COMBINE Gelar Rapat Kerja 2011

COMBINE Resource Institution (CRI) saat ini telah memasuki tahun ke-10. Dari waktu ke waktu selalu mencoba untuk menyesuaikan diri dengan perubahan situasi internal maupun eksternal lembaga.

Struktur organisasi CRI pun mengalami pembenahan, dengan formasi empat unit; Unit Pelaksana Program, Unit Pendukung Program, Unit Strategis, dan Unit Sekretariat. Masing-masing bagian dalam tubuh organisasi CRI bersifat saling tergantung (interdependent). Masing-masing unit telah menyusun rencana program. Namun rencana masing-masing unit perlu dirumuskan menjadi program bersama yang bersifat utuh. Program yang telah direncanakan akan berjalan dengan baik jika didukung oleh manajemen organisasi yang memadai.

Untuk mewujudkan poin-poin diatas, maka pada tanggal 22-23 Februari CRI mengadakan rapat kerja periode 2011 di Hotel Brongto, Jl. Suryadiningrat, Yogyakarta. Hadir dalam rapat ini Delima Kiswanti sebagai salah satu board CRI, Didi Sugandi sebagai pendiri CRI, dan Dodo Juliman sebagai pendiri sekaligus Direktur CRI.

Dodo Juliman menegaskan bahwa COMBINE Resource Institution harus mampu menghadapi perubahan yang begitu cepat terjadi di negara maupun dunia. Bahwa saat ini masyarakat dunia semakin menjadi masyarakat informasi (in the making of information society) sehingga lembaga perlu mengeksplorasi model pengembangan masyarakat jejaring yang mampu memecahkan berbagai persoalan yang kini sedang dihadapi oleh masyarakat.  Sebagai contoh bagaimana masyarakat jejaring juga dapat menciptakan ekonomi jejaring yang lebih adil.

Secara singkat digariskan bahwa seluruh platform program COMBINE mengacu pada tujuan besar tertentu. Pasar Komunitas bertujuan untuk kesejahteraan rakyat, Suara Komunitas untuk mendorong kebebasan dalam menyampaikan pendapat, TIKUS DARAT yang fokus pada sistem informasi dan komunikasi kebencanaan memiliki tujuan keselamatan, dan Lumbung Komunitas mendorong terjadinya kemandirian pada program. Inilah 4 khaidah yang akan dijalankan oleh CRI melalui program-programnya. Berdasarkan program inilah maka implementator program menerjemahkannya dalam sebuah rancangan kerja di tahun 2011.

Adapun hal yang baru pada strategi lembaga di tahun 2011 ialah mulai dikembangkannya unit strategis. Unit ini akan melakukan riset, pengembangan model di satu wilayah, serta bekerjasama dengan pemerintah terkait untuk melakukan ujicoba model yang nantinya bisa diterapkan atau menjadi kebijakan yang mampu  memberikan solusi pada masyarakat. Di tahun 2011, COMBINE juga ingin mengembangkan strategi jaringan dan komunikasi yang lebih tertata. Dengan adanya penguatan visi, penajaman rancangan kerja, maka diharapkan tim COMBINE dapat lebih berperan dalam kehidupan masyarakat. ***

Refleksi Jaringan Suara Komunitas di Nusa Tenggara barat

Dinamika situs www.suarakomunitas.net  salah satunya di warnai oleh kehadiran berbagai tulisan yang di kontribusikan oleh anggota-anggota yang ada  di wilayah NTB. Di satu sisi ada kontributor yang berperan begitu aktif dalam mengunggah materi tulisan. Sementara di sisi lain ada yang sangat pasif. Suara Komunitas merasa perlu untuk mengadakan sebuah pertemuan untuk mengidentifikasi hambatan dan tantangan yang dirasakan oleh jaringan kontributor di NTB.

Pertemuan ini  dilaksanakan pada tanggal 4-6 Februari di Balai Pelatihan MTS Model Lombok Timur, tepatnya di jalan Pancor-Masbagik, Dusun Gelang, Kecamatan Sukamulia- Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Lokasi ini berjarak sekitar 56 km kearah timur dari Kota Mataram  Ibukota Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Ada 28 radio komunitas yang diundang, dari total 32 rakom anggota JRK-NTB.  Mereka adalah radio komunitas yang masih aktif melayani komunitasnya. Dari 28 rakom yang diundang, 21 radio komunitas mengirimkan perwakilannya dan selebihnya berhalangan hadir karena terkendala cuaca. Radio komunitas yang hadir yaitu: Ninanta, BKL, Priss, Kompak, Gelora, Spentura, Mitra, Rujakngalun, Talenta, Ampera, SGS, Rakola, Forest, Simponi, Bragi, Pesona, Pantura, SGM, Primadona, dan Melodys.

