasi pengurus ini diharapkan akan memberikan dampak positif bagi organisasi CRI dalam memperkuat visi misi serta nilai CRI ke depannya.

Tak hanya perubahan pada organ Yayasan CRI saja. Pengurus CRI juga menyepakati untuk meneruskan kepemimpinan dari Elanto Wijoyono sebagai direktur kepada Ferdhi Putra sebagai Direktur Ad Interim mulai 1 Januari 2025. Pekerjaan manajerial organisasi dan komunikasi kelembagaan akan dipimpin oleh langsung Ferdhi Putra selama enam bulan ke depan di tahun 2025.

selain itu, pengurus juga menunjuk Gerardus Krisna Satya membantu Direktur ad interim sebagai pelaksana fungsi External Affairs lembaga, khususnya pada mitra atau jaringan kerja dari instansi pemerintahan.

Ke depan, CRI akan mendorong program Sistem Informasi Desa (SID) Berdaya dan Sistem Informasi Kabupaten (SIKAB) agar bisa termanfaatkan bagi kawasan lainnya di Indonesia. Tak hanya bagi desa saat ini yang berada di wilayah Kabupaten Gunungkidul, Kabupaten Sleman, Kabupaten Bantul, maupun Kabupaten Buleleng di Bali.

Pembenahan lain ada di Koordinator TIK CRI yang kini diampu oleh Wahyu Widodo untuk mengelola jaringan internet dan pengembangan inovasi digital dan Unit Program Komunikasi dan dipimpin oleh Ahmad Yunus selaku manager unit program. Unit Program Komunikasi CRI akan mendistribusikan seluruh konten program maupun non program secara informatif dan berkualitas. Tapi juga mengemas dampak dan manfaat program Sistem Informasi Desa (SID) Berdaya dan SIKAB, isu perlindungan data pribadi, keamanan data organisasi sipil, maupun mitigasi kebencanaan yang akan berlangsung di wilayah pesisir selatan Jawa secara lebih segar untuk menyasar kalangan anak muda.

Ke depan, CRI juga bermimpi agar lembaga ini tumbuh menjadi organisasi yang lebih mandiri melalui pengembangan bisnis pengelolaan penginapan Griya Jagadhaya dan kelas pelatihan.

Tunggu kabar baik selanjutnya dari kami. Selamat tinggal tahun 2024 dan selamat datang 2025. Tetap berkarya dan berdaya.

Kunjungan Tim ISOC: Dukung Penguatan Kualitas Jaringan Internet Serta Keamanan Internet Sekolah Di Wilayah Rawan Bencana Pesisir Selatan Jawa

Tim ISOC atau Internet Society Foundation melakukan kunjungan ke SD Negeri Giri Purwo, Gunung Kidul, pada hari Kamis, 21 November 2024, untuk melihat langsung persiapan program SCILLS (Strengthening Communities, Improving Lives and Livelihoods) yang akan berlangsung di Indonesia pada tahun 2025 – 2026 mendatang. Kegiatan program ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas jaringan internet sekolah serta keamanan internet bagi guru, orangtua, dan murid di wilayah rawan bencana pesisir Jawa.

SD Negeri Giri Purwo adalah salah satu sekolah yang akan mendapatkan manfaat dari program literasi digital dan mitigasi kebencanaan yang dikelola oleh Combine Resource Institution (CRI) bersama Pujiono Center di 8 kabupaten. Program ini melibatkan peranan guru, siswa, dan orangtua untuk mampu memanfaatkan teknologi internet yang lebih baik dan bermanfaat. Khususnya di area sekolah rawan bencana di wilayah pesisir selatan Jawa. Mulai dari Tasikmalaya, Pangandaran, Cilacap, Kebumen, Kulonprogo, Gunung Kidul, Pacitan, dan Trenggalek.

Kedatangan Guilherme Rocca sebagai Associate Program Officer, Fatima Zahra sebagai Monitoring, Evaluation, and Learning Specialist, dan Jenn Beard sebagai Senior Program Officer disambut hangat oleh siswa, guru, dan komite sekolah SDN Giri Purwo.

