Menengok Solidaritas Warga dalam AJW 2021

Dua media warga terpilih sebagai penerima penghargaan Anugerah Jurnalisme Warga (AJW) 2021 yang diinisiasi oleh BaleBengong. Mereka adalah Radio Komunitas PPK FM Sragi (Pekalongan, Jawa Tengah) dan Rumah Literasi Indonesia (Banyuwangi, Jawa Timur).

Sebelumnya, mereka bersaing dengan tiga media warga lain yakni, Kediripedia (Kediri, Jawa Timur), Speaker Kampung (Lombok Timur, NTB) dan Penjaringan5 (Surabaya, Jawa Timur). Radio Komunitas PPK FM Sragi mendapat angka tertinggi berdasar penilaian juri, sementara Rumah Literasi Indonesia mendapatkan suara terbanyak dalam voting publik yang dilakukan sejak 17 Mei 2021 hingga 7 Juni 2021.

Ferdhi F. Putra, salah satu juri dari Combine Resource Institution (CRI), lembaga yang menjadi kolaborator AJW 2021 untuk kategori media warga, mengatakan sebanyak 18 media warga yang terdaftar sudah menampilkan aksi solidaritas selama pandemi. Ragam cara mereka lakukan untuk menjaga sesama warga. Mulai dari memberitakan perkembangan Covid-19 di lingkungannya hingga menggalang bantuan untuk diberikan kepada mereka yang membutuhkan.

“Saya percaya tiap media warga sudah berjuang sebaiknya. Ini bukan kompetisi, tapi ajang berbagi semangat dan membangun solidaritas,” ujar Ferdhi. Menurutnya penghargaan ini bukan untuk menentukan siapa yang terbaik di antara yang lain, melainkan sebagai apresiasi atas kerja-kerja yang dilakukan media dan jurnalis warga di tengah krisis.

Selain Ferdhi, juri kategori ini adalah Irma Hidayana dari gerakan Lapor Covid-19 dan Ika Ningtyas, Sekjen Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia. Ketiga juri memberikan nilai terhadap media warga yang masuk nominasi berdasarkan tiga hal yaitu orisinalitas, relevansi dengan tema acara, serta bagaimana mereka berinteraksi dan berdampak terhadap warga sekitarnya. 

Beragam cerita tentang kebangkitan dari keterpurukan yang terangkum dalam produk informasi media-media warga tersebut menunjukkan kekuatan jurnalisme warga. Mereka berhasil mendokumentasikan suara-suara dari pelosok negeri yang kerap luput dari perhatian publik nasional. “AJW 2021 ingin menyampaikan optimisme di tengah situasi kesehatan dan ekonomi yang belum pasti dari kisah-kisah resiliensi warga dari komunitas dan akar rumput,” tambah Iin Valentine, Ketua Panitia AJW 2021.

Selain kategori media warga, AJW juga memberikan beasiswa liputan mendalam terkait kebangkitan warga di tengah pandemi kepada lima pengusul liputan terbaik. AJW juga memberikan beasiswa liputan tentang kelautan kepada delapan pengusul liputan.

Karena gerak yang terbatas, penyerahan penghargaan kepada media warga dan beasiswa kepada pengusul liputan dilakukan secara simbolis. Malam puncak juga diramaikan oleh seniman-seniman kontemporer dan tradisi Bali.

Malam apresiasi berlangsung hybrid, kombinasi offline dan online sebagai siasat dan mitigasi di tengah pandemi. Kisah-kisah warga ini masih bisa disaksikan di sejumlah akun seperti https://twitter.com/balebengong, https://www.facebook.com/balebengong.id, dan https://www.youtube.com/c/BaleBengong/videos.[]


Kredit foto: BaleBengong.

Ruang Publik Itu Bernama Media Komunitas

Sebagai media dari, oleh, dan untuk warga, sudah menjadi keniscayaan bahwa media komunitas akan memberi dampak bagi warga di sekitarnya atau yang menjadi konstituennya.

Peran media komunitas dalam mengiringi proses perubahan sosial masyarakat sudah berlangsung sejak lama, bahkan sejak perangkat media itu ditemukan. Teknologi bisa berubah—media komunitas hidup pada berbagai era, baik teknologi cetak, elektronik berbasis frekuensi, hingga teknologi digital—namun kebermanfaatan media komunitas tak pernah berubah, yakni untuk meningkatkan taraf hidup warga atau komunitasnya.

Menurut Jürgen Habermas, media massa seperti surat kabar dan televisi, merupakan wujud baru dari ruang publik. Jika sebelumnya interaksi antarwarga dilakukan secara langsung di ruang-ruang yang memungkinkan orang berkumpul, kini interaksi tersebut dapat termediasi oleh perangkat teknologi.

Di ruang itulah gagasan-gagasan setiap warga dipertukarkan, didiskusikan, hingga kemudian menghasilkan opini publik. Dari situlah perubahan sosial berangkat. Penyediaan ruang publik menjadi titik awal untuk menuju masyarakat demokratis.

Sudah sejak lama media komunitas juga diasosiasikan dengan ruang publik, namun pamornya sebagai ruang publik, tidak lebih mentereng dibanding media-media arus utama. Padahal jika dibanding media massa berorientasi profit—yang menjadi ruh industri media, media komunitas boleh dibilang lebih memenuhi kriteria ruang publik. “A healthy public sphere requires small scale media not motivated by commercial interests,” demikian argumen Habermas (dalam Butsch, 2007: 4).

Lalu bagaimana sebenarnya media komunitas mewujud sebagai ruang publik? Bagaimana mereka melakukannya? Dan paling penting, apa implikasinya bagi warga?

Melalui studi kasus dua media komunitas di Indonesia, yakni BaleBengong (Denpasar, Bali) dan Warta Desa (Pekalongan, Jawa Tengah), penelitian ini berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.[]

Terima Kasih, Kang Boim

Tanggal 18 Juni 2021 menjadi hari terakhir Irman Ariadi bergiat di Combine Resource Institution (CRI).

Pria yang akrab disapa Kang Boim ini telah bergabung di CRI sejak 2013 dan telah memberikan banyak kontribusi bagi aktivitas lembaga. Dalam kurun waktu kurang lebih delapan tahun, Kang Boim melakukan beragam peran dalam kegiatan lembaga seperti, penerapan sistem informasi desa, respons kebencanaan, hingga literasi digital.

Terakhir, dia berperan sebagai analis regulasi serta menjadi staf yang aktif mengawal pengajuan hak cipta Sistem Informasi Desa (SID) Bedaya dan Sistem Informasi Kabupaten (SIKAB).

Kami mengucapkan banyak terima kasih atas dedikasi Kang Boim untuk lembaga. Doa kami, sukses selalu untuk Kang Boim, di manapun berkarya.[]


Keterangan Foto: Kang Boim (paling kiri) saat memandu diskusi lisensi dan hak cipta bersama perwakilan Creative Commons 2018 silam.