Siasat Solidaritas Pendidikan Literasi Digital

Menjadi seorang pendidik sekolah dasar (SD) di pesisir selatan pulau Jawa yang rawan dengan ragam bencana, dibutuhkan kecerdasan untuk bersiasat. Salah satu perkiraan bencana yang akan sangat berdampak di wilayah tersebut adalah gempa bumi skala besar bernama megathrust, sehingga ancaman tsunami pun juga menyertai. 

Berbagi Ruang dengan Bencana

Terletak kurang dari dua kilometer dari bibir pantai, sebuah SD di Cilacap selalu siaga bencana terjadi. Sama halnya dengan sebuah sekolah di Trenggalek, Jawa Timur, gempa tektonik mengancam kapan saja. Di Kulonprogo, Yogyakarta, selain kedua bencana tersebut juga mengancam, isu relokasi sekolah menambah kecemasan para pendidik dan orangtua, ketika bangunan sekolah baru yang disediakan tidak begitu bisa dipastikan kualitas keamanannya dari ancaman bencana. Pada akhirnya, definisi atas situasi bencana menjadi semakin kompleks, karena bukan lagi fenomena alam, melainkan situasi politik–saat rangkaian protes pada Agustus 2025 lalu terjadi, beberapa sekolah di Jawa Tengah diliburkan. Pendidik pun bersiasat, tetap libur, memberi tugas, atau tetap berlangsung tanpa tatap muka?

Selama pandemi Covid-19, kegiatan belajar mengajar mengalami kelumpuhan; interaksi fisik sangat dibatasi karena menyebabkan penularan hingga kematian; akhir dari pandemi tidak pasti, sedangkan anak-anak memerlukan akses pendidikan. Pada saat itu, teknologi seakan-akan menjadi panasea, obat dari segala obat. Pembelajaran jarak jauh (PJJ) menjadi model untuk mengupayakan agar kegiatan belajar mengajar tetap berjalan dengan bantuan teknologi; minimal ada satu gawai yang terhubung dengan internet di setiap rumah tangga. Pada titik ini, pendidik juga menjadi garda terdepan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa; yang dipaksa untuk berinovasi tanpa pembekalan yang memadai.

Raeni, seorang guru di SD Negeri Ciandum, Tasikmalaya, mengatakan bahwa di era digital ini, perkembangan teknologi itu sangat pesat. Karena itulah, dia khawatir terhadap anak-anak didiknya. 

“Kebetulan saya adalah guru kelas 5. Anak kelas 5 di kelas saya itu hampir semuanya sudah mempunyai gawai dan mempunyai media sosial masing-masing, seperti TikTok, Instagram, dan lain-lain,” kata Raeni. ”Kekhawatiran saya adalah anak-anak sering bermain media sosial daripada belajar… tanpa memperhatikan keamanan-keamanan dari penggunaan media sosial tersebut. Anak-anak tidak bisa membedakan mana berita hoaks, mana berita fakta. Jadi hanya dimakan mentah-mentah.”

Kebiasaan mengajar di kelas tatap muka tiba-tiba harus melihat satu layar penuh dengan wajah semua siswa bukan perkara mudah untuk diterima begitu saja. Beberapa hal yang membuat mereka gagap misalnya bagaimana membuat kuis interaktif, mempertahankan anak tetap fokus, memastikan tugas dikerjakan dengan jujur, hingga persoalan teknis ketika gawai harus dipakai bergantian, karena dalam satu rumah tangga ada lebih dari satu orang yang membutuhkannya dalam waktu yang bersamaan. Bisa dibayangkan kecerdikan sekaligus kebingungan para pendidik waktu itu.

Usai pandemi dinyatakan berakhir, kegiatan PJJ masih diadaptasi oleh sebagian pendidik, karena dianggap efisien. Sayangnya, selama ini, model PJJ dijalankan tanpa pembekalan literasi digital yang cukup, yang berdampak pada pengabaian keamanan digital. Satu kecemasan tentang keamanan fisik karena bencana terobati, keamanan digitalnya belum terproyeksi. 

Nur Wahyu Prabowo, guru Pendidikan Agama Islam dari SD Negeri Pacitan, mengungkapkan, “Jadi tantangannya yang paling sulit dihadapi guru, tenaga pendidikan di sekolah itu adalah mengawasi penggunaan media digital yang di luar sekolah… Itu salah satu tantangannya, khususnya saya sebagai tenaga pendidik, untuk mengontrol anak-anak ini harus bisa menggunakan media digital dengan baik.”

Situasi ini dibaca sebagai ancaman baru di daerah-daerah rawan bencana, terutama pesisir. Literasi digital muncul untuk memitigasi apabila kelak terjadi bencana selain pandemi, atau bahkan serupa. Combine Resource Institution (CRI) bersama Pujiono Centre dan didukung oleh Internet Society (ISOC) Foundation mengajak 39 sekolah yang tersebar di delapan wilayah pesisir selatan pulau Jawa untuk menjalankan serangkaian kegiatan berkelanjutan tentang literasi digital. Salah satu tujuannya agar kelak jika perlu melakukan PJJ kembali, daerah ini sudah siap dengan PJJ yang aman secara holistik. 

Kerja Bersama, Delapan Kabupaten di Pesisir Selatan Jawa

Setiap sekolah di delapan kabupaten memiliki keunikan, baik dari segi sosio kulturalnya maupun tantangan infrastruktur. Keragaman tingkat literasinya pun cukup berwarna, baik literasi secara umum maupun literasi digital. Kesadaran tentang keamanan informasi dan perangkat hingga pendampingan orangtua dan anak terkait gawai dan sumber informasi adalah temuan menarik yang setiap daerah, bahkan sekolah memiliki cerita yang berbeda-beda. 

Di Cilacap, tujuh sekolah tersebar di tiga titik lokasi. Enam di antaranya terbagi dalam dua kampus terpadu. Para siswa akan melewati satu gerbang yang sama, meski almamater mereka berbeda. Cilacap menjadi satu-satunya kabupaten dalam program ini yang masih memiliki kampus terpadu. Kondisi ini cukup baik dalam memantik kolaborasi antar sekolah, karena secara lokasi sangat berdekatan bahkan satu gerbang yang sama. 

Berbeda dengan Trenggalek, untuk menjangkau setiap sekolah perlu melewati medan yang cukup berliku. Sebuah sekolah bahkan tidak memiliki pintu gerbang yang ideal, atap yang tidak mampu menyangga air hujan, sehingga alat-alat elektronik di sekolah tersebut sering mengalami kerusakan. Seorang guru perempuan tinggal di dalam sekolah dan pulang seminggu sekali. Solusi dari kondisi ini tentu saja bukan pemberian smart tv.

Setelah mengikuti rangkaian pelatihan dasar, pelatihan untuk menjadi pelatih (training of trainer), pengimbasan dan pelatihan tingkat lanjut, rupanya para pendidik saling bersiasat. Beberapa kali tatap muka dan berjumpa dengan sesama pendidik dari sekolah lain, bahkan lintas kabupaten, simpul solidaritas lahir dari inisiatif mereka, karena merasakan satu kebutuhan yang sama, yaitu membumikan literasi digital kepada siswa SD dengan menarik, berdampak, dan berkelanjutan. 

Di Kebumen, misalnya. Pada saat pengimbasan, antar guru dari lintas sekolah saling berkoordinasi dalam menyiapkan materi dan metode. Hasilnya, para pendidik ini menciptakan model pembelajaran yang inovatif dan berhasil menggaet antusias siswa. Menariknya, inovasi ini juga tampak dari cara mereka mengintegrasikan materi tentang literasi digital dengan mata pelajaran sehari-hari, sehingga tanpa perlu membuat kurikulum khusus tentang literasi digital, materi keamanan ini bisa tetap disampaikan dengan baik melalui mata pelajaran yang sudah ada. Misalnya, pengetahuan tentang membedakan informasi hoaks dan fakta bisa dimasukkan dalam pelajaran Bahasa Indonesia, etika digital bisa diintegrasikan dengan mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan dan Pancasila. 

Begitu juga saat pelatihan tingkat lanjut. Diskusi dan rencana semakin berkembang ketika para pendidik mulai merespons tentang kecerdasan artifisial. Kemampuan mereka dalam menguji coba mesin ini ditantang dengan siasat mengembangkan bahan ajar yang aman. Perkembangan teknologi yang sangat mudah diserap oleh peserta didik sedikit mencemaskan mereka, sehingga menantang diri untuk mencoba segala bentuk kecerdasan artifisial juga menjadi pengalaman unik. Mereka membaginya satu sama lain, mulai dari nama atau jenis mesinnya, cara kerja, hingga perbandingan antara satu mesin dengan mesin lainnya. 

“Saya sudah pernah memberikan pembelajaran lewat kuis dan ternyata anak-anak lebih suka, lebih menarik dan lebih aktif untuk mencoba hal tersebut… Dengan cara itu anak-anak lebih antusias belajarnya. Jadi tidak monoton duduk di kelas tapi mereka aktif bergerak… AI atau pun alat digital lainnya menurut saya sangat membantu pembelajaran, positifnya banyak,” ucap Nia Sulastri, Guru SD Negeri 2 Pangandaran, Jawa Barat.

Program yang semula dirancang untuk membumikan literasi digital justru berjalan lebih jauh menjadi ruang untuk saling belajar bersama. Kolaborasi ini juga terwujud dari dukungan para sekolah yang proaktif mendorong para pendidiknya untuk mengupayakan yang terbaik dan terbuka pada setiap perkembangan teknologi. 

Perkembangan teknologi yang semakin hari terkesan semakin memudahkan mobilitas manusia, tidak terkecuali para pendidik ini, memunculkan tantangan baru untuk tetap berjalan bersama tanpa tunduk pada pencurian data dan privasi. Solidaritas untuk saling mengingatkan dan membagi pengalaman mencoba teknologi, serta menambal sulam pengetahuan tentang keamanan di baliknya adalah upaya untuk menjaga agar hubungan antara manusia dengan teknologi bukanlah sebentuk ketergantungan. Teknologi yang diciptakan dari, oleh, dan untuk manusia adalah sebuah ikhtiar untuk bersiap dalam menghadapi berbagai situasi maupun ancaman, baik fisik maupun digital, yang lahir dari kolektivisasi pengetahuan serta kemauan untuk belajar dan terus berkembang.[]

Kick-off Meeting Tasikmalaya: Berdaya Di Tengah Keterbatasan Konektivitas Dan Risiko Bencana Alam

Sekolah Dasar Negeri Sindangkerta berada persis di bibir Pantai Cipatujah, Tasikmalaya Selatan. Setiap hari, sekolah ini terbiasa mendengar gemuruh ombak dari laut pantai selatan. Salah satu sekolah dasar yang berada dalam kawasan daerah rawan bencana gempa & tsunami.

Posisi sekolah yang menghadap laut ini menjadi bagian dari empat sekolah yang mengikuti program SCILLS yang diampu oleh CRI dan Pujiono Centre atau dikenal sebagai Program Peningkatan Konektivitas & Literasi Digital Bagi Sekolah Dasar Di Daerah Rawan Bencana. Program ini juga berlangsung di wilayah 8 kabupaten pesisir selatan Jawa lainnya. Mulai dari Tasikmalaya hingga Trenggalek.

Sekolah SDN Sindangkerta tak hanya rawan terkena dampak gempa dan tsunami dari pantai selatan. Tapi sekolah ini juga menghadapi keterbatasan lainnya, seperti akses konektivitas internet untuk keperluan pembelajaran. Kondisi ini membuat proses pembelajaran di sekolah menjadi terhambat. Guru kesulitan mencari materi tambahan di internet. Termasuk untuk keperluan komunikasi maupun administrasi sekolah.

Kondisi keterbatasan ini dirasakan lebih berat saat terjadi pandemi Covid-19. Termasuk bagi sekolah lainnya di wilayah Tasikmalaya Selatan. Tak hanya itu, kecakapan keterampilan mengenai internet di kalangan guru juga terbatas. Termasuk bagaimana memanfaatkan internet untuk keperluan pembelajaran jarak jauh.

“Kami dibantu dan belajar dari teman-teman guru lainnya. Saat itu kita belum memahami cara melakukan proses pembelajaran jarak jauh,” ujar Wardi Warsidi, guru dari SDN Sindangkerta.

Kondisi geografis Tasikmalaya Selatan memang menantang dengan kontur tanah perbukitan hingga berbatasan dengan laut lepas. Tak salah jika Tasikmalaya Selatan banyak daerah terisolir dan belum memiliki jaringan internet. Daerah ini juga termasuk daerah yang rawan terjadi bencana alam. Seperti longsor, gempa, angin topan, dan hingga ancaman tsunami.

“Internet memang salah satu problem,” ujar Kabid Kominfo Dan Persandian Kabupaten Tasikmalaya, Kurnia Tresna Sumantri dalam acara Kick-off Meeting Konektivitas & Literasi Digital Bagi Sekolah Dasar Di Wilayah Rawan Bencana, 12 Februari di Hotel Horison, Tasikmalaya yang diselenggarakan oleh CRI bersama Pujiono Centre ini.

Saat ini jumlah sekolah dasar di Kabupaten Tasikmalaya mencapai 1.062 sekolah dengan jumlah siswa mencapai 115.224 jiwa yang tersebar di berbagai wilayah. Baik di daerah pegunungan hingga ke pesisir di Tasikmalaya Selatan. Menurut Kepala Bidang SD Kabupaten Tasikmalaya, Ahmad Solihin, proses pembelajaran jarak jauh saat masa pandemi Covid-19 mengalami banyak kendala akibat kondisi infrastruktur dan jaringan internet yang tidak merata.

Kondisi ini memaksa guru maupun masyarakat untuk berkolaborasi dan bekerja sama agar proses pendidikan tetap berjalan. Salah satunya, memanfaatkan keberadaan siaran melalui televisi maupun radio lokal untuk menjangkau wilayah yang jauh dan terputus oleh jaringan internet.

“Guru memberikan pengajaran melalui siaran radio, kunjungan dari rumah ke rumah, dan media sosial dilakukan saat itu,” ujar Ahmad Solihin.

Iyan Sukmawindi, Guru SDN Cibarengkok, punya pengalaman saat melewati masa pandemi Covid-19. Setiap hari, ia mengunjungi rumah siswa untuk melakukan proses belajar mengajar. Saat itu, konektivitas internet juga terbatas. Termasuk kepemilikan gawai atau HP orangtua siswa. Proses belajar mengajar serba terbatas dan melelahkan. Serapan pembelajaran anak-anak menghadapi banyak kendala. Kondisi ini pun berdampak panjang hingga hari ini.

“Ada yang siswa yang masih belum bisa membaca,” ujarnya.

Hal serupa juga dirasakan oleh Yuli Astuti, Guru SD Sindangkerta. Proses belajar memanfaatkan platform Whatsapp sebagai sarana berbagi tugas. Teknis lainnya, ia juga membagi kelompok siswa untuk memudahkan belajar dan menghemat data.

“Bantuan internet dari pemerintah juga tidak bisa digunakan karena belum ada konektivitas internet,” ujar Deni, Guru SDN Sukajaya menambahkan.

Kecakapan keterampilan internet sangat dibutuhkan bagi guru yang berada di wilayah Tasikmalaya Selatan. Menurut para guru, program SCILLS ini akan membantu meningkatkan keterampilan internet sekaligus membangun pengetahuan mitigasi kebencanaan di sekolah. Pendidikan internet sehat juga penting diperkenalkan bagi orangtua maupun siswa agar bisa memanfaatkan internet secara positif. Internet tak hanya sekedar membantu proses komunikasi jarak jauh. Tapi juga menjadi salah satu sumber pengetahuan yang bisa mendukung materi pembelajaran di kelas.

Lembaga Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah memetakan lima daerah rawan bencana tsunami di pesisir selatan Jawa Barat. Mulai dari Kabupaten Sukabumi, Cianjur, Garut, Tasikmalaya, dan Pangandaran.Lembaga ini juga telah berkoordinasi dengan BPBD, organisasi perangkat daerah, masyarakat, maupun sekolah untuk membangun rencana tanggap darurat bencana di wilayah ini .

Kolaborasi antarpihak menjadi kunci penting dalam menghadapi berbagai potensi bencana. Guru di sekolah dasar Kabupaten Tasikmalaya ini siap membekali pengetahuan dan keterampilan literasi digital dan isu kebencanaan. Memastikan ruang hidup komunitas sekolah mereka terlindungi data digitalnya dan mampu merespon berbagai potensi risiko bencana alam.

Kck-off Meeting Trenggalek: Mengatasi Keterbatasan Konektivitas Internet Di Tengah Ancaman Bencana

Empat sekolah SDN Kabupaten Trenggalek, seperti Wonocoyo I, Wonocoyo II, Wonocoyo III, dan Nglebeng III mengikuti acara Kick-off Meeting Peningkatan Konvektivitas Dan Literasi Digital Untuk Sekolah Dasar Di Daerah Rawan Bencana yang dilaksanakan oleh CRI dan Pujiono Centre, 6 Februari 2025. Kegiatan ini bagian dari program untuk merespon isu bencana di wilayah pesisir selatan Jawa melalui pemanfaatan konektivitas internet atau SCILLS.

Program SCILLS menjadi wadah bagi para guru, orangtua, dan siswa untuk meningkatkan kecakapan dan keterampilan internet bagi pendidikan. Termasuk menjadi ruang untuk membangun pembelajaran di wilayah berpotensi bencana.

“Praktik pembelajaran jarak jauh saat masa pandemi Covid-19 turut menjadi bagian diskusi penting,” ujar Panji Dimas, dari Pujiono Centre membuka acara ini. Turut hadir dalam pertemuan ini perwakilan kepala dinas pendidikan, BPBD, dan Kominfo dari Kabupaten Trenggalek.

Saat ini, menurut data peta rawan bencana BNPB Jawa Timur, ada 17 desa yang berada di Kecamatan Watulimo, Munjungan, dan Panggul tergolong zona rawan tsunami di selatan Trenggalek. Termasuk di dalamnya, bagi keempat sekolah yang berada di wilayah pesisir selatan Trenggalek. Untuk membangun peningkatan kesadaran mitigasi kebencanaan, BPBD Trenggalek juga telah membentuk desa tangguh bencana dan memasang sejumlah rambu evakuasi dan papan informasi bencana di wilayah ini.

“Informasi megathrust ini bukan perkiraan tapi potensi. Untuk itu, kita harus aktif mengurangi risiko bencana,” ujar Stefanus Triadi Atmono, Kepala BPBD Trenggalek. Untuk meningkatkan kesiapsiagaan, di wilayah pesisir selatan Trenggalek juga sudah terpasang Early Warning System (EWS) tsunami, bencana longsor dan banjir di sejumlah titik.

“Daerah kami juga menghadapi tantangan lain. Listrik sering mati dan gangguan koneksi internet,” ujar Aan Hadiyanto,Kepala Sekolah SDN Wonocoyo II. SDN Wonocoyo II berada di Dusun Karang Desa Wonocoyo. Posisi sekolah ini kurang lebih berjarak sekitar 2 kilometer dari bibir pantai Taman Kili-kili.

Keterbatasan ini menjadi tantangan untuk membangun konektivitas internet di wilayah selatan Trenggalek. Terlebih lanskap wilayah pesisir selatan Trenggalek berbukit-bukit sehingga menjadi tantangan dalam membangun infrastruktur internet dan komunikasi.

Ia berpendapat, program SCILLS ini akan membantu para guru, orangtua, dan siswa sekolah agar memiliki keterampilan literasi digital maupun kebencanaan. Termasuk memanfaatkan berbagai platform pembelajaran saat terjadi darurat. Menurutnya, kebencanaan tidak menjadi halangan untuk tetap menjalankan aktivitas pendidikan karena bagian dari hak setiap anak.

“Kita mesti jelaskan konsep belajar saat terjadi bencana pada walimurid agar tidak menjadi masalah. Konsepnya seperti apa dan langkah-langkahnya seperti apa agar walimurid bisa mendukung,” ujarnya.

Agoes Setoyono, Kepala Dinas Pendidikan Trenggalek, berpendapat bahwa pengalaman saat pandemi Covid-19 menjadi pembelajaran berharga bagi dunia pendidikan. Saat itu, setiap sekolah harus melaksanakan pembelajaran jarak jauh melalui internet. Kondisi ini membuat sekolah harus kreatif dan mencari inovasi agar proses pembelajaran bisa berlansung dalam kondisi terbatas.

“Pembelajaran jarak jauh masa Covid tidak berjalan optimal karena tidak ada persiapan piranti, pedoman, maupun pelatihan penggunaan internet,” ujarnya.

Kondisi ini diakui oleh SDN Wonocoyo III dan SDN Nglebeng karena tidak memiliki akses internet nirkabel karena tertutup oleh perbukitan.

Membangun pendidikan yang bermakna memang tidak mudah bagi sekolah yang berada di wilayah terisolir dan rawan bencana. Ada banyak tantangan yang dihadapi oleh komunitas sekolah ini. Mulai dari infrastruktur, kondisi geografis, sosial dan ekonomi orangtua, hingga kebijakan dari pemerintah untuk menyediakan pendidikan yang layak bagi masyarakat.

Kolaborasi antarpihak menjadi salah satu cara untuk mengatasi berbagai tantangan ini. Keberadaan program SCILLS menjadi upaya untuk membantu bagi komunitas sekolah, orangtua siswa, maupun lembaga pemerintah untuk bekerja sama dan memberi kebermanfaatan bagi siswa-siswi yang tinggal di daerah risiko rawan bencana.

Kick-off Meeting Pacitan: Membedah Potensi Bencana Dan Akses Digital Sekolah

Peristiwa banjir bandang dan longsor 2017 menjadi memori tidak terlupakan bagi masyarakat Kabupaten Pacitan. Bencana ini mengakibatkan korban jiwa dan ratusan infrastruktur rusak berat. Kerusakan juga terjadi di 114 sekolah dasar, menengah, dan SMK. Berbagai fasilitas seperti jembatan dan rumah warga juga mengalami rusak berat. Termasuk areal pertanian, harta benda warga, serta rusaknya dokumen publik.

Peristiwa besar ini menjadi pembelajaran sekaligus pengalaman yang disampaikan peserta saat mengikuti Kick-Off Meeting Peningkatan Digital Untuk Sekolah Dasar di Daerah Rawah Bencana bersama BPBD, Dinas Pendidikan dan Kominfo. Selasa, 4 Februari, 2025 di Pacitan. Empat SDN yang hadir diikuti oleh SDN Pacitan, Ploso, Kembang, Sirnoboyo.

Kegiatan pertemuan ini bertujuan untuk membangun kolaborasi dan kerja sama antarpihak terkait pengembangan kegiatan literasi digital dan kebencanaan melalui program SCILLS yang didampingi oleh CRI dan Pujiono Centre.

Kabupaten Pacitan berada di kawasan pesisir selatan Jawa yang memiliki risiko rawan bencana. Mulai dari banjir, gempa, dan tsunami. Peningkatan konektivitas dan literasi digital ini diharapkan bisa membangun dalam melakukan mitigasi kebencanaan sekaligus membangun kesadaran keamanan internet bagi komunitas sekolah.

“Sekolah punya pengalaman akan bencana banjir. Termasuk saat masa Covid-19. Program ini diharapkan bisa membantu proses belajar melalui digital dengan baik,” kata Panji Dimas dari Pujiono Centre membuka acara Kick-Off Meeting ini.

Budiyanto, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pacitan, mengatakan bahwa ada banyak potensi bencana yang terjadi di wilayah pesisir selatatan Pacitan. Berbagai bencana ini turut mengancam keberadaan sekolah yang berada di sekitar pesisir maupun area perbukitan di Pacitan.

“Ancaman internet itu terkait dengan banyaknya konten negatif. Ini tantangan bagi anak-anak saat ini,” ujarnya. Untuk itu, pendidikan mengenai literasi digital bagi para siswa sangat penting agar mereka mampu mengakses internet secara sehat dan positif. Menurutnya, pembelajaran jarak jauh saat pandemi Covid-19, juga menghadapi berbagai tantangan dan kekurangan. Mulai dari persoalan latar ekonomi orangtua siswa yang berbeda hingga tidak meratanya jaringan akses internet di wilayah Pacitan.

Kominfo Kabupaten Pacitan menekankan setidaknya ada empat pilar digital terkait pengembangan di wilayahnya. Pertama, pilar budaya digital agar warga memahami norma, nilai, dan budaya yang berlaku di dunia digital. Kedua, pilar aman digital agar warga mampu melindungi diri dan mengelola informasi pribadi dari ancaman digital. Ketiga, etika digital untuk memahami aspek moral dan perilaku saat menggunakan teknologi digital. Keempat, cakap digital, agar warga mampu memahami, menggunakan, dan mengelola perangkat digital dan platform teknologi.

Berbagai pilar ini diharapkan bisa membentuk ekosistem digital Pacitan yang sehat dan mengatasi berbagai tantangan yang ada. Mulai dari kondisi geografis, keterampilan memanfaatkan teknologi internet, peningkatan aspek ekonomi warga, serta melindungi data pribadi dari ancaman digital.

“Kita harus menyiapkan skenario terburuk saat listrik dan internet tidak ada. Sejauh ini radio paling efektif sebagai alternatif komunikasi saat kebencanaan,” ujar Erwin andri atmoko, Kepala BPBD Pacitan.

BPBD Pacitan menekankan bahwa pendidikan menjadi pintu penting menumbuhkan pendidikan kebencanaan bagi siswa melalui SPAB (Satuan Pendidikan Aman Bencana). Lembaga sekolah bisa mengambil peran untuk mengurangi dampak bencana di lingkungan sekolah. Termasuk menyiapkan tim siaga sekolah dalam menghadapi saat terjadinya bencana. /

Empat sekolah yang mengikuti pertemuan ini memandang bahwa program literasi digital di wilayah kebencanaan sangat penting bagi siswa, guru, dan orangtua. Berbagai pelatihan dan pendampingan bisa meningkatkan keterampilan mengenai digital sekaligus kewaspadaan terkait berbagai ancaman bencana di wilayah pesisir.

Kick-off Meeting Gunungkidul: Ekosistem Literasi Digital Di Area Rawan Bencana

Ada banyak tantangan dan tuntutan bagi dunia pendidikan saat melewati masa pandemi Covid-19. Seluruh aktivitas belajar di sekolah dihentikan untuk mengurangi sebaran virus dan risiko pada anak-anak sekolah. Namun, bukan berarti anak-anak libur dan tidak belajar. Model pembelajaran jarak jauh dan keterampilan mengolah materi belajar secara kreatif perlu dikuasai oleh guru.

Akses internet menjadi satu-satunya alternatif yang dijalankan oleh sekolah untuk memenuhi kebutuhan pembelajaran anak-anak. Praktik di lapangan, banyak guru mengalami hambatan akibat akses internet yang terbatas hingga keterampilan mengolah materi pembelajaran kreatif, seperti membuat video atau presentasi yang unik. Di sisi lain, banyak orangtua siswa juga memiliki keterbatasan akan gawai, akses internet, dan rendahnya literasi digital.

Pandemi Covid-19 memang memberikan pelajaran dan pengalaman yang berharga. Pendidikan dipaksa untuk beradaptasi dengan berbagai keterbatasannya. Catatan ini menjadi fokus penting bagi guru, kepala sekolah, dan dinas terkait di Gunungkidul untuk berkumpul dan berdiskusi saat mengikuti acara Kick-off Meeting Peningkatan Konektivitas Internet dan Literasi Digital Bagi Sekolah Dasar Di Daerah Rawan Bencana yang diselenggarakan oleh CRI bersama Pujiono Centre, 3 Februari 2025.

Panji Dimas dari Pujiono Centre menyatakan bahwa keberadaan akses internet yang kuat menjadi penunjang penting dalam pendidikan. Termasuk membantu saat masa pandemi Covid-19 maupun saat masa pemulihan pasca bencana alam. Baik sebagai penunjang kegiatan pendidikan maupun komunikasi saat terjadi bencana. Untuk itu, kecakapan literasi digital menjadi mutlak dikuasai oleh guru, orangtua, pihak sekolah, maupun agar anak-anak agar tetap terlindungi dari risiko ancaman digital yang negatif.

“Sehingga anak-anak bisa terlindungi dan memanfaatkan internet secara baik,” ujarnya saat membuka acara Kick-off Meeting di Gunungkidul.

Melani Jayanti, Staff Project Officer Program SCILLS dari CRI, menyatakan bahwa pertemuan ini bertujuan untuk mencatat berbagai pengalaman terkait penggunaan internet saat masa bencana. Pengalaman ini menjadi bahan penting sebagai peta kondisi infrastruktur internet di setiap sekolah, pengetahuan mengenai literasi digital guru dan siswa, hingga menakar ancaman risiko bencana di sekitar sekolah.

“Program ini diharapkan bisa memberikan manfaat jangka panjang bagi satuan pendidikan aman bencana dan mendukung kolaborasi berbagai pihak,” ujarnya.

Internet memang memiliki peran penting saat diberlakukannya pembelajaran jarak jauh. Namun, kehadiran guru tetap tidak tergantikan dan dipandang penting untuk mendampingi tumbuh kembang anak-anak. Proses pembelajaran jarak jauh juga tak mudah mengingat tantangan di tiap sekolah itu berbeda.

Kepala Dinas Pendidikan Gunungkidul Nunuk Setyowati mengatakan bahwa saat itu Pemerintah Gunungkidul menerapkan proses pembelajaran melalu daring, semi daring, dan ditunjang oleh media lain, seperti tv dan radio lokal sebagai media menyebarkan informasi pengetahuan bagi anak-anak.

“Ada banyak kendala saat itu. Mulai dari sarana prasarana pembelajaran hingga siswa yang tidak memiliki laptop dan smartphone,” ujarnya.

Hingga saat ini, layanan akses internet telah menjangkau 68 sekolah dan sebanyak 324 SDN mendapatkan bantuan komputer sebagai alat pembelajaran bagi siswa. Konektivitas internet dan ketersediaan teknologi komputer ini untuk mendukung pendidikan literasi digital di sekolah dasar. Termasuk biasa digunakan sebagai fasilitas pembelajaran saat menghadapi ujian akhir sekolah.

Bidan Layanan Informatika Dinas Kominfo Gunungkidul menjelaskan bahwa saat ini konektivitas internet sudah menjangkau hingga ke tingkat kalurahan/desa. Termasuk ke-18 titik wilayah pendidikan dari SDN hingga SMA/SMK. Namun, ia mengakui bahwa belum semua sekolah mendapatkan layanan akses internet secara merata.

“Kelemahan teknologi berbasis digital adalah sumber listrik. Untuk daerah rawan bencana juga perlu disiapkan sebagai alternatif energi,” ujar Yuyun Retna Pramuji, mewakili Kominfo Gunungkidul.

Hingga saat ini, Pemerintah Gunungkidul telah melaksanakan SPAB atau Satuan Pendidikan Aman Bencana di 13 sekolah. SPAB ini sebagai bentuk komitmen kolaborasi sekolah bersama BPBD dan komite sekolah untuk menghadirkan ruang aman bagi anak-anak. SPAB juga mendorong agar sekolah mampu menyiapkan tim siaga sebagai bentuk kesiapan kebencanaan di sekolah.

“Kami siap mendampingi proses SPAB ini untuk melakukan simulasi kebencanaan. Kita juga perlu meningkatkan kesadaran warga sekolah terkait kebencanaan,” ujar Kepala Bidang Pencegahan, Kesiapsiagaan, Rehabilitasi, dan Rekonstruksi BPBD Gunungkidul, Nanang Irawanto.

Pengalaman memberikan layanan pendidikan bagi anak-anak saat kebencanaan memang menantang. Terlebih saat pemerintah memberlakukan penetapan pembatasan saat pandemi Covid-19. Guru sekolah di wilayah Gunungkidul mesti bekerja keras di tengah keterbatasan akses jaringan maupun kondisi geografisnya. Sekolah juga memaksimalkan aplikasi internet, video pembelajaran, hingga pendampingan pembelajaran melalui Whatsapp.

“Kesenjangan pengetahuan digital itu ada tapi setiap guru harus saling bantu,” ujar Nur, salah satu peserta.

Pembelajaran literasi digital dinilai penting bagi guru agar kapasitas dan keterampilannya meningkat. Tak hanya menguasai keterampilan menggunakan berbagai platform pembelajaran, tapi juga bisa memberikan edukasi kepada siswa dan orangtua terkait etika berinternet hingga konten yang bermanfaat bagi anak-anak.

Kick-off Meeting SCILLS Kebumen: Mengurai Pengalaman Praktik Pembelajaran Jarak Jauh

17 Juli 2006 menjadi peristiwa penting saat gempa dan tsunami terjadi di wilayah pantai selatan Jawa. Gempa berkekuatan 6,8 SR di Samudera Indonesia ini berdampak pada rusaknya berbagai bangunan dan korban jiwa di wilayah Tasikmalaya, Pangandaran, Cilacap, dan Kebumen. Gempa yang terjadi di sekitar tenggara Tasikmalaya itu, membuat air laut naik dan mengakibatkan bencana tsunami.

Gempa dan tsunami yang terjadi di Pangandaran turut berdampak hingga ke wilayah pesisir pantai Petanahan, Puring, Buayan, Ayah yang berada di Kebumen, Jawa Tengah. Saat itu, ratusan warga yang berada di wilayah pesisir ini mengungsi ke arah perbukitan karst.

Peristiwa gempa dan tsunami di Kebumen mengakibatkan 16 warga meninggal dunia dan puluhan lainnya luka-luka. Berbagai prasarana publik, seperti tempat pelelalangan ikan di selatan Kebumen juga mengalami rusak berat. Sejak itu, wilayah selatan Kebumen ditetapkan sebagai kawasan daerah rawan gempa dan tsunami.

Pesisir selatan Kebumen memiliki bentang pantai sepanjang 57,8 kilometer dan ada sekitar 16 pantai yang menjadi tempat wisata. Mulai dari Pantai Pedalen, Karangbolong, Petanahan, Logending, hingga Menganti. Di sepanjang pesisir ini juga bergeliat berbagai kegiatan ekonomi warga pesisir. Mulai perdagangan hingga kawasan tambak ikan.

Peristiwa tsunami 2006 menjadi pengalaman sekaligus ingatan bagi warga di Kebumen. Warga yang tinggal di pesisir selatan Jawa memiliki kerawanan tinggi akan potensi terdampak tsunami. Untuk itu, Kabupaten Kebumen telah memiliki Peta Kerawanan Bencana Tsunami sebagai bagian penting dari mitigasi kebencanaan. Peta ini membantu masyarakat, BPBD, maupun lembaga pemerintah daerah untuk waspada dan mampu merespon dengan tanggap jika terjadi bencana di wilayah pesisir. Selain peta rawan bencana tsunami, Kabupaten Kebumen juga telah menerapkan teknologi aplikasi Sirens for Rapid Information On Tsunami Alert atau SIRITA berbasis telepon seluler yang dirilis tahun 2021.

“Kebumen juga rawan longsor dan tsunami,” ujar Udy Cahyono Kepala Pelaksana BPBD Kebumen saat mengikuti acara Kick-off Meeting Peningkatan Konektivitas Dan Literasi Digital Untuk Sekolah Dasar Di Wilayah Rawan Bencana, 22 Januari 2025 yang diikuti oleh perwakilan SDN Tegalretno, SDN 1 Karanggadung, SDN 2 Karanggadung, SDN 3 Petanahan dan Dinas Kominfo. Forum ini digelar oleh CRI bersama Pujiono Center untuk membangun kolaborasi dan peningkatan keterampilan mengenai literasi digital dan kebencanaan melalui pembelajaran jarak jauh.

Menurutnya, wilayah Kebumen memiliki keunikan geologi dari utara hingga selatan. Badan dunia UNESCO juga telah menetapkan Geopark Kebumen sebagai salah satu keunikan geologi dunia yang ada di Jawa. Saat ini ada 9 ancaman potensi bencana yang sering terjadi di wilayah Kebumen, seperti banjir, longsor, dan angin kencang.

“Di wilayah selatan kita sudah pasang rambu evakuasi, simulasi mandiri, hingga uji alat peringatan dini,” ujarnya. BPBD Kebumen juga telah berkoordinasi dengan berbagai dinas terkait mitigasi kebencanaan. Termasuk dengan dinas pendidikan untuk mensosialisasikan sekolah aman bencana.

“Anak-anak SD lebih cepat menangkap informasi. Kita ingin anak-anak memiliki pengetahuan mengenai mitigasi kebencanaan,” ujar Ferdhi F. Putra, Direktur Ad Interim CRI menambahkan. Pendidikan usia dini, menurutnya sangat penting untuk tahu tentang isu kebencanaan dan teknologi internet. Ke depan, berbagai pelatihan literasi digital dan kebencanaan menjadi bagian dari kegiatan peningkatan keterampilan bagi guru, siswa, dan orangtua di wilayah Kabupaten Kebumen dan wilayah dampingan lainnya di pesisir selatan Jawa.

“Tak hanya itu, keterampilan keamanan berinternet juga penting diketahui oleh guru, siswa, dan orangtua,” ujarnya agar komunitas sekolah bisa memanfaatkan internet yang sehat dalam pendidikan.

Praktik Pembelajaran Jarak Jauh

Keberadaan teknologi internet dalam pendidikan memang sangat membantu proses pembelajaran bagi guru dan siswa. Terlebih saat terjadi pandemi Covid-19 di mana ada pembatasan secara berkala terkait aktivitas tatap muka untuk mengurangi risiko penyebaran virus.

Dalam kondisi terbatas, sekolah tetap memiliki kewajiban untuk menjalankan seluruh proses belajar secara daring melalui internet. Pemerintah mengeluarkan kebijakan agar proses pembelajaran jarak jauh ini bisa dilakukan di seluruh wilayah Indonesia. Inilah proses pertama dalam dunia pendidikan Indonesia saat menghadapi pandemi Covid-19. Dalam berbagai keterbatasan, pendidikan harus siap menjawab tantangan ini agar anak-anak tetap menjalankan pembelajaran.

Sayangnya, tidak semua sekolah maupun orangtua siswa memiliki fasilitas internet dan telepon seluler yang memadai. Termasuk keterampilan memanfaatkan berbagai aplikasi komunikasi jarak jauh. Guru juga bekerja keras menyiapkan berbagai materi pembelajaran yang sesuai dengan kondisi ini. Termasuk mempelajari teknologi internet.

“Guru memberikan pelajaran melalui Zoom dan bikin kelompok siswa untuk mengatasi keterbatasan alat, seperti handphone,” ujar Dian Rahmawati, Kepala Sekolah SD Negeri Tegalretno. Masalah lain, orangtua siswa juga memiliki keterbatasan dalam menyediakan data internet dan pengetahuan yang terbatas terkait pemanfaatan teknologi internet.

“Kita manfaatkan Youtube untuk mengajar lalu disebar melalui group WA. Kita juga belajar berbagai aplikasi agar materi belajar menarik,” ujar Agra Aditya, guru dari SD Negeri 3 Petanahan.

Praktik pembelajaran jarak jauh saat pandemi Covid-19 menjadi pengalaman berharga bagi semua guru di Indonesia. Guru, siswa dan orangtua harus siap menghadapi berbagai tantangan ke depan. Termasuk bagi setiap sekolah yang berada di area rawan bencana alam. Praktik pembelajaran jarak jauh menjadi cara agar penyelenggaraan pembelajaran tetap berjalan seperti biasanya.

“Perlu kolaborasi dengan orangtua mulai dari perencanaan, pelaksanaan, sampai pada evaluasi sebagai kesepakatan bersama,” ujar Dian Rahmawati menambahkan.

Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) Wilayah Kebumen

SD Negeri Tegalretno telah ditetapkan sebagai Satuan Pendidikan Aman Bencana atau SPAB di wilayah Kebumen. Pendampingan pendidikan kebencanaan di sekolah dilakukan bersama PMI Kabupaten Kebumen. SPAB merupakan bagian dari program pencegahan dan penanggulangan dampak bencana melalui Permendikbud No.33 Tahun 2019.

“SDN Tegalretno terletak kurang lebih 2 kilometer dari bibir pantai,” ujar Dian Rahmawati. Sekolah ini tentu saja masuk ke dalam wilayah rawan bencana tsunami di Kebumen. Berbagai simulasi maupun pelatihan kebencanaan telah dilakukan di sekolah ini untuk merespon kondisi lingkungan sekolah.

SDN Tegalretno menjadi sekolah percontohan pendidikan aman bencana. Hingga saat ini setidaknya ada 10 sekolah tingkat SD, SMP, dan SMA di Kebumen yang sudah mendapatkan status SPAB.

Kolaborasi antarpihak menjadi kunci dalam membangun kesadaran kebencanaan di sekolah. Termasuk dalam meningkatkan pengetahuan mengenai internet sehat di dunia pendidikan. Sehingga ke depan, Indonesia memiliki sumber daya yang tangguh, mandiri, dan siaga.

Kick-off Meeting CRI Bersama Pemangku Pendidikan Pangandaran: Pembekalan Keterampilan Digital & Kebencanaan

Nia Sulastri, guru SD Negeri 2 Pangandaran, salah satu peserta yang mengikuti kick-off meeting program Peningkatan Jaringan Internet Sekolah & Keamanan Pelatihan Internet Bagi Guru, Orangtua, dan Murid di Wilayah Rawan Bencana Pesisir Jawa, yang berlangsung di Hotel Palma, Pangadaran, 14 Januari 2025.

Acara ini bagian dari kerja sama antara CRI dengan Pemerintahan Kabupaten Pangandaran. Program yang didukung oleh Internet Society Foundation melalui program SCILLS (Strengthening Communities, Improving Lives and Livelihoods) akan berlangsung di 8 kabupaten yang berada di pesisir kawasan rawan bencana Jawa Selatan. Mulai dari Tasikmalaya, Pangandaran, Cilacap, Kebumen, Kulonprogo, Gunungkidul, Pacitan, dan Trenggalek di tahun 2025 – 2026.

Nia Sulastri tampak antusias mengikuti program peningkatan literasi digital dan kebencanaan bersama peserta guru lain yang mewakili empat sekolah lainnya. Termasuk hadir perwakilan dari kepala sekolah dan pemangku dinas dari Dinas Kominfo, Dinas Pendidikan, dan BPBD Pangandaran.

Tentu, perkembangan teknologi internet dalam pembelajaran, tak asing bagi Nia Sulastri. Sosok guru muda ini terbiasa menggunakan berbagai aplikasi komunikasi jarak jauh, seperti Zoom atau Google Meet. Dua aplikasi populer yang kini banyak digunakan orang untuk bertatap muka secara daring. Selain itu, ia juga biasa menggunakan aplikasi Canvas agar materi pembelajaran semakin menarik dan kreatif.

“Kemarin saya juga ngasih tugas bikin surel bagi anak-anak dan ternyata mampu. Anak-anak sekarang lebih pintar menggunakan gawai,” kata Nia Sulastri menjelaskan anak didiknya sebagai bagian dari Gen Z dan Gen Alpha yang lahir pasca 2010. Dua generasi ini tak asing dengan perkembangan teknologi dan internet. Baik sebagai alat pembelajaran maupun hiburan. “Tapi peran orangtua juga penting untuk mengawasi dan mendampingi anak-anak di rumah,” ujarnya.

Nia Sulastri, guru yang aktif menggunakan internet sebagai media pembelajaran maupun kebutuhan komunikasi sehari-hari. Ia berharap pelatihan ini akan memberi bekal tambahan mengenai literasi digital sekaligus pengetahuan mengenai kebencanaan.

“Saya juga menyaksikan saat tsunami Pangandaran tahun 2006. Saat itu masih remaja,” ujarnya. Peristiwa bencana alam di Pangandaran ini membekas bagi sosok Nia. Termasuk pengalaman saat beradaptasi saat wabah Covid-19.

“Saat tsunami 2016 saya masih pelajar dan aktivitas belajar itu libur. Beda saat masa Covid. Anak-anak bisa belajar lewat pembelajaran jarak jauh. Sekalipun sulit,” ujarnya.

Program SCILLS yang diampu oleh CRI bersama Pujiono Center ini akan melibatkan di 36 sekolah atau memberikan manfaat bagi 720 murid, 108 guru, dan 360 orangtua di wilayah pesisir pantai. Keterampilan literasi digital, konektivitas internet, maupun kebencanaan menjadi bekal bagi para penerima manfaat agar waspada akan potensi bencana, seperti gempa dan tsunami di wilayah pesisir.

“Kita tidak bisa dipisahkan dari kemajuan teknologi dan internet. Bagi pendidikan dan juga kebencanaan. Saya harap para guru meningkatkan dan memanfaatkan program ini,” ujar Jeje Wiradinata, Bupati Pangandaran. Ia mengingat saat tsunami Pangandaran di tahun 2006 saat perkembangan teknologi masih terbatas. Berbeda dengan kondisi sekarang saat ada teknologi Early Warning System dan konektivitas internet di Pangandaran.

Kabupaten Pangandaran berada dalam kawasan yang berhadapan dengan Samudera Hindia dan termasuk zona rawan tsunami. Saat peristiwa tsunami 2006, Pangandaran mengalami kerusakan infrastruktur dan 600 korban kehilangan jiwa yang terjadi pada tanggal 17 Juli 2006.

Untuk itu, pendidikan kebencanaan dan teknologi saat ini menjadi perhatian untuk mengurangi kerusakan dan korban jiwa. Terlebih bagi dunia pendidikan agar bisa melakukan mitigasi kebencanaan dan membantu proses pembelajaran saat terjadi bencana.

“Keberadaan internet juga sangat membantu sebagai teknologi pembelajaran jarak jauh saat Covid-19,” Ferdhi Putra, Direktur Ad Interm CRI saat ini.

Pendidikan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) memang menjadi prioritas Pemerintah Indonesia agar generasi muda ke depan memiliki pengetahuan dan keterampilan akan kebencanaan. Sekolah bisa menjadi titik awal untuk meningkatkan kesadaran dan keterampilan hidup bagi siswa yang tinggal di wilayah rawan bencana.

Pengalaman para penyintas, kebijakan pemerintah, infrastruktur kelembagaan terkait kebencanaan, hingga pengetahuan berbasis sains, bisa menjadi materi dan pengetahuan penting bagi anak-anak sekolah. Termasuk merancang pengetahuan mengenai peta kebencanaan dan tingkat risiko bencana di lingkungan sekolah.

Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi menetapkan Penyelenggaraan Program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) pada tahun 2019 bagi jenjang sekolah yang berada di wilayah rawan bencana sebagai bentuk perlindungan kepada peserta didik, guru, tenaga kependidikan, dan masyarakat sekitar sekolah.

Dokumen Rencana Induk Penanggulangan Bencana 2015 – 2045 yang dirilis oleh Bappenas dan BNPB mengatakan tsunami di Indonesia memiliki tingkat risiko sangat tinggi dan tinggi. Jumlah penduduk yang terpapar oleh bencana ini diperkirakan mencapai 5 juta jiwa yang terjadi di wilayah Mentawai, Selat Sunda, Jawa Selatan, Bali, Nusa Tenggara hingga Papua bagian utara.

“Tapi orangtua siswa juga punya keterbatasan pada alat dan akses jaringan internet,” ujar Fitriani, guru SD Negeri 4 Pangandaran. Ia berharap program yang akan dilaksanakan oleh CRI nanti bisa membantu meningkatkan literasi digital dan kebencanaan di Pangandaran. Khususnya bagi guru dan anak-anak sekolah.

Pentingnya Tata Kelola Data Dan Informasi Kebencanaan

26 Desember menjadi momen berharga bagi kita untuk mengingat kembali peristiwa bencana tsunami yang melanda di Aceh. Bencana tsunami yang terjadi pada minggu pagi ini berasal dari sebuah gempa dahsyat berkekuata 9.3 skala richter yang berasal dari laut lepas Samudra Hindia. Bencana alam ini tidak hanya merobek dan menghancurkan pembangunan infrastruktur saja. Tapi juga berdampak besar bagi psikologi kehidupan masyarakat Aceh saat ini. Duka bencana alam ini pun menjadi momen ingatan bersama bagi Indonesia dan warga dunia.

Bentang alam Indonesia memang tak bisa lepas dari kebencanaan. Jajaran gunung berapi aktif, patahan lempeng bumi, serta potensi gempa dan tsunami menjadi bagian yang tidak terpisah dari wilayah kepulauan ini. Untuk itu, peristiwa bencana tsunami dan gempa yang terjadi pada 20 tahun lalu di Aceh, menjadi refleksi penting saat ini dan di masa depan.

Masyarakat Aceh mengenang narasi besar peristiwa gempa dan tsunami Aceh melalui banyak cara. Pembangunan monumen, museum, pendekatan budaya dan agama menjadi jalan sosial pemulihan pascabencana. Memori kolektif ini masih bisa kita temukan pada tempat, benda, peristiwa, dan cerita-cerita di masyarakat. Peristiwa ini menjadi ruang koletif bersama bagi penyintas untuk mengingat, melupakan, sekaligus meningkatkan kesadaran kesiapsiagaan bencana di masa depan.

Bencana alam memang bukan hanya terjadi di Aceh saja. Dalam periode momen ini juga bencana terjadi di wilayah lainnya. Tsunami Pangandaran, gempa di Bantul dan Yogyakarta, meletusnya Gunung Merapi, gempa di Padang dan Mentawai, erupsi Gunung Sinabung, tsunami dan gempa di Palu, gempa Cianjur, hingga peristiwa meletusnya Gunung Lewotobi di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur.

Berbagai peristiwa bencana alam besar ini menjadi fakta bahwa kita hidup dan menjadi bagian dari risiko rawan bencana. Dimensi kebencanaan juga semakin kritis dan diperparah akibat perubahan iklim dan perilaku pembangunan yang massif di berbagai daerah di Indonesia.

Mendirikan memori kebencanaan melalui pendekatan infrastruktur tentu saja tidak cukup sebagai bagian dari membangun kesadaran mitigasi kebencanaan. Terlebih pembangunan ini tidak melibatkan kesadaran kolektif para penyintasnya. Mitigasi kebencanaan juga tidak hanya selesai dengan urusan pembentukan badan kebencanaan hingga ke level desa. Tapi juga merancang, mengolah, dan menjadikan seluruh data dan informasi sebagai kunci penting dalam membangun ekosistem mitigasi kebencanaan. Ibaratnya, data dan informasi ini seharusnya menjadi jantung utama mitigasi kebencanaan.

Combine Resource Institution (CRI) sebagai organisasi sipil di Indonesia mencatat peranan penting tata kelola data dan informasi kebencanaan ini. Keterlibatan CRI khususnya pada pembelajaran peristiwa gempa dan tsunami di Aceh, bencana gempa dan meletusnya Gunung Merapi, dan Gunung Sinabung. Tiga peristiwa besar ini menjadi pembelajaran berharga bagi CRI dalam memetakan penanganan kebencanaan ke depan. Khususnya, bagaimana mengelola penangangan kebencanaan yang melibatkan banyak aktor, komunitas, lembaga sipil, private, dan lembaga pemerintah secara efektif.

CRI berpandangan bahwa keputusan yang tepat bersumber dari ketersediaan data dan informasi yang akurat yang terkelola dengan baik. Mulai dari pengumpulan data di lapangan, pengamatan, penelitian, kebijakan, hingga data-data sektoral lainnya. Berbagai sumber data dan informasi ini harus selalu dikelola secara berkala, aktif, agar bisa menjadi rujukan penting dalam menyusun kebijakan strategis penanganan bencana. Termasuk di dalamnya untuk menyusun peta kebencanaan hingga ke level desa.

Peranan BPBD selaku pemangku kebencanaan daerah memang menjadi ujung tombak dalam penanganan bencana secara formal dalam mengelola data dan informasi ini. Tentu saja dukungan lintas sektoral pemerintahan perlu memperkuat peranan BPBD lebih jauh agar lebih maksimal dan menjadikan tata kelola data dan informasi ini menjadi bagian inti dari kelembagaan BPBD. Peran BPBD bukan hanya menjadi komandan saat penanganan bencana saja. Tapi juga melingkupi peran yang lebih strategis dan vital.

Data dan informasi ini penting sebagai rujukan utama bagi pemerintah untuk menyusun kebijakan yang akurat, tepat, dan strategis. Termasuk mendorong dan menyediakan ruang kolaborasi bagi lembaga non pemerintah untuk terlibat lebih jauh. Baik keterlibatan dari komunitas, organisasi sipil, hingga publik lebih luas. Peta data dan informasi ini menjadi syarat penting dalam membangun ekosistem mitigasi kebencanaan dalam pembangunan yang lebih holistik.

Hingga saat ini CRI berperan dan menekankan pentingnya Sistem Informasi Desa (SID) di berbagai wilayah kabupaten di Indonesia. Khususnya di Kabupaten Gunungkidul, Sleman, dan Buleleng, di Bali Utara. SID tidak hanya sekedar berperan dalam mengolah data di desa tapi juga mencakup isu kebencanaan. Data kebencanaan desa ini menjadi model sekaligus penyedia informasi penting dalam memotret peta kebencanaan lebih luas lagi. Pemodelan ini bisa dikembangkan lebih jauh melalui SIKK atau Informasi Kebencanaan Kabupaten yang lebih terintegrasi melalui aplikasi berbasis internet yang ramah bagi siapapun.

Pengalaman di lapangan, pembelajaran penanganan saat terjadi bencana, komunikasi lintas lembaga, hingga inovasi teknologi tepat guna dan fungsional menjadi model dalam mengembangkan gagasan yang lebih kolaboratif dan terbuka. Aspek lain yang tak kalah penting, adalah memaksimalkan peranan komunikasi sebagai media sekaligus teknologi dalam menyediakan data dan informasi kebencanaan sesuai kultur warga setempat.

Praktik dan pembelajaran penanganan kebencanaan ini pun pernah menjadi rujukan bagi komunitas Meister Toya-Usu Geopark di lereng Gunung Usu dan pemerintahan daerah di Hokkaido, Jepang pada 2015. Tiga perwakilan radio komunitas Jalin Merapi yang berada di lereng Gunung merapi berkesempatan untuk berbagi pengalaman mitigasi kebencanaan melalui pengelolaan radio komunitas.

“Saya pernah ke Indonesia dan belajar dari Indonesia tentang pengurangan resiko bencana, gunung api dan tentang pemetaan kawasan rawan bencana. Apa yang saya pelajari saya terapkan di Jepang dengan membuat sistem pembelajaran dan penyadaran mitigasi bencana. Sistem itu berjalan dengan baik sekali di sini. Indonesia memang sangat maju dan berpengalaman dalam pengelolaan kebencanaan,” jelas Okada, senior Komunitas Meister Toya-usu Geopark menjelaskan.

Gunung Usu pernah erupsi pada tahun 2000 dan mengakibatkan kampung di sekitar gunung rusak dan mengakibatkan tiga orang warganya meninggal dunia. Erupsi Gunung Usu menjadi pembelajaran bagi warga desanya untuk melakukan tindakan mitigasi kebencanaan secara mandiri di tingkat lokal.

Radio komunitas di Indonesia memang masih eksis dan menjadi media penyebar informasi yang efektif bagi satu wilayah. Sekalipun tantangan saat ini menghadapi persoalan sumber daya, persyaratan penyiaran, dan digital. Namun, peranan radio komunitas masih relevan dan tidak bisa tergantikan dengan perkembangan teknologi digital sekalipun. Hingga saat ini, bagi warga Gunung Usu, radio komunitas masih melayani untuk menyediakan hiburan, sarana edukasi, dan informasi kebencanaan.

Jepang tentu saja serius dan disiplin dalam melaksanakan upaya mitigasi kebencanaan di tingkat nasional hingga ke daerah. Mereka menyadari geografi wilayah Jepang tidak bisa lepas dari risiko kebencanaan. Untuk itu, ketersediaan data dan informasi yang akurat, tepat, dan efisien, menjadi bagian penting dalam pembangunan dan budaya keseharian mereka. Pengalaman efektifitas data dan informasi inilah yang menyelamatkan ribuan nyawa mereka ketika terjadi tsunami pada tahun 2011 silam.

Warga Jepang menjadi manusia pembelajar dan menyerap berbagai pengalaman penting dari berbagai negara lain. Termasuk penanganan kebencanaan yang melibatkan inisiasi komunitas di Gunung Merapi melalui Jalin Merapi. Praktik-praktik baik inisiasi komunitas ini sangat berharga untuk kembali dipelajari dan disesuaikan dengan perkembangan saat ini.

Sumber daya, teknologi, komunikasi, dan pengetahuan tentu saja mengalami perubahan besar dibandingkan dua puluh tahun lalu saat terjadi tsunami dan gempa di Aceh. Mitigasi kebencanaan yang kolaboratif, dukungan inisiasi komunitas dan organisasi sipil, hingga membangun tata kelola data dan informasi yang utuh, menjadi agenda utama dalam membangun mitigasi kebencanaan hingga ke level desa.

Agenda di tahun 2025, CRI bersama Pujiono Center juga bergerak untuk memitigasi kebencanaan di wilayah pesisir Jawa Selatan. Mulai dari Tasikmalaya hingga ke Trenggalek dengan fokus pendampingan pada komunitas sekolah melalui pengembangan akses penguatan internet. Jawa Selatan juga masuk dalam peta rawan bencana tinggi. Program ini dirancang untuk merespon ancaman potensi gempa megathrust yang dilansir oleh BMKG.

Mitigasi kebencanaan adalah upaya tanpa lelah untuk membaca alam dan merespon tindakan manusianya dengan tepat. Data dan informasi membantu kita memandu kehidupan lebih baik.

Di penghujung akhir tahun 2024 ini juga menjadi momen untuk membaca kembali linimasa kebencanaan di Indonesia. Sejauhmana kita sudah tepat dan benar dalam melihat penanganan kebencanaan ini. Tidak hanya menyikapi bencana yang disebabkan oleh alam saja. Melainkan oleh perilaku manusianya sendiri yang cenderung desktruktif dan eksploitatif.

Tingkatkan Literasi Digital Dan Mitigasi Kebencanaan Bagi Komunitas Sekolah Dasar Di Pesisir Jawa Selatan

  • Internet Society Foundation (ISOC) telah bekerja di enam negara untuk mempromosikan kesempatan pendidikan dan ekonomi melalui peningkatan pengetahuan dan keterampilan internet melalui program SCILLS di 6 negara termasuk Indonesia.
  • Program ini bertujuan untuk memberikan kontribusi bagi ekonomi yang lebih inklusif dan meningkatkan kesempatan pendidikan bagi setiap individu maupun komunitas agar lebih lebih terampil dan mampu menggunakan teknologi internet.
  • Pelaksanaan di Indonesia akan berlangsung di Kabupaten Trenggalek, Pacitan, Gunungkidul, Kulonprogo, Kebumen, Cilacap, Pangandaran, dan Tasikmalaya dengan fokus pendidikan literasi digital dan mitigasi kebencanaan di 36 Sekolah Dasar, dengan penerima manfaat kepada 108 guru, 720 siswa, dan 360 orang tua.

Combine Resource Institution atau CRI melaksanakan program Peningkatan Jaringan Internet Sekolah & Keamanan Pelatihan Internet Bagi Guru, Orangtua, dan Murid di Wilayah Rawan Bencana Pesisir Jawa selama dua tahun ke depan. Program ini didukung oleh Internet Society Foundation yang telah bekerja di enam negara untuk mempromosikan kesempatan pendidikan dan ekonomi melalui peningkatan pengetahuan dan keterampilan teknologi internet.

Melalui program SCILLS (Strengthening Communities, Improving Lives and Livelihoods), program ini telah melibatkan berbagai komunitas di Bangladesh, Brazil, Colombia, Ghana, Senegal dan Indonesia. Dengan fokus pendampingan pendidikan literasi digital bagi perempuan, anak muda, guru, orangtua, maupun kelompok marjinal untuk mendapatkan dukungan pengajaran dan pendidikan melalui teknologi informasi dan komunikasi di kelas yang lebih inkusif.

“Melalui pelatihan literasi digital yang lebih adaptif, praktik keamanan internet, dan kerjasama melalui pengembangan ekonomi berbasis komunitas, projek ini membantu setiap individu meningkatkan keterampilan dalam ekonomi digital saat ini,” ujar Jenn Beard, Senior Program Internet Society Foundation dalam situs www.isocfoundation.org.

Di tahun 2023, program ini telah berhasil mendampingi 9.250 siswa melalui berbagai pelatihan keterampilan dan pendidikan digital. Termasuk memberikan pelatihan internet bagi 6.612 anak muda untuk mendapatkan kesempatan ekonomi yang lebih baik.

Bantuan dana program SCILLS bertujuan untuk memberikan kontribusi bagi ekonomi yang lebih inklusif dan meningkatkan kesempatan pendidikan bagi setiap individu maupun komunitas agar lebih lebih terampil dan mampu menggunakan internet. Ke depan, program ini juga akan menjadi kunci dalam mendukung proses transformasi digital.

Pendidikan Literasi Digital Dan Mitigasi Kebencanaan Bagi Siswa SD

Di Indonesia, program pelaksanaan SCILLS ini akan berlangsung di pesisir Jawa Selatan yang akan dilaksanakan di wilayah 8 kabupaten di Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah dan Jawa Barat. Mulai dari Trenggalek, Pacitan, Gunungkidul, Kulonprogo, Kebumen, Cilacap, Pangandaran, dan Tasikmalaya. Wilayah yang berhadapan dengan laut lepas dan berisiko rawan bencana seperti yang dilansir oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) saat ini.

CRI bekerjasama dan bermitra dengan Pujiono Centre yang berpengalaman dalam memberikan manajemen dan riset kebencanaan serta adaptasi perubahan iklim untuk turut memberikan pembekalan dan pendidikan mitigasi risiko bencana bagi siswa-siswi SD kelas empat dan lima, guru, dan orangtua murid. Fokus pelatihan pendidikan internet dan mitigasi bencana ini akan melibatkan empat hingga enam sekolah di setiap wilayah.

“Basis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) ini juga harus inklusif, kebermanfaatannya tidak hanya dirasakan bagi yang melek internet saja, tapi juga bagi kelompok rentan di sekitar sekolah,” ujar Elanto Wijoyono, Direktur CRI.

Target sekolah yang terlibat dalam program ini sebanyak 36 sekolah. Di mana setiap sekolah melibatkan 12 guru, 20 siswa, dan 10 orangtua. Total seluruh penerima manfaat sebanyak 720 murid, 108 guru dan 360 orangtua yang terlatih selama program berlangsung.

CRI urun tangan dalam berbagai kebencanaan yang terjadi di Indonesia sejak 2005 hingga saat ini melalui pendekatan TIK. Konektivitas komunikasi dalam kebencanaan menjadi salah satu kunci dalam keberhasilan mitigasi kebencanaan.

Pemanfaatan TIK dan mitigasi kebencanaan juga menekankan berbagai pelatihan dan pengetahuan kepada guru untuk kemudian bisa mendorong kesadaran bagi siswa, orangtua, dan warga sekitar sekolah. Pendampingan di sekolah juga dilakukan oleh Pujiono Centre untuk memberikan modul mengenai mitigasi kebencanaan dan penanganan psikologi.

Saat ini proses assesment sedang berlangsung di 8 wilayah kabupaten dengan mengumpulkan berbagai data dan wawancara kepada pemangku kepentingan, seperti Badan Penanggulangan Bencana Daerah, Dinas Pendidikan, Dinas Komunikasi dan Informatika, serta sekolah yang menjadi fokus pendampingan CRI dan Pujiono Center.