Tiga Serangkai Perempuan Milenial dalam Memori Bencana dan Penggunaan Internet di Desa

“Saat ngecek hp, lo saldoku kok habis? Tadi masih utuh, 22 juta sekian,” ungkap Betti Lestari parau memaparkan pengalaman penggunaan internet paling membekas dalam ingatannya ketika berada di Indiee Coffee, Desa Tenggulun, pada Sabtu, 7 Maret 2026. 

Lahir dan bertumbuh di Kecamatan Tenggulun, Aceh Tamiang, sang Ketua Kelompok Cendana ini mengaku telah menggunakan internet sekitar satu dasawarsa. Kelompok Cendana merupakan perkumpulan perempuan akar rumput di Desa Sumber Makmur, Tenggulun, yang berusaha menjaga kelestarian hutan dengan membantu kelompok restorasi dan mengelola Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) menjadi produk bernilai ekonomi. 

Perempuan yang lahir di awal milenial itu memaparkan memori manis saat pertama kali mengenal dan menggunakan internet. Bagi petani sayur sepertinya yang sungguh pemalu dalam menghadapi orang banyak, kehadiran internet laksana pengaminan setelah panjangnya doa.

“Kalau jualan di internet mudah. Posting, beri harga, tulis opsi pengantaran. Orang-orang bisa langsung memesan, saya tinggal mengantarkan,” papar Betti, “jadi tidak perlu teriak-teriak, ‘Sayuur…. Sayuur… Buaah…. Buaah…’,” sambungnya tergelak. 

Koneksi di Tengah Bencana

Ranger perempuan kelahiran 1981 ini mengaku kehadiran internet—walau terkadang kerap macet-macet—telah membantunya serta para warga berkomunikasi lebih mudah terutama saat menghadapi momentum bencana. Masyarakat Tenggulun sendiri telah menghadapi dua kali bencana dahsyat banjir bandang dan longsor pada tahun 2006 dan 2025. Bagi Betti, tetap terdapat perbedaan dalam kehidupannya ketika menghadapi kondisi bencana sebelum dan sesudah internet ada. 

“Saat bencana 2006, internet belum ada, listrik mati, berita pun kosong. Mungkin karena sudah terbiasa, jadi tidak merasa kesusahan berkomunikasi. Tapi bencana 2025, kita sudah ada internet, terbiasa cari berita, penasaran bercampur panik, terus overthinking,” papar Betti sembari mengulum senyum.

Kemudian terkait penggunaan internet untuk mengakses informasi bencana, Betti mengaku jarang menggunakannya. Informasi bencana yang pernah dibacanya secara virtual hanya sebatas berita terkait bencana gempa dan tsunami. “Kalau bencana terbaru tidak mencari beritanya. Cukup melihat tanda-tanda alam saja,” imbuhnya.

Pada tahun 2006, Betti menghadapi musibah banjir bandang bersama keluarganya di Desa Sumber Makmur. Namun pada penghujung tahun 2025 lalu, dia justru sedang berada di Linge, berjarak jauh dari rumah, selama belasan hari lamanya. Linge merupakan salah satu kecamatan di Aceh Tengah yang terdampak bencana ekologis cukup parah. Akses jalan rusak, jembatan terputus, tiang-tiang listrik tumbang, dan distribusi logistik mandek. Sehingga Betti bersama masyarakat yang turut ikut dalam pergelaran Festival Nenggeri Linge saat itu terpaksa mengevakuasi diri dengan berjalan kaki selama 3 malam 2 hari untuk mencapai pusat kota Takengon. 

dokumentasi oleh Perempuan Peduli Leuser (PPL)

Menurut keterangan Betti, sinyal internet pertama kali didapatkannya kembali pascabencana ketika tiba di Takengon. Satu persatu pesan via chat WhatsApp masuk memenuhi gawainya. Teks virtual dari abang, kakak, adik, hingga tetangga dari kampung halaman yang menanyakan kabarnya hadir satu persatu, kecuali chat dari sang suami. 

Alhasil, saat melanjutkan perjalanan pulang hingga ke Tamiang dan bertemu keluarga, Betti pun melampiaskan rasa kesalnya. Suaminya, menurut cerita Betti, sempat heran sebab setelah 12 hari tak berjumpa, ketika bertemu, justru mereka tidak bertegur sapa.

“Abang memang biasanya nelepon. Tapi ini kan sinyal sedang sulit. Apa susahnya mengirim sebuah chat?” papar Betti, “Merajuk dong saya!” jelasnya sembari tertawa renyah.

Tidak Melulu Internet Positif

Selalu ada pasang surut keadaan di dalam kehidupan, demikian juga dengan pengalaman dalam penggunaan internet di keseharian. Di samping cerita penggunaan internet positif untuk berdagang dan saat menghadapi bencana, Betti juga punya pengalaman lainnya. Kisahnya menghadapi penipuan online (cyber fraud) melalui pesan WhatsApp dan teror telepon berulang.

“Memang ada telepon resmi dan yang tidak. Sayangnya, saya belum bisa membedakan,” jelas Ketua Kelompok Cendana yang saat itu sedang mengurus perpajakan untuk menerbitkan izin usaha kelompok mereka.

Betti sempat merasa curiga karena nomor-nomor itu kerap kali menghubunginya di akhir pekan, Sabtu dan Minggu, yang menurut pemahamannya bukan hari kerja perkantoran pada umumnya. Dia kerap mengabaikan pesan teks dan telepon tersebut, tetapi lagi-lagi dia terus menerus dihubungi. Betti sempat berkonsultasi dengan beberapa sejawat yang menurutnya paham akan kondisi tersebut, tetapi saran yang didapatkannya hanya sebatas kalimat, “Tetap hati-hati dan waspada!”, tanpa menemukan arahan tindakan konkret lainnya.

Bak kata pepatah, “Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih,” setelah cukup lama bertahan bermodalkan kewaspadaan, benteng pertahanan perempuan tamatan Sekolah Dasar ini runtuh juga. Besarnya rasa sayang bercampur kekhawatiran akan potensi dicabutnya izin usaha Kelompok Cendana jika pengurusan perpajakan tak kunjung usai membuat sang ketua gamang. 

Di hari nahas itu, tepatnya di bulan Ramadhan 1446 Hijriah, sebuah aksi penipuan dalam bentuk suara (voice phishing) pun terjadi. Sang penelepon mengaku sebagai staf perwakilan kantor pajak. Tidak ada pemaparan yang mencurigakan, semua penjelasan terdengar valid, dan yang terpenting tak ada permintaan transaksi keuangan yang mencolok, kecuali untuk pembelian meterai elektronik sebesar 12.500 rupiah.

“Saya diminta menekan 6 digit nomor acak. Katanya untuk transaksi meterai. Saya merasa aman karena jumlah uangnya kecil dan bukan pin rekening,” jelas Betti menerawang ingatan setahun silam.

Lantas hanya dalam hitungan detik, notifikasi penarikan uang sebanyak dua kali pun hadir, yaitu sebesar sembilan juta sekian-sekian dan dua belas juta sekian-sekian. Kala itu, Betti belum menyadari bahwa 6 digit nomor acak tersebut merupakan OTP (One-Time Password), kode verifikasi dinamis untuk mengecek kebenaran identitas pengguna dan membuka akses ke rekening sang nasabah. 

“Awalnya saya enggak percaya. Setelah berulang kali cek BYOND (rekening online), saldo saya hanya tinggal beberapa puluh ribu saja,” sesalnya. 