“Internet di sekolah itu sangat penting bagi pendidikan. Sekolah bisa memanfaatkan internet secara positif bagi siswa, guru, orangtua, maupun pemerintah,” ujar Jenn Beard, Senior Program Officer ISOC saat memberi sambutannya.

Hadir di acara kunjungan ini, Direktur CRI Elanto Wijoyono, Direktur Pujiono Center Anggoro Budi, perwakilan dari Kominfo Gunung Kidul, BPBD Gunung Kidul, Dinas Pendidikan Gunung Kidul, serta pihak komite sekolah.

“Nanti akan muncul pembelajaran yang berbeda dari tiap simpul dan bisa dipelajari satu sama lainnya,” ujar Elanto Wijoyo, Direktur CRI menjelaskan bahwa program ini akan berlangsung di 36 sekolah, dengan penerima manfaat sebanyak 108 guru, 720 siswa, dan 360 orang tua.

Komite sekolah, kepala sekolah, maupun pengajar SD Negeri Giri Purwo menyatakan bahwa mereka menyambut baik program peningkatan kualitas dan internet yang aman bagi sekolah. Khususnya terkait pembelajaran internet yang sehat dan mitigasi bencana. Program SCILLS diharapkan turut membantu peningkatan kualitas internet sekolah yang dirasakan masih terbatas.

ISOC telah bekerja di enam negara, seperti Bangladesh, Brazil, Colombia, Ghana, Senegal, dan Indonesia.

Tingkatkan Literasi Digital Dan Mitigasi Kebencanaan Bagi Komunitas Sekolah Dasar Di Pesisir Jawa Selatan

  • Internet Society Foundation (ISOC) telah bekerja di enam negara untuk mempromosikan kesempatan pendidikan dan ekonomi melalui peningkatan pengetahuan dan keterampilan internet melalui program SCILLS di 6 negara termasuk Indonesia.
  • Program ini bertujuan untuk memberikan kontribusi bagi ekonomi yang lebih inklusif dan meningkatkan kesempatan pendidikan bagi setiap individu maupun komunitas agar lebih lebih terampil dan mampu menggunakan teknologi internet.
  • Pelaksanaan di Indonesia akan berlangsung di Kabupaten Trenggalek, Pacitan, Gunungkidul, Kulonprogo, Kebumen, Cilacap, Pangandaran, dan Tasikmalaya dengan fokus pendidikan literasi digital dan mitigasi kebencanaan di 36 Sekolah Dasar, dengan penerima manfaat kepada 108 guru, 720 siswa, dan 360 orang tua.

Combine Resource Institution atau CRI melaksanakan program Peningkatan Jaringan Internet Sekolah & Keamanan Pelatihan Internet Bagi Guru, Orangtua, dan Murid di Wilayah Rawan Bencana Pesisir Jawa selama dua tahun ke depan. Program ini didukung oleh Internet Society Foundation yang telah bekerja di enam negara untuk mempromosikan kesempatan pendidikan dan ekonomi melalui peningkatan pengetahuan dan keterampilan teknologi internet.

Melalui program SCILLS (Strengthening Communities, Improving Lives and Livelihoods), program ini telah melibatkan berbagai komunitas di Bangladesh, Brazil, Colombia, Ghana, Senegal dan Indonesia. Dengan fokus pendampingan pendidikan literasi digital bagi perempuan, anak muda, guru, orangtua, maupun kelompok marjinal untuk mendapatkan dukungan pengajaran dan pendidikan melalui teknologi informasi dan komunikasi di kelas yang lebih inkusif.

“Melalui pelatihan literasi digital yang lebih adaptif, praktik keamanan internet, dan kerjasama melalui pengembangan ekonomi berbasis komunitas, projek ini membantu setiap individu meningkatkan keterampilan dalam ekonomi digital saat ini,” ujar Jenn Beard, Senior Program Internet Society Foundation dalam situs www.isocfoundation.org.

Di tahun 2023, program ini telah berhasil mendampingi 9.250 siswa melalui berbagai pelatihan keterampilan dan pendidikan digital. Termasuk memberikan pelatihan internet bagi 6.612 anak muda untuk mendapatkan kesempatan ekonomi yang lebih baik.

