CRI Gelar Pelatihan Radio Komunitas di Rembang

Combine Resource Institution (CRI) menggelar pelatihan radio komunitas di Desa Timbrangan, Gunem, Rembang Jawa Tengah Jumat (26/9) sampai Minggu (28/9). Pelatihan ini diikuti oleh warga yang saat ini sedang berjuang untuk menolak rencana penambangan semen di wilayah mereka.

Dalam pelatihan ini, warga diajak untuk mengenal media komunitas khususnya radio komunitas dan dasar-dasar jurnalistik. Melalui pelatihan ini, mereka diharapkan bisa menggunakan media untuk mengangkat berbagai persoalan yang ada di wilayah mereka. “Saat ini warga dengan kesadaran mereka sendiri berupaya mempertahankan kelestarian Pegunungan Kendeng dari rencana penambangan karst untuk pabrik semen. Media komunitas bisa menjadi salah satu alat untuk mendukung upaya tersebut,” tutur Idha Saraswati, fasilitator pelatihan dari Combine.

Seperti telah diberitakan di berbagai media, warga Rembang yang tinggal di sekitar kawasan pegunungan Kendeng telah bertahan tidur di tenda yang mereka sebut sebagai tenda perjuangan selama lebih dari 100 hari. Tenda tersebut didirikan di pinggir jalan masuk ke kawasan yang akan menjadi pabrik semen. Sebagian besar penunggu tenda adalah kaum perempuan. Hal ini mereka lakukan untuk menuntut PT Semen Indonesia mengeluarkan alat berat dari kawasan yang akan dijadikan pabrik. Mereka juga menuntut agar ijin lingkungan bagi PT Semen Indonesia dicabut.

Pelatihan mengenai radio komunitas ini diadakan karena radio komunitas dipandang menjadi media yang tepat untuk diterakpan di wilayah Desa Timbrangan dan sekitarnya yang berada di pegunungan. Melalui pelatihan ini, warga diharapkan bisa membangun dan mengelola sendiri radio komunitasnya. Dengan adanya radio tersebut, warga bisa memiliki wadah untuk mengolah berbagai informasi baik untuk disiarkan di radio, maupun disebarkan melalui media berbasis internet, dan media sosial, sehingga upaya mereka menyelamatkan lingkungan dari pabrik semen bisa disebarkan ke wilayah yang lebih luas.

Ayo Jadi Relawan!

Terbuka untuk pelajar, mahasiwa dan umum!

Combine Resurce Institution, sebuah lembaga yang fokus pada pengembangan jaringan informasi berbasis komunitas mengundang siapapun yang berminat untuk menjadi relawan dalam perhelatan Jagongan Media Rakyat atau JMR 2014.

JMR adalah gelaran dua tahunan yang dirancang sebagai ruang untuk mempertemukan kelompok-kelompok masyarakat yang memperjuangkan kepentingan komunitas, terutama yang bergelut di bidang tata kelola informasi, termasuk pengelola media komunitas. JMR adalah gelaran kolaboratif oleh komunitas, pegiat dan peminat media rakyat, serta pemangku kebijakan.

Acara yang berlangsung pada 23 – 26 Oktober 2014 ini diikuti tak kurang dari 35 komunitas dan media komunitas, melibatkan sejumlah pakar tekhnologi informasi yang peduli pada akses informasi untuk rakyat, serta sejumlah lembaga seperti Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan ICT Watch. Dalam acara yang diadakan di Jogja National Museum ini akan ada seminar, aneka lokakarya, pameran produk komunitas, pertunjukkan seni, dan aneka lomba.

Untuk menyukseskan JMR 2014, kami membutuhkan relawan untuk mengisi posisi sebagai berikut :

  • Liaison officer (LO), kami membutuhkan sejumlah relawan untuk menjadi LO dalam kegiatan seminar/ lokakarya/ pameran/ pertunjukkan seni.
  • Reporter, diutamakan bagi yang terbiasa menulis dan punya pengalaman meliput kegiatan.
  • Notulen
  • Videografer, diutamakan bagi yang punya pengalaman mengambil gambar dan mengedit video.
  • Fotografer, diutamakan bagi yang punya pengalaman di bidang fotografi.
  • Artistik dan dekorasi
  • Konsumsi dan akomodasi
  • Logistik
  • Kesekretariatan

Kriterita umum :

  •  Adaptif
  • Komunikatif
  • Mampu bekerja sama dalam tim
  • Berkomitmen terhadap suksesnya acara

Dengan menjadi relawan JMR 2014, kamu tidak hanya akan bertemu teman baru, tetapi juga mendapat pengalaman baru terkait dengan dunia media dan tata kelola informasi.
Berminat?

Kirim data diri, posisi yang kamu inginkan, serta motivasi menjadi relawan ke jmr2014@combine.or.id sebelum 23 September 2014.

Atau hubungi :

Ferdhi 085691337109

Fatchur 08121503024

Sekretariat : 0274 -7498131

Website : jmr2014.combine.or.id

Kantor COMBINE Resource Institution

Jl. KH Ali Maksum 183, Pelemsewu, Panggungharjo, Sewon, Bantul, DIY

Tajuk Suara Komunitas September : Subsidi untuk Siapa?