Tak tunggu lama, Betti langsung menghubungi beberapa sejawat terpercaya untuk berkonsultasi. Dari rekannya yang bekerja di bank hingga Pembina Kelompok Cendana. Kemudian dia langsung melayangkan laporan ke Polres dan bank pusat. Namun apa hendak dikata, semua usahanya berakhir nihil. 

“Ekonomi saya memang pas-pasan, tetapi saya tidak gelap mata terhadap uang. Saya ini petani, sudah terbiasa bekerja keras. Tidak tertarik pada iming-iming hadiah,” jelas perempuan yang dikenal ahli mengolah aneka kuliner sehat ini. 

Pada akhirnya, luka dan duka dari efek penipuan via internet tersebut dipendam oleh Betti seorang diri. Dia tidak ingin mengkhawatirkan anggota kelompoknya, suaminya, dan juga orang tuanya. Kesehatan mental perempuan Tenggulun yang dikenal tangguh ini sempat merosot tajam. Namun, perlahan tapi pasti, Betti menguatkan diri untuk bisa bangkit kembali. 

“Jadi jarang keluar rumah. Tetap puasa, tetap memasak, tapi lebih sering mengurung diri di kamar dan menangis sendirian”, kisahnya. Betti menilai dukungan suami dan sejawat yang terus menyemangati membuat asanya tak jadi patah. 

Walau mengaku agak trauma menggunakan internet setelah mengalami penipuan online, Betti tetap tidak ingin berhenti menggunakan akses dunia maya tersebut untuk menebarkan kebajikan. Dia menilai kejadian merugikan itu sebagai cobaan sekaligus pembelajaran hidup yang hikmahnya sangatlah berharga baginya. 

“Kita berpikir positif saja. Itu bukan rezeki kita. Rezeki itu terkadang datang enggak disangka-sangka dan hilang enggak ketebak bagaimana.” 

Betti pun memberikan beberapa tips dalam berinternet agar terhindar dari penipuan. Diantaranya; pertama, jangan sembarangan merespons nomor yang tidak dikenal. Kedua, jangan sembarangan mengklik tautan yang dibagikan. Ketiga, pikirkan, pakai logika, dan tetap waspada. 

dokumentasi oleh Perempuan Peduli Leuser (PPL)

“Saya belajar untuk lebih waspada. Kejadian ini menjadi pendorong bagi saya untuk semakin pintar berinternet,” tutur Betti. 

Starlink dan Harapan Baru

Perlu menempuh sekitar 490 km perjalanan mengendarai mobil dari pusat kota Banda Aceh hingga tiba di Desa Sumber Makmur, Kecamatan Tenggulun, Kabupaten Aceh Tamiang. Perjalanan yang menghabiskan waktu tempuh hingga 11 jam tanpa jeda itu akhirnya dibagi dalam dua sesi. Sesi Banda Aceh-Langsa dan Langsa-Aceh Tamiang. Bukan hanya demi mencegah efek kelelahan akut selama perjalanan di bulan Ramadhan tetapi juga karena banyaknya jalan dan jembatan rusak sulit akses yang diakibatkan oleh bencana ekologis berupa banjir bandang dan longsor, serta gempa bumi, yang terjadi di Aceh pada November dan Desember 2025. 

Sumber Makmur adalah salah satu desa yang masyarakatnya hidup dalam ribuan hektar perkebunan sawit. Menariknya, di kecamatan ini pula berdiri Stasiun Restorasi Kawasan Hutan Tenggulun. Stasiun riset tersebut hadir dengan tujuan mengembalikan kawasan hutan lindung yang sebelumnya pernah ditanami sawit menjadi hutan tropis kembali melalui penanaman pohon tegakan seperti pohon durian, jengkol, sukun, dan sebagainya. Perlu kita ingat bersama bahwa sawit bukanlah pohon dan hektaran perkebunan sawit bukanlah hutan. 

Memerlukan jarak tempuh sejauh 22 km—dengan kondisi jalan bergelombang, penuh kerikil, nyaris tanpa aspal—untuk mencapai Desa Sumber Makmur jika bertolak dari Simpang Seumadam di lintas jalan nasional Banda Aceh–Medan.. Selain akses jalan yang sulit, desa tersebut juga mengalami keterbatasan akses internet. Tower jaringan internet di sana kerap rusak. Sehingga jaringan internet yang dibutuhkan sering mengalami kendala akses. 

“Saya pernah menyampaikan aspirasi kepada pemerintah daerah terkait kebutuhan perbaikan jalan/infrastruktur dan jaringan internet. Tapi hingga kini belum digubris, ” papar Betti.

Sehingga ketika Combine Resource Institution (CRI) asal Yogyakarta menghibahkan satu unit paket konektivitas darurat berupa perangkat internet satelit Starlink dan panel surya sebagai dukungan akses informasi kepada Kelompok Cendana pada Maret 2026 lalu, para anggota kelompok perempuan Desa Sumber Makmur itu tampak begitu gembira.

“Alhamdulillah, internetnya lancar,” seru Sulastri, salah seorang anggota Kelompok Cendana, girang. 

Kemudian Betti memaparkan salah satu kendala terbesar yang dihadapi kelompok perempuan di bidang ekonomi konservasi adalah keterbatasan akses internet untuk mempromosikan dan memasarkan produk mereka secara daring. Jenis produk yang dipasarkan Kelompok Cendana di antaranya jamur tiram, tepung pisang dan ubi, serta berbagai produk daur ulang dari olahan limbah lidi sawit dan sampah plastik. 

Kendala lain terkait akses internet yang dirasakan anggota Kelompok Cendana  adalah ketika harus mengunggah data-data berukuran besar hasil patroli hutan yang dilakukan oleh para ranger perempuan. Orang-orang muda ditugaskan untuk mengirimkan informasi kondisi hutan terkini di sekitar mereka. Namun karena lemahnya akses internet, mereka terpaksa pergi ke salah satu kafe di desa sebelah yang jarak tempuhnya tidak dekat dengan kondisi jalan bergelombang penuh bebatuan. Bukan hanya tantangan jarak yang melelahkan dan kondisi jalan yang cenderung tidak aman, lebih dari itu, para anggota bertugas kembali harus merogoh kocek pribadi demi membayar minuman, cemilan, sekaligus paket starlink di tempat tersebut. 

dokumentasi oleh Perempuan Peduli Leuser (PPL)

“Kehadiran starlink ini mengurangi masalah akses internet yang kami hadapi. Jadi agak meringankan beban,” ungkap Betti sembari berterima kasih. 

Internet Newbie

Walau sama-sama lahir sebagai generasi awal milenial, pengalaman eksplorasi internet Sulastri berbeda jauh dibandingkan Betti Lestari. Kalau Betti sudah akrab dengan internet sejak 10 tahun lalu, Lastri justru baru menggunakan internet sejak tiga bulan terakhir, persisnya setelah bencana ekologis melanda Sumatera.

“Karena keadaan ekonomi, jadi belum bisa beli,” papar Lastri terkait alasannya tak kunjung memiliki telepon pintar. “Anak-anak pun banyak yang sedang sekolah, jadi kita mementingkan sekolah anak-anak dulu,” imbuh ibu empat anak itu.  

Selaku ibu, Lastri cenderung lebih sering mengalah demi memenuhi kebutuhan buah hati dan keluarganya. Namun perempuan kelahiran Juni 1982 tersebut mengaku merasa sering ketinggalan informasi karena tidak dapat menggunakan internet. Padahal setelah menggunakan smartphone, Lastri semakin menyadari betapa dia merasa lebih produktif dengan mengakses internet positif.