Bantuan dana program SCILLS bertujuan untuk memberikan kontribusi bagi ekonomi yang lebih inklusif dan meningkatkan kesempatan pendidikan bagi setiap individu maupun komunitas agar lebih lebih terampil dan mampu menggunakan internet. Ke depan, program ini juga akan menjadi kunci dalam mendukung proses transformasi digital.

Pendidikan Literasi Digital Dan Mitigasi Kebencanaan Bagi Siswa SD

Di Indonesia, program pelaksanaan SCILLS ini akan berlangsung di pesisir Jawa Selatan yang akan dilaksanakan di wilayah 8 kabupaten di Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah dan Jawa Barat. Mulai dari Trenggalek, Pacitan, Gunungkidul, Kulonprogo, Kebumen, Cilacap, Pangandaran, dan Tasikmalaya. Wilayah yang berhadapan dengan laut lepas dan berisiko rawan bencana seperti yang dilansir oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) saat ini.

CRI bekerjasama dan bermitra dengan Pujiono Centre yang berpengalaman dalam memberikan manajemen dan riset kebencanaan serta adaptasi perubahan iklim untuk turut memberikan pembekalan dan pendidikan mitigasi risiko bencana bagi siswa-siswi SD kelas empat dan lima, guru, dan orangtua murid. Fokus pelatihan pendidikan internet dan mitigasi bencana ini akan melibatkan empat hingga enam sekolah di setiap wilayah.

“Basis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) ini juga harus inklusif, kebermanfaatannya tidak hanya dirasakan bagi yang melek internet saja, tapi juga bagi kelompok rentan di sekitar sekolah,” ujar Elanto Wijoyono, Direktur CRI.

Target sekolah yang terlibat dalam program ini sebanyak 36 sekolah. Di mana setiap sekolah melibatkan 12 guru, 20 siswa, dan 10 orangtua. Total seluruh penerima manfaat sebanyak 720 murid, 108 guru dan 360 orangtua yang terlatih selama program berlangsung.

CRI urun tangan dalam berbagai kebencanaan yang terjadi di Indonesia sejak 2005 hingga saat ini melalui pendekatan TIK. Konektivitas komunikasi dalam kebencanaan menjadi salah satu kunci dalam keberhasilan mitigasi kebencanaan.

Pemanfaatan TIK dan mitigasi kebencanaan juga menekankan berbagai pelatihan dan pengetahuan kepada guru untuk kemudian bisa mendorong kesadaran bagi siswa, orangtua, dan warga sekitar sekolah. Pendampingan di sekolah juga dilakukan oleh Pujiono Centre untuk memberikan modul mengenai mitigasi kebencanaan dan penanganan psikologi.

Saat ini proses assesment sedang berlangsung di 8 wilayah kabupaten dengan mengumpulkan berbagai data dan wawancara kepada pemangku kepentingan, seperti Badan Penanggulangan Bencana Daerah, Dinas Pendidikan, Dinas Komunikasi dan Informatika, serta sekolah yang menjadi fokus pendampingan CRI dan Pujiono Center.

2023 Annual Report

In what ways may democracy be jeopardized?

The fate of a nation’s democracy can be determined by coups, natural catastrophes, or unexpected technical breakthroughs, according to David Runciman (2018). Even in established democracies, crises can lead to democratic failure. Democracy may not be flawless, but it has proven time and time again to be the most effective system for maintaining liberty, innovation, peace, and economic growth. One important aspect is that, unlike other forms of governance, democracy can actually examine itself and make adjustments as needed.

In Indonesia, too, the truth of the matter is plain to see. Democracy in this nation has shown, particularly since the reform period, that Tocqueville was right: more mistakes happen in democracies, but more mistakes are effectively put out or fixed. Civil society’s outsized influence is one of the contributing elements

Established in 2001 amidst the reform frenzy after the New Order administration, Combine Resource Institution (CRI) is still striving to be relevant. Democracy and democratic governance are central to CRI’s ideology, mission, and principles as a Civil Society Organization (CSO). Despite being in its 22nd year, CRI is still facing new and old obstacles in the pursuit of its objective. In addition to being necessary for the accomplishment of advocacy goals, CRI is anticipated to enhance the ability to adapt and endure adverse conditions.

