Gandeng Gunungkidul dan Temanggung, CRI Gelar Workshop SID

CRI menggelar workshop penerapan Sistem Informasi Desa (SID) bersama BAPPEDA dan Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Kabupaten Temanggung dan Gunungkidul, (10/7). Kedua kabupaten menyepakati penerapan SID untuk perencanaan dan koordinasi lintas sektor melalui BAPPEDA dan Dishubkominfo masing-masing kabupaten.

“Pertemuan ini diadakan untuk menegaskan arah penggunaan SID di kedua kabupaten tersebut, yakni Temanggung dan Gunungkidul,” jelas Elanto Wijoyono selaku manajer unit Lumbung Komunitas CRI dalam workshop yang digelar di Limasan kantor CRI tersebut.

Gunung Kidul dan Temanggung menjadi dua kabupaten yang telah menerapkan SID di hampir seluruh wilayahnya. Hingga Juli 2015 ini, tercatat sudah 144 desa di Kabupaten Gunungkidul yang menerapkan SID. Sementara di Kabupaten Temanggung, sebanyak 136 desa telah menerapkan aplikasi ini.

Jika di Temanggung penerapan SID dimanfaatkan untuk mengolah informasi publik dengan instrumen website desa, lain halnya dengan di Gunungkidul. Di kabupaten berjuluk seribu gunung ini, SID dimanfaatkan untuk memperkuat pelayanan administrasi publik dan mendukung proses analisis potensi desa yang beragam.

“SID ini sangat membantu untuk pelayanan publik masyarakat. Misalnya saja untuk mengurus surat pengantar berkelakuan baik yang dulunya butuh waktu berjam-jam, sekarang hanya 2 menit saja sudah bisa terlayani,” papar Saptoyo selaku Kabid Statistik dan Perencanaan BAPPEDA Gunungkidul, (10/7).

Meskipun strategi pemanfaatannya berbeda, Gunungkidul dan Temanggung memiliki komitmen yang sama. Dalam workshop yang diinisiasi oleh CRI tersebut, keduanya berkomitmen untuk selalu melakukan komunikasi dan kerja sama melalui BAPPEDA dalam hal perencanaan dan koordinasi lintas sektor. Sementara yang berkaitan dengan penyiapan pembangunan dan pemeliharaan jaringan infrastruktur secara teknis, komunikasi dan kerjasama dilakukan melalui Dishubkominfo tiap kabupaten.

Dalam workshop tersebut, Gunungkidul sepakat untuk untuk mengintensifkan program percontohan di 2 kecamatannya, yaitu Patuk dan Panggang. Tak hanya itu, BAPPEDA Gunungkidul juga tengah gencar mengembangkan SID untuk jurnalisme warga. Menariknya, jurnalisme warga berbasis SID itu nantinya akan menjadi wadah para perantau untuk bisa mengakses desanya dalam upaya untuk membantu pembangunan desa.

“Banyak warga Gunungkidul yang merantau yang seringkali mengirim dana untuk pembangunan desanya. Mereka membutuhkan wadah untuk mengakses apapun tentang desanya. SID yang sudah online bisa menjadi wadah untuk mem-publish (menerbitkan-red) dana yang sudah mereka kirimkan untuk desanya,” jelas Saptoyo.

Dukungan untuk penerapan SID akan terus dilakukan CRI ke depannya. Dengan Gunungkidul, CRI menyepakati pertemuan tindak lanjut dalam bentuk sharing workshop program formal Kabupaten Gunung Kidul sampai akhir tahun 2015. Sedangkan dengan Temanggung, pihak CRI tetap mendukung proses penerapan SID di pemerintah kabupaten dari jarak jauh seperti dengan memberikan data-data aktual dan penting terkait SID dan Kabupaten Temanggung. (ANG/AS)

Menjadi Fasilitator Efektif

Fasilitasi menjadi salah satu kegiatan penting yang dilakukan pendamping atau fasilitator dalam upaya untuk memberdayakan masyarakat atau komunitas dampingan. Tak sekedar menguasai cara berkomunikasi, seorang fasilitator juga dituntut untuk memiliki kemampuan membangun partisipasi dampingan. Lebih dari itu, fasilitator juga harus mampu menangani situasi sulit bahkan sampai membuat kesepakatan dan kesimpulan.

Mengingat pentingnya peran fasilitator di atas, keterampilan fasilitasi wajib dimiliki oleh setiap fasilitator. Sebagai lembaga sosial yang sering melakukan kegiatan fasilitasi, CRI pun menggelar pelatihan untuk pelatih (Training of Trainer) tentang bagaimana menjadi fasilitator yang efektif. Sebanyak 20 staf CRI mengikuti kegiatan yang berlangsung pada Selasa, 30 Juni 2015 dan Jumat, 3 Juli 2015 di limasan kantor CRI, Sewon, Bantul Yogyakarta ini.

“Menguasai teknik fasilitasi yang efektif itu memang penting agar tujuan fasilitasi bisa tersampaikan dengan baik kepada masyarakat dampingan,” ungkap Muhammad Amrun, salah satu peserta pelatihan, (30/7).

Teknik fasilitasi yang dikuasai dengan baik juga bisa membuat fasilitator menikmati proses fasilitasi yang dilakukannya. Hal itulah yang akhirnya bisa mempererat ikatan antara masyarakat/ komunitas dampingan dan fasilitator.

Adi Cilik Pierrewan, selaku trainer dalam pelatihan tersebut mengungkapkan, seorang fasilitator yang baik memiliki kepekaan terhadap perasaan individu ataupun kelompok yang didampingi. Di samping itu, fasilitator juga harus memiliki kemampuan untuk mendengarkan dan bisa bekerjasama dampingannya. Ia pun harus mampu mengoptimalkan sumber daya yang ada.

“Yang tak kalah pentingnya adalah fasilitator tidak boleh marah atau menghukum peserta. Ia harus bisa berimprovisasi terhadap hal-hal tak terduga yang ditemui di lapangan,” tambah Adi Cilik.

Adi Cilik juga memaparkan alternatif pendekatan 4D untuk perencanaan proses strategis dalam fasilitasi. Pendekatan ini dapat dilakukan ketika assesment awal (penggalian data awal) dan proses fasilitasi. Siklus pendekatan 4D itu meliputi Discovery (menemukan potensi dan kebutuhan), Dream (memimpikan target yang ingin dimiliki atau dicapai), Design (mendesain atau mengkontruksi potensi yang dimiliki dan impian yang ingin dicapai) dan Destiny (implementasi).

Memang bukan hanya keterampilan fasilitasi saja yang dibahas dalam pelatihan ini. Keterampilan tentang bagaimana meningkatkan kemampuan berbicara di depan umum (public speaking) juga menjadi bagian tak terpisahkan dari pelatihan ini. Para peserta pun diajak untuk bermain peran sebagai bagian dari peningkatan kemampuan public speaking mereka. Tak hanya bermain peran, diskusi hangat yang diselingi dengan permainan menyenangkan membuat peserta antusias mengikuti pelatihan ini.