Kick-off Meeting Tasikmalaya: Berdaya Di Tengah Keterbatasan Konektivitas Dan Risiko Bencana Alam

Sekolah Dasar Negeri Sindangkerta berada persis di bibir Pantai Cipatujah, Tasikmalaya Selatan. Setiap hari, sekolah ini terbiasa mendengar gemuruh ombak dari laut pantai selatan. Salah satu sekolah dasar yang berada dalam kawasan daerah rawan bencana gempa & tsunami.

Posisi sekolah yang menghadap laut ini menjadi bagian dari empat sekolah yang mengikuti program SCILLS yang diampu oleh CRI dan Pujiono Centre atau dikenal sebagai Program Peningkatan Konektivitas & Literasi Digital Bagi Sekolah Dasar Di Daerah Rawan Bencana. Program ini juga berlangsung di wilayah 8 kabupaten pesisir selatan Jawa lainnya. Mulai dari Tasikmalaya hingga Trenggalek.

Sekolah SDN Sindangkerta tak hanya rawan terkena dampak gempa dan tsunami dari pantai selatan. Tapi sekolah ini juga menghadapi keterbatasan lainnya, seperti akses konektivitas internet untuk keperluan pembelajaran. Kondisi ini membuat proses pembelajaran di sekolah menjadi terhambat. Guru kesulitan mencari materi tambahan di internet. Termasuk untuk keperluan komunikasi maupun administrasi sekolah.

Kondisi keterbatasan ini dirasakan lebih berat saat terjadi pandemi Covid-19. Termasuk bagi sekolah lainnya di wilayah Tasikmalaya Selatan. Tak hanya itu, kecakapan keterampilan mengenai internet di kalangan guru juga terbatas. Termasuk bagaimana memanfaatkan internet untuk keperluan pembelajaran jarak jauh.

“Kami dibantu dan belajar dari teman-teman guru lainnya. Saat itu kita belum memahami cara melakukan proses pembelajaran jarak jauh,” ujar Wardi Warsidi, guru dari SDN Sindangkerta.

Kondisi geografis Tasikmalaya Selatan memang menantang dengan kontur tanah perbukitan hingga berbatasan dengan laut lepas. Tak salah jika Tasikmalaya Selatan banyak daerah terisolir dan belum memiliki jaringan internet. Daerah ini juga termasuk daerah yang rawan terjadi bencana alam. Seperti longsor, gempa, angin topan, dan hingga ancaman tsunami.

“Internet memang salah satu problem,” ujar Kabid Kominfo Dan Persandian Kabupaten Tasikmalaya, Kurnia Tresna Sumantri dalam acara Kick-off Meeting Konektivitas & Literasi Digital Bagi Sekolah Dasar Di Wilayah Rawan Bencana, 12 Februari di Hotel Horison, Tasikmalaya yang diselenggarakan oleh CRI bersama Pujiono Centre ini.

Saat ini jumlah sekolah dasar di Kabupaten Tasikmalaya mencapai 1.062 sekolah dengan jumlah siswa mencapai 115.224 jiwa yang tersebar di berbagai wilayah. Baik di daerah pegunungan hingga ke pesisir di Tasikmalaya Selatan. Menurut Kepala Bidang SD Kabupaten Tasikmalaya, Ahmad Solihin, proses pembelajaran jarak jauh saat masa pandemi Covid-19 mengalami banyak kendala akibat kondisi infrastruktur dan jaringan internet yang tidak merata.

Kondisi ini memaksa guru maupun masyarakat untuk berkolaborasi dan bekerja sama agar proses pendidikan tetap berjalan. Salah satunya, memanfaatkan keberadaan siaran melalui televisi maupun radio lokal untuk menjangkau wilayah yang jauh dan terputus oleh jaringan internet.

“Guru memberikan pengajaran melalui siaran radio, kunjungan dari rumah ke rumah, dan media sosial dilakukan saat itu,” ujar Ahmad Solihin.

