sdfsdfsfdsdf
sdf
s
fdsdf
sdfsdfsfdsdf
sdf
s
fdsdf
Bisa, knalpot mobil yang patah bisa dilas pakai las listrik (SMAW/stick welding), tapi hasilnya tergantung kondisi bahan dan lokasi patahnya.
Biasanya bengkel knalpot lebih sering pakai:
las CO₂ / MIG
las argon / TIG
atau las listrik biasa untuk kasus darurat atau bahan tebal
Kalau pakai las listrik:
cocok untuk pipa knalpot yang agak tebal
elektroda kecil lebih aman (misal RD260 1.6–2.0 mm)
arus jangan terlalu besar karena plat knalpot tipis dan gampang bolong
Masalah yang sering terjadi:
knalpot berkarat → saat dilas malah jebol
sambungan getas → patah lagi karena getaran mesin
bocor halus → suara masih cempreng
Supaya awet:
Bersihkan karat sampai besi sehat
Tambahkan plat penguat/sleeve di sambungan
Cek karet hanger knalpot — kalau putus atau keras, getaran bikin lasan cepat retak lagi
Kalau dekat flexible joint, kadang lebih baik ganti bagian itu sekalian
Kalau patahnya:
di leher knalpot/dekat manifold → panas tinggi, las listrik kadang kurang awet
di tabung belakang/pipa tengah → biasanya aman dilas
Bisa, knalpot mobil yang patah bisa dilas pakai las listrik (SMAW/stick welding), tapi hasilnya tergantung kondisi bahan dan lokasi patahnya.
Biasanya bengkel knalpot lebih sering pakai:
las CO₂ / MIG
las argon / TIG
atau las listrik biasa untuk kasus darurat atau bahan tebal
Kalau pakai las listrik:
cocok untuk pipa knalpot yang agak tebal
elektroda kecil lebih aman (misal RD260 1.6–2.0 mm)
arus jangan terlalu besar karena plat knalpot tipis dan gampang bolong
Masalah yang sering terjadi:
knalpot berkarat → saat dilas malah jebol
sambungan getas → patah lagi karena getaran mesin
bocor halus → suara masih cempreng
Supaya awet:
Bersihkan karat sampai besi sehat
Tambahkan plat penguat/sleeve di sambungan
Cek karet hanger knalpot — kalau putus atau keras, getaran bikin lasan cepat retak lagi
Kalau dekat flexible joint, kadang lebih baik ganti bagian itu sekalian
Kalau patahnya:
di leher knalpot/dekat manifold → panas tinggi, las listrik kadang kurang awet
di tabung belakang/pipa tengah → biasanya aman dilas
Bisa, knalpot mobil yang patah bisa dilas pakai las listrik (SMAW/stick welding), tapi hasilnya tergantung kondisi bahan dan lokasi patahnya.
Biasanya bengkel knalpot lebih sering pakai:
las CO₂ / MIG
las argon / TIG
atau las listrik biasa untuk kasus darurat atau bahan tebal
Kalau pakai las listrik:
cocok untuk pipa knalpot yang agak tebal
elektroda kecil lebih aman (misal RD260 1.6–2.0 mm)
arus jangan terlalu besar karena plat knalpot tipis dan gampang bolong
Masalah yang sering terjadi:
knalpot berkarat → saat dilas malah jebol
sambungan getas → patah lagi karena getaran mesin
bocor halus → suara masih cempreng
Supaya awet:
Bersihkan karat sampai besi sehat
Tambahkan plat penguat/sleeve di sambungan
Cek karet hanger knalpot — kalau putus atau keras, getaran bikin lasan cepat retak lagi
Kalau dekat flexible joint, kadang lebih baik ganti bagian itu sekalian
Kalau patahnya:
di leher knalpot/dekat manifold → panas tinggi, las listrik kadang kurang awet
di tabung belakang/pipa tengah → biasanya aman dilas
Kalau mau bikin aplikasi dengan model GPT 5.5 yang “low thinking” (lebih cepat, murah, respons singkat), kamu bisa pakai API dari OpenAI Platform
lalu pilih model GPT-5.5 dengan reasoning rendah / effort rendah di parameter request.
As my Bridge Year Program comes to a close, I reflect on the unique experiences during my time abroad in Indonesia. Over this past year since August 2025, I had the opportunity to intern with Combine Resource Institution (CRI), focusing on digital literacy and security in community development. This journey into an unfamiliar environment becomes one of the most meaningful and transformative experiences of my bridge year.
One of the most defining aspects of this experience has been learning to adapt. This was the first time being far from home, which also meant stepping outside of everything familiar—langauge, culture, environment—and learn to navigate through it. This adjustment period started early with my first assignment involving learning and familiarizing myself with CRI’s structure and organization by interviewing members from each core unit. I remember feeling anxious going into these conversations, especially since I was expected to take the initiative and engage with individuals I had just met. I had to adjust to different communication styles and in a new professional environment. This assignment was an important step to understand how the NGO functioned, while also building connections within the organization.

At the same time, the language barrier constantly remained a challenge, especially overwhelming in my adjustment period. With my small vocabulary I easily mixed up my words, creating many frustrating and embarrassing moments. During many events and programs CRI hosted, I struggled to follow the conversations and missed details in discussions. However, over time through constant interaction, I learned to rely on context clues, key words, and non-verbal communication to paint the whole picture. Although my bahasa Indonesia is still not perfect, I’ve grown confident in navigating through conversation, making me feel more connected in the workspace.
The most meaningful aspect that made my experience so treasurable is the strong connection I’ve built within CRI. Language becomes more than just a tool, but a bridge of connection that transcends barriers and gateway into someone else’s world. The relationships I formed made the environment feel genuine rather than just a workplace. This connection has made coming into work feel personal, turning it into something truly valuable. It wasn’t just about completing tasks or fulfilling responsibilities, but about being part of a community.

Through the NGO work, it has also increased my understanding and awareness of global and local issues. Working topics such as digital literacy and security in community development has made me more aware of the importance of accessibility, education and proactive planning in creating safer and empowered communities. One of the most memorable moments was participating in field work. I had the opportunity to visit an elementary school in Kebumen and witness the CRI’s hard work first hand. During the visit I observed students engaging in interactive activities on digital literacy, guided not only by the SCILLS project, but also by their own teachers who were taking the lead in implementing these practices. What stood out to me was how engaged and enthusiastic the students were. Many were eager to participate, which made the atmosphere energetic and genuine. All the partners observed the students with a sense of pride. In that moment, the efforts of CRI have become something real and visible, reinforcing the importance of initiatives in supporting and empowering communities.
On an inner-personal level, this experience has pushed me to become independent and confident. Even simply practicing bahasa Indonesia in daily interaction has made my journey meaningful. Along the way, I’ve made mistakes, gotten lost and confused, and endured through the uncomfortable. However, these struggles are part of the process. With each mistake and embarrassment, came the refinement, clarity and the confidence to continue to persevere and navigate through the next challenge.