“Belanja sekarang bisa pakai hp. Mau jualan juga bisa pakai hp. Bisa promosi online juga. Dulu tidak tahu apa-apa,” sebut Lastri mencurahkan isi hatinya.

Selain tujuan mengakses informasi dan menjaga koneksi daring sesama anggota Kelompok Cendana, Lastri menyebutkan alasan utamanya berhijrah dari ponsel jadul ke ponsel pintar adalah demi mendukung kebutuhan pendidikan anak-anaknya.

“Sekarang seluruh wali murid harus punya smartphone. Sebab semua tugas sekolah anak-anak dikirimkan melalui grup WhatsApp,” paparnya.

Secara umum, Lastri menggunakan gawainya untuk berkomunikasi, mendukung pembelajaran sekolah anak, dan sesekali mengakses hiburan melalui media sosial. Internet juga digunakan olehnya bersama anggota Kelompok Cendana lainnya untuk mempromosikan produk-produk kreasi kelompok mereka seperti piring lidi sawit serta tikar dan tas anyaman dari limbah plastik di marketplace.

“Rasanya enggak nyangka. Kok bisa kreasi buatan tangan saya dibeli, bahkan hingga ke luar negeri. Itu kan limbah!” Turur Sulastri, “Bangga saya. Limbah yang dibuang bisa saya oleh menjadi uang,” kisahnya.

Kemudian saat ditanyakan tentang pengalamannya mengakses informasi resmi terkait bencana melalui internet, sontak dia menggelengkan kepala dan berkata, “tidak pernah”. Lastri dan keluarganya terbiasa membaca tanda-tanda alam di sekitar secara langsung dibandingkan mencari informasi terkait bencana melalui internet. 

“Kami memerhatikan perilaku semut. Kalau gerombolan semut sudah merayap ke dinding atas, itu tandanya banjir akan segera tiba,” jelasnya.

Namun, selaku masyarakat dengan ekonomi menengah ke bawah yang hidup di wilayah rawan bencana seperti Tenggulun, mau tidak mau Lastri dituntut untuk bisa berdamai dengan potensi bencana banjir berulang. Dia lantas membagikan segelintir kearifan lokal terkait tata cara menghadapi banjir di wilayahnya. Kata Lastri, jika banjir datang tanpa kehadiran hujan, maka kemungkinan air surut dengan cepat. Namun, tambahnya, jika banjir hadir disertai hujan gerimis tanpa henti, dia menyarankan untuk segera mengungsi ke wilayah aman yang lebih tinggi.

“Memang sebagai perempuan, kita sering merasa tidak nyaman hidup di pengungsian. Harus selalu berpakaian labuh dan tidak bebas bergerak seperti di rumah,” kisahnya, “Mau pindah rumah, uang pun engga ada. Ya sudah, berdamai saja dengan keadaan,” imbuh Lastri yang sempat mengungsi selama 3 hari selama bencana dahsyat pada November 2025 silam.

dokumentasi oleh Perempuan Peduli Leuser (PPL)

Banyak tantangan dan perubahan skenario hidup yang harus dihadapi oleh masyarakat di wilayah rawan bencana seperti yang dialami Lastri dan keluarganya. Tidak sedikit waktu dan tenaga yang terkuras saat harus kembali membersihkan tempat tinggal yang basah dan tergenang lumpur. Ditambah lagi guncangan ekonomi karena harga bahan pokok yang seketika melambung tinggi. “Saat bencana, wafer yang harganya 2 ribu jadi 25 ribu, harga bensin sempat mencapai 100 ribu per liter, bahkan air mineral sedang dihargai 25 ribu,” kenang Lastri.

Uang hasil penjualan kebun seluas 3 hektare yang seharusnya digunakan untuk membeli kebun lainnya yang berjarak lebih dekat dari rumah, berakhir terpakai demi bertahan hidup pascabencana. Dari memperbaiki lantai rumah yang rusak parah dan mengecor lubang sarang ular kobra agar tak lagi nyasar memasuki kediaman mereka. 

“Cuma dapat 14 rante tanah (± ½ hektare). Selebihnya sudah habis untuk bertahan hidup. Jika menunggu bantuan, entah kapan. Sedangkan kobra sudah sering masuk rumah. Kan takut!!” Lastri berkisah, raut wajahnya gelisah. 

Saat membandingkan kondisi dahsyatnya bencana banjir bandang yang dia hadapi pada tahun 2006 dan 2025 jika dikaitkan dengan kehadiran internet, Lastri pun berkomentar. “Lumayan 2025 ini. Walau internet terputus sementara, masih tetap bisa saling berkomunikasi nantinya. Dulu di 2006 tanpa internet, untuk mengetahui kabar keluarga saja, kita harus datang dan lihat langsung sendiri. ” 

Menariknya, walau tergolong newbie di dunia perinternetan, Lastri tetap menyetujui pentingnya kehadiran internet dalam merespons bencana. “Bedalah! Orang yang punya internet akan dapat informasi lebih cepat. Sedangkan saya, enggak tahu apa-apa kecuali diberi tahu langsung,” jelasnya.

Perempuan yang menamatkan pendidikannya di bangku Sekolah Dasar ini berharap kehadiran internet pada ponsel pintarnya dapat menambah pengetahuan dan informasi yang dapat mencerdaskannya di masa depan. “Sedih rasanya ketika enggak tahu apa-apa. Semoga saya bisa lebih pandai dalam menggunakan internet. Agar enggak ketinggalan informasi lagi,” ungkap Sulastri.

Internet Bagi Teman Disabilitas

Bak kata pepatah, “Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya”. Dari Aceh Tamiang, cerita perempuan milenial terkait internet dan bencana berpindah ke Aceh Utara. Penuturan jujur dari pengalaman khas perempuan menghadapi kedahsyatan bencana dan bagaimana internet hadir di kehidupan seorang Disabilitas Tunadaksa (disabilitas fisik tangan dan kaki).

Lainawidar, alias Kak Na, demikian namanya dikenal. Dia memiliki sekelebat memori baik saat menggunakan internet dari gawai saudaranya. Sebuah fenomena yang menurutnya langka. Video yang membuktikan bahwa sejatinya di dunia ini dia tidaklah sendirian.

“Wah, ternyata ada juga orang yang kondisinya mirip saya. Masih muda dan sukses pula. Saya jadi terinspirasi,” seulas senyum pun muncul membingkai wajah sendunya.

Hal itu tampaknya menjadi satu-satunya memori baik bagi Kak Na terkait penggunaan internet. Walau ingin mengeksplorasi internet lebih jauh, tetapi dia tidak memiliki ponsel pintarnya sendiri. Anak terakhir dari enam bersaudara ini hanya bisa berpuas hati menjangkau dunia luar melalui telepon dan sms dari ponsel jadulnya.

“Pernah lihat tapi tidak pernah pakai perangkat internet. Mereka punya informasi yang cepat karena ada internet di hp-nya,” paparnya. Walau ingin mengeksplorasi internet lebih jauh, Kak Na paham kalau kondisi ekonomi keluarganya tidak cukup ramah untuk menghadirkan ponsel pintar untuk dia miliki. 

Kesulitan semakin bertambah setelah bencana ekologis berupa banjir bandang setinggi 5 meter meluluhlantakkan rumah keluarganya. Sempat terjatuh dan terbawa air banjir, Kak Na nyaris putus asa. Lantas dia meminta keluarganya untuk segera pergi menyelamatkan diri dan meninggalkannya seorang diri. Namun sang abang menolak ide gila itu dan tetap berusaha mengevakuasi mereka berdua ke tempat yang aman.