Both Indonesia as a country and CRI as part of CSOs have significant momentous occurrences in 2023. In this time leading up to the political year, incumbents put pressure on development agendas and insist on security interest agendas to maintain power at the national and regional levels. Whether CSOs continue down the road of struggle or move on to the stage of interest depends on their relevance and importance. In order to maintain its responsiveness to external democratic dynamics and enhance the quality of internal governance, CRI must achieve the purpose of the strategic plan in the second year, which it will do throughout this period.

In line with Jane Addams’s belief that democracy is based not only on representation but also on wisdom (social ethics) and citizenship, CRI has become an even more formidable institution that can assist other CSOs and community networks in enhancing their information literacy and holistic security. The development of integrated village-regional information systems for development governance is another area where CRI routinely pioneers new approaches. This is supposed to show that CRI keeps making important contributions to the democracy we need to keep living in.

Laporan Tahunan 2023

Apa saja yang sebenarnya bisa mengancam dan mengakhiri demokrasi?

David Runciman (2018) menuliskan bahwa kudeta, bencana, atau inovasi teknologi yang mengejutkan bisa mempengaruhi hidup matinya demokrasi sebuah negara. Namun, kegagalan demokrasi juga bisa terjadi akibat krisis dari sebuah demokrasi yang sudah matang sekalipun. Terlepas dari segala ketidaksempurnaannya, demokrasi tetap memiliki rekam jejak yang lebih baik dibandingkan bentuk pemerintahan lainnya dalam mempertahankan perdamaian, kebebasan, inovasi, dan kesejahteraan. Faktor penyebabnya, terutama, adalah kemampuan demokrasi untuk mempertanyakan diri sendiri dan mengoreksi diri sendiri, yang tidak terdapat dalam sistem pemerintahan lain.

Gambaran situasi tersebut secara realita juga terjadi di Indonesia. Terutama sejak era reformasi, kehidupan demokrasi di negara ini membuktikan ucapan Tocqueville bahwa ada lebih banyak kesalahan yang terjadi di negara demokrasi, tetapi lebih banyak pula kesalahan yang berhasil dipadamkan atau diperbaiki. Salah satu faktornya adalah kehadiran peran signifikan masyarakat sipil.

Combine Resource Institution (CRI) didirikan pada 2001 dalam euforia reformasi pascarezim Orde Baru, hingga kini terus mencoba memperkuat relevansinya. Sebagai Organisasi Masyarakat Sipil (OMS), CRI pun mendudukan demokrasi dan tata kelola yang demokratis sebagai ideologi, misi, dan prinsipnya. Dalam usia CRI ke-22 tahun, perjuangan pemenuhan misi organisasi tidak berhenti dan bahkan terus mendapat tantangan-tantangan baru. CRI tidak hanya dituntut mampu memenuhi tujuan-tujuan advokasi, tetapi diharapkan juga dapat meningkatkan kapasitas adaptasi dan resiliensi.

Tahun 2023 memiliki banyak momentum penting bagi Indonesia sebagai bangsa, dan bagi CRI sebagai bagian dari OMS. Periode ini adalah momentum menjelang tahun politik, yang diwarnai dengan tekanan agenda-agenda pembangunan dari petahana maupun desakan agenda-agenda pengamanan kepentingan untuk melanggengkan kekuasaan, di tingkat nasional maupun daerah. Relevansi dan signifikasi OMS diuji untuk tetap bertahan di jalur perjuangan atau bergeser ke panggung kepentingan. Periode ini juga menjadi ujian bagi CRI untuk menuntaskan misi rencana strategis di tahun kedua, agar tetap bisa responsif terhadap dinamika demokrasi di eksternal maupun meningkatkan kualitas tata kelola di internal.