Looking back, this experience has been both challenging and rewarding. It dropped me outside of my comfort zone, while also giving me a chance to discover a stronger sense of who I am as I learn to navigate through a different world. Moving forward, I know that the skills, perspectives, and relationships I’ve gained will contribute to how I approach new environments, challenges, and opportunities.
Melintasi Budaya dan Zona Nyaman: Tahun Jeda Saya di Indonesia
Seiring dengan berakhirnya Bridge Year Program saya, saya merefleksikan pengalaman unik selama tinggal di Indonesia. Selama satu tahun terakhir sejak Agustus 2025, saya berkesempatan untuk magang di Combine Resource Institution (CRI), dengan fokus pada literasi dan keamanan digital dalam pengembangan komunitas. Perjalanan ini, di lingkungan yang sebelumnya asing bagi saya, menjadi salah satu pengalaman paling bermakna dan transformatif dalam masa bridge year saya.
Salah satu aspek paling penting dari pengalaman ini adalah belajar untuk beradaptasi. Ini adalah pertama kalinya saya berada jauh dari rumah, yang berarti saya harus keluar dari segala hal yang familiar—bahasa, budaya, dan lingkungan—serta belajar untuk menavigasinya. Masa penyesuaian ini dimulai sejak awal, dengan tugas pertama saya yang mengharuskan saya memahami struktur dan organisasi CRI melalui wawancara dengan anggota dari setiap unit inti. Saya ingat merasa cemas sebelum memulai percakapan-percakapan tersebut, terutama karena saya diharapkan untuk mengambil inisiatif dan berinteraksi dengan orang-orang yang baru saya temui. Saya juga harus menyesuaikan diri dengan berbagai gaya komunikasi dalam lingkungan profesional yang baru. Tugas ini menjadi langkah penting untuk memahami bagaimana NGO ini bekerja, sekaligus membangun koneksi di dalam organisasi.
Di saat yang sama, hambatan bahasa menjadi tantangan yang terus saya hadapi, terutama pada masa awal penyesuaian yang terasa sangat berat. Dengan kosakata yang masih terbatas, saya sering kali tertukar dalam memilih kata, yang menimbulkan banyak momen yang membuat frustrasi sekaligus memalukan. Dalam berbagai acara dan program yang diselenggarakan oleh CRI, saya sering kesulitan mengikuti percakapan dan melewatkan detail penting dalam diskusi. Namun, seiring waktu dan melalui interaksi yang terus-menerus, saya belajar untuk mengandalkan konteks, kata kunci, dan komunikasi non-verbal untuk memahami keseluruhan situasi. Meskipun kemampuan bahasa Indonesia saya masih belum sempurna, saya menjadi lebih percaya diri dalam berkomunikasi, yang membuat saya merasa lebih terhubung di lingkungan kerja.
Aspek yang paling bermakna dan membuat pengalaman ini begitu berharga adalah hubungan yang saya bangun di dalam CRI. Bahasa menjadi lebih dari sekadar alat komunikasi, tetapi juga menjadi jembatan yang melampaui batasan dan membuka pintu untuk memahami dunia orang lain. Hubungan yang saya bentuk membuat lingkungan kerja terasa tulus, bukan sekadar tempat bekerja. Koneksi ini membuat saya merasa bahwa datang ke kantor bukan hanya tentang menyelesaikan tugas atau memenuhi tanggung jawab, tetapi juga tentang menjadi bagian dari sebuah komunitas.
Melalui pekerjaan di NGO ini, pemahaman dan kesadaran saya terhadap isu-isu global dan lokal juga semakin meningkat. Bekerja dengan topik seperti literasi dan keamanan digital dalam pengembangan komunitas membuat saya semakin menyadari pentingnya aksesibilitas, pendidikan, dan perencanaan yang proaktif dalam menciptakan komunitas yang lebih aman dan berdaya. Salah satu momen yang paling berkesan adalah saat saya terlibat dalam kegiatan lapangan. Saya berkesempatan mengunjungi sebuah sekolah dasar di Kebumen dan melihat langsung hasil kerja keras CRI. Dalam kunjungan tersebut, saya mengamati siswa-siswa yang terlibat aktif dalam kegiatan interaktif tentang literasi digital, yang dipandu tidak hanya oleh proyek SCILLS, tetapi juga oleh guru-guru mereka yang mengambil peran utama dalam menerapkan praktik tersebut. Hal yang paling berkesan bagi saya adalah antusiasme para siswa. Banyak dari mereka sangat bersemangat untuk berpartisipasi, menciptakan suasana yang hidup dan tulus. Para mitra yang hadir juga mengamati para siswa dengan rasa bangga. Pada saat itu, upaya CRI menjadi sesuatu yang nyata dan terlihat, yang semakin menegaskan pentingnya inisiatif dalam mendukung dan memberdayakan komunitas.
Secara pribadi, pengalaman ini mendorong saya untuk menjadi lebih mandiri dan percaya diri. Bahkan hal sederhana seperti berlatih bahasa Indonesia dalam interaksi sehari-hari telah membuat perjalanan ini menjadi bermakna. Sepanjang proses ini, saya membuat kesalahan, merasa tersesat dan bingung, serta menghadapi berbagai ketidaknyamanan. Namun, semua itu merupakan bagian dari proses. Dari setiap kesalahan dan rasa malu, saya memperoleh pembelajaran, kejelasan, dan kepercayaan diri untuk terus melangkah dan menghadapi tantangan berikutnya.
Melihat kembali perjalanan ini, pengalaman ini penuh dengan tantangan sekaligus penghargaan. Pengalaman ini membawa saya keluar dari zona nyaman, sekaligus memberi saya kesempatan untuk menemukan jati diri yang lebih kuat saat saya belajar menavigasi dunia yang berbeda. Ke depan, saya yakin bahwa keterampilan, perspektif, dan hubungan yang saya peroleh akan membentuk cara saya menghadapi lingkungan baru, tantangan, dan berbagai peluang yang akan datang.
Michelle Nguyen adalah mahasiswa S1 di Universitas Princeton yang sedang kuliah di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) melalui Bridge Year Program. Dia berasal dari Vietnam dan tinggal di Amerika Serikat. Ia memiliki minat terhadap sains, engineering, dan hal-hal yang erat kaitannya dengan teknologi. Saat ini dia telah menyelesaikan program magangnya di Combine Resource Institution.
“Saat ngecek hp, lo saldoku kok habis? Tadi masih utuh, 22 juta sekian,” ungkap Betti Lestari parau memaparkan pengalaman penggunaan internet paling membekas dalam ingatannya ketika berada di Indiee Coffee, Desa Tenggulun, pada Sabtu, 7 Maret 2026.
Lahir dan bertumbuh di Kecamatan Tenggulun, Aceh Tamiang, sang Ketua Kelompok Cendana ini mengaku telah menggunakan internet sekitar satu dasawarsa. Kelompok Cendana merupakan perkumpulan perempuan akar rumput di Desa Sumber Makmur, Tenggulun, yang berusaha menjaga kelestarian hutan dengan membantu kelompok restorasi dan mengelola Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) menjadi produk bernilai ekonomi.
Perempuan yang lahir di awal milenial itu memaparkan memori manis saat pertama kali mengenal dan menggunakan internet. Bagi petani sayur sepertinya yang sungguh pemalu dalam menghadapi orang banyak, kehadiran internet laksana pengaminan setelah panjangnya doa.
“Kalau jualan di internet mudah. Posting, beri harga, tulis opsi pengantaran. Orang-orang bisa langsung memesan, saya tinggal mengantarkan,” papar Betti, “jadi tidak perlu teriak-teriak, ‘Sayuur…. Sayuur… Buaah…. Buaah…’,” sambungnya tergelak.
Koneksi di Tengah Bencana
Ranger perempuan kelahiran 1981 ini mengaku kehadiran internet—walau terkadang kerap macet-macet—telah membantunya serta para warga berkomunikasi lebih mudah terutama saat menghadapi momentum bencana. Masyarakat Tenggulun sendiri telah menghadapi dua kali bencana dahsyat banjir bandang dan longsor pada tahun 2006 dan 2025. Bagi Betti, tetap terdapat perbedaan dalam kehidupannya ketika menghadapi kondisi bencana sebelum dan sesudah internet ada.
“Saat bencana 2006, internet belum ada, listrik mati, berita pun kosong. Mungkin karena sudah terbiasa, jadi tidak merasa kesusahan berkomunikasi. Tapi bencana 2025, kita sudah ada internet, terbiasa cari berita, penasaran bercampur panik, terus overthinking,” papar Betti sembari mengulum senyum.
Kemudian terkait penggunaan internet untuk mengakses informasi bencana, Betti mengaku jarang menggunakannya. Informasi bencana yang pernah dibacanya secara virtual hanya sebatas berita terkait bencana gempa dan tsunami. “Kalau bencana terbaru tidak mencari beritanya. Cukup melihat tanda-tanda alam saja,” imbuhnya.
Pada tahun 2006, Betti menghadapi musibah banjir bandang bersama keluarganya di Desa Sumber Makmur. Namun pada penghujung tahun 2025 lalu, dia justru sedang berada di Linge, berjarak jauh dari rumah, selama belasan hari lamanya. Linge merupakan salah satu kecamatan di Aceh Tengah yang terdampak bencana ekologis cukup parah. Akses jalan rusak, jembatan terputus, tiang-tiang listrik tumbang, dan distribusi logistik mandek. Sehingga Betti bersama masyarakat yang turut ikut dalam pergelaran Festival Nenggeri Linge saat itu terpaksa mengevakuasi diri dengan berjalan kaki selama 3 malam 2 hari untuk mencapai pusat kota Takengon.

Menurut keterangan Betti, sinyal internet pertama kali didapatkannya kembali pascabencana ketika tiba di Takengon. Satu persatu pesan via chat WhatsApp masuk memenuhi gawainya. Teks virtual dari abang, kakak, adik, hingga tetangga dari kampung halaman yang menanyakan kabarnya hadir satu persatu, kecuali chat dari sang suami.
Alhasil, saat melanjutkan perjalanan pulang hingga ke Tamiang dan bertemu keluarga, Betti pun melampiaskan rasa kesalnya. Suaminya, menurut cerita Betti, sempat heran sebab setelah 12 hari tak berjumpa, ketika bertemu, justru mereka tidak bertegur sapa.
“Abang memang biasanya nelepon. Tapi ini kan sinyal sedang sulit. Apa susahnya mengirim sebuah chat?” papar Betti, “Merajuk dong saya!” jelasnya sembari tertawa renyah.
Tidak Melulu Internet Positif
Selalu ada pasang surut keadaan di dalam kehidupan, demikian juga dengan pengalaman dalam penggunaan internet di keseharian. Di samping cerita penggunaan internet positif untuk berdagang dan saat menghadapi bencana, Betti juga punya pengalaman lainnya. Kisahnya menghadapi penipuan online (cyber fraud) melalui pesan WhatsApp dan teror telepon berulang.
“Memang ada telepon resmi dan yang tidak. Sayangnya, saya belum bisa membedakan,” jelas Ketua Kelompok Cendana yang saat itu sedang mengurus perpajakan untuk menerbitkan izin usaha kelompok mereka.
Betti sempat merasa curiga karena nomor-nomor itu kerap kali menghubunginya di akhir pekan, Sabtu dan Minggu, yang menurut pemahamannya bukan hari kerja perkantoran pada umumnya. Dia kerap mengabaikan pesan teks dan telepon tersebut, tetapi lagi-lagi dia terus menerus dihubungi. Betti sempat berkonsultasi dengan beberapa sejawat yang menurutnya paham akan kondisi tersebut, tetapi saran yang didapatkannya hanya sebatas kalimat, “Tetap hati-hati dan waspada!”, tanpa menemukan arahan tindakan konkret lainnya.
Bak kata pepatah, “Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih,” setelah cukup lama bertahan bermodalkan kewaspadaan, benteng pertahanan perempuan tamatan Sekolah Dasar ini runtuh juga. Besarnya rasa sayang bercampur kekhawatiran akan potensi dicabutnya izin usaha Kelompok Cendana jika pengurusan perpajakan tak kunjung usai membuat sang ketua gamang.
Di hari nahas itu, tepatnya di bulan Ramadhan 1446 Hijriah, sebuah aksi penipuan dalam bentuk suara (voice phishing) pun terjadi. Sang penelepon mengaku sebagai staf perwakilan kantor pajak. Tidak ada pemaparan yang mencurigakan, semua penjelasan terdengar valid, dan yang terpenting tak ada permintaan transaksi keuangan yang mencolok, kecuali untuk pembelian meterai elektronik sebesar 12.500 rupiah.
“Saya diminta menekan 6 digit nomor acak. Katanya untuk transaksi meterai. Saya merasa aman karena jumlah uangnya kecil dan bukan pin rekening,” jelas Betti menerawang ingatan setahun silam.
Lantas hanya dalam hitungan detik, notifikasi penarikan uang sebanyak dua kali pun hadir, yaitu sebesar sembilan juta sekian-sekian dan dua belas juta sekian-sekian. Kala itu, Betti belum menyadari bahwa 6 digit nomor acak tersebut merupakan OTP (One-Time Password), kode verifikasi dinamis untuk mengecek kebenaran identitas pengguna dan membuka akses ke rekening sang nasabah.
“Awalnya saya enggak percaya. Setelah berulang kali cek BYOND (rekening online), saldo saya hanya tinggal beberapa puluh ribu saja,” sesalnya.
Tak tunggu lama, Betti langsung menghubungi beberapa sejawat terpercaya untuk berkonsultasi. Dari rekannya yang bekerja di bank hingga Pembina Kelompok Cendana. Kemudian dia langsung melayangkan laporan ke Polres dan bank pusat. Namun apa hendak dikata, semua usahanya berakhir nihil.
“Ekonomi saya memang pas-pasan, tetapi saya tidak gelap mata terhadap uang. Saya ini petani, sudah terbiasa bekerja keras. Tidak tertarik pada iming-iming hadiah,” jelas perempuan yang dikenal ahli mengolah aneka kuliner sehat ini.
Pada akhirnya, luka dan duka dari efek penipuan via internet tersebut dipendam oleh Betti seorang diri. Dia tidak ingin mengkhawatirkan anggota kelompoknya, suaminya, dan juga orang tuanya. Kesehatan mental perempuan Tenggulun yang dikenal tangguh ini sempat merosot tajam. Namun, perlahan tapi pasti, Betti menguatkan diri untuk bisa bangkit kembali.
“Jadi jarang keluar rumah. Tetap puasa, tetap memasak, tapi lebih sering mengurung diri di kamar dan menangis sendirian”, kisahnya. Betti menilai dukungan suami dan sejawat yang terus menyemangati membuat asanya tak jadi patah.
Walau mengaku agak trauma menggunakan internet setelah mengalami penipuan online, Betti tetap tidak ingin berhenti menggunakan akses dunia maya tersebut untuk menebarkan kebajikan. Dia menilai kejadian merugikan itu sebagai cobaan sekaligus pembelajaran hidup yang hikmahnya sangatlah berharga baginya.
“Kita berpikir positif saja. Itu bukan rezeki kita. Rezeki itu terkadang datang enggak disangka-sangka dan hilang enggak ketebak bagaimana.”
Betti pun memberikan beberapa tips dalam berinternet agar terhindar dari penipuan. Diantaranya; pertama, jangan sembarangan merespons nomor yang tidak dikenal. Kedua, jangan sembarangan mengklik tautan yang dibagikan. Ketiga, pikirkan, pakai logika, dan tetap waspada.