“Saya merasa terbatas karena perbedaan fisik. Mereka bisa jalan sendiri, saya kan enggak!” Ungkap Kak Na, suaranya serak, kedua bola matanya berkaca-kaca. 

Pengalaman khas perempuan disabilitas dirasakan langsung oleh Kak Na selama berada di pengungsian. Tidak ada hal yang bisa dibawa, kecuali dirinya sendiri, saat berusaha lari dari amukan air bah.

Selama dua malam Kak Na terus memakai pakaian basah di pengungsian. Tidak ada air untuk diminum, konon lagi untuk membersihkan diri. Padahal saat itu dia sedang menstruasi. Bahkan dia sempat terserang demam tinggi dan mengalami diare. Bantuan baru tiba hari kelima pascabencana. 

“Rasanya sulit. Seandainya ada pertolongan untuk mengganti celana dalam dan pembalut, pasti bisa lebih nyaman,” pikirnya saat itu.

dokumentasi oleh Perempuan Peduli Leuser (PPL)

Menurut pengamatan Lainawidar, saat bencana melanda, orang-orang tidak lagi sibuk dengan gawainya. Tak ada aktivitas kabar-mengabari. Setiap orang sibuk menyelamatkan diri dan mencari tempat teraman untuk mereka tuju. 

Kecamatan Sawang di Aceh Utara tak ubahnya seperti Kecamatan Tenggulun di Aceh Tamiang. Masyarakat di kedua tempat itu sudah sangat familier dengan kondisi bencana banjir berulang. Namun yang menarik, warga di kedua lokasi menyatakan bahwa bencana ekologis berupa banjir bandang dan longsor pada penghujung 2025 silam merupakan versi terdahsyat sejauh ini.

Di Aceh Utara sendiri, bencana besar yang tercatat sejarah telah terjadi sebanyak tiga kali yaitu pada tahun 1983, 2000, dan 2025. Masyarakat setempat percaya bahwa tingginya intensitas bencana sebanding dengan maraknya penebangan pohon di wilayah pegunungan dan eksploitasi galian C di Sungai Sawang. Alhasil, suhu di Sawang dirasa semakin panas dan rasa durian pun dipercaya semakin hambar, belum lagi bencana yang hadir semakin meresahkan dari tahun ke tahun disebabkan kerusakan lingkungan yang masif dan perubahan iklim. 

“Takut! Apalagi kalau suasana mendung, langsung panik. Bagaimana kalau banjir lagi?” Jawab perempuan kelahiran 1984 tersebut saat ditanya tentang kondisinya terkini. 

Saat ditemui, Kak Na dan keluarganya sudah kembali ke rumah mereka. Rumah itu diselimuti debu halus kecoklatan yang menempel di sekeliling dinding rumah. Di berbagai sudut di luar rumah terdapat tumpukan-tumpukan lumpur yang belum sepenuhnya kering. Suasana Sawang masih terasa cukup mencekam walau nyaris mencapai 3 bulan pascabencana. 

“Bencana membuat kondisi di sekitar saya lebih sulit. Kondisi sekitar rumah menjadi becek dan licin. Sedangkan bantuan dukungan khusus untuk disabilitas seperti alat bantu jalan (walker) belum juga saya dapatkan,” papar perempuan yang memiliki keahlian menjahit dan merangkai bunga ini.

Perempuan Sawang yang menamatkan pendidikannya hingga di bangku SMP ini mengaku bahwa salah satu hal yang sangat dibutuhkan oleh seorang perempuan disabilitas sepertinya adalah toilet khusus di dalam rumah. Sehingga dapat memperkecil risiko kecelakaan saat harus mengakses kamar mandi di luar rumah yang cenderung jauh dan licin.

Saat ditanya tentang pengalamannya menyaksikan informasi terkait bencana di internet, Kak Na menyebutkan bahwa dirinya pernah melihat dari media sosial di ponsel pintar yang saudaranya tunjukkan. Terkadang dia ikut nimbrung untuk sesekali melihat tontonan yang disaksikan oleh anggota keluarganya melalui gawai masing-masing.  

“Saya sering penasaran melihat orang-orang yang berinternet. Kok sepertinya mereka asyik sekali ya?” Ungkap Kak Na. “Saya berharap bisa punya hp internet juga. Bisa jadi saya enggak bisa ke mana-mana, tetapi melalui akses internet, saya bisa tetap terinspirasi dan mengurus diri sendiri,” tutup Lainawidar.


Demikianlah kisah tiga serangkai perempuan milenial sebagai pengguna internet dan penyintas bencana di Aceh. Betti Lestari menjadi sentral cerita dan dua narasi lainnya dari Sulastri dan Lainawidar memperkaya ragam sudut pandang akan pengalaman khas perempuan dengan kondisi fisik, latar belakang ekonomi, dan lokasi tinggal yang berbeda. Semoga terdapat satu dua hikmah yang dapat dipetik dari ragam pengalaman dan pembelajar yang telah dibagikan oleh ketiganya. Terima kasih telah membaca.[]

Cerita dari Balik Layar: Perempuan, Internet, dan Pengetahuan Bertahan Menghadapi Banjir Berulang

Bencana biasanya tidak datang tanpa tanda. Ada banyak isyarat yang disampaikan lewat pesan alam. Hujan yang turun lebih lama dari biasanya, sungai yang mulai meluap, air yang semula jernih berubah menjadi coklat, hingga hewan-hewan seperti burung, tikus, atau serangga bergerak massal menjauhi sungai atau lembah yang menjadi isyarat awal, bahwa banjir segera tiba. 

Di banyak rumah, perempuan sering menjadi orang pertama yang bergerak mencari informasi, baik bertanya kepada tetangga, mengecek keadaan cuaca, memantau keadaan di sekitarnya sembari mengemasi barang-barang berharga. Ia juga orang pertama yang berperan menenangkan anak, mencarinya ketika belum sampai ke rumah, atau menghubungi via telepon jika anaknya berada di daerah berbeda untuk memastikan keadaannya.

Dalam situasi seperti itu, internet menjadi alat penting untuk mencari kabar, berbagi informasi, dan saling mengingatkan. Dari balik layar itulah, cerita-cerita tentang cara bertahan menghadapi banjir yang datang berulang perlahan terbentuk. Cerita yang jarang terdengar, tetapi menyimpan pengetahuan penting bagi kehidupan sehari-hari dan kedepannya.

Seperti cerita yang dituturkan oleh dua perempuan yang tinggal di Gampong Air Sialang Hilir. Sebuah kampung di Kecamatan Samadua, Kabupaten Aceh Selatan, Provinsi Aceh. Secara geografis, Gampong Air Sialang dikelilingi aliran sungai. Nama Air Sialang sendiri tidak lahir tanpa alasan, karena nama tersebut diambil dari nama sungai yang mengelilingi kampung ini, mulai dari Air Sialang Tengah, Air Sialang Hulu, hingga Air Sialang Hilir. 

Selain sungai Air Sialang, daerah ini juga diapit oleh dua sungai lainnya, yaitu sungai Air Sarap, dan Sungai Air Gadang. Sehingga untuk menuju ke pemukiman warga, orang harus melewati beberapa jembatan penghubung. Sungai yang mengitari kampung itu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari warga. Tak heran, terdapat banyak sumber mata air yang dibuat menjadi telaga di kampung ini. Namun dibalik itu, juga menyimpan potensi ancaman saat hujan turun dalam waktu lama. Yaitu banjir yang datang secara berulang. Ada yang skala besar sampai menelan jiwa, dan harta benda, tapi ada juga hanya naik air sebatas ukuran mata kaki. Khususnya di rumah warga yang bangunannya masih rendah. 