Iyan Sukmawindi, Guru SDN Cibarengkok, punya pengalaman saat melewati masa pandemi Covid-19. Setiap hari, ia mengunjungi rumah siswa untuk melakukan proses belajar mengajar. Saat itu, konektivitas internet juga terbatas. Termasuk kepemilikan gawai atau HP orangtua siswa. Proses belajar mengajar serba terbatas dan melelahkan. Serapan pembelajaran anak-anak menghadapi banyak kendala. Kondisi ini pun berdampak panjang hingga hari ini.

“Ada yang siswa yang masih belum bisa membaca,” ujarnya.

Hal serupa juga dirasakan oleh Yuli Astuti, Guru SD Sindangkerta. Proses belajar memanfaatkan platform Whatsapp sebagai sarana berbagi tugas. Teknis lainnya, ia juga membagi kelompok siswa untuk memudahkan belajar dan menghemat data.

“Bantuan internet dari pemerintah juga tidak bisa digunakan karena belum ada konektivitas internet,” ujar Deni, Guru SDN Sukajaya menambahkan.

Kecakapan keterampilan internet sangat dibutuhkan bagi guru yang berada di wilayah Tasikmalaya Selatan. Menurut para guru, program SCILLS ini akan membantu meningkatkan keterampilan internet sekaligus membangun pengetahuan mitigasi kebencanaan di sekolah. Pendidikan internet sehat juga penting diperkenalkan bagi orangtua maupun siswa agar bisa memanfaatkan internet secara positif. Internet tak hanya sekedar membantu proses komunikasi jarak jauh. Tapi juga menjadi salah satu sumber pengetahuan yang bisa mendukung materi pembelajaran di kelas.

Lembaga Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah memetakan lima daerah rawan bencana tsunami di pesisir selatan Jawa Barat. Mulai dari Kabupaten Sukabumi, Cianjur, Garut, Tasikmalaya, dan Pangandaran.Lembaga ini juga telah berkoordinasi dengan BPBD, organisasi perangkat daerah, masyarakat, maupun sekolah untuk membangun rencana tanggap darurat bencana di wilayah ini .

Kolaborasi antarpihak menjadi kunci penting dalam menghadapi berbagai potensi bencana. Guru di sekolah dasar Kabupaten Tasikmalaya ini siap membekali pengetahuan dan keterampilan literasi digital dan isu kebencanaan. Memastikan ruang hidup komunitas sekolah mereka terlindungi data digitalnya dan mampu merespon berbagai potensi risiko bencana alam.

Kck-off Meeting Trenggalek: Mengatasi Keterbatasan Konektivitas Internet Di Tengah Ancaman Bencana

Empat sekolah SDN Kabupaten Trenggalek, seperti Wonocoyo I, Wonocoyo II, Wonocoyo III, dan Nglebeng III mengikuti acara Kick-off Meeting Peningkatan Konvektivitas Dan Literasi Digital Untuk Sekolah Dasar Di Daerah Rawan Bencana yang dilaksanakan oleh CRI dan Pujiono Centre, 6 Februari 2025. Kegiatan ini bagian dari program untuk merespon isu bencana di wilayah pesisir selatan Jawa melalui pemanfaatan konektivitas internet atau SCILLS.

Program SCILLS menjadi wadah bagi para guru, orangtua, dan siswa untuk meningkatkan kecakapan dan keterampilan internet bagi pendidikan. Termasuk menjadi ruang untuk membangun pembelajaran di wilayah berpotensi bencana.

“Praktik pembelajaran jarak jauh saat masa pandemi Covid-19 turut menjadi bagian diskusi penting,” ujar Panji Dimas, dari Pujiono Centre membuka acara ini. Turut hadir dalam pertemuan ini perwakilan kepala dinas pendidikan, BPBD, dan Kominfo dari Kabupaten Trenggalek.

Saat ini, menurut data peta rawan bencana BNPB Jawa Timur, ada 17 desa yang berada di Kecamatan Watulimo, Munjungan, dan Panggul tergolong zona rawan tsunami di selatan Trenggalek. Termasuk di dalamnya, bagi keempat sekolah yang berada di wilayah pesisir selatan Trenggalek. Untuk membangun peningkatan kesadaran mitigasi kebencanaan, BPBD Trenggalek juga telah membentuk desa tangguh bencana dan memasang sejumlah rambu evakuasi dan papan informasi bencana di wilayah ini.