“Saya belajar untuk lebih waspada. Kejadian ini menjadi pendorong bagi saya untuk semakin pintar berinternet,” tutur Betti.
Starlink dan Harapan Baru
Perlu menempuh sekitar 490 km perjalanan mengendarai mobil dari pusat kota Banda Aceh hingga tiba di Desa Sumber Makmur, Kecamatan Tenggulun, Kabupaten Aceh Tamiang. Perjalanan yang menghabiskan waktu tempuh hingga 11 jam tanpa jeda itu akhirnya dibagi dalam dua sesi. Sesi Banda Aceh-Langsa dan Langsa-Aceh Tamiang. Bukan hanya demi mencegah efek kelelahan akut selama perjalanan di bulan Ramadhan tetapi juga karena banyaknya jalan dan jembatan rusak sulit akses yang diakibatkan oleh bencana ekologis berupa banjir bandang dan longsor, serta gempa bumi, yang terjadi di Aceh pada November dan Desember 2025.
Sumber Makmur adalah salah satu desa yang masyarakatnya hidup dalam ribuan hektar perkebunan sawit. Menariknya, di kecamatan ini pula berdiri Stasiun Restorasi Kawasan Hutan Tenggulun. Stasiun riset tersebut hadir dengan tujuan mengembalikan kawasan hutan lindung yang sebelumnya pernah ditanami sawit menjadi hutan tropis kembali melalui penanaman pohon tegakan seperti pohon durian, jengkol, sukun, dan sebagainya. Perlu kita ingat bersama bahwa sawit bukanlah pohon dan hektaran perkebunan sawit bukanlah hutan.
Memerlukan jarak tempuh sejauh 22 km—dengan kondisi jalan bergelombang, penuh kerikil, nyaris tanpa aspal—untuk mencapai Desa Sumber Makmur jika bertolak dari Simpang Seumadam di lintas jalan nasional Banda Aceh–Medan.. Selain akses jalan yang sulit, desa tersebut juga mengalami keterbatasan akses internet. Tower jaringan internet di sana kerap rusak. Sehingga jaringan internet yang dibutuhkan sering mengalami kendala akses.
“Saya pernah menyampaikan aspirasi kepada pemerintah daerah terkait kebutuhan perbaikan jalan/infrastruktur dan jaringan internet. Tapi hingga kini belum digubris, ” papar Betti.
Sehingga ketika Combine Resource Institution (CRI) asal Yogyakarta menghibahkan satu unit paket konektivitas darurat berupa perangkat internet satelit Starlink dan panel surya sebagai dukungan akses informasi kepada Kelompok Cendana pada Maret 2026 lalu, para anggota kelompok perempuan Desa Sumber Makmur itu tampak begitu gembira.
“Alhamdulillah, internetnya lancar,” seru Sulastri, salah seorang anggota Kelompok Cendana, girang.
Kemudian Betti memaparkan salah satu kendala terbesar yang dihadapi kelompok perempuan di bidang ekonomi konservasi adalah keterbatasan akses internet untuk mempromosikan dan memasarkan produk mereka secara daring. Jenis produk yang dipasarkan Kelompok Cendana di antaranya jamur tiram, tepung pisang dan ubi, serta berbagai produk daur ulang dari olahan limbah lidi sawit dan sampah plastik.
Kendala lain terkait akses internet yang dirasakan anggota Kelompok Cendana adalah ketika harus mengunggah data-data berukuran besar hasil patroli hutan yang dilakukan oleh para ranger perempuan. Orang-orang muda ditugaskan untuk mengirimkan informasi kondisi hutan terkini di sekitar mereka. Namun karena lemahnya akses internet, mereka terpaksa pergi ke salah satu kafe di desa sebelah yang jarak tempuhnya tidak dekat dengan kondisi jalan bergelombang penuh bebatuan. Bukan hanya tantangan jarak yang melelahkan dan kondisi jalan yang cenderung tidak aman, lebih dari itu, para anggota bertugas kembali harus merogoh kocek pribadi demi membayar minuman, cemilan, sekaligus paket starlink di tempat tersebut.

“Kehadiran starlink ini mengurangi masalah akses internet yang kami hadapi. Jadi agak meringankan beban,” ungkap Betti sembari berterima kasih.
Internet Newbie
Walau sama-sama lahir sebagai generasi awal milenial, pengalaman eksplorasi internet Sulastri berbeda jauh dibandingkan Betti Lestari. Kalau Betti sudah akrab dengan internet sejak 10 tahun lalu, Lastri justru baru menggunakan internet sejak tiga bulan terakhir, persisnya setelah bencana ekologis melanda Sumatera.
“Karena keadaan ekonomi, jadi belum bisa beli,” papar Lastri terkait alasannya tak kunjung memiliki telepon pintar. “Anak-anak pun banyak yang sedang sekolah, jadi kita mementingkan sekolah anak-anak dulu,” imbuh ibu empat anak itu.
Selaku ibu, Lastri cenderung lebih sering mengalah demi memenuhi kebutuhan buah hati dan keluarganya. Namun perempuan kelahiran Juni 1982 tersebut mengaku merasa sering ketinggalan informasi karena tidak dapat menggunakan internet. Padahal setelah menggunakan smartphone, Lastri semakin menyadari betapa dia merasa lebih produktif dengan mengakses internet positif.
“Belanja sekarang bisa pakai hp. Mau jualan juga bisa pakai hp. Bisa promosi online juga. Dulu tidak tahu apa-apa,” sebut Lastri mencurahkan isi hatinya.
Selain tujuan mengakses informasi dan menjaga koneksi daring sesama anggota Kelompok Cendana, Lastri menyebutkan alasan utamanya berhijrah dari ponsel jadul ke ponsel pintar adalah demi mendukung kebutuhan pendidikan anak-anaknya.
“Sekarang seluruh wali murid harus punya smartphone. Sebab semua tugas sekolah anak-anak dikirimkan melalui grup WhatsApp,” paparnya.
Secara umum, Lastri menggunakan gawainya untuk berkomunikasi, mendukung pembelajaran sekolah anak, dan sesekali mengakses hiburan melalui media sosial. Internet juga digunakan olehnya bersama anggota Kelompok Cendana lainnya untuk mempromosikan produk-produk kreasi kelompok mereka seperti piring lidi sawit serta tikar dan tas anyaman dari limbah plastik di marketplace.
“Rasanya enggak nyangka. Kok bisa kreasi buatan tangan saya dibeli, bahkan hingga ke luar negeri. Itu kan limbah!” Turur Sulastri, “Bangga saya. Limbah yang dibuang bisa saya oleh menjadi uang,” kisahnya.
Kemudian saat ditanyakan tentang pengalamannya mengakses informasi resmi terkait bencana melalui internet, sontak dia menggelengkan kepala dan berkata, “tidak pernah”. Lastri dan keluarganya terbiasa membaca tanda-tanda alam di sekitar secara langsung dibandingkan mencari informasi terkait bencana melalui internet.
“Kami memerhatikan perilaku semut. Kalau gerombolan semut sudah merayap ke dinding atas, itu tandanya banjir akan segera tiba,” jelasnya.
Namun, selaku masyarakat dengan ekonomi menengah ke bawah yang hidup di wilayah rawan bencana seperti Tenggulun, mau tidak mau Lastri dituntut untuk bisa berdamai dengan potensi bencana banjir berulang. Dia lantas membagikan segelintir kearifan lokal terkait tata cara menghadapi banjir di wilayahnya. Kata Lastri, jika banjir datang tanpa kehadiran hujan, maka kemungkinan air surut dengan cepat. Namun, tambahnya, jika banjir hadir disertai hujan gerimis tanpa henti, dia menyarankan untuk segera mengungsi ke wilayah aman yang lebih tinggi.
“Memang sebagai perempuan, kita sering merasa tidak nyaman hidup di pengungsian. Harus selalu berpakaian labuh dan tidak bebas bergerak seperti di rumah,” kisahnya, “Mau pindah rumah, uang pun engga ada. Ya sudah, berdamai saja dengan keadaan,” imbuh Lastri yang sempat mengungsi selama 3 hari selama bencana dahsyat pada November 2025 silam.

Banyak tantangan dan perubahan skenario hidup yang harus dihadapi oleh masyarakat di wilayah rawan bencana seperti yang dialami Lastri dan keluarganya. Tidak sedikit waktu dan tenaga yang terkuras saat harus kembali membersihkan tempat tinggal yang basah dan tergenang lumpur. Ditambah lagi guncangan ekonomi karena harga bahan pokok yang seketika melambung tinggi. “Saat bencana, wafer yang harganya 2 ribu jadi 25 ribu, harga bensin sempat mencapai 100 ribu per liter, bahkan air mineral sedang dihargai 25 ribu,” kenang Lastri.
Uang hasil penjualan kebun seluas 3 hektare yang seharusnya digunakan untuk membeli kebun lainnya yang berjarak lebih dekat dari rumah, berakhir terpakai demi bertahan hidup pascabencana. Dari memperbaiki lantai rumah yang rusak parah dan mengecor lubang sarang ular kobra agar tak lagi nyasar memasuki kediaman mereka.
“Cuma dapat 14 rante tanah (± ½ hektare). Selebihnya sudah habis untuk bertahan hidup. Jika menunggu bantuan, entah kapan. Sedangkan kobra sudah sering masuk rumah. Kan takut!!” Lastri berkisah, raut wajahnya gelisah.
Saat membandingkan kondisi dahsyatnya bencana banjir bandang yang dia hadapi pada tahun 2006 dan 2025 jika dikaitkan dengan kehadiran internet, Lastri pun berkomentar. “Lumayan 2025 ini. Walau internet terputus sementara, masih tetap bisa saling berkomunikasi nantinya. Dulu di 2006 tanpa internet, untuk mengetahui kabar keluarga saja, kita harus datang dan lihat langsung sendiri. ”
Menariknya, walau tergolong newbie di dunia perinternetan, Lastri tetap menyetujui pentingnya kehadiran internet dalam merespons bencana. “Bedalah! Orang yang punya internet akan dapat informasi lebih cepat. Sedangkan saya, enggak tahu apa-apa kecuali diberi tahu langsung,” jelasnya.
Perempuan yang menamatkan pendidikannya di bangku Sekolah Dasar ini berharap kehadiran internet pada ponsel pintarnya dapat menambah pengetahuan dan informasi yang dapat mencerdaskannya di masa depan. “Sedih rasanya ketika enggak tahu apa-apa. Semoga saya bisa lebih pandai dalam menggunakan internet. Agar enggak ketinggalan informasi lagi,” ungkap Sulastri.
Internet Bagi Teman Disabilitas
Bak kata pepatah, “Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya”. Dari Aceh Tamiang, cerita perempuan milenial terkait internet dan bencana berpindah ke Aceh Utara. Penuturan jujur dari pengalaman khas perempuan menghadapi kedahsyatan bencana dan bagaimana internet hadir di kehidupan seorang Disabilitas Tunadaksa (disabilitas fisik tangan dan kaki).
Lainawidar, alias Kak Na, demikian namanya dikenal. Dia memiliki sekelebat memori baik saat menggunakan internet dari gawai saudaranya. Sebuah fenomena yang menurutnya langka. Video yang membuktikan bahwa sejatinya di dunia ini dia tidaklah sendirian.
“Wah, ternyata ada juga orang yang kondisinya mirip saya. Masih muda dan sukses pula. Saya jadi terinspirasi,” seulas senyum pun muncul membingkai wajah sendunya.
Hal itu tampaknya menjadi satu-satunya memori baik bagi Kak Na terkait penggunaan internet. Walau ingin mengeksplorasi internet lebih jauh, tetapi dia tidak memiliki ponsel pintarnya sendiri. Anak terakhir dari enam bersaudara ini hanya bisa berpuas hati menjangkau dunia luar melalui telepon dan sms dari ponsel jadulnya.
“Pernah lihat tapi tidak pernah pakai perangkat internet. Mereka punya informasi yang cepat karena ada internet di hp-nya,” paparnya. Walau ingin mengeksplorasi internet lebih jauh, Kak Na paham kalau kondisi ekonomi keluarganya tidak cukup ramah untuk menghadirkan ponsel pintar untuk dia miliki.
Kesulitan semakin bertambah setelah bencana ekologis berupa banjir bandang setinggi 5 meter meluluhlantakkan rumah keluarganya. Sempat terjatuh dan terbawa air banjir, Kak Na nyaris putus asa. Lantas dia meminta keluarganya untuk segera pergi menyelamatkan diri dan meninggalkannya seorang diri. Namun sang abang menolak ide gila itu dan tetap berusaha mengevakuasi mereka berdua ke tempat yang aman.
“Saya merasa terbatas karena perbedaan fisik. Mereka bisa jalan sendiri, saya kan enggak!” Ungkap Kak Na, suaranya serak, kedua bola matanya berkaca-kaca.
Pengalaman khas perempuan disabilitas dirasakan langsung oleh Kak Na selama berada di pengungsian. Tidak ada hal yang bisa dibawa, kecuali dirinya sendiri, saat berusaha lari dari amukan air bah.
Selama dua malam Kak Na terus memakai pakaian basah di pengungsian. Tidak ada air untuk diminum, konon lagi untuk membersihkan diri. Padahal saat itu dia sedang menstruasi. Bahkan dia sempat terserang demam tinggi dan mengalami diare. Bantuan baru tiba hari kelima pascabencana.
“Rasanya sulit. Seandainya ada pertolongan untuk mengganti celana dalam dan pembalut, pasti bisa lebih nyaman,” pikirnya saat itu.