Banjir dari Waktu ke Waktu 

Hasil dokumentasi Perempuan Peduli Leuser (PPL)

Bagi warga setempat, terutama para perempuan yang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah bersama keluarga, perubahan tinggi air di sungai menjadi sesuatu yang selalu diperhatikan. Ketika hujan turun lebih lama dari biasanya, mereka mulai bersiap. Barang-barang penting diangkat lebih tinggi, stok makanan dan pakaian anak-anak disiapkan. Dokumen keluarga dan ijazah disimpan di tempat yang lebih aman.

Sebab, menurut sejarahnya di Gampong Air Sialang pernah mengalami banjir dari waktu ke waktu. Pengalaman menghadapi banjir besar di masa lalu masih tersimpan dalam ingatan warga. Bahkan menjadi sebuah kearifan lokal lewat cerita yang disampaikan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Jauh sebelum telepon genggam dan media sosial menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Kisah-kisah tentang bencana disampaikan lewat cerita orang tua kepada anak-anak mereka. Salah satu cerita yang masih diingat oleh sebagian warga adalah kisah tentang “Jailali Hanyut”, sebuah tragedi banjir besar yang terjadi sekitar tahun 1960-an.

Suhartati (47 tahun), warga Air Sialang yang lahir pada tahun 1979, mengaku pertama kali mendengar cerita itu dari orang tuanya. Kisah tersebut sering diceritakan ulang sebagai pengingat bahwa banjir besar pernah terjadi di kampung mereka.

“Kami tidak mengalami langsung, tapi cerita itu sering disampaikan orang tua dulu. Mereka bilang pernah ada banjir yang sangat besar, sampai ada satu keluarga yang hanyut” kata Suhartati yang merupakan ibu dari empat orang anak.

Cerita yang sama juga diketahui oleh warga lainnya bernama Surianti B (49 tahun). Ia mendengar kisah itu dari orang tuanya sejak masih kecil. Menurut cerita yang diwariskan di kampung, peristiwa itu bermula dari hujan lebat yang turun berhari-hari pada bulan Ramadhan.

Saat itu, seorang warga bernama Jailali sedang berkebun di hulu Sungai Sikabu, tepatnya di daerah Panton Luas, Kecamatan Samadua, kabupaten Aceh Selatan. Bersama istrinya dan seorang bayi mereka, Jailali tinggal sementara di sebuah pondok kecil di kebun yang berada di pinggiran sungai. Namun hujan yang turun tanpa henti membuat air sungai meluap dengan cepat. Banjir besar datang membawa arus yang sangat deras hingga menghanyutkan pondok tempat mereka berteduh.

“Menurut cerita orang tua kami, pondok itu hanyut bersama air bah. Jailali dan istrinya terbawa arus,” ujar Surianti yang merupakan kepala sekolah TK At-Taqwa Air Sialang.

Beberapa waktu kemudian, warga menemukan Jailali dan istrinya dalam keadaan tidak bernyawa. Tubuh mereka ditemukan tidak jauh dari rumah Surianti. Tepatnya di Talago Lubuk Ek’Ot. Namun di tengah tragedi itu, sebuah kisah yang sering diceritakan kembali oleh orang tua di kampung menjadi bagian yang paling diingat oleh warga. Bayinya Jailali ditemukan dalam keadaan selamat, berpegangan pada sehelai daun keladi di tepi tebing dekat Talago Punjuik.

Cerita tentang “Jailali Hanyut” mungkin terjadi puluhan tahun yang lalu. Akan tetapi, ingatan tentang banjir besar itu masih hidup dalam percakapan warga Gampong Air Sialang. Bagi generasi seperti Suhartati dan Surianti, kisah yang mereka dengar dari orang tua dulu bukan sekadar cerita lama. Ia menjadi pengingat bahwa sungai yang mengelilingi kampung mereka bisa berubah menjadi ancaman ketika hujan turun tanpa henti.

Puluhan tahun setelah cerita itu diwariskan dari generasi ke generasi, banjir kembali menguji warga Air Sialang. Pada tahun 2002, tepatnya pada 14 Ramadhan 1423 H, air sungai kembali meluap setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut. Bagi Suhartati, peristiwa itu datang pada masa yang sangat rentan dalam hidupnya. Saat banjir terjadi, ia baru saja melahirkan anak keduanya.

Air terus naik hingga membuat akses keluar masuk kampung terganggu. Suaminya yang saat itu sedang berada di daerah lain berusaha pulang ke rumah. Namun untuk sampai ke kampung, ia harus menyeberangi aliran sungai yang airnya sudah mencapai dada orang dewasa.

“Waktu itu saya baru melahirkan. Suami saya harus menyeberangi sungai dengan air setinggi dada supaya bisa sampai ke rumah. Terdengar pula kabar bawah rumah Abang sepupu saya hanyut terbawa banjir membuat perasaan saya semakin sedih.” Kenang Suhartati dengan mata berkaca.

Situasi tersebut membuat warga kembali merasakan bagaimana rapuhnya akses menuju kampung yang dikelilingi aliran sungai. Ketika air meluap, beberapa rumah warga terbawa arus dan jembatan tidak dapat dilalui. Sehingga warga harus mencari cara lain untuk bisa saling menjangkau dan terhubung .

Cerita yang hampir serupa juga dialami oleh Surianti. Saat banjir melanda kampungnya, ia sedang berada jauh dari rumah karena sedang melanjutkan kuliah di Banda Aceh. Ia baru bisa pulang dua hari setelah kejadian banjir tersebut. Namun perjalanan pulang ke kampung tidak mudah. Untuk sampai ke rumahnya di Air Sialang, Surianti harus menyeberangi Sungai Air Sarap. Karena jembatan yang biasa digunakan warga putus. Tidak bisa dilalui kendaraan bermotor, kecuali dengan jalan kaki dan menempuh aliran sungai.

“Saya begitu terkejut melihat keadaan kampung. Waktu itu belum ada HP, saya baru tahu kejadian banjir setibanya di sini. Jadi, mobil yang mengantar kami tidak bisa masuk ke kampung Air Sialang. Terpaksa saya harus menyeberangi sungai Air Sarap lalu berjalan kaki sekitar 1 km untuk sampai ke rumah,” kenangnya.

Setibanya di rumah, Surianti juga mendapatkan kabar duka bahwa beberapa petak sawah peninggalan ayahnya kini sudah berubah menjadi aliran sungai. Meskipun banjir kali ini tidak merenggut nyawa, tapi banyak warga kehilangan harta benda.

Pengalaman itu membuat mereka kembali menyadari bahwa, banjir bukan hanya cerita masa lalu seperti yang dulu sering disampaikan oleh orang tua mereka. Banjir masih menjadi bagian dari kehidupan yang terus berulang di kampung tersebut.

Pengetahuan Praktis yang Lahir dari Pengalaman 

Sejak saat itu, cara masyarakat menghadapi banjir perlahan berubah. Jika sebelumnya banyak hal dilakukan secara spontan saat air sudah meluap, kini warga mulai lebih peka terhadap tanda-tanda alam. Perempuan di rumah sering menjadi orang pertama yang mengingatkan keluarga ketika hujan turun lama atau ketika air sungai mulai meningkat.