Sepakat dengan pemikiran Jane Addams bahwa demokrasi itu tidak terbatas pada urusan perwakilan (representative), tetapi juga terutama pada hikmat kebijaksanaan (social ethics) dan kerakyatan (citizenship), CRI semakin mengukuhkan kapasitas sebagai lembaga yang mampu memberikan dukungan pengembangan literasi informasi dan keamanan holistik bagi sesama OMS dan jejaring komunitas. CRI juga tetap konsisten berinovasi dalam pengembangan keterpaduan sistem informasi desa-daerah dalam tata kelola pembangunan. Hal ini diharapkan menjadi bukti bahwa CRI terus berupaya secara konsisten memberikan kontribusi bagi demokrasi yang harus terus kita hidupi.

Musim Gugur Panjang Demokrasi

Edisi ke-82, Juli 2024

Halo Kawan-kawan yang baik,

Semester pertama di tahun ini barangkali penuh dengan amarah dan kekecewaan, namun apresiasi patut kita tujukan pada diri dan orang-orang sekitar yang telah sama-sama berjuang; Terima kasih, ya Kawan-kawan! Pada kesempatan kali ini, kami juga kembali hadir dengan Nawala terbaru edisi ke-82. Kami merekam jalinan peristiwa demokrasi yang terjadi selama rentang enam bulan ke belakang. Bersamaan dengan itu, kami menyadari bahwa musim gugur di negeri ini masihlah sangat panjang.

Ingar-bingar Pemilu memang telah usai, namun lubang demokrasi masih meninggalkan luka di sana-sini. Sembari belajar pulih serta bersiap pada pelbagai kemungkinan yang akan terjadi esok hari, mari kita telisik dan analisis apa yang tengah menimpa kita hari ini. Kami menuangkan refleksi tentang sengkarut proyek pemilihan kepala negara dalam Merebut Makna Demokrasi: Merespons Situasi Politik Elektroral 2024. Selain itu, kami juga melakukan riset singkat perihal kultur media sosial dalam strategi kampanye para elite politik melalui The Influence of TikTok on Public Opinion and Societal Behavior: TikTok in Prabowo’s Presidential Campaign.

Politisasi bantuan sosial (bansos) hingga perpanjangan masa jabatan kepala desa yang menabrak banyak aturan, membuat kami patah hati. Sebagai Organisasi Masyarakat Sipil yang berjuang mewujudkan tata kelola data berkeadilan, perilaku negara justru berbanding terbalik dengan gerakan akar rumput. Berbagai upaya agar data desa akurat, terintegrasi dan memiliki interoperabilitas telah kami lakukan melalaui Inisiasi Kerja Sama, Combine dan Penggerak Masyarakat Buleleng Bangun Tata Kelola Data; serta Intensif Pelajari Teknis, 129 Desa di Kabupaten Buleleng Siap Manfaatkan SID Berdaya. Inisiatif ini telah kami lakukan dengan tekun dan bertahap sejak lama. Kawan-kawan dapat menyimak perjalanan tersebut melalui Asa Warga Desa Wujudkan Satu Data di Buleleng Bali.

Kami juga menawarkan Referensi Pilihan yang bisa Kawan-kawan simak, salah satunya adalah Film Dokumenter Dirty Vote yang telah memantik banyak diskusi kritis pada paruh awal tahun ini. Kami juga mencatat peristiwa kriminalisasi berbasis Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) yang kembali memakan korban aktivis. Ihwal ini dapat Kawan-kawan tinjau dalam Pemidanaan Daniel Tangkilisan, Bentuk Kriminalisasi terhadap Ekspresi yang Sah. Kita juga masih selalu direpotkan dan dirugikan oleh negara atas aturan-aturan absurdnya. Mengapa RUU Penyiaran Harus Ditolak? dapat menjadi amunisi untuk membaca situasi apa yang tengah mengancam ruang-ruang kebebasan berekspresi kita.

Lengkap sudah kegaduhan semester awal 2024 ini dengan fatalnya kasus serius kebocoran data. Pusat Data Nasional Sementara Lumpuh Akibat Ransomware, Mengapa Instansi Pemerintah Masih Rentan terhadap Serangan Siber? adalah pertanyaan yang jawabannya tak tampak meski hanya dalam angan. Atas bertubi-tubi pertunjukan sirkus yang telah negara mainkan, maka valid bagi kita semua untuk menuntut pertanggung jawaban. Kampanye Mahkamah Rakyat Luar Biasa adalah inisiatif masyarakat sipil yang bisa Kawan-kawan lakukan untuk turut mengadili mereka yang menyelewengkan kekuasaan.