Menurut pengamatan Lainawidar, saat bencana melanda, orang-orang tidak lagi sibuk dengan gawainya. Tak ada aktivitas kabar-mengabari. Setiap orang sibuk menyelamatkan diri dan mencari tempat teraman untuk mereka tuju.
Kecamatan Sawang di Aceh Utara tak ubahnya seperti Kecamatan Tenggulun di Aceh Tamiang. Masyarakat di kedua tempat itu sudah sangat familier dengan kondisi bencana banjir berulang. Namun yang menarik, warga di kedua lokasi menyatakan bahwa bencana ekologis berupa banjir bandang dan longsor pada penghujung 2025 silam merupakan versi terdahsyat sejauh ini.
Di Aceh Utara sendiri, bencana besar yang tercatat sejarah telah terjadi sebanyak tiga kali yaitu pada tahun 1983, 2000, dan 2025. Masyarakat setempat percaya bahwa tingginya intensitas bencana sebanding dengan maraknya penebangan pohon di wilayah pegunungan dan eksploitasi galian C di Sungai Sawang. Alhasil, suhu di Sawang dirasa semakin panas dan rasa durian pun dipercaya semakin hambar, belum lagi bencana yang hadir semakin meresahkan dari tahun ke tahun disebabkan kerusakan lingkungan yang masif dan perubahan iklim.
“Takut! Apalagi kalau suasana mendung, langsung panik. Bagaimana kalau banjir lagi?” Jawab perempuan kelahiran 1984 tersebut saat ditanya tentang kondisinya terkini.
Saat ditemui, Kak Na dan keluarganya sudah kembali ke rumah mereka. Rumah itu diselimuti debu halus kecoklatan yang menempel di sekeliling dinding rumah. Di berbagai sudut di luar rumah terdapat tumpukan-tumpukan lumpur yang belum sepenuhnya kering. Suasana Sawang masih terasa cukup mencekam walau nyaris mencapai 3 bulan pascabencana.
“Bencana membuat kondisi di sekitar saya lebih sulit. Kondisi sekitar rumah menjadi becek dan licin. Sedangkan bantuan dukungan khusus untuk disabilitas seperti alat bantu jalan (walker) belum juga saya dapatkan,” papar perempuan yang memiliki keahlian menjahit dan merangkai bunga ini.
Perempuan Sawang yang menamatkan pendidikannya hingga di bangku SMP ini mengaku bahwa salah satu hal yang sangat dibutuhkan oleh seorang perempuan disabilitas sepertinya adalah toilet khusus di dalam rumah. Sehingga dapat memperkecil risiko kecelakaan saat harus mengakses kamar mandi di luar rumah yang cenderung jauh dan licin.
Saat ditanya tentang pengalamannya menyaksikan informasi terkait bencana di internet, Kak Na menyebutkan bahwa dirinya pernah melihat dari media sosial di ponsel pintar yang saudaranya tunjukkan. Terkadang dia ikut nimbrung untuk sesekali melihat tontonan yang disaksikan oleh anggota keluarganya melalui gawai masing-masing.
“Saya sering penasaran melihat orang-orang yang berinternet. Kok sepertinya mereka asyik sekali ya?” Ungkap Kak Na. “Saya berharap bisa punya hp internet juga. Bisa jadi saya enggak bisa ke mana-mana, tetapi melalui akses internet, saya bisa tetap terinspirasi dan mengurus diri sendiri,” tutup Lainawidar.
Demikianlah kisah tiga serangkai perempuan milenial sebagai pengguna internet dan penyintas bencana di Aceh. Betti Lestari menjadi sentral cerita dan dua narasi lainnya dari Sulastri dan Lainawidar memperkaya ragam sudut pandang akan pengalaman khas perempuan dengan kondisi fisik, latar belakang ekonomi, dan lokasi tinggal yang berbeda. Semoga terdapat satu dua hikmah yang dapat dipetik dari ragam pengalaman dan pembelajar yang telah dibagikan oleh ketiganya. Terima kasih telah membaca.[]
Bencana biasanya tidak datang tanpa tanda. Ada banyak isyarat yang disampaikan lewat pesan alam. Hujan yang turun lebih lama dari biasanya, sungai yang mulai meluap, air yang semula jernih berubah menjadi coklat, hingga hewan-hewan seperti burung, tikus, atau serangga bergerak massal menjauhi sungai atau lembah yang menjadi isyarat awal, bahwa banjir segera tiba.
Di banyak rumah, perempuan sering menjadi orang pertama yang bergerak mencari informasi, baik bertanya kepada tetangga, mengecek keadaan cuaca, memantau keadaan di sekitarnya sembari mengemasi barang-barang berharga. Ia juga orang pertama yang berperan menenangkan anak, mencarinya ketika belum sampai ke rumah, atau menghubungi via telepon jika anaknya berada di daerah berbeda untuk memastikan keadaannya.
Dalam situasi seperti itu, internet menjadi alat penting untuk mencari kabar, berbagi informasi, dan saling mengingatkan. Dari balik layar itulah, cerita-cerita tentang cara bertahan menghadapi banjir yang datang berulang perlahan terbentuk. Cerita yang jarang terdengar, tetapi menyimpan pengetahuan penting bagi kehidupan sehari-hari dan kedepannya.
Seperti cerita yang dituturkan oleh dua perempuan yang tinggal di Gampong Air Sialang Hilir. Sebuah kampung di Kecamatan Samadua, Kabupaten Aceh Selatan, Provinsi Aceh. Secara geografis, Gampong Air Sialang dikelilingi aliran sungai. Nama Air Sialang sendiri tidak lahir tanpa alasan, karena nama tersebut diambil dari nama sungai yang mengelilingi kampung ini, mulai dari Air Sialang Tengah, Air Sialang Hulu, hingga Air Sialang Hilir.
Selain sungai Air Sialang, daerah ini juga diapit oleh dua sungai lainnya, yaitu sungai Air Sarap, dan Sungai Air Gadang. Sehingga untuk menuju ke pemukiman warga, orang harus melewati beberapa jembatan penghubung. Sungai yang mengitari kampung itu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari warga. Tak heran, terdapat banyak sumber mata air yang dibuat menjadi telaga di kampung ini. Namun dibalik itu, juga menyimpan potensi ancaman saat hujan turun dalam waktu lama. Yaitu banjir yang datang secara berulang. Ada yang skala besar sampai menelan jiwa, dan harta benda, tapi ada juga hanya naik air sebatas ukuran mata kaki. Khususnya di rumah warga yang bangunannya masih rendah.
Banjir dari Waktu ke Waktu