Pengalaman tersebut perlahan membentuk cara-cara bertahan yang bersifat praktis. Pengetahuan ini tidak selalu tertulis, tetapi tumbuh dari pengalaman sehari-hari, dari mengamati sungai, mengingat peristiwa banjir di masa lalu, hingga belajar dari kejadian yang pernah menimpa saudara sendiri. Bagi banyak perempuan di kampung ini, pengalaman itu kemudian diterjemahkan menjadi strategi sederhana untuk menjaga keluarga tetap aman ketika air sungai mulai naik.

Hasil Dokumentasi Perempuan Peduli Leuser (PPL)

Suhartati adalah salah satu yang belajar dari pengalaman itu. Ia menyadari bahwa kampung tempat tinggalnya berada di wilayah yang kerap dilanda banjir. Kesadaran itu mempengaruhi keputusan besar yang ia ambil bersama suaminya, ketika membangun rumah pada tahun 2009. Mereka sengaja membuat pondasi rumah lebih tinggi dari rumah-rumah di sekitarnya, bahkan membangun rumah bertingkat dengan lantai dua.

Menurut Suhartati, keputusan itu tidak muncul begitu saja. Ia melihat bagaimana setiap kali ada perbaikan jalan di kampung, timbunan tanah dan aspal baru membuat permukaan jalan semakin tinggi. Akibatnya, rumah-rumah warga yang lebih lama dibangun menjadi semakin rendah dibandingkan jalan.

“Kami sudah tahu kampung ini langganan banjir. Jadi waktu bangun rumah kami buat pondasinya tinggi dan ada lantai dua,” kata Suhartati yang juga merupakan pengrajin Kasab di Gampong Air Sialang.

Keputusan itu kemudian terbukti menjadi langkah yang tepat. Saat banjir melanda pada tahun 2014, banyak rumah warga mulai kemasukan air. Namun rumah Suhartati tetap aman karena posisinya lebih tinggi. Hal yang sama juga terjadi ketika banjir kembali datang pada tahun 2024.

Pada banjir terakhir itu, situasi di sekitar rumahnya justru jauh lebih mengkhawatirkan. Jembatan Kadai, yang berjarak sekitar 20 meter dari rumahnya, hancur terbawa arus sungai. Tidak hanya itu, satu rumah warga yang berada di dekat jembatan juga ikut hanyut terseret banjir.

Meski rumahnya selamat dari genangan air, rasa khawatir tetap menyelimuti Suhartati. Bagian belakang rumahnya berbatasan langsung dengan Sungai Air Sialang. Ia selalu membayangkan kemungkinan terburuk jika suatu saat arus sungai mengikis tepi tanah di belakang rumahnya. Karena itu, setiap kali hujan lebat turun, ia selalu memantau kondisi sungai.

“Kalau tanggul pembatas sungai sudah mulai tenggelam, saya langsung bersiap-siap,” ujarnya.

Bersiap bagi Suhartati berarti segera mengemasi barang-barang penting. Dokumen keluarga, pakaian, dan beberapa kebutuhan lain dipindahkan ke lantai dua rumah. Ia juga menyiapkan stok makanan untuk berjaga-jaga jika banjir semakin besar. Pilihan itu bukan tanpa alasan. Menurutnya, ketika banjir datang, warga tidak selalu memiliki banyak pilihan untuk menyelamatkan diri.

“Kalau harus lari pun mau ke mana? Kampung ini memang dikelilingi air,” katanya.

Pengalaman serupa juga membentuk cara berpikir Surianti, yang kini menjabat sebagai kepala sekolah di TK At-Taqwa Air Sialang. Lokasi sekolah tempat ia mengajar memiliki sejarah tersendiri. Menurut cerita warga, kawasan tempat sekolah itu berdiri dulunya merupakan jalur aliran Sungai Air Sarap.

Hal itu juga selaras dengan cerita Suharti yang lokasi tempatnya berkebun, termasuk jalur aliran Sungai Air Sarap. Ia mengingat cerita orang-orang tua di kampung bahwa jika ditarik garis lurus, aliran sungai itu dahulu sejajar dengan lokasi TK At‑Taqwa Air Sialang dan MIN 10 Aceh Selatan.

Seiring waktu, aliran sungai berubah arah. Bekas jalur sungai itu kemudian menjadi kebun warga dan sebagian dibangun menjadi fasilitas pendidikan. Meski kini terlihat seperti daratan biasa, ingatan tentang aliran sungai lama itu masih hidup dalam cerita warga. Kesadaran akan risiko itu membuat Surianti selalu waspada ketika hujan turun dengan intensitas tinggi, terutama saat anak-anak sedang berada di sekolah.

“Kalau hujan lebat dan anak-anak masih di sekolah, kami minta mereka tetap di dalam kelas dulu,” jelasnya.

Ia memilih menunggu sampai hujan sedikit reda sebelum meminta orang tua menjemput anak-anak mereka. Langkah ini dilakukan untuk menghindari risiko jika air sungai tiba-tiba meluap. Selain itu, bangunan sekolah juga dibuat dengan pondasi yang lebih tinggi dibandingkan sebagian rumah warga di sekitarnya. Hal ini cukup membantu ketika banjir datang.

Pada banjir tahun 2014, air sempat masuk ke halaman dan ruang kelas sekolah. Namun ketinggiannya hanya sampai mata kaki. Meski demikian, air yang masuk sempat merusak beberapa barang yang ada di sekolah.

Buku-buku dan dokumen yang berada di lantai menjadi basah. Lemari dan meja yang terkena air banjir juga mulai lapuk. Hingga sekarang masih ada bekas ketinggian air yang pernah masuk ke sekolah itu. Dan kini menjadi saksi bisu bahwa banjir kerap menghampiri kampung ini.

Perubahan kecil kemudian terjadi pada tahun 2018, ketika sekolah mendapatkan bantuan pembangunan pagar. Tanpa disadari, pagar tersebut kemudian menjadi pelindung tambahan ketika banjir besar kembali datang pada tahun 2024. Saat itu, banyak rumah warga di sekitar sekolah kemasukan air karena posisinya lebih rendah. Namun halaman dan bangunan TK At-Taqwa relatif lebih aman dari terjangan banjir.

Bagi Surianti dan Suhartati, pengalaman-pengalaman tersebut perlahan membentuk pengetahuan yang tidak diajarkan di ruang kelas mana pun. Pengetahuan itu lahir dari pengamatan terhadap sungai, dari ingatan tentang banjir di masa lalu, serta dari upaya sederhana untuk melindungi anak-anak dan keluarga ketika air mulai naik.

Di kampung yang dikelilingi aliran sungai seperti Air Sialang, pengetahuan praktis semacam itu menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari. Ia hidup dalam keputusan-keputusan kecil. Dari cara membangun rumah, menyimpan dokumen penting, hingga memastikan anak-anak tetap aman ketika hujan turun lebih lama dari biasanya.

Internet dalam Strategi Bertahan Warga 

Jika pengalaman menghadapi banjir berulang telah melahirkan berbagai pengetahuan praktis bagi warga Gampong Air Sialang, maka di masa sekarang pengetahuan itu juga semakin diperkaya oleh kehadiran internet. 

Hasil Dokumentasi Perempuan Peduli Leuser (PPL)

Suhartati mengaku bahwa internet membantunya memahami kondisi cuaca dan perkembangan bencana di berbagai daerah. Ketika hujan turun berhari-hari, ia kerap membuka informasi prakiraan cuaca untuk mengetahui kemungkinan yang akan terjadi di wilayahnya. Dari internet pula ia mengetahui bagaimana bencana berdampak di wilayah lain.

