Kick-off Meeting Tasikmalaya: Berdaya Di Tengah Keterbatasan Konektivitas Dan Risiko Bencana Alam

Sekolah Dasar Negeri Sindangkerta berada persis di bibir Pantai Cipatujah, Tasikmalaya Selatan. Setiap hari, sekolah ini terbiasa mendengar gemuruh ombak dari laut pantai selatan. Salah satu sekolah dasar yang berada dalam kawasan daerah rawan bencana gempa & tsunami.

Posisi sekolah yang menghadap laut ini menjadi bagian dari empat sekolah yang mengikuti program SCILLS yang diampu oleh CRI dan Pujiono Centre atau dikenal sebagai Program Peningkatan Konektivitas & Literasi Digital Bagi Sekolah Dasar Di Daerah Rawan Bencana. Program ini juga berlangsung di wilayah 8 kabupaten pesisir selatan Jawa lainnya. Mulai dari Tasikmalaya hingga Trenggalek.

Sekolah SDN Sindangkerta tak hanya rawan terkena dampak gempa dan tsunami dari pantai selatan. Tapi sekolah ini juga menghadapi keterbatasan lainnya, seperti akses konektivitas internet untuk keperluan pembelajaran. Kondisi ini membuat proses pembelajaran di sekolah menjadi terhambat. Guru kesulitan mencari materi tambahan di internet. Termasuk untuk keperluan komunikasi maupun administrasi sekolah.

Kondisi keterbatasan ini dirasakan lebih berat saat terjadi pandemi Covid-19. Termasuk bagi sekolah lainnya di wilayah Tasikmalaya Selatan. Tak hanya itu, kecakapan keterampilan mengenai internet di kalangan guru juga terbatas. Termasuk bagaimana memanfaatkan internet untuk keperluan pembelajaran jarak jauh.

“Kami dibantu dan belajar dari teman-teman guru lainnya. Saat itu kita belum memahami cara melakukan proses pembelajaran jarak jauh,” ujar Wardi Warsidi, guru dari SDN Sindangkerta.

Kondisi geografis Tasikmalaya Selatan memang menantang dengan kontur tanah perbukitan hingga berbatasan dengan laut lepas. Tak salah jika Tasikmalaya Selatan banyak daerah terisolir dan belum memiliki jaringan internet. Daerah ini juga termasuk daerah yang rawan terjadi bencana alam. Seperti longsor, gempa, angin topan, dan hingga ancaman tsunami.

“Internet memang salah satu problem,” ujar Kabid Kominfo Dan Persandian Kabupaten Tasikmalaya, Kurnia Tresna Sumantri dalam acara Kick-off Meeting Konektivitas & Literasi Digital Bagi Sekolah Dasar Di Wilayah Rawan Bencana, 12 Februari di Hotel Horison, Tasikmalaya yang diselenggarakan oleh CRI bersama Pujiono Centre ini.

Saat ini jumlah sekolah dasar di Kabupaten Tasikmalaya mencapai 1.062 sekolah dengan jumlah siswa mencapai 115.224 jiwa yang tersebar di berbagai wilayah. Baik di daerah pegunungan hingga ke pesisir di Tasikmalaya Selatan. Menurut Kepala Bidang SD Kabupaten Tasikmalaya, Ahmad Solihin, proses pembelajaran jarak jauh saat masa pandemi Covid-19 mengalami banyak kendala akibat kondisi infrastruktur dan jaringan internet yang tidak merata.

Kondisi ini memaksa guru maupun masyarakat untuk berkolaborasi dan bekerja sama agar proses pendidikan tetap berjalan. Salah satunya, memanfaatkan keberadaan siaran melalui televisi maupun radio lokal untuk menjangkau wilayah yang jauh dan terputus oleh jaringan internet.

“Guru memberikan pengajaran melalui siaran radio, kunjungan dari rumah ke rumah, dan media sosial dilakukan saat itu,” ujar Ahmad Solihin.

Iyan Sukmawindi, Guru SDN Cibarengkok, punya pengalaman saat melewati masa pandemi Covid-19. Setiap hari, ia mengunjungi rumah siswa untuk melakukan proses belajar mengajar. Saat itu, konektivitas internet juga terbatas. Termasuk kepemilikan gawai atau HP orangtua siswa. Proses belajar mengajar serba terbatas dan melelahkan. Serapan pembelajaran anak-anak menghadapi banyak kendala. Kondisi ini pun berdampak panjang hingga hari ini.

“Ada yang siswa yang masih belum bisa membaca,” ujarnya.

Hal serupa juga dirasakan oleh Yuli Astuti, Guru SD Sindangkerta. Proses belajar memanfaatkan platform Whatsapp sebagai sarana berbagi tugas. Teknis lainnya, ia juga membagi kelompok siswa untuk memudahkan belajar dan menghemat data.

