COMBINE Ikuti Camp Sambel 2 di Malaysia

COMBINE Resource Institution (CRI) ikuti kemah pegiat gambar bergerak antarbangsa Camp Sambel 2 yang diselenggarakan oleh Engage Media. Acara ini berlangsung pada 19-23 Februari 2012 di Eagle Ranch Resort, Port Dickson, Negeri Sembilan, Malaysia. Ada dua delegasi COMBINE di acara itu, yaitu Yossy Suparyo (Koordinator Manajemen Pengetahuan) dan Novi Erisa (Koordinator Teknologi Informasi dan Komunikasi).

Camp Sambel 2 merupakan kelanjutan acara serupa, yaitu Camp Sambel 1 yang diadakan di Pasuruan, Jawa Timur pada 2010. Acara kemah kali ini diikuti oleh 80 peserta dari negara-negara di Asia Tenggara, seperti Indonesia, Malaysia, Timor Leste, dan Thailand. Selama Camp Sambel, peserta mengikuti lokakarya, diskusi, dan penayangan film dan video.

Selama acara, Yossy Suparyo, Koordinator Manajemen Pengetahuan COMBINE diminta menjadi narasumber dalam sesi media wiki, Open Source Matter, Video Editing dengan Kdenlive, dan Kebijakan Sensor. COMBINE sendiri telah memanfaatkan media wiki untuk dukungan pengetahuan di Pusat Sumber Daya Media Komunitas.

Engage Media merupakan organisasi yang bergerak di dunia video advokasi pada isu hak asasi manusia, lingkungan, dan kebebasan berekspresi di Asia Pasifik. Camp Sambel merupakan salah satu kegiatan Engage Media untuk pertukaran gagasan antarpegiat gambar bergerak yang rutin dilakukan setiap dua tahunan.

Kegiatan dimulai pada pukul 09.00 dan diakhiri pada pukul 22.00. Meski acara resmi telah usai, para peserta melakukan pertemua-pertemuan informal yang membangun kesepahaman dan jaringan kerja di kemudian hari. Ada sejumlah isu krusial yang diusung yaitu pelanggaran hak asasi, tata kelola lingkungan, video musik, pengentasan warga dari kemiskinan, LGBT, pengembangan teknologi berbasis open source, dan penyensoran.

3000 Orang Hadiri JMR 2012

Sekira 3000 orang turut meramaikan Jagongan Media Rakyat (JMR) 2012 selama 3 hari di kompleks Kampus Sekolah Tinggi Pemberdayaan Masyarakat Desa “APMD” Yogyakarta, Kamis-Jumat, (23-25/2). Jumlah tersebut merupakan hitungan kasar dari karcis parkir motor yang ludes selama acara. Mereka adalah para pewarta warga, blogger, pegiat media komunitas, mahasiswa, akademisi, aktivis kampung, dan banyak pihak lain yang baik dari seputaran Yogyakarta sampai luar Pulau Jawa.

Selama 3 hari mereka mengikuti 46 lokakarya, 4 dialog, 1 seminar nasional, dan puluhan pentas seni yang digeber bersama oleh COMBINE Resource Institution (CRI), Sekolah Tinggi Pemberdayaan Masyarakat Desa “APMD” Yogyakarta, ICT Watch, Rumah Blogger Indonesia, Jogloabang, dan @JogjaUpdate. Seminar Nasional Sistem Informasi Desa (SID) bertajuk “Basis Data Desa Sebagai Rujukan Rencana Pembangunan di Pedesaan” menjadi pembuka JMR 2012, Kamis, (23/2) di Ruang Seminar STPMD “APMD”. Selain undangan dari mitra kerja CRI, turut hadir para perangkat desa dari beberapa wilayah yang merupakan mitra kerja STPMD “APMD”. Tak pelak banyak peserta tak kebagian kursi dan materi seminar.