Salah satu peristiwa yang ia ingat adalah banjir bandang yang melanda beberapa wilayah Aceh pada November 2025 lalu. Khususnya di bagian Utara, Timur, dan Tengah Aceh seperti Pidie, Aceh Timur, Aceh Utara, Gayo Lues, Aceh Tamiang dan Takengon. Dampak dari bencana  itu, membuat akses informasi di kampung mereka justru sangat terbatas. Banjir yang terjadi menyebabkan listrik di Air Sialang padam hingga dua minggu lamanya.

Situasi tersebut memaksa warga kembali menjalani kehidupan seperti masa lalu. Pada malam hari mereka menggunakan lampu minyak sebagai penerangan. Di dapur, kayu bakar kembali menjadi bahan utama untuk memasak karena gas LPG sulit didapatkan. Setiap pagi warga pergi ke telaga untuk mencuci dan mengambil air yang akan digunakan untuk memasak dan kebutuhan rumah tangga lainnya. 

Untuk mandi, warga mendatangi beberapa talago yang terdapat di Gampong Air Sialang, seperti Talago Lamen, Talago Nek Maricat, Talago Tampang, Talago Surau, Talago Meunasah, Talago Punjuik, dan Talago Lubuk Ek’ot. Inilah sumber air yang selama ini menjadi tempat warga membersihkan diri ketika air rumah tidak bisa digunakan.

Listrik hanya menyala tiga hari sekali dan itupun hanya beberapa jam. Pada saat-saat itulah Suhartati berusaha memanfaatkan internet untuk melihat berita tentang bencana yang terjadi di daerah lain.

“Kalau listrik hidup sebentar, saya langsung buka internet. Saya lihat berita banjir di daerah lain dan memantau keadaan sekitar di sini juga,” ujarnya.

Melihat berbagai berita bencana sering menimbulkan rasa was-was di dalam dirinya. Ia membayangkan kemungkinan yang sama bisa saja terjadi di kampungnya. Karena itu, setiap kali jaringan internet kembali tersedia, ia selalu menghubungi anaknya yang sedang bekerja di Meulaboh, Aceh Barat untuk memastikan keadaannya baik-baik saja.

Namun bagi Suhartati, internet tidak hanya berfungsi sebagai sumber informasi ketika bencana terjadi. Dari internet pula lahir kesadaran baru tentang pentingnya menjaga lingkungan di sekitar tempat tinggalnya. Rumah Suhartati berdiri tepat di tepi Sungai Air Sialang. Ketika musim kemarau tiba, ia sering melihat sungai berubah menjadi tempat penumpukan sampah warga. Bau tidak sedap dari tumpukan sampah tersebut kerap tercium hingga ke rumahnya.

Kegelisahan itu mendorongnya mencari cara agar sampah plastik tidak lagi dibuang begitu saja ke sungai. Inspirasi datang ketika ia bertamu ke rumah seorang teman dan melihat plastik bekas sabun cair pencuci pakaian, dijadikan kerajinan tangan. Sebagai pengrajin kasab yang terbiasa menyulam benang emas dengan berbagai pola, rasa ingin tahunya muncul. Ia mulai memperhatikan pola dan bentuk kerajinan tersebut. 

Sepulang dari rumah temannya, Suhartati membuka internet untuk mencari video tentang cara membuat tas dan tikar dari plastik bekas sabun cair. Setelah mempelajarinya dengan saksama, ia akhirnya berhasil membuatnya sendiri. Sejak saat itu, plastik bekas sabun cuci pakaian tidak lagi dibuang. Ia mengumpulkannya untuk dijadikan bahan kerajinan tangan.

Tas dari plastik bekas tersebut bahkan ia gunakan sendiri ketika pergi mencuci pakaian ke telaga. Ketika tetangga melihatnya membawa tas itu, banyak yang tertarik dan ingin belajar membuatnya. Suhartati kemudian mengajak para perempuan di sekitar rumahnya untuk mengumpulkan plastik bekas sabun cuci mereka. Setelah terkumpul banyak, ia mengajarkan cara membuat tikar dan tas dari plastik tersebut sesuai dengan kreativitas masing-masing. Perlahan-lahan kebiasaan membuang plastik bekas sabun ke sungai pun mulai berkurang.

“Daripada dibuang ke sungai, lebih baik kita buat jadi barang yang bisa dipakai,” katanya.

Selain itu, ia juga mengajak anak-anaknya membuat ecobrick dari plastik kemasan makanan. Botol plastik tersebut diisi dengan potongan plastik hingga padat dan rencananya akan disusun menjadi sofa sederhana, jika jumlahnya sudah cukup banyak. Sementara itu, botol plastik bekas produk perawatan tubuh dikumpulkan untuk dijual kembali. Menurut Suhartati, langkah kecil itu ia lakukan agar warga mulai melihat bahwa sampah bisa memiliki nilai.

“Mulainya dari diri sendiri dulu. Kalau orang lihat bagus, biasanya mereka ikut.”

Suhartati juga merasa senang ketika suatu waktu anaknya, Nazira (8 tahun), mengikuti kegiatan “Aktivitas Asyik dan Seru Mengenal Kampung Air Sialang” yang diadakan oleh Yellsaints Family. Dalam kegiatan itu, anak-anak diajak menjelajahi delapan sumber mata air yang ada di Gampong Air Sialang, sekaligus belajar tentang sejarah kampung mereka. Termasuk kisah banjir besar yang dikenal dengan peristiwa Jailali hanyut.

Sepulang dari kegiatan tersebut, Nazira pulang dengan penuh cerita. Ia bercerita tentang mata air yang mereka kunjungi, tentang banjir yang pernah terjadi di kampungnya, hingga tentang pentingnya menjaga lingkungan agar bencana tidak semakin parah. Cerita-cerita itu disampaikan dengan antusias, seolah membuka cara pandang baru bagi seorang anak tentang kampung tempat ia tumbuh.

Bagi Suhartati, momen itu menjadi harapan kecil yang berarti. Ia melihat bagaimana pengetahuan yang selama ini hidup dari pengalaman orang dewasa mulai dikenalkan kepada anak-anak sejak dini. Ia percaya, jika anak-anak sudah memahami pentingnya menjaga sungai dan lingkungan, maka kebiasaan membuang sampah sembarangan perlahan bisa berubah.

“Kalau dari kecil sudah tahu, nanti mereka pasti lebih peduli,” ujarnya.

Di tengah ancaman banjir yang terus berulang, bagi Suhartati, perubahan tidak selalu harus dimulai dari hal besar. Cukup dari anak-anak yang pulang membawa cerita, lalu tumbuh dengan kesadaran untuk menjaga kampungnya sendiri.

Selain membuat kerajinan tangan, Suhartati juga membantu suaminya berkebun. Di lahan yang dulu disebut-sebut sebagai bekas aliran sungai, mereka menanam cabai dan berbagai sayuran untuk kebutuhan sehari-hari. Dalam kegiatan berkebun itu, internet juga menjadi sumber pengetahuan baru baginya. Ia kerap mencari informasi tentang cara pembibitan cabai, perawatan tanaman, hingga cara mengatasi hama.

“Kalau ada tanaman yang tidak bagus pertumbuhannya, saya cari di internet bagaimana cara merawatnya,” jelasnya.