Tarik ulur kenaikan bahan bakar minyak (BBM) terjadi setiap tahun. Bahkan dalam satu tahun, tarik ulur antara pemerintah dengan masyarakat bisa terjadi dua hingga tiga kali. Bersamaan dengan itu, ekses-ekses dari tarik menarik bermunculan: antrean panjang di SPBU, demonstrasi di berbagai kota, kenaikkan harga bahan pokok, dan seterusnya. Begitu pun yang terjadi belum lama ini.

Agustus lalu, Pemerintah mewacanakan pembatasan BBM bersubsidi karena khawatir kuota yang sudah disediakan akan jebol pada akhir tahun nanti. Mendengar kabar ini, masyarakat sontak berduyun-duyun berburu BBM. Antrean luar biasa panjang pun terjadi di banyak SPBU, khususnya di Pulau Jawa yang populasi kendaraannya sangat besar. Tidak seperti menjelang kenaikkan BBM yang biasanya terjadi sehari sebelum hari-H, antrean kali ini terjadi hingga berhari-hari. Pasalnya, pemerintah tidak pernah benar-benar jelas bagaimana mekanisme pembatasan dilakukan. Sebagai informasi, pemerintah menjatah 46 juta kiloliter (setara Rp 246,49 triliun) untuk tahun 2014. Sementara, menurut catatan Pertamina, hingga Mei 2014, jumlah konsumsi BBM bersubsidi sudah mencapai 18,98 juta kiloliter, atau 41,26% dari total kuota.

Akibat krisis bahan bakar berkepanjangan, sebagian masyarakat pun mulai bergeser opini. Dari yang semula menolak, menjadi memaklumi kenaikkan BBM. Masyarakat dihadapkan pada pilihan : mahal atau langka. Itulah yang membuat masyarakat, bahkan hingga level bawah memilih opsi mahal. Berbeda ketika yang dihadapi misalnya, subsidi BBM atau subsidi kesehatan. Maka hampir setiap masyarakat di akar rumput memilih subsidi BBM, karena tidak pernah yakin subsidi kesehatan akan benar-benar direalisasikan.

Pertimbangan kenaikkan BBM selalu dilandasi dua atau lebih faktor, yakni: defisit anggaran, subsidi salah sasaran, dan seterusnya.

Pertanyaannya kemudian adalah, jika subsidi salah sasaran, mengapa tidak membuat regulasi yang ketat soal pemakai BBM bersubsidi? Jika defisit anggaran negara dipermasalahkan, mengapa tidak membuat aturan yang memaksa orang-orang kaya untuk membayar pajak lebih besar? Meskipun sebenarnya hal terakhir sudah ‘terbantahkan’ oleh pemerintah sendiri. Menteri Keuangan, Chatib Basri mengatakan bahwa walau anggaran surplus (tidak tekor), harga BBM tetap harus naik (Tempo, 7 September 2014). Artinya, persoalan kenaikkan BBM bukan sekadar perkara naik turunnya harga minyak dunia, melainkan kemauan politik pemerintah untuk menciptakan tata kelola energi yang berkeadilan.

Pertanyaan lainnya, mengapa pemerintah tidak membatasi penjualan kendaraan bermotor pribadi, yang nyata-nyata menjadi penyedot terbesar BBM subsidi? Berdasarkan data Korps Lalu Lintas Kepolisian Republik Indonesia, populasi kendaraan di Indonesia pada 2013 mencapai 104,211 juta unit, naik 11 persen dari tahun 2012 yang hanya 94,299 juta unit. Dan, mengacu pada KataData Research, 53 persen mobil pribadi adalah pengguna BBM bersubsidi. Terbesar setelah motor (40%), transportasi publik (4%), dan angkutan barang (3%). Setiap kali ada rencana kenaikkan BBM, saat itulah muncul kerancuan-kerancuan nalar kenaikkan BBM.

Media dan isu BBM

Media massa, khususnya media arus utama, sebagian besar mendukung pencabutan subsidi BBM. Tidak heran jika mereka lebih condong mendukung kenaikkan harga BBM, karena media arus utama merupakan representasi dari kelas tertentu, yakni kelas menengah-atas.

Selama ini, pemberitaan mengenai BBM di media massa cenderung mengangkat kasus-kasus yang terjadi di perkotaan. Jika pun ada yang mengangkat kasus di pedesaan atau pinggiran kota, porsinya tidak besar. Atau hanya sekadar meliput ‘dampak rencana kenaikkan BBM di masyarakat’, tanpa analisa ‘mengapa kenaikan BBM begitu besar efeknya bagi nelayan’, misalnya.

Dominasi media arus utama ini seharusnya bisa diimbangi oleh media komunitas sebagai representasi dari kelas lainnya yang berseberangan. Kelas yang selalu menjadi korban dari kebijakan pemerintah dan kelas berkuasa, yakni kelas bawah.

Dalam isu BBM, suara masyarakat akar rumput kerap kali dinomorduakan, meski mereka adalah korban utama dari kebijakan yang sangat urban-sentris tersebut. Kemiskinan perspektif akar rumput membuat masyarakat marjinal semakin termarjinalkan. Maka dari itu, media komunitas seharusnya mulai menciptakan arus besar wacana kelas akar rumput agar tidak menjadi ‘bulan-bulanan’ kebijakan segelintir penguasa, yang tentu saja disokong media korporat.

*Tulisan ini diambil dari http://suarakomunitas.net/baca/80509/subsidi-untuk-siapa%253F/

** Sumber foto : http://www.tribunnews.com/images/regional/view/1295111/sepeda-motor-antre-bbm-jenis-pertamax#.VA1Pr1HJVok