Bagi warga setempat, terutama para perempuan yang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah bersama keluarga, perubahan tinggi air di sungai menjadi sesuatu yang selalu diperhatikan. Ketika hujan turun lebih lama dari biasanya, mereka mulai bersiap. Barang-barang penting diangkat lebih tinggi, stok makanan dan pakaian anak-anak disiapkan. Dokumen keluarga dan ijazah disimpan di tempat yang lebih aman.
Sebab, menurut sejarahnya di Gampong Air Sialang pernah mengalami banjir dari waktu ke waktu. Pengalaman menghadapi banjir besar di masa lalu masih tersimpan dalam ingatan warga. Bahkan menjadi sebuah kearifan lokal lewat cerita yang disampaikan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Jauh sebelum telepon genggam dan media sosial menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Kisah-kisah tentang bencana disampaikan lewat cerita orang tua kepada anak-anak mereka. Salah satu cerita yang masih diingat oleh sebagian warga adalah kisah tentang “Jailali Hanyut”, sebuah tragedi banjir besar yang terjadi sekitar tahun 1960-an.
Suhartati (47 tahun), warga Air Sialang yang lahir pada tahun 1979, mengaku pertama kali mendengar cerita itu dari orang tuanya. Kisah tersebut sering diceritakan ulang sebagai pengingat bahwa banjir besar pernah terjadi di kampung mereka.
“Kami tidak mengalami langsung, tapi cerita itu sering disampaikan orang tua dulu. Mereka bilang pernah ada banjir yang sangat besar, sampai ada satu keluarga yang hanyut” kata Suhartati yang merupakan ibu dari empat orang anak.
Cerita yang sama juga diketahui oleh warga lainnya bernama Surianti B (49 tahun). Ia mendengar kisah itu dari orang tuanya sejak masih kecil. Menurut cerita yang diwariskan di kampung, peristiwa itu bermula dari hujan lebat yang turun berhari-hari pada bulan Ramadhan.
Saat itu, seorang warga bernama Jailali sedang berkebun di hulu Sungai Sikabu, tepatnya di daerah Panton Luas, Kecamatan Samadua, kabupaten Aceh Selatan. Bersama istrinya dan seorang bayi mereka, Jailali tinggal sementara di sebuah pondok kecil di kebun yang berada di pinggiran sungai. Namun hujan yang turun tanpa henti membuat air sungai meluap dengan cepat. Banjir besar datang membawa arus yang sangat deras hingga menghanyutkan pondok tempat mereka berteduh.
“Menurut cerita orang tua kami, pondok itu hanyut bersama air bah. Jailali dan istrinya terbawa arus,” ujar Surianti yang merupakan kepala sekolah TK At-Taqwa Air Sialang.
Beberapa waktu kemudian, warga menemukan Jailali dan istrinya dalam keadaan tidak bernyawa. Tubuh mereka ditemukan tidak jauh dari rumah Surianti. Tepatnya di Talago Lubuk Ek’Ot. Namun di tengah tragedi itu, sebuah kisah yang sering diceritakan kembali oleh orang tua di kampung menjadi bagian yang paling diingat oleh warga. Bayinya Jailali ditemukan dalam keadaan selamat, berpegangan pada sehelai daun keladi di tepi tebing dekat Talago Punjuik.
Cerita tentang “Jailali Hanyut” mungkin terjadi puluhan tahun yang lalu. Akan tetapi, ingatan tentang banjir besar itu masih hidup dalam percakapan warga Gampong Air Sialang. Bagi generasi seperti Suhartati dan Surianti, kisah yang mereka dengar dari orang tua dulu bukan sekadar cerita lama. Ia menjadi pengingat bahwa sungai yang mengelilingi kampung mereka bisa berubah menjadi ancaman ketika hujan turun tanpa henti.
Puluhan tahun setelah cerita itu diwariskan dari generasi ke generasi, banjir kembali menguji warga Air Sialang. Pada tahun 2002, tepatnya pada 14 Ramadhan 1423 H, air sungai kembali meluap setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut. Bagi Suhartati, peristiwa itu datang pada masa yang sangat rentan dalam hidupnya. Saat banjir terjadi, ia baru saja melahirkan anak keduanya.
Air terus naik hingga membuat akses keluar masuk kampung terganggu. Suaminya yang saat itu sedang berada di daerah lain berusaha pulang ke rumah. Namun untuk sampai ke kampung, ia harus menyeberangi aliran sungai yang airnya sudah mencapai dada orang dewasa.
“Waktu itu saya baru melahirkan. Suami saya harus menyeberangi sungai dengan air setinggi dada supaya bisa sampai ke rumah. Terdengar pula kabar bawah rumah Abang sepupu saya hanyut terbawa banjir membuat perasaan saya semakin sedih.” Kenang Suhartati dengan mata berkaca.
Situasi tersebut membuat warga kembali merasakan bagaimana rapuhnya akses menuju kampung yang dikelilingi aliran sungai. Ketika air meluap, beberapa rumah warga terbawa arus dan jembatan tidak dapat dilalui. Sehingga warga harus mencari cara lain untuk bisa saling menjangkau dan terhubung .
Cerita yang hampir serupa juga dialami oleh Surianti. Saat banjir melanda kampungnya, ia sedang berada jauh dari rumah karena sedang melanjutkan kuliah di Banda Aceh. Ia baru bisa pulang dua hari setelah kejadian banjir tersebut. Namun perjalanan pulang ke kampung tidak mudah. Untuk sampai ke rumahnya di Air Sialang, Surianti harus menyeberangi Sungai Air Sarap. Karena jembatan yang biasa digunakan warga putus. Tidak bisa dilalui kendaraan bermotor, kecuali dengan jalan kaki dan menempuh aliran sungai.
“Saya begitu terkejut melihat keadaan kampung. Waktu itu belum ada HP, saya baru tahu kejadian banjir setibanya di sini. Jadi, mobil yang mengantar kami tidak bisa masuk ke kampung Air Sialang. Terpaksa saya harus menyeberangi sungai Air Sarap lalu berjalan kaki sekitar 1 km untuk sampai ke rumah,” kenangnya.
Setibanya di rumah, Surianti juga mendapatkan kabar duka bahwa beberapa petak sawah peninggalan ayahnya kini sudah berubah menjadi aliran sungai. Meskipun banjir kali ini tidak merenggut nyawa, tapi banyak warga kehilangan harta benda.
Pengalaman itu membuat mereka kembali menyadari bahwa, banjir bukan hanya cerita masa lalu seperti yang dulu sering disampaikan oleh orang tua mereka. Banjir masih menjadi bagian dari kehidupan yang terus berulang di kampung tersebut.
Pengetahuan Praktis yang Lahir dari Pengalaman
Sejak saat itu, cara masyarakat menghadapi banjir perlahan berubah. Jika sebelumnya banyak hal dilakukan secara spontan saat air sudah meluap, kini warga mulai lebih peka terhadap tanda-tanda alam. Perempuan di rumah sering menjadi orang pertama yang mengingatkan keluarga ketika hujan turun lama atau ketika air sungai mulai meningkat.
Pengalaman tersebut perlahan membentuk cara-cara bertahan yang bersifat praktis. Pengetahuan ini tidak selalu tertulis, tetapi tumbuh dari pengalaman sehari-hari, dari mengamati sungai, mengingat peristiwa banjir di masa lalu, hingga belajar dari kejadian yang pernah menimpa saudara sendiri. Bagi banyak perempuan di kampung ini, pengalaman itu kemudian diterjemahkan menjadi strategi sederhana untuk menjaga keluarga tetap aman ketika air sungai mulai naik.

Suhartati adalah salah satu yang belajar dari pengalaman itu. Ia menyadari bahwa kampung tempat tinggalnya berada di wilayah yang kerap dilanda banjir. Kesadaran itu mempengaruhi keputusan besar yang ia ambil bersama suaminya, ketika membangun rumah pada tahun 2009. Mereka sengaja membuat pondasi rumah lebih tinggi dari rumah-rumah di sekitarnya, bahkan membangun rumah bertingkat dengan lantai dua.
Menurut Suhartati, keputusan itu tidak muncul begitu saja. Ia melihat bagaimana setiap kali ada perbaikan jalan di kampung, timbunan tanah dan aspal baru membuat permukaan jalan semakin tinggi. Akibatnya, rumah-rumah warga yang lebih lama dibangun menjadi semakin rendah dibandingkan jalan.
“Kami sudah tahu kampung ini langganan banjir. Jadi waktu bangun rumah kami buat pondasinya tinggi dan ada lantai dua,” kata Suhartati yang juga merupakan pengrajin Kasab di Gampong Air Sialang.
Keputusan itu kemudian terbukti menjadi langkah yang tepat. Saat banjir melanda pada tahun 2014, banyak rumah warga mulai kemasukan air. Namun rumah Suhartati tetap aman karena posisinya lebih tinggi. Hal yang sama juga terjadi ketika banjir kembali datang pada tahun 2024.
Pada banjir terakhir itu, situasi di sekitar rumahnya justru jauh lebih mengkhawatirkan. Jembatan Kadai, yang berjarak sekitar 20 meter dari rumahnya, hancur terbawa arus sungai. Tidak hanya itu, satu rumah warga yang berada di dekat jembatan juga ikut hanyut terseret banjir.
Meski rumahnya selamat dari genangan air, rasa khawatir tetap menyelimuti Suhartati. Bagian belakang rumahnya berbatasan langsung dengan Sungai Air Sialang. Ia selalu membayangkan kemungkinan terburuk jika suatu saat arus sungai mengikis tepi tanah di belakang rumahnya. Karena itu, setiap kali hujan lebat turun, ia selalu memantau kondisi sungai.
“Kalau tanggul pembatas sungai sudah mulai tenggelam, saya langsung bersiap-siap,” ujarnya.
Bersiap bagi Suhartati berarti segera mengemasi barang-barang penting. Dokumen keluarga, pakaian, dan beberapa kebutuhan lain dipindahkan ke lantai dua rumah. Ia juga menyiapkan stok makanan untuk berjaga-jaga jika banjir semakin besar. Pilihan itu bukan tanpa alasan. Menurutnya, ketika banjir datang, warga tidak selalu memiliki banyak pilihan untuk menyelamatkan diri.
“Kalau harus lari pun mau ke mana? Kampung ini memang dikelilingi air,” katanya.
Pengalaman serupa juga membentuk cara berpikir Surianti, yang kini menjabat sebagai kepala sekolah di TK At-Taqwa Air Sialang. Lokasi sekolah tempat ia mengajar memiliki sejarah tersendiri. Menurut cerita warga, kawasan tempat sekolah itu berdiri dulunya merupakan jalur aliran Sungai Air Sarap.
Hal itu juga selaras dengan cerita Suharti yang lokasi tempatnya berkebun, termasuk jalur aliran Sungai Air Sarap. Ia mengingat cerita orang-orang tua di kampung bahwa jika ditarik garis lurus, aliran sungai itu dahulu sejajar dengan lokasi TK At‑Taqwa Air Sialang dan MIN 10 Aceh Selatan.
Seiring waktu, aliran sungai berubah arah. Bekas jalur sungai itu kemudian menjadi kebun warga dan sebagian dibangun menjadi fasilitas pendidikan. Meski kini terlihat seperti daratan biasa, ingatan tentang aliran sungai lama itu masih hidup dalam cerita warga. Kesadaran akan risiko itu membuat Surianti selalu waspada ketika hujan turun dengan intensitas tinggi, terutama saat anak-anak sedang berada di sekolah.
“Kalau hujan lebat dan anak-anak masih di sekolah, kami minta mereka tetap di dalam kelas dulu,” jelasnya.
Ia memilih menunggu sampai hujan sedikit reda sebelum meminta orang tua menjemput anak-anak mereka. Langkah ini dilakukan untuk menghindari risiko jika air sungai tiba-tiba meluap. Selain itu, bangunan sekolah juga dibuat dengan pondasi yang lebih tinggi dibandingkan sebagian rumah warga di sekitarnya. Hal ini cukup membantu ketika banjir datang.
Pada banjir tahun 2014, air sempat masuk ke halaman dan ruang kelas sekolah. Namun ketinggiannya hanya sampai mata kaki. Meski demikian, air yang masuk sempat merusak beberapa barang yang ada di sekolah.
Buku-buku dan dokumen yang berada di lantai menjadi basah. Lemari dan meja yang terkena air banjir juga mulai lapuk. Hingga sekarang masih ada bekas ketinggian air yang pernah masuk ke sekolah itu. Dan kini menjadi saksi bisu bahwa banjir kerap menghampiri kampung ini.
Perubahan kecil kemudian terjadi pada tahun 2018, ketika sekolah mendapatkan bantuan pembangunan pagar. Tanpa disadari, pagar tersebut kemudian menjadi pelindung tambahan ketika banjir besar kembali datang pada tahun 2024. Saat itu, banyak rumah warga di sekitar sekolah kemasukan air karena posisinya lebih rendah. Namun halaman dan bangunan TK At-Taqwa relatif lebih aman dari terjangan banjir.
Bagi Surianti dan Suhartati, pengalaman-pengalaman tersebut perlahan membentuk pengetahuan yang tidak diajarkan di ruang kelas mana pun. Pengetahuan itu lahir dari pengamatan terhadap sungai, dari ingatan tentang banjir di masa lalu, serta dari upaya sederhana untuk melindungi anak-anak dan keluarga ketika air mulai naik.
Di kampung yang dikelilingi aliran sungai seperti Air Sialang, pengetahuan praktis semacam itu menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari. Ia hidup dalam keputusan-keputusan kecil. Dari cara membangun rumah, menyimpan dokumen penting, hingga memastikan anak-anak tetap aman ketika hujan turun lebih lama dari biasanya.
Internet dalam Strategi Bertahan Warga
Jika pengalaman menghadapi banjir berulang telah melahirkan berbagai pengetahuan praktis bagi warga Gampong Air Sialang, maka di masa sekarang pengetahuan itu juga semakin diperkaya oleh kehadiran internet.