Bagi Suhartati, internet bukan hanya membantu memantau bencana, tetapi juga menjadi sarana belajar untuk menjaga sumber penghidupan keluarga. Meski internet membantu Suhartati memperoleh banyak informasi tentang cuaca dan bencana, ia juga menyadari bahwa tidak semua informasi yang beredar di dunia maya dapat dipercaya begitu saja. Menurutnya, berita yang belum jelas kebenarannya kerap membuat orang menjadi panik jika tidak disikapi dengan bijak.

Ia pernah mendengar cerita dari anaknya yang tinggal di Meulaboh. Suatu hari anaknya menerima kabar dari internet bahwa Aceh Selatan sedang dilanda banjir besar. Karena khawatir, anaknya segera menelepon untuk memastikan keadaan keluarganya di kampung. Setelah dikonfirmasi, ternyata banjir tersebut hanya terjadi di satu wilayah, yaitu di Kecamatan Sawang saja. Sementara daerah Air Sialang masih dalam kondisi aman. Selain itu, Suhartati juga beberapa kali menerima pesan berantai yang memperingatkan akan terjadi gempa besar atau banjir besar. Namun ia memilih untuk tidak langsung panik.

“Kalau dapat informasi seperti itu, saya tetap waspada saja. Kalau tidak terjadi, Alhamdulillah. Yang penting kita sudah bersiap-siap,” ujarnya.

Menurutnya, lebih baik tetap berhati-hati daripada mengabaikan informasi sama sekali. Namun ia juga menilai masyarakat perlu lebih bijak dalam menyebarkan kabar yang belum jelas sumbernya.

“Jangan langsung diteruskan kalau belum tahu benar atau tidak. Lebih baik dicek dulu, bisa lewat televisi atau sumber yang jelas,” katanya.

Bagi Suhartati, arus informasi yang cepat kadang juga menimbulkan rasa khawatir. Berita tentang berbagai bencana di banyak tempat membuatnya semakin sering memantau kondisi lingkungan di sekitarnya.

Berbeda dengan Suhartati, Surianti memanfaatkan internet terutama untuk mendukung aktivitas pendidikan di sekolah. Sebagai kepala sekolah di TK At-Taqwa Air Sialang, ia sering menggunakan internet untuk mencari informasi tentang metode pembelajaran serta perkembangan anak usia dini. Selain itu, ia juga memantau informasi cuaca dan kebencanaan agar dapat mengambil keputusan yang tepat ketika anak-anak masih berada di sekolah saat hujan turun dengan intensitas tinggi.

Internet juga menjadi sarana penting baginya untuk membangun solidaritas sosial. Ketika banjir dan longsor melanda beberapa wilayah Aceh di bulan November 2025 lalu, ia berkomunikasi dengan teman-temannya sesama alumni PGSD tahun 2003 melalui  grup WhatsApp. Dari percakapan tersebut muncul inisiatif untuk menggalang dana bagi korban bencana.

Dana yang terkumpul kemudian disalurkan melalui teman-teman mereka yang berada di daerah terdampak. Aktivitas serupa juga pernah dilakukan sebelumnya ketika banjir besar melanda Ladang Rimba pada tahun 2024. Dalam kegiatan tersebut, Surianti bahkan melibatkan anak-anak di TK At-Taqwa untuk ikut belajar tentang kepedulian sosial. Bersama para muridnya, ia mengadakan kegiatan penggalangan dana di kampung Air Sialang.

“Kami ajarkan kepada anak-anak bahwa membantu orang lain itu penting. Bisa saja suatu hari nanti kita juga mengalami hal yang sama,” ujarnya.

Menurut Surianti, pengalaman menghadapi banjir di kampungnya sendiri juga menunjukkan pentingnya upaya mitigasi yang lebih baik. Ia berharap suatu saat ada pembangunan saluran air atau parit di sepanjang jalan Air Sialang. Saluran tersebut diharapkan dapat membantu mengalirkan air hujan menuju Sungai Air Sarap atau Sungai Air Sialang, sehingga genangan air tidak lagi masuk ke rumah-rumah warga.

Hasil Dokumentasi Perempuan Peduli Leuser (PPL)

Terkait dalam menyikapi berita hoaks tentang bencana di internet, ia tidak terlalu ambil pusing. Baginya yang penting selalu waspada. Sebab, menurutnya, sebelum internet hadir seperti sekarang, masyarakat justru lebih mudah diliputi kepanikan ketika menerima kabar yang belum tentu benar.

Ia masih mengingat peristiwa yang terjadi pada tahun 2005, beberapa bulan setelah tsunami Aceh dan Sumut 2004. Saat itu trauma masyarakat terhadap gempa dan tsunami masih sangat kuat. Suatu malam beredar kabar bahwa air laut sedang naik dan berpotensi menimbulkan tsunami. Tanpa memastikan kebenaran informasi tersebut, warga di Gampong Air Sialang beramai-ramai berlari menuju daerah pegunungan untuk menyelamatkan diri. Namun setelah ditunggu lama, kabar tersebut ternyata tidak benar.

Peristiwa seperti itu bahkan terjadi beberapa kali. Setiap kali gempa terasa, warga segera berlari ke dataran tinggi karena tidak memiliki informasi yang jelas mengenai kondisi yang sebenarnya. Menurut Surianti, situasi sekarang sudah jauh berbeda. Dengan adanya internet, informasi mengenai gempa dapat diketahui dengan cepat dan lebih akurat.

“Sekarang kalau ada gempa, langsung ada pemberitahuan di telepon dari BMKG. Kita bisa tahu pusat gempa di mana, kedalamannya berapa, dan apakah berpotensi tsunami atau tidak,” ujarnya.

Informasi tersebut membuat masyarakat tidak lagi panik seperti dulu. Internet, menurutnya, membantu warga mengambil keputusan dengan lebih tenang dan terarah. Meski demikian, ia tetap mengingatkan bahwa informasi yang beredar di internet harus disikapi dengan bijak. 

Bagi dirinya dan Suhartati, kabar tentang bencana yang beredar di dunia maya sebaiknya dipahami sebagai pengingat untuk meningkatkan kewaspadaan, bukan sebagai sumber kepanikan. Banjir memang datang dan pergi di kampung ini, tapi pengalaman yang ditinggalkan tidak pernah benar-benar hilang. Cerita itu menetap di ingatan warga Gampong Air Sialang, meresap dalam cara mereka memandang langit, mendengar deras hujan, hingga memutuskan apa yang harus diselamatkan lebih dulu ketika air mulai naik. 

Dulu, ketidakpastian membuat orang berlari tanpa arah. Kini, di tengah keterbatasan yang masih ada, perempuan-perempuan seperti Suhartati dan Surianti menemukan cara lain untuk bertahan, menggabungkan ingatan lama dengan pengetahuan baru dari layar kecil di tangan mereka. 

Dari sana, mereka belajar membaca cuaca, memilah informasi, menjaga keluarga tetap terhubung, hingga mengubah sampah menjadi harapan. Internet tidak menghilangkan banjir, tetapi memberi mereka ruang untuk tidak lagi sepenuhnya tak berdaya. Dan dari langkah-langkah kecil yang mereka lakukan, tumbuh satu hal yang tak kalah penting dari bantuan apa pun: keyakinan bahwa mereka bisa tetap berdiri, bahkan ketika air kembali datang.


Tulisan ini merupakan bagian dari kampanye Internet Komunitas yang Bermakna: Perempuan dan Kebencanaan – Program Liputan Mendalam di Aceh; Perempuan, Internet, dan Kebencanaan. Bekerja sama dengan Perempuan Peduli Leuser (PPL) dan didukung oleh Association for Progressive Communications (APC).