“Informasi megathrust ini bukan perkiraan tapi potensi. Untuk itu, kita harus aktif mengurangi risiko bencana,” ujar Stefanus Triadi Atmono, Kepala BPBD Trenggalek. Untuk meningkatkan kesiapsiagaan, di wilayah pesisir selatan Trenggalek juga sudah terpasang Early Warning System (EWS) tsunami, bencana longsor dan banjir di sejumlah titik.

“Daerah kami juga menghadapi tantangan lain. Listrik sering mati dan gangguan koneksi internet,” ujar Aan Hadiyanto,Kepala Sekolah SDN Wonocoyo II. SDN Wonocoyo II berada di Dusun Karang Desa Wonocoyo. Posisi sekolah ini kurang lebih berjarak sekitar 2 kilometer dari bibir pantai Taman Kili-kili.

Keterbatasan ini menjadi tantangan untuk membangun konektivitas internet di wilayah selatan Trenggalek. Terlebih lanskap wilayah pesisir selatan Trenggalek berbukit-bukit sehingga menjadi tantangan dalam membangun infrastruktur internet dan komunikasi.

Ia berpendapat, program SCILLS ini akan membantu para guru, orangtua, dan siswa sekolah agar memiliki keterampilan literasi digital maupun kebencanaan. Termasuk memanfaatkan berbagai platform pembelajaran saat terjadi darurat. Menurutnya, kebencanaan tidak menjadi halangan untuk tetap menjalankan aktivitas pendidikan karena bagian dari hak setiap anak.

“Kita mesti jelaskan konsep belajar saat terjadi bencana pada walimurid agar tidak menjadi masalah. Konsepnya seperti apa dan langkah-langkahnya seperti apa agar walimurid bisa mendukung,” ujarnya.

Agoes Setoyono, Kepala Dinas Pendidikan Trenggalek, berpendapat bahwa pengalaman saat pandemi Covid-19 menjadi pembelajaran berharga bagi dunia pendidikan. Saat itu, setiap sekolah harus melaksanakan pembelajaran jarak jauh melalui internet. Kondisi ini membuat sekolah harus kreatif dan mencari inovasi agar proses pembelajaran bisa berlansung dalam kondisi terbatas.

“Pembelajaran jarak jauh masa Covid tidak berjalan optimal karena tidak ada persiapan piranti, pedoman, maupun pelatihan penggunaan internet,” ujarnya.

Kondisi ini diakui oleh SDN Wonocoyo III dan SDN Nglebeng karena tidak memiliki akses internet nirkabel karena tertutup oleh perbukitan.

Membangun pendidikan yang bermakna memang tidak mudah bagi sekolah yang berada di wilayah terisolir dan rawan bencana. Ada banyak tantangan yang dihadapi oleh komunitas sekolah ini. Mulai dari infrastruktur, kondisi geografis, sosial dan ekonomi orangtua, hingga kebijakan dari pemerintah untuk menyediakan pendidikan yang layak bagi masyarakat.

Kolaborasi antarpihak menjadi salah satu cara untuk mengatasi berbagai tantangan ini. Keberadaan program SCILLS menjadi upaya untuk membantu bagi komunitas sekolah, orangtua siswa, maupun lembaga pemerintah untuk bekerja sama dan memberi kebermanfaatan bagi siswa-siswi yang tinggal di daerah risiko rawan bencana.

Kick-off Meeting Pacitan: Membedah Potensi Bencana Dan Akses Digital Sekolah

Peristiwa banjir bandang dan longsor 2017 menjadi memori tidak terlupakan bagi masyarakat Kabupaten Pacitan. Bencana ini mengakibatkan korban jiwa dan ratusan infrastruktur rusak berat. Kerusakan juga terjadi di 114 sekolah dasar, menengah, dan SMK. Berbagai fasilitas seperti jembatan dan rumah warga juga mengalami rusak berat. Termasuk areal pertanian, harta benda warga, serta rusaknya dokumen publik.