Suhartati mengaku bahwa internet membantunya memahami kondisi cuaca dan perkembangan bencana di berbagai daerah. Ketika hujan turun berhari-hari, ia kerap membuka informasi prakiraan cuaca untuk mengetahui kemungkinan yang akan terjadi di wilayahnya. Dari internet pula ia mengetahui bagaimana bencana berdampak di wilayah lain.
Salah satu peristiwa yang ia ingat adalah banjir bandang yang melanda beberapa wilayah Aceh pada November 2025 lalu. Khususnya di bagian Utara, Timur, dan Tengah Aceh seperti Pidie, Aceh Timur, Aceh Utara, Gayo Lues, Aceh Tamiang dan Takengon. Dampak dari bencana itu, membuat akses informasi di kampung mereka justru sangat terbatas. Banjir yang terjadi menyebabkan listrik di Air Sialang padam hingga dua minggu lamanya.
Situasi tersebut memaksa warga kembali menjalani kehidupan seperti masa lalu. Pada malam hari mereka menggunakan lampu minyak sebagai penerangan. Di dapur, kayu bakar kembali menjadi bahan utama untuk memasak karena gas LPG sulit didapatkan. Setiap pagi warga pergi ke telaga untuk mencuci dan mengambil air yang akan digunakan untuk memasak dan kebutuhan rumah tangga lainnya.
Untuk mandi, warga mendatangi beberapa talago yang terdapat di Gampong Air Sialang, seperti Talago Lamen, Talago Nek Maricat, Talago Tampang, Talago Surau, Talago Meunasah, Talago Punjuik, dan Talago Lubuk Ek’ot. Inilah sumber air yang selama ini menjadi tempat warga membersihkan diri ketika air rumah tidak bisa digunakan.
Listrik hanya menyala tiga hari sekali dan itupun hanya beberapa jam. Pada saat-saat itulah Suhartati berusaha memanfaatkan internet untuk melihat berita tentang bencana yang terjadi di daerah lain.
“Kalau listrik hidup sebentar, saya langsung buka internet. Saya lihat berita banjir di daerah lain dan memantau keadaan sekitar di sini juga,” ujarnya.
Melihat berbagai berita bencana sering menimbulkan rasa was-was di dalam dirinya. Ia membayangkan kemungkinan yang sama bisa saja terjadi di kampungnya. Karena itu, setiap kali jaringan internet kembali tersedia, ia selalu menghubungi anaknya yang sedang bekerja di Meulaboh, Aceh Barat untuk memastikan keadaannya baik-baik saja.
Namun bagi Suhartati, internet tidak hanya berfungsi sebagai sumber informasi ketika bencana terjadi. Dari internet pula lahir kesadaran baru tentang pentingnya menjaga lingkungan di sekitar tempat tinggalnya. Rumah Suhartati berdiri tepat di tepi Sungai Air Sialang. Ketika musim kemarau tiba, ia sering melihat sungai berubah menjadi tempat penumpukan sampah warga. Bau tidak sedap dari tumpukan sampah tersebut kerap tercium hingga ke rumahnya.
Kegelisahan itu mendorongnya mencari cara agar sampah plastik tidak lagi dibuang begitu saja ke sungai. Inspirasi datang ketika ia bertamu ke rumah seorang teman dan melihat plastik bekas sabun cair pencuci pakaian, dijadikan kerajinan tangan. Sebagai pengrajin kasab yang terbiasa menyulam benang emas dengan berbagai pola, rasa ingin tahunya muncul. Ia mulai memperhatikan pola dan bentuk kerajinan tersebut.
Sepulang dari rumah temannya, Suhartati membuka internet untuk mencari video tentang cara membuat tas dan tikar dari plastik bekas sabun cair. Setelah mempelajarinya dengan saksama, ia akhirnya berhasil membuatnya sendiri. Sejak saat itu, plastik bekas sabun cuci pakaian tidak lagi dibuang. Ia mengumpulkannya untuk dijadikan bahan kerajinan tangan.
Tas dari plastik bekas tersebut bahkan ia gunakan sendiri ketika pergi mencuci pakaian ke telaga. Ketika tetangga melihatnya membawa tas itu, banyak yang tertarik dan ingin belajar membuatnya. Suhartati kemudian mengajak para perempuan di sekitar rumahnya untuk mengumpulkan plastik bekas sabun cuci mereka. Setelah terkumpul banyak, ia mengajarkan cara membuat tikar dan tas dari plastik tersebut sesuai dengan kreativitas masing-masing. Perlahan-lahan kebiasaan membuang plastik bekas sabun ke sungai pun mulai berkurang.
“Daripada dibuang ke sungai, lebih baik kita buat jadi barang yang bisa dipakai,” katanya.
Selain itu, ia juga mengajak anak-anaknya membuat ecobrick dari plastik kemasan makanan. Botol plastik tersebut diisi dengan potongan plastik hingga padat dan rencananya akan disusun menjadi sofa sederhana, jika jumlahnya sudah cukup banyak. Sementara itu, botol plastik bekas produk perawatan tubuh dikumpulkan untuk dijual kembali. Menurut Suhartati, langkah kecil itu ia lakukan agar warga mulai melihat bahwa sampah bisa memiliki nilai.
“Mulainya dari diri sendiri dulu. Kalau orang lihat bagus, biasanya mereka ikut.”
Suhartati juga merasa senang ketika suatu waktu anaknya, Nazira (8 tahun), mengikuti kegiatan “Aktivitas Asyik dan Seru Mengenal Kampung Air Sialang” yang diadakan oleh Yellsaints Family. Dalam kegiatan itu, anak-anak diajak menjelajahi delapan sumber mata air yang ada di Gampong Air Sialang, sekaligus belajar tentang sejarah kampung mereka. Termasuk kisah banjir besar yang dikenal dengan peristiwa Jailali hanyut.
Sepulang dari kegiatan tersebut, Nazira pulang dengan penuh cerita. Ia bercerita tentang mata air yang mereka kunjungi, tentang banjir yang pernah terjadi di kampungnya, hingga tentang pentingnya menjaga lingkungan agar bencana tidak semakin parah. Cerita-cerita itu disampaikan dengan antusias, seolah membuka cara pandang baru bagi seorang anak tentang kampung tempat ia tumbuh.
Bagi Suhartati, momen itu menjadi harapan kecil yang berarti. Ia melihat bagaimana pengetahuan yang selama ini hidup dari pengalaman orang dewasa mulai dikenalkan kepada anak-anak sejak dini. Ia percaya, jika anak-anak sudah memahami pentingnya menjaga sungai dan lingkungan, maka kebiasaan membuang sampah sembarangan perlahan bisa berubah.
“Kalau dari kecil sudah tahu, nanti mereka pasti lebih peduli,” ujarnya.
Di tengah ancaman banjir yang terus berulang, bagi Suhartati, perubahan tidak selalu harus dimulai dari hal besar. Cukup dari anak-anak yang pulang membawa cerita, lalu tumbuh dengan kesadaran untuk menjaga kampungnya sendiri.
Selain membuat kerajinan tangan, Suhartati juga membantu suaminya berkebun. Di lahan yang dulu disebut-sebut sebagai bekas aliran sungai, mereka menanam cabai dan berbagai sayuran untuk kebutuhan sehari-hari. Dalam kegiatan berkebun itu, internet juga menjadi sumber pengetahuan baru baginya. Ia kerap mencari informasi tentang cara pembibitan cabai, perawatan tanaman, hingga cara mengatasi hama.
“Kalau ada tanaman yang tidak bagus pertumbuhannya, saya cari di internet bagaimana cara merawatnya,” jelasnya.
Bagi Suhartati, internet bukan hanya membantu memantau bencana, tetapi juga menjadi sarana belajar untuk menjaga sumber penghidupan keluarga. Meski internet membantu Suhartati memperoleh banyak informasi tentang cuaca dan bencana, ia juga menyadari bahwa tidak semua informasi yang beredar di dunia maya dapat dipercaya begitu saja. Menurutnya, berita yang belum jelas kebenarannya kerap membuat orang menjadi panik jika tidak disikapi dengan bijak.
Ia pernah mendengar cerita dari anaknya yang tinggal di Meulaboh. Suatu hari anaknya menerima kabar dari internet bahwa Aceh Selatan sedang dilanda banjir besar. Karena khawatir, anaknya segera menelepon untuk memastikan keadaan keluarganya di kampung. Setelah dikonfirmasi, ternyata banjir tersebut hanya terjadi di satu wilayah, yaitu di Kecamatan Sawang saja. Sementara daerah Air Sialang masih dalam kondisi aman. Selain itu, Suhartati juga beberapa kali menerima pesan berantai yang memperingatkan akan terjadi gempa besar atau banjir besar. Namun ia memilih untuk tidak langsung panik.
“Kalau dapat informasi seperti itu, saya tetap waspada saja. Kalau tidak terjadi, Alhamdulillah. Yang penting kita sudah bersiap-siap,” ujarnya.
Menurutnya, lebih baik tetap berhati-hati daripada mengabaikan informasi sama sekali. Namun ia juga menilai masyarakat perlu lebih bijak dalam menyebarkan kabar yang belum jelas sumbernya.
“Jangan langsung diteruskan kalau belum tahu benar atau tidak. Lebih baik dicek dulu, bisa lewat televisi atau sumber yang jelas,” katanya.
Bagi Suhartati, arus informasi yang cepat kadang juga menimbulkan rasa khawatir. Berita tentang berbagai bencana di banyak tempat membuatnya semakin sering memantau kondisi lingkungan di sekitarnya.
Berbeda dengan Suhartati, Surianti memanfaatkan internet terutama untuk mendukung aktivitas pendidikan di sekolah. Sebagai kepala sekolah di TK At-Taqwa Air Sialang, ia sering menggunakan internet untuk mencari informasi tentang metode pembelajaran serta perkembangan anak usia dini. Selain itu, ia juga memantau informasi cuaca dan kebencanaan agar dapat mengambil keputusan yang tepat ketika anak-anak masih berada di sekolah saat hujan turun dengan intensitas tinggi.
Internet juga menjadi sarana penting baginya untuk membangun solidaritas sosial. Ketika banjir dan longsor melanda beberapa wilayah Aceh di bulan November 2025 lalu, ia berkomunikasi dengan teman-temannya sesama alumni PGSD tahun 2003 melalui grup WhatsApp. Dari percakapan tersebut muncul inisiatif untuk menggalang dana bagi korban bencana.
Dana yang terkumpul kemudian disalurkan melalui teman-teman mereka yang berada di daerah terdampak. Aktivitas serupa juga pernah dilakukan sebelumnya ketika banjir besar melanda Ladang Rimba pada tahun 2024. Dalam kegiatan tersebut, Surianti bahkan melibatkan anak-anak di TK At-Taqwa untuk ikut belajar tentang kepedulian sosial. Bersama para muridnya, ia mengadakan kegiatan penggalangan dana di kampung Air Sialang.
“Kami ajarkan kepada anak-anak bahwa membantu orang lain itu penting. Bisa saja suatu hari nanti kita juga mengalami hal yang sama,” ujarnya.
Menurut Surianti, pengalaman menghadapi banjir di kampungnya sendiri juga menunjukkan pentingnya upaya mitigasi yang lebih baik. Ia berharap suatu saat ada pembangunan saluran air atau parit di sepanjang jalan Air Sialang. Saluran tersebut diharapkan dapat membantu mengalirkan air hujan menuju Sungai Air Sarap atau Sungai Air Sialang, sehingga genangan air tidak lagi masuk ke rumah-rumah warga.

