Penerima Anugerah AJW 2022: Bersama Bersuara tentang Hak Digital

Anugerah Jurnalisme Warga (AJW) 2022 telah menemukan pemenangnya. Selain memberi penghargaan bagi para jurnalis warga, AJW tahun ini konsisten mengapresiasi kerja-kerja media warga.

Warta Desa terpilih menjadi media warga favorit melalui voting publik. Media yang berasal dari Pekalongan, Jawa Tengah tersebut memperoleh 49,1 persen suara dari 6.676 suara yang masuk, mengungguli tiga media warga lainnya yaitu Nggalek (Trenggalek, Jawa Timur), Suara Saking Bali (Buleleng, Bali), dan Maumere TV (Maumere, NTT). Satu lagi media warga yang tahun ini menjadi jagoan di AJW, ialah Speaker Kampung yang berasal dari Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Media warga tersebut berhasil memikat para juri dan memperoleh nilai tertinggi.

Perwakilan dari kedua pemenang Kategori Media Warga menerima plakat apresiasi di Taman Baca Kesiman, Denpasar, tepat pada acara malam puncak AJW 2022, 26 Juni kemarin. Speaker Kampung maupun Warta Desa adalah sarana akar rumput untuk bersuara. Semoga, makin banyak media-media warga lainnya yang mengikuti jejak mereka.

Mengusung tema Tri Hita Digital: Tiga Hak Digital untuk Mewujudkan Kesejahteraan, AJW tahun ini menerima usulan 9 kandidat media warga dari berbagai daerah, serta hampir 100 karya berupa artikel, video hingga ilustrasi dari para jurnalis warga seluruh Indonesia. Khusus untuk Kategori Media Warga, proses seleksi penentuan penerima penghargaan kemudian dilakukan dengan dua cara, yaitu lewat seleksi dewan juri dan pilihan (voting) publik. AJW diselenggarakan rutin setahun sekali oleh BaleBengong dan didukung oleh Combine Resource Institution untuk mengapresiasi mereka yang telah berkontribusi mengabarkan cerita-cerita warga yang mereka temui dari wilayah masing-masing.

“Kami tidak bisa membayar teman-teman yang sudah berkabar dan membagi cerita. Maka, di ajang inilah kami ingin mengapresiasi,” kata Iin Valentine, pegiat BaleBengong yang menjadi Koordinator AJW 2022.

Mewakili penyelenggara, Iin juga menambahkan bahwa AJW tahun ini diharapkan dapat menjadi alternatif penyebaran pengetahuan seputar dunia digital yang makin hari makin besar porsinya menemani kehidupan kita. AJW tahun ini adalah momen untuk mengampanyekan pentingnya pemahaman tentang hak-hak kita di ranah digital, yaitu hak untuk mengakses internet, hak untuk bebas berekspresi, dan untuk memperoleh rasa aman di dunia digital.

Penerima anugerah AJW 2022

Kategori Media Warga

  • Media warga terpilih hasil penilaian juri Speaker Kampung (Lombok Timur, NTB)
  • Media warga terpilih pilihan publik Warta Desa (Pekalongan, Jawa Tengah)

Kategori Artikel

  • Juara 1 Ni Nyoman Ayu Suciartini
  • Juara 2 Rahmadinata Syafaat
  • Juara 3 Ni Putu Devy Gita Augustina

Kategori Video

  • Juara 1 Muhammad Rikza Harnang Setyo
  • Juara 2 I Komang Moniyarka
  • Juara 3 Beni Kusuma Wardani

Kategori Ilustrasi

  • Juara 1 Syamsul Arifin
  • Juara 2 Alvina Nur ‘Amsy
  • Juara 3 Ni Ketut Ayu Fitarini
Elanto Wijoyono, Direktur Combine Resource Institution, memberi paparan singkat tentang urgensi ruang-ruang apresiasi seperti AJW (26/06/2022).
Diskusi tentang hak digital di Indonesia yang melibatkan KontraS, SAFEnet, dan Kai Mata (musisi) (26/06/2022).
Iin Valentine, Koordinator AJW 2022 memberikan sambutan di malam penganugerahan (26/06/2022).
Peluncuran buku “Suara Berbeda dari Pulau Dewata” yang berisi kumpulan tulisan terpilih di BaleBengong selama 15 tahun terakhir (26/06/2022).