Peristiwa besar ini menjadi pembelajaran sekaligus pengalaman yang disampaikan peserta saat mengikuti Kick-Off Meeting Peningkatan Digital Untuk Sekolah Dasar di Daerah Rawah Bencana bersama BPBD, Dinas Pendidikan dan Kominfo. Selasa, 4 Februari, 2025 di Pacitan. Empat SDN yang hadir diikuti oleh SDN Pacitan, Ploso, Kembang, Sirnoboyo.

Kegiatan pertemuan ini bertujuan untuk membangun kolaborasi dan kerja sama antarpihak terkait pengembangan kegiatan literasi digital dan kebencanaan melalui program SCILLS yang didampingi oleh CRI dan Pujiono Centre.

Kabupaten Pacitan berada di kawasan pesisir selatan Jawa yang memiliki risiko rawan bencana. Mulai dari banjir, gempa, dan tsunami. Peningkatan konektivitas dan literasi digital ini diharapkan bisa membangun dalam melakukan mitigasi kebencanaan sekaligus membangun kesadaran keamanan internet bagi komunitas sekolah.

“Sekolah punya pengalaman akan bencana banjir. Termasuk saat masa Covid-19. Program ini diharapkan bisa membantu proses belajar melalui digital dengan baik,” kata Panji Dimas dari Pujiono Centre membuka acara Kick-Off Meeting ini.

Budiyanto, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pacitan, mengatakan bahwa ada banyak potensi bencana yang terjadi di wilayah pesisir selatatan Pacitan. Berbagai bencana ini turut mengancam keberadaan sekolah yang berada di sekitar pesisir maupun area perbukitan di Pacitan.

“Ancaman internet itu terkait dengan banyaknya konten negatif. Ini tantangan bagi anak-anak saat ini,” ujarnya. Untuk itu, pendidikan mengenai literasi digital bagi para siswa sangat penting agar mereka mampu mengakses internet secara sehat dan positif. Menurutnya, pembelajaran jarak jauh saat pandemi Covid-19, juga menghadapi berbagai tantangan dan kekurangan. Mulai dari persoalan latar ekonomi orangtua siswa yang berbeda hingga tidak meratanya jaringan akses internet di wilayah Pacitan.

Kominfo Kabupaten Pacitan menekankan setidaknya ada empat pilar digital terkait pengembangan di wilayahnya. Pertama, pilar budaya digital agar warga memahami norma, nilai, dan budaya yang berlaku di dunia digital. Kedua, pilar aman digital agar warga mampu melindungi diri dan mengelola informasi pribadi dari ancaman digital. Ketiga, etika digital untuk memahami aspek moral dan perilaku saat menggunakan teknologi digital. Keempat, cakap digital, agar warga mampu memahami, menggunakan, dan mengelola perangkat digital dan platform teknologi.

Berbagai pilar ini diharapkan bisa membentuk ekosistem digital Pacitan yang sehat dan mengatasi berbagai tantangan yang ada. Mulai dari kondisi geografis, keterampilan memanfaatkan teknologi internet, peningkatan aspek ekonomi warga, serta melindungi data pribadi dari ancaman digital.

“Kita harus menyiapkan skenario terburuk saat listrik dan internet tidak ada. Sejauh ini radio paling efektif sebagai alternatif komunikasi saat kebencanaan,” ujar Erwin andri atmoko, Kepala BPBD Pacitan.

BPBD Pacitan menekankan bahwa pendidikan menjadi pintu penting menumbuhkan pendidikan kebencanaan bagi siswa melalui SPAB (Satuan Pendidikan Aman Bencana). Lembaga sekolah bisa mengambil peran untuk mengurangi dampak bencana di lingkungan sekolah. Termasuk menyiapkan tim siaga sekolah dalam menghadapi saat terjadinya bencana. /

Empat sekolah yang mengikuti pertemuan ini memandang bahwa program literasi digital di wilayah kebencanaan sangat penting bagi siswa, guru, dan orangtua. Berbagai pelatihan dan pendampingan bisa meningkatkan keterampilan mengenai digital sekaligus kewaspadaan terkait berbagai ancaman bencana di wilayah pesisir.