Terkait dalam menyikapi berita hoaks tentang bencana di internet, ia tidak terlalu ambil pusing. Baginya yang penting selalu waspada. Sebab, menurutnya, sebelum internet hadir seperti sekarang, masyarakat justru lebih mudah diliputi kepanikan ketika menerima kabar yang belum tentu benar.
Ia masih mengingat peristiwa yang terjadi pada tahun 2005, beberapa bulan setelah tsunami Aceh dan Sumut 2004. Saat itu trauma masyarakat terhadap gempa dan tsunami masih sangat kuat. Suatu malam beredar kabar bahwa air laut sedang naik dan berpotensi menimbulkan tsunami. Tanpa memastikan kebenaran informasi tersebut, warga di Gampong Air Sialang beramai-ramai berlari menuju daerah pegunungan untuk menyelamatkan diri. Namun setelah ditunggu lama, kabar tersebut ternyata tidak benar.
Peristiwa seperti itu bahkan terjadi beberapa kali. Setiap kali gempa terasa, warga segera berlari ke dataran tinggi karena tidak memiliki informasi yang jelas mengenai kondisi yang sebenarnya. Menurut Surianti, situasi sekarang sudah jauh berbeda. Dengan adanya internet, informasi mengenai gempa dapat diketahui dengan cepat dan lebih akurat.
“Sekarang kalau ada gempa, langsung ada pemberitahuan di telepon dari BMKG. Kita bisa tahu pusat gempa di mana, kedalamannya berapa, dan apakah berpotensi tsunami atau tidak,” ujarnya.
Informasi tersebut membuat masyarakat tidak lagi panik seperti dulu. Internet, menurutnya, membantu warga mengambil keputusan dengan lebih tenang dan terarah. Meski demikian, ia tetap mengingatkan bahwa informasi yang beredar di internet harus disikapi dengan bijak.
Bagi dirinya dan Suhartati, kabar tentang bencana yang beredar di dunia maya sebaiknya dipahami sebagai pengingat untuk meningkatkan kewaspadaan, bukan sebagai sumber kepanikan. Banjir memang datang dan pergi di kampung ini, tapi pengalaman yang ditinggalkan tidak pernah benar-benar hilang. Cerita itu menetap di ingatan warga Gampong Air Sialang, meresap dalam cara mereka memandang langit, mendengar deras hujan, hingga memutuskan apa yang harus diselamatkan lebih dulu ketika air mulai naik.
Dulu, ketidakpastian membuat orang berlari tanpa arah. Kini, di tengah keterbatasan yang masih ada, perempuan-perempuan seperti Suhartati dan Surianti menemukan cara lain untuk bertahan, menggabungkan ingatan lama dengan pengetahuan baru dari layar kecil di tangan mereka.
Dari sana, mereka belajar membaca cuaca, memilah informasi, menjaga keluarga tetap terhubung, hingga mengubah sampah menjadi harapan. Internet tidak menghilangkan banjir, tetapi memberi mereka ruang untuk tidak lagi sepenuhnya tak berdaya. Dan dari langkah-langkah kecil yang mereka lakukan, tumbuh satu hal yang tak kalah penting dari bantuan apa pun: keyakinan bahwa mereka bisa tetap berdiri, bahkan ketika air kembali datang.
Tulisan ini merupakan bagian dari kampanye Internet Komunitas yang Bermakna: Perempuan dan Kebencanaan – Program Liputan Mendalam di Aceh; Perempuan, Internet, dan Kebencanaan. Bekerja sama dengan Perempuan Peduli Leuser (PPL) dan didukung oleh Association for Progressive Communications (APC).
Sampai saat ini, banyak desa di Indonesia masih mengalami proses pendataan yang sering datang silih berganti. Ada pendataan kemiskinan, kesehatan, potensi desa, hingga berbagai program nasional lainnya. Aparat desa mengisi formulir, membantu survei, atau memfasilitasi petugas lapangan. Namun ketika pemerintah desa membutuhkan data untuk merencanakan pembangunan wilayahnya sendiri, tidak jarang mereka harus kembali mencari—bahkan memulai dari awal.
Situasi seperti ini memperlihatkan satu persoalan mendasar: desa sering menjadi objek pengumpulan data, tetapi belum tentu menjadi pemilik data dari data mereka sendiri.
Dalam beberapa tahun terakhir, upaya membalikkan situasi ini mulai tumbuh di berbagai daerah. Salah satunya lewat penguatan Sistem Informasi Desa (SID) Berdaya yang diinisiasi oleh Combine Resource Institution (CRI) yang mendorong desa mengelola data lebih mandiri dan terhubung dengan sistem data pemerintah daerah. Pendekatan ini dilakukan melalui kerja sama berbagai pihak yang meliputi pemerintah daerah, Organisasi Perangkat Daerah, Badan Pusat Statistik (BPS), perguruan tinggi, dan organisasi masyarakat sipil lain.
Upaya yang CRI lakukan, sudah dimulai sejak sekitar satu dasawarsa terakhir. Bekerja sama dengan pemerintah daerah di tiga kabupaten di Yogyakarta: Sleman, Bantul, dan Gunungkidul. CRI mengembangkan aplikasi berbasis website yang dapat membantu desa-desa untuk dapat mengelola data mereka sendiri. Data tersebut kemudian dijadikan dasar dalam perencanaan pembangunan desa-daerah. Tahun berganti, intervensi ini menjalar ke luar Yogyakarta, salah satunya adalah Kabupaten Buleleng, Bali.

Ketika Sistem Informasi Desa Tidak Lagi Hanya Etalase
Sistem informasi desa selama ini sering dianggap hanya sebagai website desa, tempat untuk menampilkan berita kegiatan atau profil wilayah. Padahal, jika dikelola dengan baik, sistem tersebut dapat menjadi alat penting dalam tata kelola pemerintahan desa. Di dalam ekosistem SID Berdaya, fungsi utama yang dituju sejak awal adalah sistem pengelolaan data desa yang membantu pemerintah desa mengelola berbagai informasi secara lebih sistematis. Di Kabupaten Sleman, misalnya, penguatan sistem ini dilakukan melalui pelatihan teknis serta pengembangan berbagai fitur baru. Mulai dari survei kepuasan masyarakat, integrasi data kebudayaan, hingga sistem pelaporan desa/kalurahan yang terhubung dengan mekanisme tata kelola data di tingkat kabupaten.
Upaya tersebut membuka ruang bagi desa untuk memanfaatkan data secara lebih aktif dalam pengelolaan pemerintahan dan pelayanan publik.
Belajar dari Buleleng: Desa sebagai Produsen Data
Cerita menarik juga muncul dari Kabupaten Buleleng, Bali. Di wilayah ini, penguatan SID Berdaya berjalan seiring dengan program Desa Cinta Statistik (Desa Cantik) yang digagas oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Program Desa Cantik selama ini umumnya berfokus pada peningkatan literasi statistik di tingkat desa, yang sering kali berlangsung dalam bentuk pertemuan untuk perencanaan hingga pendampingan di desa terpilih pada tahun tertentu. Namun di Kabupaten Buleleng, pendekatan ini dikembangkan lebih jauh melalui integrasi dengan SID Berdaya. Literasi statistik tidak berhenti pada pemahaman, tetapi dilanjutkan hingga tahap produksi informasi. Desa didorong untuk memahami, mengolah data informasi statistik tingkat desa ke dalam infografis, dan menampilkan hasil tersebut secara publik melalui menu khusus “Desa Cantik” di aplikasi SID Berdaya. Dalam menu tersebut, berbagai informasi terkait pelaksanaan program dapat mudah diakses sebagai informasi publik yang bermanfaat bagi masyarakat.
Data Potensi Desa (Podes), misalnya, secara khusus diintegrasikan ke dalam SID Berdaya sebagai data-set untuk optimalisasi “Desa Cantik” karena berisi data mikro dalam ruang lingkup BPS. Sehingga dapat digunakan sebagai rujukan pembangunan baik di tingkat desa maupun kabupaten. Pendekatan ini melibatkan berbagai pihak lintas sektor—Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, Bappeda, Dinas Komunikasi dan Informatika, hingga Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA).
Melalui kolaborasi tersebut, data desa tidak lagi berhenti sebagai arsip administratif. Ia mulai ditempatkan sebagai fondasi bagi pengambilan kebijakan pembangunan daerah.
Salah satu rencana yang berkembang adalah memanfaatkan integrasi SID Berdaya dan Sistem Informasi Kabupaten (SIKAB) sebagai bagian dari penyusunan Satu Data Kemiskinan dan optimalisasi penerapan Desa dan Kelurahan Presisi di Kabupaten Buleleng. Jika upaya ini berjalan konsisten, data yang diproduksi desa dapat langsung berkontribusi dalam perencanaan kebijakan pengentasan kemiskinan di tingkat daerah sekaligus mendukung perwujudan kedaulatan desa atas datanya sendiri.