Nawala kali ini sepertinya lebih banyak diisi dengan kompilasi duka demokrasi. Semoga hal ini tidak menambah beban, melainkan pengingat bahwa yang kita punya memanglah sesama, dan bukan negara. Tak apa untuk merasa tak baik-baik saja. Mari jabat erat untuk menghadapi paruh 2024 ke depan. Pasti kemenangan-kemenangan kecil tetap kita temukan di tengah solidaritas yang kian kuat!

Terima kasih telah bertahan. Terima kasih masih menyemai harapan. Sampai jumpa di Nawala selanjutnya, ya Kawan-kawan!

Salam hangat,

Redaksi Combine Resource Institution (CRI)

*Anda dapat membaca Nawala Kombinasi edisi ini melalui tautan berikut >> https://s.id/NawalaKombinasiEdisi82

Melindungi Data Pribadi, Melindungi Hak Asasi Manusia: Modul Pelindungan Data Pribadi bagi Organisasi Masyarakat Sipil

Kesadaran akan pentingnya pelindungan data pribadi kian meningkat seiring berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi. Tak terkecuali bagi organisasi masyarakat sipil (OMS), perlindungan data pribadi menjadi suatu keharusan. Sebagai kekuatan yang penting dalam menjaga demokrasi dan hak asasi manusia, OMS harus memastikan bahwa data pribadi yang mereka kumpulkan aman dan terlindungi dari penggunaan yang tidak sah atau tidak diinginkan.

OMS merupakan entitas sosial dengan fokus kerja yang begitu luas atau nyaris di semua sektor. Untuk mencapai tujuannya, OMS sering kali melakukan pengumpulan, penyimpanan, dan pemrosesan data pribadi. Data-data tersebut, baik yang bersifat digital maupun nondigital, digunakan untuk mendukung pelaksanaan program atau kegiatan, hingga tahap monitoring dan evaluasi (Gazi, 2020). Data yang dikumpulkan mulai dari data staf, mitra, penerima manfaat, relawan, sponsor, hingga donor, baik yang bersifat umum maupun sensitif atau spesifik. Artinya, OMS merupakan salah satu entitas yang sudah semestinya memperhatikan aspek pelindungan data pribadi serta privasi, terlebih ketika sudah ada regulasi yang mengatur hal tersebut.

Di berbagai negara atau wilayah, adaptasi organisasi terhadap regulasi PDP memang bukan jalan mudah. Organisasi-organisasi tersebut harus beradaptasi dan mengeluarkan sumber daya yang tidak kecil untuk dapat memenuhi tuntutan regulasi (Gazi 2020; Brodin 2019; Baloyi dan Kotze 2017). Bahkan sejumlah organisasi internasional mengeluarkan panduan pelindungan data untuk lingkup kerja spesifik. International Committee of the Red Cross (ICRC), misalnya, menerbitkan panduan berjudul Handbook on Data Protection in Humanitarian Action (2017). Atau Open Society Foundation yang menerbitkan Civil Society Organizations and General Data Protection Regulation Compliance: Challenges, Opportunities, and Best Practices (2020). Tentu saja, panduan-panduan tersebut merupakan upaya untuk mengawal kerja-kerja OMS agar sejalan dengan prinsip pelindungan data dan privasi yang tergolong dalam hak asasi manusia.

Dalam proses pengumpulan data untuk keperluan modul ini, kami menemukan bahwa sebagian besar OMS di Indonesia belum memiliki kebijakan khusus tentang pelindungan data pribadi. Oleh karena itu, kebijakan dan prosedur yang jelas perlu diadopsi untuk mengelola data pribadi dengan benar dan mematuhi standar yang berlaku, misalnya, Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi. Selain itu, menggunakan teknologi yang aman juga menjadi keharusan untuk memastikan data pribadi tidak diretas atau disalahgunakan.