Kick-off Meeting Gunungkidul: Ekosistem Literasi Digital Di Area Rawan Bencana

Ada banyak tantangan dan tuntutan bagi dunia pendidikan saat melewati masa pandemi Covid-19. Seluruh aktivitas belajar di sekolah dihentikan untuk mengurangi sebaran virus dan risiko pada anak-anak sekolah. Namun, bukan berarti anak-anak libur dan tidak belajar. Model pembelajaran jarak jauh dan keterampilan mengolah materi belajar secara kreatif perlu dikuasai oleh guru.

Akses internet menjadi satu-satunya alternatif yang dijalankan oleh sekolah untuk memenuhi kebutuhan pembelajaran anak-anak. Praktik di lapangan, banyak guru mengalami hambatan akibat akses internet yang terbatas hingga keterampilan mengolah materi pembelajaran kreatif, seperti membuat video atau presentasi yang unik. Di sisi lain, banyak orangtua siswa juga memiliki keterbatasan akan gawai, akses internet, dan rendahnya literasi digital.

Pandemi Covid-19 memang memberikan pelajaran dan pengalaman yang berharga. Pendidikan dipaksa untuk beradaptasi dengan berbagai keterbatasannya. Catatan ini menjadi fokus penting bagi guru, kepala sekolah, dan dinas terkait di Gunungkidul untuk berkumpul dan berdiskusi saat mengikuti acara Kick-off Meeting Peningkatan Konektivitas Internet dan Literasi Digital Bagi Sekolah Dasar Di Daerah Rawan Bencana yang diselenggarakan oleh CRI bersama Pujiono Centre, 3 Februari 2025.

Panji Dimas dari Pujiono Centre menyatakan bahwa keberadaan akses internet yang kuat menjadi penunjang penting dalam pendidikan. Termasuk membantu saat masa pandemi Covid-19 maupun saat masa pemulihan pasca bencana alam. Baik sebagai penunjang kegiatan pendidikan maupun komunikasi saat terjadi bencana. Untuk itu, kecakapan literasi digital menjadi mutlak dikuasai oleh guru, orangtua, pihak sekolah, maupun agar anak-anak agar tetap terlindungi dari risiko ancaman digital yang negatif.

“Sehingga anak-anak bisa terlindungi dan memanfaatkan internet secara baik,” ujarnya saat membuka acara Kick-off Meeting di Gunungkidul.

Melani Jayanti, Staff Project Officer Program SCILLS dari CRI, menyatakan bahwa pertemuan ini bertujuan untuk mencatat berbagai pengalaman terkait penggunaan internet saat masa bencana. Pengalaman ini menjadi bahan penting sebagai peta kondisi infrastruktur internet di setiap sekolah, pengetahuan mengenai literasi digital guru dan siswa, hingga menakar ancaman risiko bencana di sekitar sekolah.

“Program ini diharapkan bisa memberikan manfaat jangka panjang bagi satuan pendidikan aman bencana dan mendukung kolaborasi berbagai pihak,” ujarnya.

Internet memang memiliki peran penting saat diberlakukannya pembelajaran jarak jauh. Namun, kehadiran guru tetap tidak tergantikan dan dipandang penting untuk mendampingi tumbuh kembang anak-anak. Proses pembelajaran jarak jauh juga tak mudah mengingat tantangan di tiap sekolah itu berbeda.

Kepala Dinas Pendidikan Gunungkidul Nunuk Setyowati mengatakan bahwa saat itu Pemerintah Gunungkidul menerapkan proses pembelajaran melalu daring, semi daring, dan ditunjang oleh media lain, seperti tv dan radio lokal sebagai media menyebarkan informasi pengetahuan bagi anak-anak.

“Ada banyak kendala saat itu. Mulai dari sarana prasarana pembelajaran hingga siswa yang tidak memiliki laptop dan smartphone,” ujarnya.