Lanjutkan Integrasi Data, Gunungkidul Siap Mutakhirkan Data Disabilitas

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul terus merancang berbagai program perencanaan dan pembangunan yang berpedoman pada Sistem Informasi Desa (SID) Berdaya dan Sistem Informasi Kabupaten (SIKAB). Pada 2022, Pemkab Gunungkidul mulai menyusun program pelayanan sosial untuk kelompok disabilitas.

Jumat, 17 Juni 2022, Combine Resource Institution (CRI) memenuhi undangan dari Bappeda Gunungkidul untuk memfasilitasi pelatihan teknis untuk pemutakhiran data disabilitas di SID Berdaya dan SIKAB bagi para pendamping desa. Pelatihan tersebut dilaksanakan di Kantor Bappeda Gunungkidul dan diikuti oleh 18 orang pendamping operator SID Berdaya yang berasal dari tiap-tiap kecamatan.

Selepas mengikuti pelatihan ini, para peserta diharapkan mampu menjalankan skema pemutakhiran data disabilitas di desa masing-masing untuk kemudian disinkronkan dengan data yang telah terhimpun di sistem Data Kesejahteraan Sosial Terpadu (DTKS).

“Ada perbedaan signifikan antara data di lapangan dengan yang tercatat di DTKS. Berangkat dari situ, kami bekerja sama dengan Dinsos (Dinas Sosial Kabupaten Gunungkidul-red) akan mengupayakan pemutakhiran data disabilitas,” kata Sity Hidayati, Kasubid Kesehatan dan Sosial Bappeda Gunungkidul.

Pemutakhiran yang dilakukan tidak semata untuk memperbarui basis data disabilitas yang ada, melainkan untuk melanjutkan proses integrasi data Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) yang diprogramkan oleh Dinas Sosial Pemerintah DIY. Dengan proses pendataan melalui SID Berdaya dan SIKAB, Pemkab Gunungkidul berharap dapat menyinergikan data dari tingkat desa, kabupaten, hingga provinsi.

Muhammad Amrun, Staf Pemanfaatan Sistem Informasi CRI yang menjadi fasilitator dalam kesempatan tersebut membuka sesi pelatihan dengan menyampaikan bahwa pemutakhiran data oleh masing-masing desa harus terus dilakukan meski regulasi tentang satu data di Indonesia belum cukup kuat.

Selain CRI, Bappeda, dan para pendamping operator SID, pelatihan ini juga dihadiri oleh perwakilan dari Dinas Sosial Gunungkidul yang memiliki wewenang dalam pengelolaan DTKS. Kehadiran masing-masing pihak dalam pelatihan ini memudahkan tercapainya koordinasi lintas sektor demi tercapainya sinkronisasi data disabilitas. Ada proses tanya-jawab dan tukar pikiran terkait detail pemutakhiran data disabilitas yang tercipta dalam forum tersebut, sehingga proses awal yang telah berjalan ini diharapkan dapat membuahkan kualitas data yang maksimal.

Rika Aji Hartanto, salah satu peserta asal Desa Ngunut, Kecamatan Playen, Gunungkidul menyampaikan bahwa forum semacam ini akan sangat membantunya dalam menjalankan peran sebagai pendamping operator SID Berdaya. Aji mengaku bahwa dirinya telah siap terjun ke lapangan untuk menerapkan langkah demi langkah pendataan disabilitas di level desa yang kemudian diintegrasikan dengan DTKS di Dinas Sosial.

“Saya sudah siap turun lapangan. Saya harap, ke depannya, keberadaan SID Berdaya ini benar-benar menjadi base-data besar dan satu-satunya aplikasi penghimpun data desa di DIY,” terangnya.


Keterangan foto: Muhammad Amrun, Staf Pemanfaatan Sistem Informasi, memfasilitasi pelatihan pemutakhiran data disadibilitas di Kantor Bappeda Gunungkidul (17/06/2022).


Pembaruan: Artikel ini diperbarui pada 21 Juni 2022.