“Bantuan internet dari pemerintah juga tidak bisa digunakan karena belum ada konektivitas internet,” ujar Deni, Guru SDN Sukajaya menambahkan.

Kecakapan keterampilan internet sangat dibutuhkan bagi guru yang berada di wilayah Tasikmalaya Selatan. Menurut para guru, program SCILLS ini akan membantu meningkatkan keterampilan internet sekaligus membangun pengetahuan mitigasi kebencanaan di sekolah. Pendidikan internet sehat juga penting diperkenalkan bagi orangtua maupun siswa agar bisa memanfaatkan internet secara positif. Internet tak hanya sekedar membantu proses komunikasi jarak jauh. Tapi juga menjadi salah satu sumber pengetahuan yang bisa mendukung materi pembelajaran di kelas.

Lembaga Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah memetakan lima daerah rawan bencana tsunami di pesisir selatan Jawa Barat. Mulai dari Kabupaten Sukabumi, Cianjur, Garut, Tasikmalaya, dan Pangandaran.Lembaga ini juga telah berkoordinasi dengan BPBD, organisasi perangkat daerah, masyarakat, maupun sekolah untuk membangun rencana tanggap darurat bencana di wilayah ini .

Kolaborasi antarpihak menjadi kunci penting dalam menghadapi berbagai potensi bencana. Guru di sekolah dasar Kabupaten Tasikmalaya ini siap membekali pengetahuan dan keterampilan literasi digital dan isu kebencanaan. Memastikan ruang hidup komunitas sekolah mereka terlindungi data digitalnya dan mampu merespon berbagai potensi risiko bencana alam.

Kck-off Meeting Trenggalek: Mengatasi Keterbatasan Konektivitas Internet Di Tengah Ancaman Bencana

Empat sekolah SDN Kabupaten Trenggalek, seperti Wonocoyo I, Wonocoyo II, Wonocoyo III, dan Nglebeng III mengikuti acara Kick-off Meeting Peningkatan Konvektivitas Dan Literasi Digital Untuk Sekolah Dasar Di Daerah Rawan Bencana yang dilaksanakan oleh CRI dan Pujiono Centre, 6 Februari 2025. Kegiatan ini bagian dari program untuk merespon isu bencana di wilayah pesisir selatan Jawa melalui pemanfaatan konektivitas internet atau SCILLS.

Program SCILLS menjadi wadah bagi para guru, orangtua, dan siswa untuk meningkatkan kecakapan dan keterampilan internet bagi pendidikan. Termasuk menjadi ruang untuk membangun pembelajaran di wilayah berpotensi bencana.

“Praktik pembelajaran jarak jauh saat masa pandemi Covid-19 turut menjadi bagian diskusi penting,” ujar Panji Dimas, dari Pujiono Centre membuka acara ini. Turut hadir dalam pertemuan ini perwakilan kepala dinas pendidikan, BPBD, dan Kominfo dari Kabupaten Trenggalek.

Saat ini, menurut data peta rawan bencana BNPB Jawa Timur, ada 17 desa yang berada di Kecamatan Watulimo, Munjungan, dan Panggul tergolong zona rawan tsunami di selatan Trenggalek. Termasuk di dalamnya, bagi keempat sekolah yang berada di wilayah pesisir selatan Trenggalek. Untuk membangun peningkatan kesadaran mitigasi kebencanaan, BPBD Trenggalek juga telah membentuk desa tangguh bencana dan memasang sejumlah rambu evakuasi dan papan informasi bencana di wilayah ini.

“Informasi megathrust ini bukan perkiraan tapi potensi. Untuk itu, kita harus aktif mengurangi risiko bencana,” ujar Stefanus Triadi Atmono, Kepala BPBD Trenggalek. Untuk meningkatkan kesiapsiagaan, di wilayah pesisir selatan Trenggalek juga sudah terpasang Early Warning System (EWS) tsunami, bencana longsor dan banjir di sejumlah titik.

“Daerah kami juga menghadapi tantangan lain. Listrik sering mati dan gangguan koneksi internet,” ujar Aan Hadiyanto,Kepala Sekolah SDN Wonocoyo II. SDN Wonocoyo II berada di Dusun Karang Desa Wonocoyo. Posisi sekolah ini kurang lebih berjarak sekitar 2 kilometer dari bibir pantai Taman Kili-kili.

Keterbatasan ini menjadi tantangan untuk membangun konektivitas internet di wilayah selatan Trenggalek. Terlebih lanskap wilayah pesisir selatan Trenggalek berbukit-bukit sehingga menjadi tantangan dalam membangun infrastruktur internet dan komunikasi.

Ia berpendapat, program SCILLS ini akan membantu para guru, orangtua, dan siswa sekolah agar memiliki keterampilan literasi digital maupun kebencanaan. Termasuk memanfaatkan berbagai platform pembelajaran saat terjadi darurat. Menurutnya, kebencanaan tidak menjadi halangan untuk tetap menjalankan aktivitas pendidikan karena bagian dari hak setiap anak.

“Kita mesti jelaskan konsep belajar saat terjadi bencana pada walimurid agar tidak menjadi masalah. Konsepnya seperti apa dan langkah-langkahnya seperti apa agar walimurid bisa mendukung,” ujarnya.

Agoes Setoyono, Kepala Dinas Pendidikan Trenggalek, berpendapat bahwa pengalaman saat pandemi Covid-19 menjadi pembelajaran berharga bagi dunia pendidikan. Saat itu, setiap sekolah harus melaksanakan pembelajaran jarak jauh melalui internet. Kondisi ini membuat sekolah harus kreatif dan mencari inovasi agar proses pembelajaran bisa berlansung dalam kondisi terbatas.

“Pembelajaran jarak jauh masa Covid tidak berjalan optimal karena tidak ada persiapan piranti, pedoman, maupun pelatihan penggunaan internet,” ujarnya.

Kondisi ini diakui oleh SDN Wonocoyo III dan SDN Nglebeng karena tidak memiliki akses internet nirkabel karena tertutup oleh perbukitan.

Membangun pendidikan yang bermakna memang tidak mudah bagi sekolah yang berada di wilayah terisolir dan rawan bencana. Ada banyak tantangan yang dihadapi oleh komunitas sekolah ini. Mulai dari infrastruktur, kondisi geografis, sosial dan ekonomi orangtua, hingga kebijakan dari pemerintah untuk menyediakan pendidikan yang layak bagi masyarakat.

Kolaborasi antarpihak menjadi salah satu cara untuk mengatasi berbagai tantangan ini. Keberadaan program SCILLS menjadi upaya untuk membantu bagi komunitas sekolah, orangtua siswa, maupun lembaga pemerintah untuk bekerja sama dan memberi kebermanfaatan bagi siswa-siswi yang tinggal di daerah risiko rawan bencana.

Kick-off Meeting Pacitan: Membedah Potensi Bencana Dan Akses Digital Sekolah

Peristiwa banjir bandang dan longsor 2017 menjadi memori tidak terlupakan bagi masyarakat Kabupaten Pacitan. Bencana ini mengakibatkan korban jiwa dan ratusan infrastruktur rusak berat. Kerusakan juga terjadi di 114 sekolah dasar, menengah, dan SMK. Berbagai fasilitas seperti jembatan dan rumah warga juga mengalami rusak berat. Termasuk areal pertanian, harta benda warga, serta rusaknya dokumen publik.

Peristiwa besar ini menjadi pembelajaran sekaligus pengalaman yang disampaikan peserta saat mengikuti Kick-Off Meeting Peningkatan Digital Untuk Sekolah Dasar di Daerah Rawah Bencana bersama BPBD, Dinas Pendidikan dan Kominfo. Selasa, 4 Februari, 2025 di Pacitan. Empat SDN yang hadir diikuti oleh SDN Pacitan, Ploso, Kembang, Sirnoboyo.

Kegiatan pertemuan ini bertujuan untuk membangun kolaborasi dan kerja sama antarpihak terkait pengembangan kegiatan literasi digital dan kebencanaan melalui program SCILLS yang didampingi oleh CRI dan Pujiono Centre.

Kabupaten Pacitan berada di kawasan pesisir selatan Jawa yang memiliki risiko rawan bencana. Mulai dari banjir, gempa, dan tsunami. Peningkatan konektivitas dan literasi digital ini diharapkan bisa membangun dalam melakukan mitigasi kebencanaan sekaligus membangun kesadaran keamanan internet bagi komunitas sekolah.

“Sekolah punya pengalaman akan bencana banjir. Termasuk saat masa Covid-19. Program ini diharapkan bisa membantu proses belajar melalui digital dengan baik,” kata Panji Dimas dari Pujiono Centre membuka acara Kick-Off Meeting ini.

Budiyanto, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pacitan, mengatakan bahwa ada banyak potensi bencana yang terjadi di wilayah pesisir selatatan Pacitan. Berbagai bencana ini turut mengancam keberadaan sekolah yang berada di sekitar pesisir maupun area perbukitan di Pacitan.

“Ancaman internet itu terkait dengan banyaknya konten negatif. Ini tantangan bagi anak-anak saat ini,” ujarnya. Untuk itu, pendidikan mengenai literasi digital bagi para siswa sangat penting agar mereka mampu mengakses internet secara sehat dan positif. Menurutnya, pembelajaran jarak jauh saat pandemi Covid-19, juga menghadapi berbagai tantangan dan kekurangan. Mulai dari persoalan latar ekonomi orangtua siswa yang berbeda hingga tidak meratanya jaringan akses internet di wilayah Pacitan.

Kominfo Kabupaten Pacitan menekankan setidaknya ada empat pilar digital terkait pengembangan di wilayahnya. Pertama, pilar budaya digital agar warga memahami norma, nilai, dan budaya yang berlaku di dunia digital. Kedua, pilar aman digital agar warga mampu melindungi diri dan mengelola informasi pribadi dari ancaman digital. Ketiga, etika digital untuk memahami aspek moral dan perilaku saat menggunakan teknologi digital. Keempat, cakap digital, agar warga mampu memahami, menggunakan, dan mengelola perangkat digital dan platform teknologi.

Berbagai pilar ini diharapkan bisa membentuk ekosistem digital Pacitan yang sehat dan mengatasi berbagai tantangan yang ada. Mulai dari kondisi geografis, keterampilan memanfaatkan teknologi internet, peningkatan aspek ekonomi warga, serta melindungi data pribadi dari ancaman digital.

“Kita harus menyiapkan skenario terburuk saat listrik dan internet tidak ada. Sejauh ini radio paling efektif sebagai alternatif komunikasi saat kebencanaan,” ujar Erwin andri atmoko, Kepala BPBD Pacitan.

BPBD Pacitan menekankan bahwa pendidikan menjadi pintu penting menumbuhkan pendidikan kebencanaan bagi siswa melalui SPAB (Satuan Pendidikan Aman Bencana). Lembaga sekolah bisa mengambil peran untuk mengurangi dampak bencana di lingkungan sekolah. Termasuk menyiapkan tim siaga sekolah dalam menghadapi saat terjadinya bencana. /

Empat sekolah yang mengikuti pertemuan ini memandang bahwa program literasi digital di wilayah kebencanaan sangat penting bagi siswa, guru, dan orangtua. Berbagai pelatihan dan pendampingan bisa meningkatkan keterampilan mengenai digital sekaligus kewaspadaan terkait berbagai ancaman bencana di wilayah pesisir.

Kick-off Meeting Gunungkidul: Ekosistem Literasi Digital Di Area Rawan Bencana

Ada banyak tantangan dan tuntutan bagi dunia pendidikan saat melewati masa pandemi Covid-19. Seluruh aktivitas belajar di sekolah dihentikan untuk mengurangi sebaran virus dan risiko pada anak-anak sekolah. Namun, bukan berarti anak-anak libur dan tidak belajar. Model pembelajaran jarak jauh dan keterampilan mengolah materi belajar secara kreatif perlu dikuasai oleh guru.

Akses internet menjadi satu-satunya alternatif yang dijalankan oleh sekolah untuk memenuhi kebutuhan pembelajaran anak-anak. Praktik di lapangan, banyak guru mengalami hambatan akibat akses internet yang terbatas hingga keterampilan mengolah materi pembelajaran kreatif, seperti membuat video atau presentasi yang unik. Di sisi lain, banyak orangtua siswa juga memiliki keterbatasan akan gawai, akses internet, dan rendahnya literasi digital.

Pandemi Covid-19 memang memberikan pelajaran dan pengalaman yang berharga. Pendidikan dipaksa untuk beradaptasi dengan berbagai keterbatasannya. Catatan ini menjadi fokus penting bagi guru, kepala sekolah, dan dinas terkait di Gunungkidul untuk berkumpul dan berdiskusi saat mengikuti acara Kick-off Meeting Peningkatan Konektivitas Internet dan Literasi Digital Bagi Sekolah Dasar Di Daerah Rawan Bencana yang diselenggarakan oleh CRI bersama Pujiono Centre, 3 Februari 2025.

Panji Dimas dari Pujiono Centre menyatakan bahwa keberadaan akses internet yang kuat menjadi penunjang penting dalam pendidikan. Termasuk membantu saat masa pandemi Covid-19 maupun saat masa pemulihan pasca bencana alam. Baik sebagai penunjang kegiatan pendidikan maupun komunikasi saat terjadi bencana. Untuk itu, kecakapan literasi digital menjadi mutlak dikuasai oleh guru, orangtua, pihak sekolah, maupun agar anak-anak agar tetap terlindungi dari risiko ancaman digital yang negatif.

“Sehingga anak-anak bisa terlindungi dan memanfaatkan internet secara baik,” ujarnya saat membuka acara Kick-off Meeting di Gunungkidul.

Melani Jayanti, Staff Project Officer Program SCILLS dari CRI, menyatakan bahwa pertemuan ini bertujuan untuk mencatat berbagai pengalaman terkait penggunaan internet saat masa bencana. Pengalaman ini menjadi bahan penting sebagai peta kondisi infrastruktur internet di setiap sekolah, pengetahuan mengenai literasi digital guru dan siswa, hingga menakar ancaman risiko bencana di sekitar sekolah.

“Program ini diharapkan bisa memberikan manfaat jangka panjang bagi satuan pendidikan aman bencana dan mendukung kolaborasi berbagai pihak,” ujarnya.

Internet memang memiliki peran penting saat diberlakukannya pembelajaran jarak jauh. Namun, kehadiran guru tetap tidak tergantikan dan dipandang penting untuk mendampingi tumbuh kembang anak-anak. Proses pembelajaran jarak jauh juga tak mudah mengingat tantangan di tiap sekolah itu berbeda.

Kepala Dinas Pendidikan Gunungkidul Nunuk Setyowati mengatakan bahwa saat itu Pemerintah Gunungkidul menerapkan proses pembelajaran melalu daring, semi daring, dan ditunjang oleh media lain, seperti tv dan radio lokal sebagai media menyebarkan informasi pengetahuan bagi anak-anak.

“Ada banyak kendala saat itu. Mulai dari sarana prasarana pembelajaran hingga siswa yang tidak memiliki laptop dan smartphone,” ujarnya.

Hingga saat ini, layanan akses internet telah menjangkau 68 sekolah dan sebanyak 324 SDN mendapatkan bantuan komputer sebagai alat pembelajaran bagi siswa. Konektivitas internet dan ketersediaan teknologi komputer ini untuk mendukung pendidikan literasi digital di sekolah dasar. Termasuk biasa digunakan sebagai fasilitas pembelajaran saat menghadapi ujian akhir sekolah.

Bidan Layanan Informatika Dinas Kominfo Gunungkidul menjelaskan bahwa saat ini konektivitas internet sudah menjangkau hingga ke tingkat kalurahan/desa. Termasuk ke-18 titik wilayah pendidikan dari SDN hingga SMA/SMK. Namun, ia mengakui bahwa belum semua sekolah mendapatkan layanan akses internet secara merata.

“Kelemahan teknologi berbasis digital adalah sumber listrik. Untuk daerah rawan bencana juga perlu disiapkan sebagai alternatif energi,” ujar Yuyun Retna Pramuji, mewakili Kominfo Gunungkidul.

Hingga saat ini, Pemerintah Gunungkidul telah melaksanakan SPAB atau Satuan Pendidikan Aman Bencana di 13 sekolah. SPAB ini sebagai bentuk komitmen kolaborasi sekolah bersama BPBD dan komite sekolah untuk menghadirkan ruang aman bagi anak-anak. SPAB juga mendorong agar sekolah mampu menyiapkan tim siaga sebagai bentuk kesiapan kebencanaan di sekolah.

“Kami siap mendampingi proses SPAB ini untuk melakukan simulasi kebencanaan. Kita juga perlu meningkatkan kesadaran warga sekolah terkait kebencanaan,” ujar Kepala Bidang Pencegahan, Kesiapsiagaan, Rehabilitasi, dan Rekonstruksi BPBD Gunungkidul, Nanang Irawanto.

Pengalaman memberikan layanan pendidikan bagi anak-anak saat kebencanaan memang menantang. Terlebih saat pemerintah memberlakukan penetapan pembatasan saat pandemi Covid-19. Guru sekolah di wilayah Gunungkidul mesti bekerja keras di tengah keterbatasan akses jaringan maupun kondisi geografisnya. Sekolah juga memaksimalkan aplikasi internet, video pembelajaran, hingga pendampingan pembelajaran melalui Whatsapp.

“Kesenjangan pengetahuan digital itu ada tapi setiap guru harus saling bantu,” ujar Nur, salah satu peserta.

Pembelajaran literasi digital dinilai penting bagi guru agar kapasitas dan keterampilannya meningkat. Tak hanya menguasai keterampilan menggunakan berbagai platform pembelajaran, tapi juga bisa memberikan edukasi kepada siswa dan orangtua terkait etika berinternet hingga konten yang bermanfaat bagi anak-anak.

Kick-off Meeting SCILLS Kebumen: Mengurai Pengalaman Praktik Pembelajaran Jarak Jauh

17 Juli 2006 menjadi peristiwa penting saat gempa dan tsunami terjadi di wilayah pantai selatan Jawa. Gempa berkekuatan 6,8 SR di Samudera Indonesia ini berdampak pada rusaknya berbagai bangunan dan korban jiwa di wilayah Tasikmalaya, Pangandaran, Cilacap, dan Kebumen. Gempa yang terjadi di sekitar tenggara Tasikmalaya itu, membuat air laut naik dan mengakibatkan bencana tsunami.

Gempa dan tsunami yang terjadi di Pangandaran turut berdampak hingga ke wilayah pesisir pantai Petanahan, Puring, Buayan, Ayah yang berada di Kebumen, Jawa Tengah. Saat itu, ratusan warga yang berada di wilayah pesisir ini mengungsi ke arah perbukitan karst.

Peristiwa gempa dan tsunami di Kebumen mengakibatkan 16 warga meninggal dunia dan puluhan lainnya luka-luka. Berbagai prasarana publik, seperti tempat pelelalangan ikan di selatan Kebumen juga mengalami rusak berat. Sejak itu, wilayah selatan Kebumen ditetapkan sebagai kawasan daerah rawan gempa dan tsunami.

Pesisir selatan Kebumen memiliki bentang pantai sepanjang 57,8 kilometer dan ada sekitar 16 pantai yang menjadi tempat wisata. Mulai dari Pantai Pedalen, Karangbolong, Petanahan, Logending, hingga Menganti. Di sepanjang pesisir ini juga bergeliat berbagai kegiatan ekonomi warga pesisir. Mulai perdagangan hingga kawasan tambak ikan.

Peristiwa tsunami 2006 menjadi pengalaman sekaligus ingatan bagi warga di Kebumen. Warga yang tinggal di pesisir selatan Jawa memiliki kerawanan tinggi akan potensi terdampak tsunami. Untuk itu, Kabupaten Kebumen telah memiliki Peta Kerawanan Bencana Tsunami sebagai bagian penting dari mitigasi kebencanaan. Peta ini membantu masyarakat, BPBD, maupun lembaga pemerintah daerah untuk waspada dan mampu merespon dengan tanggap jika terjadi bencana di wilayah pesisir. Selain peta rawan bencana tsunami, Kabupaten Kebumen juga telah menerapkan teknologi aplikasi Sirens for Rapid Information On Tsunami Alert atau SIRITA berbasis telepon seluler yang dirilis tahun 2021.

“Kebumen juga rawan longsor dan tsunami,” ujar Udy Cahyono Kepala Pelaksana BPBD Kebumen saat mengikuti acara Kick-off Meeting Peningkatan Konektivitas Dan Literasi Digital Untuk Sekolah Dasar Di Wilayah Rawan Bencana, 22 Januari 2025 yang diikuti oleh perwakilan SDN Tegalretno, SDN 1 Karanggadung, SDN 2 Karanggadung, SDN 3 Petanahan dan Dinas Kominfo. Forum ini digelar oleh CRI bersama Pujiono Center untuk membangun kolaborasi dan peningkatan keterampilan mengenai literasi digital dan kebencanaan melalui pembelajaran jarak jauh.

Menurutnya, wilayah Kebumen memiliki keunikan geologi dari utara hingga selatan. Badan dunia UNESCO juga telah menetapkan Geopark Kebumen sebagai salah satu keunikan geologi dunia yang ada di Jawa. Saat ini ada 9 ancaman potensi bencana yang sering terjadi di wilayah Kebumen, seperti banjir, longsor, dan angin kencang.

“Di wilayah selatan kita sudah pasang rambu evakuasi, simulasi mandiri, hingga uji alat peringatan dini,” ujarnya. BPBD Kebumen juga telah berkoordinasi dengan berbagai dinas terkait mitigasi kebencanaan. Termasuk dengan dinas pendidikan untuk mensosialisasikan sekolah aman bencana.

“Anak-anak SD lebih cepat menangkap informasi. Kita ingin anak-anak memiliki pengetahuan mengenai mitigasi kebencanaan,” ujar Ferdhi F. Putra, Direktur Ad Interim CRI menambahkan. Pendidikan usia dini, menurutnya sangat penting untuk tahu tentang isu kebencanaan dan teknologi internet. Ke depan, berbagai pelatihan literasi digital dan kebencanaan menjadi bagian dari kegiatan peningkatan keterampilan bagi guru, siswa, dan orangtua di wilayah Kabupaten Kebumen dan wilayah dampingan lainnya di pesisir selatan Jawa.

“Tak hanya itu, keterampilan keamanan berinternet juga penting diketahui oleh guru, siswa, dan orangtua,” ujarnya agar komunitas sekolah bisa memanfaatkan internet yang sehat dalam pendidikan.

Praktik Pembelajaran Jarak Jauh

Keberadaan teknologi internet dalam pendidikan memang sangat membantu proses pembelajaran bagi guru dan siswa. Terlebih saat terjadi pandemi Covid-19 di mana ada pembatasan secara berkala terkait aktivitas tatap muka untuk mengurangi risiko penyebaran virus.

Dalam kondisi terbatas, sekolah tetap memiliki kewajiban untuk menjalankan seluruh proses belajar secara daring melalui internet. Pemerintah mengeluarkan kebijakan agar proses pembelajaran jarak jauh ini bisa dilakukan di seluruh wilayah Indonesia. Inilah proses pertama dalam dunia pendidikan Indonesia saat menghadapi pandemi Covid-19. Dalam berbagai keterbatasan, pendidikan harus siap menjawab tantangan ini agar anak-anak tetap menjalankan pembelajaran.

Sayangnya, tidak semua sekolah maupun orangtua siswa memiliki fasilitas internet dan telepon seluler yang memadai. Termasuk keterampilan memanfaatkan berbagai aplikasi komunikasi jarak jauh. Guru juga bekerja keras menyiapkan berbagai materi pembelajaran yang sesuai dengan kondisi ini. Termasuk mempelajari teknologi internet.

“Guru memberikan pelajaran melalui Zoom dan bikin kelompok siswa untuk mengatasi keterbatasan alat, seperti handphone,” ujar Dian Rahmawati, Kepala Sekolah SD Negeri Tegalretno. Masalah lain, orangtua siswa juga memiliki keterbatasan dalam menyediakan data internet dan pengetahuan yang terbatas terkait pemanfaatan teknologi internet.

“Kita manfaatkan Youtube untuk mengajar lalu disebar melalui group WA. Kita juga belajar berbagai aplikasi agar materi belajar menarik,” ujar Agra Aditya, guru dari SD Negeri 3 Petanahan.

Praktik pembelajaran jarak jauh saat pandemi Covid-19 menjadi pengalaman berharga bagi semua guru di Indonesia. Guru, siswa dan orangtua harus siap menghadapi berbagai tantangan ke depan. Termasuk bagi setiap sekolah yang berada di area rawan bencana alam. Praktik pembelajaran jarak jauh menjadi cara agar penyelenggaraan pembelajaran tetap berjalan seperti biasanya.

“Perlu kolaborasi dengan orangtua mulai dari perencanaan, pelaksanaan, sampai pada evaluasi sebagai kesepakatan bersama,” ujar Dian Rahmawati menambahkan.

Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) Wilayah Kebumen

SD Negeri Tegalretno telah ditetapkan sebagai Satuan Pendidikan Aman Bencana atau SPAB di wilayah Kebumen. Pendampingan pendidikan kebencanaan di sekolah dilakukan bersama PMI Kabupaten Kebumen. SPAB merupakan bagian dari program pencegahan dan penanggulangan dampak bencana melalui Permendikbud No.33 Tahun 2019.

“SDN Tegalretno terletak kurang lebih 2 kilometer dari bibir pantai,” ujar Dian Rahmawati. Sekolah ini tentu saja masuk ke dalam wilayah rawan bencana tsunami di Kebumen. Berbagai simulasi maupun pelatihan kebencanaan telah dilakukan di sekolah ini untuk merespon kondisi lingkungan sekolah.

SDN Tegalretno menjadi sekolah percontohan pendidikan aman bencana. Hingga saat ini setidaknya ada 10 sekolah tingkat SD, SMP, dan SMA di Kebumen yang sudah mendapatkan status SPAB.

Kolaborasi antarpihak menjadi kunci dalam membangun kesadaran kebencanaan di sekolah. Termasuk dalam meningkatkan pengetahuan mengenai internet sehat di dunia pendidikan. Sehingga ke depan, Indonesia memiliki sumber daya yang tangguh, mandiri, dan siaga.

Tingkatkan Literasi Digital Dan Mitigasi Kebencanaan Bagi Komunitas Sekolah Dasar Di Pesisir Jawa Selatan

  • Internet Society Foundation (ISOC) telah bekerja di enam negara untuk mempromosikan kesempatan pendidikan dan ekonomi melalui peningkatan pengetahuan dan keterampilan internet melalui program SCILLS di 6 negara termasuk Indonesia.
  • Program ini bertujuan untuk memberikan kontribusi bagi ekonomi yang lebih inklusif dan meningkatkan kesempatan pendidikan bagi setiap individu maupun komunitas agar lebih lebih terampil dan mampu menggunakan teknologi internet.
  • Pelaksanaan di Indonesia akan berlangsung di Kabupaten Trenggalek, Pacitan, Gunungkidul, Kulonprogo, Kebumen, Cilacap, Pangandaran, dan Tasikmalaya dengan fokus pendidikan literasi digital dan mitigasi kebencanaan di 36 Sekolah Dasar, dengan penerima manfaat kepada 108 guru, 720 siswa, dan 360 orang tua.

Combine Resource Institution atau CRI melaksanakan program Peningkatan Jaringan Internet Sekolah & Keamanan Pelatihan Internet Bagi Guru, Orangtua, dan Murid di Wilayah Rawan Bencana Pesisir Jawa selama dua tahun ke depan. Program ini didukung oleh Internet Society Foundation yang telah bekerja di enam negara untuk mempromosikan kesempatan pendidikan dan ekonomi melalui peningkatan pengetahuan dan keterampilan teknologi internet.

Melalui program SCILLS (Strengthening Communities, Improving Lives and Livelihoods), program ini telah melibatkan berbagai komunitas di Bangladesh, Brazil, Colombia, Ghana, Senegal dan Indonesia. Dengan fokus pendampingan pendidikan literasi digital bagi perempuan, anak muda, guru, orangtua, maupun kelompok marjinal untuk mendapatkan dukungan pengajaran dan pendidikan melalui teknologi informasi dan komunikasi di kelas yang lebih inkusif.

“Melalui pelatihan literasi digital yang lebih adaptif, praktik keamanan internet, dan kerjasama melalui pengembangan ekonomi berbasis komunitas, projek ini membantu setiap individu meningkatkan keterampilan dalam ekonomi digital saat ini,” ujar Jenn Beard, Senior Program Internet Society Foundation dalam situs www.isocfoundation.org.

Di tahun 2023, program ini telah berhasil mendampingi 9.250 siswa melalui berbagai pelatihan keterampilan dan pendidikan digital. Termasuk memberikan pelatihan internet bagi 6.612 anak muda untuk mendapatkan kesempatan ekonomi yang lebih baik.

Bantuan dana program SCILLS bertujuan untuk memberikan kontribusi bagi ekonomi yang lebih inklusif dan meningkatkan kesempatan pendidikan bagi setiap individu maupun komunitas agar lebih lebih terampil dan mampu menggunakan internet. Ke depan, program ini juga akan menjadi kunci dalam mendukung proses transformasi digital.

Pendidikan Literasi Digital Dan Mitigasi Kebencanaan Bagi Siswa SD

Di Indonesia, program pelaksanaan SCILLS ini akan berlangsung di pesisir Jawa Selatan yang akan dilaksanakan di wilayah 8 kabupaten di Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah dan Jawa Barat. Mulai dari Trenggalek, Pacitan, Gunungkidul, Kulonprogo, Kebumen, Cilacap, Pangandaran, dan Tasikmalaya. Wilayah yang berhadapan dengan laut lepas dan berisiko rawan bencana seperti yang dilansir oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) saat ini.

CRI bekerjasama dan bermitra dengan Pujiono Centre yang berpengalaman dalam memberikan manajemen dan riset kebencanaan serta adaptasi perubahan iklim untuk turut memberikan pembekalan dan pendidikan mitigasi risiko bencana bagi siswa-siswi SD kelas empat dan lima, guru, dan orangtua murid. Fokus pelatihan pendidikan internet dan mitigasi bencana ini akan melibatkan empat hingga enam sekolah di setiap wilayah.

“Basis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) ini juga harus inklusif, kebermanfaatannya tidak hanya dirasakan bagi yang melek internet saja, tapi juga bagi kelompok rentan di sekitar sekolah,” ujar Elanto Wijoyono, Direktur CRI.

Target sekolah yang terlibat dalam program ini sebanyak 36 sekolah. Di mana setiap sekolah melibatkan 12 guru, 20 siswa, dan 10 orangtua. Total seluruh penerima manfaat sebanyak 720 murid, 108 guru dan 360 orangtua yang terlatih selama program berlangsung.

CRI urun tangan dalam berbagai kebencanaan yang terjadi di Indonesia sejak 2005 hingga saat ini melalui pendekatan TIK. Konektivitas komunikasi dalam kebencanaan menjadi salah satu kunci dalam keberhasilan mitigasi kebencanaan.

Pemanfaatan TIK dan mitigasi kebencanaan juga menekankan berbagai pelatihan dan pengetahuan kepada guru untuk kemudian bisa mendorong kesadaran bagi siswa, orangtua, dan warga sekitar sekolah. Pendampingan di sekolah juga dilakukan oleh Pujiono Centre untuk memberikan modul mengenai mitigasi kebencanaan dan penanganan psikologi.

Saat ini proses assesment sedang berlangsung di 8 wilayah kabupaten dengan mengumpulkan berbagai data dan wawancara kepada pemangku kepentingan, seperti Badan Penanggulangan Bencana Daerah, Dinas Pendidikan, Dinas Komunikasi dan Informatika, serta sekolah yang menjadi fokus pendampingan CRI dan Pujiono Center.