Hingga saat ini, layanan akses internet telah menjangkau 68 sekolah dan sebanyak 324 SDN mendapatkan bantuan komputer sebagai alat pembelajaran bagi siswa. Konektivitas internet dan ketersediaan teknologi komputer ini untuk mendukung pendidikan literasi digital di sekolah dasar. Termasuk biasa digunakan sebagai fasilitas pembelajaran saat menghadapi ujian akhir sekolah.

Bidan Layanan Informatika Dinas Kominfo Gunungkidul menjelaskan bahwa saat ini konektivitas internet sudah menjangkau hingga ke tingkat kalurahan/desa. Termasuk ke-18 titik wilayah pendidikan dari SDN hingga SMA/SMK. Namun, ia mengakui bahwa belum semua sekolah mendapatkan layanan akses internet secara merata.

“Kelemahan teknologi berbasis digital adalah sumber listrik. Untuk daerah rawan bencana juga perlu disiapkan sebagai alternatif energi,” ujar Yuyun Retna Pramuji, mewakili Kominfo Gunungkidul.

Hingga saat ini, Pemerintah Gunungkidul telah melaksanakan SPAB atau Satuan Pendidikan Aman Bencana di 13 sekolah. SPAB ini sebagai bentuk komitmen kolaborasi sekolah bersama BPBD dan komite sekolah untuk menghadirkan ruang aman bagi anak-anak. SPAB juga mendorong agar sekolah mampu menyiapkan tim siaga sebagai bentuk kesiapan kebencanaan di sekolah.

“Kami siap mendampingi proses SPAB ini untuk melakukan simulasi kebencanaan. Kita juga perlu meningkatkan kesadaran warga sekolah terkait kebencanaan,” ujar Kepala Bidang Pencegahan, Kesiapsiagaan, Rehabilitasi, dan Rekonstruksi BPBD Gunungkidul, Nanang Irawanto.

Pengalaman memberikan layanan pendidikan bagi anak-anak saat kebencanaan memang menantang. Terlebih saat pemerintah memberlakukan penetapan pembatasan saat pandemi Covid-19. Guru sekolah di wilayah Gunungkidul mesti bekerja keras di tengah keterbatasan akses jaringan maupun kondisi geografisnya. Sekolah juga memaksimalkan aplikasi internet, video pembelajaran, hingga pendampingan pembelajaran melalui Whatsapp.

“Kesenjangan pengetahuan digital itu ada tapi setiap guru harus saling bantu,” ujar Nur, salah satu peserta.

Pembelajaran literasi digital dinilai penting bagi guru agar kapasitas dan keterampilannya meningkat. Tak hanya menguasai keterampilan menggunakan berbagai platform pembelajaran, tapi juga bisa memberikan edukasi kepada siswa dan orangtua terkait etika berinternet hingga konten yang bermanfaat bagi anak-anak.

Safer Internet Day 2025: Kolaborasi Menumbuhkan Ekosistem Aman Berinternet

Februari identik sebagai bulan yang penuh pesona dengan kasih sayang. Di hampir setiap negara, 14 Februari seolah menjadi kalender hari istimewa untuk berbagi rasa cinta dengan siapapun. Namun, tahukah kamu jika setiap tanggal 11 Februari juga turut diperingati sebagai Hari Aman Berinternet Internasional atau International Safer Internet Day? Lebih dari 180 negara tergabung ke dalam gerakan ini untuk menumbuhkan ruang internet yang aman bagi siapapun.

Peringatan Safer Internet Day tentu saja semakin relevan dengan kondisi dan perkembangan internet saat ini. Keberadaan teknologi internet tak hanya bermanfaat dan telah membantu kehidupan manusia saat ini. Tapi juga menyimpan wajah sisi buruk lain yang nyata dalam keseharian manusia. Gerakan Safer Internet Day menjadi penanda peringatan bahwa kemajuan teknologi tidak boleh mengorbankan kemanusiaan. Untuk tahun ini, Safer Internet Day mengangkat tema “Too good to be true? Protecting yourself and others from scams online”.