Wahyudi Hari Santosa, 1 dari 164 peserta seminar mengaku topik yang diusung CRI sangat menarik. Tapi ia menyayangkan para narasumber yang belum sepaham dengan topik pembicaraan. Apalagi ia menganggap narasumber dari Badan Pusat Statistik (BPS) berbicara tidak sesuai dengan kenyataan. BPS mengaku data-data nasional sudah sesuai dengan yang di daerah.

“Sewaktu penghitungan masyarakat miskin untuk pembagian Jamkesmas tahun 2008, terdapat perbedaan hasil. BPS mendapati kuota masyarakat yang berhak mendapatkan Jamkesmas sebesar 168.000 jiwa. Sedangkan tim kami mendapati bahwa 35.000 jiwa memiliki nama dan alamat yang sama. Artinya sebesar 133.000 jiwa yang missing dibebankan kepada pemerintah daerah,” aku Wahyudi yang kini menjabat Ketua Tim Pokja Sleman.

Usai seminar panitia JMR 2012 langsung menggeber rentetan lokakarya dan dialog secara serempak. Tiap harinya ada empat sesi lokakarya dan dialog dari pagi-malam di 11 ruang kelas, 1 ruang seminar, 1 ruang screening, dan hall STPMD “APMD” yang disulap jadi kelas terbuka. Puluhan lokakarya, dialog, seminar, dan pemutaran film tersebut terbagi dalam 5 tema besar: kebebasan berekspresi, ekonomi berkeadilan, kemandirian komunitas, pengurangan risiko bencana, TIK tepat guna, dan literasi media.

Dalam salah satu sesi “kebebasan berekspresi” misalnya, Suara Komunitas CRI menyelenggarakan lokakarya bertajuk “Kriminalisasi Pers Gaya Baru”. Lokakarya ini merupakan tukar pengalaman dengan Nurhayati “Uni Yet” Kahar yang pernah dipenjarakan gara-gara terus kritis dengan tulisannya di portal pewarta warga suarakomunitas.net.

Wahyudi Hari Santosa, 1 dari 164 peserta seminar mengaku topik yang diusung CRI sangat menarik. Tapi ia menyayangkan para narasumber yang belum sepaham dengan topik pembicaraan. Apalagi ia menganggap narasumber dari Badan Pusat Statistik (BPS) berbicara tidak sesuai dengan kenyataan. BPS mengaku data-data nasional sudah sesuai dengan yang di daerah.

“Sewaktu penghitungan masyarakat miskin untuk pembagian Jamkesmas tahun 2008, terdapat perbedaan hasil. BPS mendapati kuota masyarakat yang berhak mendapatkan Jamkesmas sebesar 168.000 jiwa. Sedangkan tim kami mendapati bahwa 35.000 jiwa memiliki nama dan alamat yang sama. Artinya sebesar 133.000 jiwa yang missing dibebankan kepada pemerintah daerah,” aku Wahyudi yang kini menjabat Ketua Tim Pokja Sleman.

Usai seminar panitia JMR 2012 langsung menggeber rentetan lokakarya dan dialog secara serempak. Tiap harinya ada empat sesi lokakarya dan dialog dari pagi-malam di 11 ruang kelas, 1 ruang seminar, 1 ruang screening, dan hall STPMD “APMD” yang disulap jadi kelas terbuka. Puluhan lokakarya, dialog, seminar, dan pemutaran film tersebut terbagi dalam 5 tema besar: kebebasan berekspresi, ekonomi berkeadilan, kemandirian komunitas, pengurangan risiko bencana, TIK tepat guna, dan literasi media.

Dalam salah satu sesi “kebebasan berekspresi” misalnya, Suara Komunitas CRI menyelenggarakan lokakarya bertajuk “Kriminalisasi Pers Gaya Baru”. Lokakarya ini merupakan tukar pengalaman dengan Nurhayati “Uni Yet” Kahar yang pernah dipenjarakan gara-gara terus kritis dengan tulisannya di portal pewarta warga suarakomunitas.net.