Dampak yang Mulai Terlihat
Evaluasi pengelolaan SID Berdaya di 129 desa di Kabupaten Buleleng menunjukkan sejumlah perubahan dalam tata kelola pemerintahan desa.
Sistem ini membantu desa:
Perubahan ini memperlihatkan bahwa penguatan sistem informasi desa tidak semata soal digitalisasi. Secara tidak langsung, perubahan ini bermaksud untuk membiasakan mekanisme pengawasan dalam rangka akuntabilitas penerapan program-program di supra-desa yang selama ini belum optimal. Lebih dari itu, ia membuka ruang bagi desa untuk membangun ekosistem pengetahuan tentang wilayah dan masyarakatnya sendiri.
Tantangan yang Masih Mengemuka
Meski berbagai praktik baik mulai muncul, pembangunan ekosistem data desa masih menghadapi sejumlah tantangan.
Di tingkat nasional, pembangunan data masih sering berjalan secara sektoral mengikuti prioritas masing-masing kementerian atau lembaga. Pemahaman tentang bagaimana sistem informasi desa dapat terintegrasi dengan prinsip Satu Data Indonesia dalam ruang lingkup Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) juga belum sepenuhnya selaras.
Di tingkat daerah, kesadaran untuk menjadikan statistik sektoral sebagai dasar perencanaan pembangunan juga belum merata. Keterbatasan anggaran, infrastruktur digital, serta koordinasi lintas organisasi perangkat daerah masih menjadi kendala yang kerap ditemui. Akibatnya, proses verifikasi dan validasi data sering kali belum berjalan optimal sebelum data tersebut digunakan sebagai rujukan kebijakan dan program-program di tingkat nasional.
Dari Desa, untuk Desa
Gagasan membangun Indonesia dari desa sebenarnya bukanlah hal baru. Dalam beberapa gagasan nasional, desa telah ditempatkan sebagai fondasi utama pembangunan nasional. Hanya saja, praktik penerapannya belum selalu selaras dan konsisten. Minimnya sorotan dan catatan kritis membuat berbagai upaya—termasuk dalam pembangunan dan kedaulatan data desa—masih menyisakan pe-er bersama.
Di tengah situasi tersebut, penguatan kapasitas desa dalam mengelola data mereka sendiri menjadi semakin penting. Ketika desa memiliki sistem dan kemampuan untuk mengelola data mereka sendiri, desa tidak lagi hanya menjadi lokasi pengumpulan data. Bukan sebagai objek data, melainkan subjek data yang berdaulat. Mereka dapat menggunakan informasi tersebut untuk memahami kondisi masyarakat, merumuskan prioritas pembangunan, dan memastikan kebijakan yang diambil benar-benar menjawab kebutuhan warganya.
Pada titik inilah penguatan sistem informasi desa menjadi lebih dari sekadar proyek teknologi. Ia menjadi bagian dari upaya yang lebih besar: membangun kedaulatan data dari desa untuk kesejahteraan masyarakat.
Menjadi seorang pendidik sekolah dasar (SD) di pesisir selatan pulau Jawa yang rawan dengan ragam bencana, dibutuhkan kecerdasan untuk bersiasat. Salah satu perkiraan bencana yang akan sangat berdampak di wilayah tersebut adalah gempa bumi skala besar bernama megathrust, sehingga ancaman tsunami pun juga menyertai.
Berbagi Ruang dengan Bencana
Terletak kurang dari dua kilometer dari bibir pantai, sebuah SD di Cilacap selalu siaga bencana terjadi. Sama halnya dengan sebuah sekolah di Trenggalek, Jawa Timur, gempa tektonik mengancam kapan saja. Di Kulonprogo, Yogyakarta, selain kedua bencana tersebut juga mengancam, isu relokasi sekolah menambah kecemasan para pendidik dan orangtua, ketika bangunan sekolah baru yang disediakan tidak begitu bisa dipastikan kualitas keamanannya dari ancaman bencana. Pada akhirnya, definisi atas situasi bencana menjadi semakin kompleks, karena bukan lagi fenomena alam, melainkan situasi politik–saat rangkaian protes pada Agustus 2025 lalu terjadi, beberapa sekolah di Jawa Tengah diliburkan. Pendidik pun bersiasat, tetap libur, memberi tugas, atau tetap berlangsung tanpa tatap muka?
Selama pandemi Covid-19, kegiatan belajar mengajar mengalami kelumpuhan; interaksi fisik sangat dibatasi karena menyebabkan penularan hingga kematian; akhir dari pandemi tidak pasti, sedangkan anak-anak memerlukan akses pendidikan. Pada saat itu, teknologi seakan-akan menjadi panasea, obat dari segala obat. Pembelajaran jarak jauh (PJJ) menjadi model untuk mengupayakan agar kegiatan belajar mengajar tetap berjalan dengan bantuan teknologi; minimal ada satu gawai yang terhubung dengan internet di setiap rumah tangga. Pada titik ini, pendidik juga menjadi garda terdepan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa; yang dipaksa untuk berinovasi tanpa pembekalan yang memadai.
Raeni, seorang guru di SD Negeri Ciandum, Tasikmalaya, mengatakan bahwa di era digital ini, perkembangan teknologi itu sangat pesat. Karena itulah, dia khawatir terhadap anak-anak didiknya.
“Kebetulan saya adalah guru kelas 5. Anak kelas 5 di kelas saya itu hampir semuanya sudah mempunyai gawai dan mempunyai media sosial masing-masing, seperti TikTok, Instagram, dan lain-lain,” kata Raeni. ”Kekhawatiran saya adalah anak-anak sering bermain media sosial daripada belajar… tanpa memperhatikan keamanan-keamanan dari penggunaan media sosial tersebut. Anak-anak tidak bisa membedakan mana berita hoaks, mana berita fakta. Jadi hanya dimakan mentah-mentah.”
Kebiasaan mengajar di kelas tatap muka tiba-tiba harus melihat satu layar penuh dengan wajah semua siswa bukan perkara mudah untuk diterima begitu saja. Beberapa hal yang membuat mereka gagap misalnya bagaimana membuat kuis interaktif, mempertahankan anak tetap fokus, memastikan tugas dikerjakan dengan jujur, hingga persoalan teknis ketika gawai harus dipakai bergantian, karena dalam satu rumah tangga ada lebih dari satu orang yang membutuhkannya dalam waktu yang bersamaan. Bisa dibayangkan kecerdikan sekaligus kebingungan para pendidik waktu itu.

Usai pandemi dinyatakan berakhir, kegiatan PJJ masih diadaptasi oleh sebagian pendidik, karena dianggap efisien. Sayangnya, selama ini, model PJJ dijalankan tanpa pembekalan literasi digital yang cukup, yang berdampak pada pengabaian keamanan digital. Satu kecemasan tentang keamanan fisik karena bencana terobati, keamanan digitalnya belum terproyeksi.
Nur Wahyu Prabowo, guru Pendidikan Agama Islam dari SD Negeri Pacitan, mengungkapkan, “Jadi tantangannya yang paling sulit dihadapi guru, tenaga pendidikan di sekolah itu adalah mengawasi penggunaan media digital yang di luar sekolah… Itu salah satu tantangannya, khususnya saya sebagai tenaga pendidik, untuk mengontrol anak-anak ini harus bisa menggunakan media digital dengan baik.”
Situasi ini dibaca sebagai ancaman baru di daerah-daerah rawan bencana, terutama pesisir. Literasi digital muncul untuk memitigasi apabila kelak terjadi bencana selain pandemi, atau bahkan serupa. Combine Resource Institution (CRI) bersama Pujiono Centre dan didukung oleh Internet Society (ISOC) Foundation mengajak 39 sekolah yang tersebar di delapan wilayah pesisir selatan pulau Jawa untuk menjalankan serangkaian kegiatan berkelanjutan tentang literasi digital. Salah satu tujuannya agar kelak jika perlu melakukan PJJ kembali, daerah ini sudah siap dengan PJJ yang aman secara holistik.
Kerja Bersama, Delapan Kabupaten di Pesisir Selatan Jawa
Setiap sekolah di delapan kabupaten memiliki keunikan, baik dari segi sosio kulturalnya maupun tantangan infrastruktur. Keragaman tingkat literasinya pun cukup berwarna, baik literasi secara umum maupun literasi digital. Kesadaran tentang keamanan informasi dan perangkat hingga pendampingan orangtua dan anak terkait gawai dan sumber informasi adalah temuan menarik yang setiap daerah, bahkan sekolah memiliki cerita yang berbeda-beda.
Di Cilacap, tujuh sekolah tersebar di tiga titik lokasi. Enam di antaranya terbagi dalam dua kampus terpadu. Para siswa akan melewati satu gerbang yang sama, meski almamater mereka berbeda. Cilacap menjadi satu-satunya kabupaten dalam program ini yang masih memiliki kampus terpadu. Kondisi ini cukup baik dalam memantik kolaborasi antar sekolah, karena secara lokasi sangat berdekatan bahkan satu gerbang yang sama.
Berbeda dengan Trenggalek, untuk menjangkau setiap sekolah perlu melewati medan yang cukup berliku. Sebuah sekolah bahkan tidak memiliki pintu gerbang yang ideal, atap yang tidak mampu menyangga air hujan, sehingga alat-alat elektronik di sekolah tersebut sering mengalami kerusakan. Seorang guru perempuan tinggal di dalam sekolah dan pulang seminggu sekali. Solusi dari kondisi ini tentu saja bukan pemberian smart tv.
Setelah mengikuti rangkaian pelatihan dasar, pelatihan untuk menjadi pelatih (training of trainer), pengimbasan dan pelatihan tingkat lanjut, rupanya para pendidik saling bersiasat. Beberapa kali tatap muka dan berjumpa dengan sesama pendidik dari sekolah lain, bahkan lintas kabupaten, simpul solidaritas lahir dari inisiatif mereka, karena merasakan satu kebutuhan yang sama, yaitu membumikan literasi digital kepada siswa SD dengan menarik, berdampak, dan berkelanjutan.

Di Kebumen, misalnya. Pada saat pengimbasan, antar guru dari lintas sekolah saling berkoordinasi dalam menyiapkan materi dan metode. Hasilnya, para pendidik ini menciptakan model pembelajaran yang inovatif dan berhasil menggaet antusias siswa. Menariknya, inovasi ini juga tampak dari cara mereka mengintegrasikan materi tentang literasi digital dengan mata pelajaran sehari-hari, sehingga tanpa perlu membuat kurikulum khusus tentang literasi digital, materi keamanan ini bisa tetap disampaikan dengan baik melalui mata pelajaran yang sudah ada. Misalnya, pengetahuan tentang membedakan informasi hoaks dan fakta bisa dimasukkan dalam pelajaran Bahasa Indonesia, etika digital bisa diintegrasikan dengan mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan dan Pancasila.
Begitu juga saat pelatihan tingkat lanjut. Diskusi dan rencana semakin berkembang ketika para pendidik mulai merespons tentang kecerdasan artifisial. Kemampuan mereka dalam menguji coba mesin ini ditantang dengan siasat mengembangkan bahan ajar yang aman. Perkembangan teknologi yang sangat mudah diserap oleh peserta didik sedikit mencemaskan mereka, sehingga menantang diri untuk mencoba segala bentuk kecerdasan artifisial juga menjadi pengalaman unik. Mereka membaginya satu sama lain, mulai dari nama atau jenis mesinnya, cara kerja, hingga perbandingan antara satu mesin dengan mesin lainnya.
“Saya sudah pernah memberikan pembelajaran lewat kuis dan ternyata anak-anak lebih suka, lebih menarik dan lebih aktif untuk mencoba hal tersebut… Dengan cara itu anak-anak lebih antusias belajarnya. Jadi tidak monoton duduk di kelas tapi mereka aktif bergerak… AI atau pun alat digital lainnya menurut saya sangat membantu pembelajaran, positifnya banyak,” ucap Nia Sulastri, Guru SD Negeri 2 Pangandaran, Jawa Barat.
Program yang semula dirancang untuk membumikan literasi digital justru berjalan lebih jauh menjadi ruang untuk saling belajar bersama. Kolaborasi ini juga terwujud dari dukungan para sekolah yang proaktif mendorong para pendidiknya untuk mengupayakan yang terbaik dan terbuka pada setiap perkembangan teknologi.
Perkembangan teknologi yang semakin hari terkesan semakin memudahkan mobilitas manusia, tidak terkecuali para pendidik ini, memunculkan tantangan baru untuk tetap berjalan bersama tanpa tunduk pada pencurian data dan privasi. Solidaritas untuk saling mengingatkan dan membagi pengalaman mencoba teknologi, serta menambal sulam pengetahuan tentang keamanan di baliknya adalah upaya untuk menjaga agar hubungan antara manusia dengan teknologi bukanlah sebentuk ketergantungan. Teknologi yang diciptakan dari, oleh, dan untuk manusia adalah sebuah ikhtiar untuk bersiap dalam menghadapi berbagai situasi maupun ancaman, baik fisik maupun digital, yang lahir dari kolektivisasi pengetahuan serta kemauan untuk belajar dan terus berkembang.[]