Tunggul Harwanto: Masa Awal RLI Berdiri Berdarah-darah, tapi Senang

Mengelola gerakan atau organisasi berbasis komunitas di kawasan rural bukanlah perkara mudah. Tantangan sumber daya manusia, kondisi geografis, hingga dana kerap menjadi pemicu ketidakberlanjutan gerakan yang diinisiasi oleh komunitas.

Combine Resource Institution (CRI) berkesempatan melakukan wawancara dengan Tunggul Harwanto, salah satu pendiri Rumah Literasi Indonesia (RLI), sebuah organisasi berbasis komunitas yang terus mengupayakan perkembangan literasi di Banyuwangi dan sekitarnya. RLI merupakan salah satu contoh organisasi komunitas yang masih mampu bertahan bahkan berkembang di tengah berbagai tantangan yang harus dihadapi. Wawancara dilakukan oleh Fiahsani Taqwim, Staf Komunikasi CRI pada bulan Februari 2022.

Bagaimana awal mula berdirinya RLI? Boleh diceritakan dengan agak detail?

RLI berdiri dengan latar belakang kesadaran para pendiri akan kebutuhan pendidikan di kampung halamannya, di Ketapang, Banyuwangi. Angka perceraian yang tinggi, ditambah masalah pernikahan dini yang banyak ditemukan di sana membuat Nurul Hikmah, salah satu pendiri RLI merasa terpanggil untuk menyelamatkan masa depan anak-anak melalui pendidikan. Awalnya, kira-kira tahun 2011, Hikmah membuka rumah bimbel (bimbingan belajar) untuk beberapa anak. Dari anak-anak inilah kemudian rumah bimbel itu menjadi ramai, karena anak-anak ini sistemnya getok tular. Melihat antusiasme itu, akhirnya diputuskan untuk melembagakan rumah bimbel ini menjadi taman baca.

Pada tahun 2014, Hikmah mulai mengumpulkan para anak muda dan siapa pun yang bersedia dijadikan mitra di Banyuwangi untuk merumuskan program peduli literasi untuk anak-anak dan pemuda. Saya termasuk salah satu relawan yang tertarik untuk mendukung ide Hikmah. Dia punya keyakinan bahwa pasti ada banyak daerah lain yang membutuhkan taman baca seperti yang sudah didirikannya di Ketapang itu. Dari sanalah, mulai ada inisiasi pendirian Rumah Literasi Banyuwangi, yang kemudian berubah menjadi Rumah Literasi Indonesia yang kita kenal hari ini.

Tiga tahun masa awal RLI berdiri, kami gunakan dana pribadi, karena belum ada yang men-support. Lumayan berdarah-darah, tapi senang. Kami enjoy menjalankan itu. Setelah RLI semakin banyak dikenal orang dan mulai sering mendapatkan tawaran kerja sama, akhirnya kami para founder memutuskan untuk mendaftarkan RLI sebagai sebuah organisasi berbadan hukum/resmi.

Apa harapan dan tujuan RLI didirikan?

Cita-cita besar RLI adalah mewujudkan generasi yang berwawasan dan berkepribadian. RLI berharap anak-anak dan pemuda Banyuwangi mendapatkan pendidikan literasi dan berdaya di kampung halaman atau rumahnya sendiri. RLI ingin senantiasa mengembalikan fungsi utama rumah dan keluarga sebagai tempat yang paling indah dan aman untuk belajar. Jadi, RLI ada sebagai tempat belajar yang nyaman bagi anak-anak Banyuwangi.

Siapa saja pegiat atau kontributor RLI?

RLI mempunyai relawan tetap. Artinya, para relawan ini direkrut dengan perjanjian kontrak kerelawanan selama satu tahun dan nantinya akan diperpanjang bila yang bersangkutan bersedia. Para relawan tetap inilah yang aktif dilibatkan dalam penyusunan peta jalan (roadmap) program-program gagasan RLI. Mereka tidak dibayar, namun sebagai gantinya, RLI menghargai mereka dengan berbagai agenda kelas belajar dan capacity building yang rutin dilakukan tiga bulan sekali, bahkan terkadang sebulan sekali.

Di samping relawan tetap, ada pula relawan yang tidak diikat oleh perjanjian kontrak, sebutannya relawan simpatisan. Mereka adalah relawan yang direkrut sebagai eksekutor program dan akan secara otomatis bukan relawan lagi ketika program usai. Para relawan tetap maupun simpatisan ini berasal dari Kabupaten Banyuwangi, Jember, Bondowoso, dan Situbondo. RLI memberikan ruang bagi siapa saja yang ingin mengembangkan diri lewat kegiatan sosial untuk bergabung menjadi relawan. RLI dapat menjadi tempat yang nyaman bagi para relawan ini untuk mengembangkan skill dan pengetahuan mereka.

Siapa saja mitra kerja RLI?

Mulanya yang tertarik bekerja sama dengan RLI cuma orang-orang yang tertarik untuk membuat rumah atau taman baca saja. Namun setelah berproses akhirnya pemda (pemerintah daerah-red) dan beberapa pihak swasta yang tertarik dengan program RLI juga menjadi mitra.

Program atau kegiatan apa yang menjadi milestone di RLI?

Milestone RLI adalah program gerakan 1000 rumah baca. Fokus program ini adalah bagaimana caranya agar rumah-rumah baca di Banyuwangi bisa menjadi ruang untuk meningkatkan pengetahuan bahkan skill anak-anak dan pemuda di berbagai aspek. RLI menggunakan pendidikan literasi untuk memberdayakan anak-anak dan pemuda yang singgah di rumah baca. Pada tahun 2015, setahun setelah RLI memulai gerakan peduli literasi, ada 15 rumah baca berhasil didirikan di seluruh Banyuwangi. Jumlah itu kemudian berkembang menjadi 50-an rumah baca dalam kurun waktu tiga tahun. Program tersebut juga mendapatkan dukungan dari banyak pihak. Najwa Shihab dan Narasi TV adalah salah satu pendukung gerakan 1000 rumah baca yang dikelola RLI.

Manfaat apa yang sudah dicapai dari program atau kegiatan tersebut terhadap kehidupan warga?

Di masa pandemi, gerakan rumah baca yang dikelola RLI membantu meringankan beban para murid dan orang tua yang tidak siap dengan mekanisme sekolah daring. Dari data yang dikumpulkan RLI, 70 hingga 80 persen siswa di Banyuwangi tidak mendapatkan akses internet, bahkan 25 persen responden mengaku kalau mereka tidak punya gawai. Bagaimana mereka bisa menyerap materi kalau gawai dan internet saja tidak mereka punya. Rumah baca menyediakan tempat dan akses bagi anak-anak ini. Rumah baca juga menjadi tempat bagi para murid untuk bersama-sama mengulas kembali materi pelajaran dari sekolah formal yang belum sepenuhnya mereka pahami akibat adanya kebijakan sekolah daring. Keberadaan rumah baca yang menawarkan sekolah berbasis komunitas juga menjadi alternatif jalan keluar bagi para orang tua yang kesulitan mendampingi anaknya mengikuti kelas-kelas daring.

Tantangan apa yang kerap dihadapi sepanjang perjalanan di RLI?

Ada tantangan internal, misalnya soal kaderisasi relawan dan bagaimana caranya mempertahankan rumah-rumah baca yang telah didirikan. Relawan adalah kunci pertahanan rumah baca, sehingga kalau tidak terus dikader dan dikembangkan skill individunya, bisa menyebabkan kejatuhan banyak rumah baca.

Tantangan internal lainnya adalah SOP (standard operating procedure). RLI belum punya SOP yang kuat untuk internal organisasi maupun dalam menjalankan program-program, sehingga itu menjadi PR besar yang harus segera diselesaikan.

Ada juga tantangan pada aspek fundraising, di mana sulit sekali menumbuhkan jiwa wirausaha para pengelola rumah baca. Mereka cenderung masih mengharapkan bantuan dari desa atau dana hibah dari pihak lainnya. Padahal, langkah fundraising dengan berwirausaha adalah bagian dari strategi keberlanjutan sebuah rumah baca. Tapi RLI selalu optimis menghadapi berbagai tantangan dan percaya bahwa itulah proses yang harus dilalui.[]