Pelindungan Data Pribadi sangat penting bagi OMS dalam mewujudkan visi dan misi mereka. OMS harus memastikan bahwa mereka mengambil tindakan yang proaktif dalam melindungi data pribadi mereka dan mematuhi regulasi dan undang-undang yang berlaku. OMS juga harus membangun kepercayaan dan menjaga hubungan baik dengan para penerima manfaat, mitra atau jejaring dengan cara memastikan bahwa data pribadi mereka aman dan terlindungi dari penggunaan yang tidak sah atau tidak diinginkan.

Modul Pelatihan Pelindungan Data Pribadi untuk Organisasi Masyarakat Sipil ini ditujukan sebagai salah satu bentuk kontribusi kolektif untuk memperkuat kapasitas OMS di ranah pelindungan data pribadi. Modul ini dapat digunakan oleh seluruh OMS dengan tingkat kapasitas pengetahuan dan praktik yang beragam. Selain itu, apa yang tertulis di modul ini bukanlah titik akhir. Peluang perubahan atau improvisasi isi dan metode masih terbuka lebar seiring dengan praktik dan perkembangan teknologi yang terkait dengan data pribadi. Oleh karena itu, Anda diundang untuk memberi kritik dan saran untuk perbaikan modul ini.

*Silakan unduh Modul melalui tautan di bawah ini

Momentum Positif dalam Menentukan Arah Lembaga Bersama

Dalam kurun waktu Mei hingga Juni 2024, Combine Resource Institution sedang melakukan proses perubahan perangkat yayasan, baik dari segi struktural maupun dalam pemahaman ideologis bersama.

Pada periode 2024 ini, Combine Resource Instituition (CRI) berkomitmen menyelenggarakan proses pergantian dan perubahan perangkat yayasan. Begitu pula pergantian pada tingkat pegiat CRI, antara lain Dewan Pembina, Dewan Pengawas, serta Dewan Pengurus. Beberapa seri pertemuan untuk membahas proses ini, sejatinya telah dimulai sejak bulan Mei lalu. Secara berturut-turut forum yang telah terlaksana, antara lain (1) proses pengunduran diri Pembina, Pengurus dan/atau Pengawas; (2) proses pemilihan dan penetapan Pembina, Pengurus, dan/atau Pengawas; serta (3) proses penjaringan dan penetapan anggota Pembina dan Pengawas.

Beberapa rangkaian proses di atas dilakukan dengan skema hybrid, yakni secara daring sekaligus luring. Adapun forum tatap muka, baru saja terselenggara pada Rabu (5/6) lalu di Ruang Media Griya Jagadhaya, kompleks kantor CRI. Pada agenda tersebut, Dewan Pelaksana CRI menjadi fasilitator dalam penyelenggaraan “Rapat Penetapan Pergantian atau Perubahan Organ Yayasan/Perangkat Organisasi CRI”. Baik Dewan Pembina dan Dewan Pengurus hadir, termasuk dengan tiga kandidat Dewan Pengurus CRI yang baru.

Pertemuan yang berlangsung selama sehari ini, diisi dengan beberapa sesi, yaitu pendalaman kapasitas dan kesiapan Kandidat Pengurus; serta pembahasan mengenai arah keputusan lembaga. Forum berakhir pukul 20.00 WIB dan menghasilkan keputusan penetapan Dewan Pengurus CRI yang baru, yakni Ranggoaini Jahja sebagai Ketua, menggantikan Mulya Amri; Ade Tanisia sebagai Sekretaris, menggantikan Akhmad Nasir; dan Budhi Hermanto sebagai Bendahara, menggantikan Delima Kiswanti (alm.).

Proses ini merupakan momentum positif bagi CRI dalam menguatkan kapasitas hingga mempererat relasi antara Dewan Pelaksana CRI dan Dewan Pembina, Pengawas serta Pengurus. Pelibatan agenda lembaga juga diharapkan bisa saling terhubung antarsatu sama lain. Ruang tatap muka ini sekaligus pula menjadi ajang pembaruan semangat dan refleksi dalam memetakan dan menentukan arah lembaga ke depan.

Selepas ini, masih terdapat seri pertemuan dan agenda lanjutan, antara lain pembahasan perubahan dan penetapan AD/ART CRI; serta pencatatan perubahan Akta Yasayan ke notaris dan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham).