Consistency and innovation are two keywords to progress for every organization, no matter it is profit-oriented or not. The challenge is how to smoothly combine. Consistency tends to be internal matter, demanding the organization to be faithful with the values and ideals it believes in and fights for. Meanwhile, innovation rests more on attention and sensitivity to read any situation and then to creatively think for solution.
Combine Resource Institution (CRI) always tries to keep such balance. Several ideas of programs resulted from this effort receive positive responses in the form of support for implementation. The year of 2014 was the beginning of testing whether the programs have reflected the consistency and innovation of the organization that meets the power and needs of communities, the main actor of every CRI’s program.
There are not many non-government organizations that can survive more than 10 years. In the age of 14 years old as puberty in human’s cycle of life, its existence is constantly questioned. Has it accomplished its vision and missions? Is its existence still needed? What should it do next? Those are examples of questions that keep coming up. So, it is common that CRI’s journey during 2014 was so colorful with experiences directly related to both technical and ethical implementations of programs. This is a book of journey reflection that can gives such illustration of the “colorful” word.
The colors are expected to bring changes and freshness for achieving consistency and innovation. Quoting Lao Tzu, a Chinese philosopher, the journey of a thousand miles begins with one step. The journey of CRI still keeps going on. As the previous years, in every first step and all of the steps afterward CRI needs friends for sharing, inspiring, reminding, strengthening one another so that the mutual vision can be accomplished. And who are they? You are.
Konsistensi dan inovasi. Dua kata kunci menuju kemajuan sebuah organisasi, baik berorientasi profit maupun tidak. Tantangannya adalah, tidak mudah memadukannya. Konsistensi cenderung bersifat internal, bertekun pada nilai dan cita-cita yang diyakini dan diperjuangkan. Sedangkan inovasi lebih bertumpu pada kejelian dan kepekaan membaca situasi dan kemudian berpikir solutif dan kreatif.
Keseimbangan inilah yang berusaha dijaga oleh Combine Resource Institution (CRI). Beberapa gagasan program yang kemudian dihasilkan dari upaya ini, mendapat respon positif berupa dukungan untuk mengimplementasikannya. Dan 2014 men jadi awal pengujian apakah program tersebut mencerminkan konsistensi dan inovasi lembaga yang bertemu dengan kekuatan dan kebutuhan komunitas, tokoh utama dalam tiap program CRI.
Tidak banyak lembaga nonpemerintah, kerap juga disebut swadaya masyarakat, yang bertahan hingga lebih dari 10 tahun. Di usia yang menginjak empat belas tahun, sebagaimana usia puber di siklus hidup manusia, maka pertanyaan menyangkut eksistensi banyak mengemuka. Sudahkah visi misi tercapai, masihkah dibutuhkan kehadirannya, mau apa lagi berikutnya adalah contoh pertanyaan yang terus menghiasi perjalanan CRI di 2014, baik yang terkait langsung dengan implementasi program secara teknis maupun yang bersifat filosofis dan strategis. Catatan reflektif perjalanan di buku ini akan dapat memberi gambaran besar tentang hal itu.
Warna-warni itu diharapkan membawa perubahan dan kesegaran, untuk mencapai konsistensi dan inovasi. The journey of a thousand miles begins with one step, begitu kata Lao Tzu filsuf Tiongkok. Perjalanan CRI terus berlanjut. Dan seperti bertahun sebelumnya, sejak langkah pertamanya di awal tahun yang baru lembaga ini membutuhkan teman untuk saling berbagi, menginspirasi, mengingatkan, menguatkan untuk mewu judkan visi yang diyakini bersama. Teman itu adalah Anda.
Tenun telah menjadi bagian tak terpisahkan dalam tradisi masyarakat Sumba, Nusa Tenggara Timur. Tradisi warisan leluhur ini masih lestari dalam keseharian warga di sana. Hingga saat ini, kain tenun masih banyak dipakai baik oleh laki-laki maupun perempuan.
Menjadi kain khas Pulau Sumba yang telah dikenal dunia, tak menjadikan usaha kerajinan tenun ini jauh dari tantangan. Justru, tantangan yang dihadapi sangatlah beragam. Selain peran dan fungsi dari struktur organisasi yang belum optimal, tantangan lainnya adalah belum terbangunnya ruang belajar untuk eksplorasi ide serta gagasan terkait desain kreatif motif tenun komunitas. Akses informasi dan mekanisme pola pemasaran untuk menjangkau pasar di luar wilayah Kecamatan Kodi juga masih belum maksimal. Padahal, perluasan pemasaran membutuhkan pengetahuan dan informasi perajin sebagai pelaku usaha. Lagi-lagi, kebutuhan tersebut masih menjadi tantangan tersendiri bagi komunitas-komunitas perajin tenun di sana.
Menjembatani tantangan dan kebutuhan komunitas di atas, Combine Resource Institution berkolaborasi dengan Yayasan Sosial Donders mengadakan pelatihan Manajemen Organisasi, Strategi Pemasaran Produk Komunitas dan Pengenalan Media Komunitas untuk Penguatan Ekonomi Mikro, (25-26/6/2015). Bertempat di Uma Pege atau Rumah Pintar di Desa Kandahu Tana, Kecamatan Kodi Utara, Kabupaten Sumba Barat Daya, NTT, pelatihan ini diikuti 18 peserta dari dua komunitas perajin tenun, yakni Ice Ndaha dari Desa Kandahu Tana dan Kalena Rongo dan komunitas tenun Kandaba Mopir dari Desa Homba Karipit. Mayoritas peserta pelatihan adalah perempuan, karena memang perempuan banyak terlibat dalam produksi kerajinan kain tenun untuk menunjang ekonomi keluarganya.
Untuk menjawab tantangan yang sedang dihadapi komunitas, peserta dalam pelatihan ini pun diajak merumuskan kembali tujuan komunitas, mengidentifikasi masalah dan mencari solusi atas masalah-masalah tersebut. Pelatihan tersebut menghasilkan kesepakatan peserta untuk meningkatkan peran dan fungsi komunitas serta pengelolaan keuangan komunitas.
“Kami sadar, kekompakan memang hal yang masih sulit kami lakukan. Namun, kami sepakat bahwa agar kelompok tidak bubar, kami harus kompak dan jujur terutama soal anggaran keuangan,” aku Amel, (25/6).
Pelatihan Manajemen Organisasi dan Strategi Pemasaran Produk Komunitas untuk Penguatan Ekonomi Perajin Tenun Sumba, (25/6).
Tak sekedar membahas manajemen organisasi, pelatihan ini juga mengajak peserta untuk mengeksplorasi kreativitas dari potensi lokal sebagai salah satu strategi pemasaran produk komunitas. Para peserta menyadari, eksplorasi itu dapat memberi nilai tambah pada hasil tenunan mereka, baik terkait pemilihan warna, motif dan detail tenun, maupun pemilihan bahan bakunya. Pengayaan motif tenun salah satunya bisa dilakukan dengan menggali simbol-simbol religi Marapu serta cerita lisan (folklore) tentang kearifan lokal Kodi. Mereka pun sepakat untuk mengoptimalkan peran kelompok sebagai ruang belajar untuk meningkatkan kreasi dan keterampilan anggotanya melalui forum bulanan.
“Tenun akan semakin menarik kalau kita bisa berkreasi dengan motif dan warna. Selama ini, produk kami memang masih belum mampu menampung cerita-cerita lokal di Kodi. Kami harap, pertemuan ini bisa menjadi ruang belajar bagi kami untuk saling berbagi pengalaman dan pengetahuan,” ungkap Kristina, salah satu peserta dari kelompok tenun Ice Ndaha, (26/6).
Motif tenun yang kaya tentunya akan menunjang ketertarikan pasar yang lebih luas. Pemanfaatan jaringan dan media sebagai bagian dari promosi sangat penting untuk meluaskan pemasaran. Memimpin diskusi dalam pelatihan tersebut, Andrew Dananjaya dari CRI menjelaskan, komunitas bisa memaksimalkan sinergi kerja pemasaran dengan memanfaatkan jaringan media online.
“Jaringan dan media online bisa menjadi bagian promosi lintas batas untuk meningkatkan peluang penjualan produk tenun para perajin. Sinergi kerja pemasaran bisa dimaksimalkan dengan memanfaatkan jaringan media online semisal facebook atau instagram,” jelas Andrew Dananjaya, (26/6).
Selain mengenalkan jaringan media online, dalam pelatihan ini, peserta juga dikenalkan pada ragam media lainnya seperti media visual, audio, audio-visual, realitas, dan multimedia. Papan informasi pun dibuat sebagai media visual untuk menguatkan alur penyebaran informasi dan pengetahuan komunitas. Pembuatan papan informasi ini dilakukan melalui simulasi penggalian kebutuhan informasi dan informasi apa saja yang bisa dibagikan oleh dan untuk sesama anggota komunitas.
Papan informasi sebagai media untuk menguatkan alur penyebaran informasi dan pengetahuan komunitas perajin tenun di Uma Pege.
“Papan informasi ini dapat dijadikan media pemberitahuan serta laporan hasil pertemuan semisal agenda dan laporan keuangan bagi anggota yang tidak bisa hadir dalam forum. Selain itu, papan informasi ini juga bisa menjadi media informasi umum terkait dengan kebutuhan warga seperti kebijakan desa, kesehatan, pendidikan, dan lain-lain,” papar Apriliana Sasanti selaku fasilitator dari CRI.
Materi yang disampaikan melalui diskusi, permainan menyenangkan dan simulasi membuat peserta antusias mengikuti pelatihan ini. Untuk mengenalkan media audio dan media realitas misalnya, peserta juga diajak untuk memainkan alat musik petik tradisional Dungga dan menari serta menyanyi tarian Dungga dengan iringan alat musik tersebut. Peserta mengaku, sebagai sebuah komunitas, mereka menjadi lebih kompak. Memang prinsip kedekatan, empati, dan interaksi itulah yang menjadi pokok dasar penguatan pengelolaan media komunitas ini.
Bahasan tentang desa yang berdikari, swakelola, mandiri atau apapunnamanya sudah sangat sering kita dengar. Itu ada di beragam artikel, jurnal, seminar, diskusi, simposium, lokakarya, program, proyek dan sebagainya selama bertahun-tahun. Namun merealisasikannya bukanlah hal mudah.
Nyatanya hingga kini topik itu masih sering dibahas dan di sisi lain ribuan desa masih dikategorikan belum mandiri. Desa, termasuk dusun, adalah komunitas dengan kesamaan geografis administratif. Masing-masing memiliki karakter unik juga potensi. Memang dalam Undang-Undang Desa, pengakuan terhadap hak asal-usul desa menjadi semangat yang melandasi penghargaan terhadap inisiatif dan keunikan karakter desa. Namun ini baru sekedar barisan teks yang masih rawan dipelesetkan menjadi keseragaman lagi, bila yang ditimbang adalah percepatan penyerapan anggaran misalnya.
Bicara tentang Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) misalnya, akan seperti bicara tentang makhluk planet asing bila dilakukan di depan komunitas ibu-ibu penenun di Desa Kandahu Tana, Kecamatan Kodi Utara, Sumba Barat Daya. Apalagi bila mencoba menerangkan tentang promosi digital melalui laman desa atau media sosial. Namun sebaliknya, mereka yang sekedar mendorong penggunaan media digital untuk mendorong tingkat penjualan atau penghasilan, akan kehilangan kekayaan pengetahuan lintasjaman akan motif dalam tenunan para ibu tersebut.
Butuh proses, keseriusan, dan pendampingan oleh pemerintah maupun pihak yang peduli tanpa dibatasi jam kerja. Sekali konsep yang termuat dalam regulasi dipaksakan pada masyarakat desa, maka habislah kisah tentang kebijaksanaan lokal (local wisdom) yang selama ini justru dibanggakan sebagai kekayaan Indonesia.
Desa Dlingo di Bantul dan Dusun Barepan di Borobudur sudah membuktikan, warga memiliki daya lentur dan kemampuan adaptasi tinggi. Mereka berhasil merintis pencapaian menuju kata “berdaya”, dengan bersandar pada inisiatif dan kapasitas warga. Mereka mulai mengelola informasi dengan caranya masing-masing, namun tetap dengan tujuan membuka mata dunia luar pada keberadaan desa/dusunnya.
Prinsip transparansi dan partisipasi terhadap proses pembangunan desa yang diidamkan semua pihak pun, sedikit demi sedikit dapat mulai didorong melalui rintisan pengelolaan informasi tersebut. Sekali lagi, tidak bisa instan apalagi dengan menafikan kapasitas, karakter, keunikan dan kultur masing-masing desa. Tidak bisa juga bila sekedar dibahas dalam rapat-rapat, diputuskan di atas meja dan digaungkan di mimbar-mimbar politik tanpa kepekaan, pemahaman dan empati yang tulus.
Tahun 2015 ini, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah telah menggelar Bimbingan Teknis (bimtek) Sistem Informasi Desa (SID) di beberapa kecamatannya secara mandiri. Bimtek SID yang dilaksanakan Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Kabupaten Temanggung ini bertujuan untuk melatih para administrator SID dalam mengoperasikan aplikasi SID versi terbaru yakni SID 3.04.
Hingga pertengahan tahun ini, kecamatan-kecamatan yang mendapatkan bimtek SID antara lain Kecamatan Temanggung, Selopampang, Parakan, Bansari, Bulu, dan Gemawang. Rencananya, bimtek ini juga akan dilakukan untuk 120 desa se-Kabupaten Temanggung yang telah menerapkan SID.
Laman resmi Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Kabupaten Temanggung menyebutkan, bimtek SID ini sebagai tindak lanjut dari pengembangan SID yang telah diterapkan di 120 desa se-Kabupaten Temanggung. Pelatihan yang dilakukan selama 2 hari di tiap kecamatan ini merupakan upaya untuk meningkatkan pemahaman petugas di tingkat desa tentang fungsi dan tujuan website desa. Harapannya, petugas yang mengelola SID desa dapat melayani masyarakat lebih baik dalam pelayanan surat- menyurat. Pelayanan seperti mencetak surat permohonan dan surat keterangan lainnya dapat dilakukan secara online karena di dalam struktur website SID telah mencakup seluruh database penduduk.
“Bimbingan aplikasi ini supaya petugas administrator dapat mengupdate data dengan mudah seperti data identitas website desa, agenda kegiatan, artikel, profil desa, data wilayah, data dokumentasi kegiatan desa, potensi desa, anggaran desa, program kerja desa, mencetak surat keterangan dan lain-lain,” demikian penjelasan laman resmi Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Kabupaten Temanggung, (seperti diakses 11 Juni 2015). Sumber: http://dishubkominfo.temanggungkab.go.id
Sebanyak 15 peserta dari 7 desa, Bappeda dan BITRA Indonesia di Sumatera Utara belajar pemanfaatan Sistem Informasi Desa (SID) di lereng Gunung Merapi, tepatnya di desa Balerante, Klaten, (4/6). Kelima belas peserta dari Kabupaten Serdang Bedagai dan Kota Tebing Tinggi itu antusias mengikuti penjelasan SID yang akan diterapkan di desa mereka.
“Kami akui, data di desa kami tidak akurat. Kami menyambut baik dengan adanya SID di desa kami. Saya khususnya ingin tahu bagaimana tata cara pembukuan, administrasi desa, surat-menyurat dengan memanfaatkan SID,” aku Bahrum Akbar Siregar, Sekretaris Desa Pekan Tanjung Beringin, Kabupaten Serdang Bedagai.
Penerapan SID di Sumatera Utara rencananya akan dilakukan tahun 2015 ini. Ketujuh desa peserta tersebut akan menjadi pilot project penerapan SID di Sumatera Utara. Ketujuhnya memiliki karakteristik geografis yang beragam. Desa Pekan Tanjung Beringin, Desa Besar II Terjun dan Desa Durian mewakili desa pesisir, sementara dari dataran tinggi diwakili Desa Tanjung Harap. Desa Bingkat, Sei Sijenggi, dan Serbajadi mewakili desa dengan karakteristik lokasi tanah datar menjadi peserta kunjungan belajar yang diinisiasi BITRA bekerjasama dengan CRI.
“Kami ingin belajar bagaimana sistem informasi data bisa menyajikan data yang akurat dan up to date (aktual-red). SID bisa jadi salah satu cara untuk mengembangkan sistem informasi data itu agar menjadi lebih baik lagi,” kata Taufik Saleh, Kepala Sub Bidang Sosial dan Budaya Bappeda Serdang Bedagai, Sumatera Utara.
Kepala Urusan Umum Desa Balerante, Jainu, menyambut baik kunjungan belajar para peserta tersebut. “Dari kunjungan ini semoga kita dapat saling bertukar informasi dan pengalaman untuk pengembangan desa masing-masing,” katanya.
Bertolak dari balai desa Balerante, rombongan menuju Gondang, dusun yang terletak 6 KM dari puncak Merapi. Di dusun tersebut, peserta mengunjungi workshop pembinaan batik Merapi Balerante.
Peserta belajar membatik motif Merapi Balerante di Desa Balerante, Klaten.