Gerakan kampanye internet yang aman dan sehat kian digaungkan oleh berbagai lembaga dan pemerintahan di dunia. Khususnya ditujukan untuk melindungi kesehatan mental anak-anak. Termasuk mengurangi risiko kejahatan digital yang semakin massif.

Generasi saat ini adalah generasi X dan Alpha yang tumbuh dan besar dalam perkembangan internet yang pesat. Keseharian generasi ini telah terpapar dan internet memiliki banyak peran dalam kehidupannya. Berbagai teknologi komunikasi saat ini juga mumpuni dan memudahkan untuk mengakses internet di manapun dalam kondisi apapun. Baik untuk meningkatkan keterampilan khusus, berkomunikasi tanpa batas, hingga berjejaring dengan siapapun.

Dua generasi native digital ini tentu saja menghadapi kerentanan internet yang lebih kompleks dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Berbagai bentuk kejahatan digital mengintai dan menjadikan anak-anak sebagai sasaran kejahatan ini. Masalah ini pun menjadi kekhawatiran bagi banyak negara dan keluarga.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa jumlah anak-anak Indonesia saat ini mencapai 79,4 juta jiwa atau 28,82 persen dari total penduduk Indonesia. Hampir 95 persen atau rata-rata anak usia 12 hingga 17 tahun mengakses internet minimal dua kali sehari sesuai hasil survei oleh Kementerian PPPA dan UNICEF pada tahun 2023.

Laporan yang cukup mencengangkan, Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan pada April 2024, menyatakan Indonesia berada di level darurat kasus pornografi anak. Dalam kurun waktu empat tahun (2019 – 2023), konten pornografi anak mencapai 5,5 juta dan menjadikan Indonesia berada di peringkat ke-4 di dunia atau ke-2 di ASEAN.

Tak hanya itu, kasus judi online juga menjerat anak-anak Indonesia. Menurut Satgas Pencegahan dan Penanganan Perjudian Daring, pemain judi online di bawah usia 10 tahun mencapai 2 persen atau menjerat 80 ribu anak.

Kasus penyebaran visual sensual secara paksa pada kalangan remaja juga menjadi salah satu bentuk dampak negatif bermedia sosial. Kasus ini banyak melanda pada kalangan remaja perempuan dari ancaman kekasih, teman di sekolah, maupun orang asing. Kelompok remaja juga menjadi kelompok rentan karena berada dalam perkembangan psikologi menghadapi kedewasaan. Kerentanan ini menjadi celah bagi untuk memanipulasi korban dalam bentuk kejahatan macam-macam.

CRI menaruh perhatian pada setiap kelompok rentan yang terancam dari setiap bentuk kejahatan digital ini. Berbagai pelatihan bagi organisasi masyarakat sipil, masyarakat, hingga komunitas sekolah menjadi bagian penting untuk membangun berkolaborasi dan berbagi pengetahuan serta pengalaman akan isu pelindungan data pribadi hingga memanfaatkan internet dengan aman dan sehat.

Program SCILLS, misalnya yang tengah berlangsung di 8 kabupaten di wilayah pesisir selatan Jawa. Mulai dari Tasikmalaya, Pangandaran, Cilacap, Kebumen, Kulonprogo, Gunungkidul, Pacitan, dan Trenggalek. Program ini menitikberatkan pada isu konektivitas internet dan literasi digital bagi sekolah dasar di daerah rawan bencana. Program ini melibatkan para guru, orangtua, siswa, dan pemerintah daerah untuk meningkatkan keterampilan mengenai pelindungan data pribadi, keamanan data, sekaligus pemanfaatan internet secara positif di daerah wilayah rawan bencana.

Menumbuhkan ekosistem internet yang aman dan sehat adalah kewajiban kita semua. Kita tidak bisa menutup mata dari sisi gelapnya internet yang mengintai anak-anak hingga segala bentuk kejahatan siber lainnya. Safer Internet Day adalah hari untuk merefleksikan peranan internet yang positif dalam keseharian kita.