Pada hari pertama fasilitator mempresentasikan statistik tulisan dari kontributor SK yang ada di wilayah NTB dimana per 31 Januari 2011 terdapat tiga rakom yang memiliki grafik pengunggahan  tulisan yang cukup signifikan yakni:

Gita Swara FM sebanyak 139 tulisan
Bragi FM sebanyak 63 tulisan dan
Talenta FM sebanyak 60 tulisan serta

Adapun grafik yang paling tinggi adalah Primadona FM yang telah mengunggah 488 tulisan. Berangkat dari interval capaian produksi tulisan yang sangat lebar tersebut,  maka fasilitator menggali pengalaman dari radio komunitas yang produktif untuk membagi pengalamannya.

Belajar  dari Radio Komunitas Primadona
Melalui sharing pengalaman tersebut terungkap bahwa kunci keberhasilan Radio Komunitas Primadona   dalam mengangkat berita-berita lokal adalah strategi Primadona dalam menjaring kontributor dari berbagai kalangan, mulai dari tokoh masyarakat, tokoh pemuda, kalangan pemerintah, guru, yang ada di kecamatan Bayan.  Dan pada tahun 2009 terhimpun 35 orang tokoh yang kemudian di ajak berdiskusi tentang berbagai kesenjangan yang ada di tengah masyarakat akibat tersumbatnya arus infotrmasi. sehingga diperoleh kesepakatan bahwa 35 orang tokoh tersebut harus dibekali pengetahuan jurnalistik untuk menghimpun informasi yang berkembang ditengah masyarakat.

Langkah selanjutnya, secara swadaya  dilakukan pelatihan jurnalistik bagi 35 orang tersebut  yang difasilitasi oleh teman-teman dari  JRK-NTB. Dengan penghargaan sertifikat jurnalistik dasar. Setelah memiliki pemahaman yang cukup, ke-35 orang tersebut menjadi simpul informasi (Informan) bagi Rakom Primadona. Informasi dari informan ke Rakom Primadona disampaikan via surat, SMS dan telpon. Informasi tersebut kemudian di edit oleh Radio Komunitas Primadona  dan diunggah ke Web Suarakomunitas, koran Berita, Radar Lombok, Suara NTB dan Acara Lintas Selabar di Rakom Primadona.

Disamping itu pendekatan emosional kepada masyarakat sekitar terus dilakukan, dengan cara  setiap berita yang termuat di Web, Radio dan Koran  dipublikasikan melalui Buletin Rakom yang disebarkan ke setiap simpul informasi/informan serta di pajang di papan informasi PNPM.  Hal ini berdampak pada meningkatnya kepercayaan masyarakat kepada radio komunitas. Terlebih lagi, berita yang dimuat memiliki dampak positif bagi subyek yang diberitakan.

Contoh kasus :
Merebaknya polemik seputar pemangku adat Kecamatan Bayan yang dimuat di berberapa media cetak lokal namun tidak dibarengi dengan pemuatan hak jawab dari salah satu pihak yang berpolemik. Kemudian Web Suara Komunitas memuat hak jawab yang bersangkutan sehngga permasalahan tersebut menjadi jernih dan dapat diterima semua pihak.

Kasus  tersebut adalah salah satu dari berbagai kasus dilapangan yang secara langsung atau tidak langsung berkaitan dengan hajat hidup khalayak/publik, seperti: Kasus ketidak terbukaan Dishubparkominfo dalam mengelola Web Resmi Kabupaten Lombok Utara,  Kasus pernyataan salah seorang anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang terkesan mendiskreditkan radio komunitas,   Kasus penyimpangan PNPM Mandiri, Kasus perubahan besaran dana PNPM GS loloan, dan lain-lain. Seluruh kasus ini direspons sehingga memperoleh solusi yang menguntungkan masyarakat.

Dari kasus tersebut terlihat bagaimana rakom/kontributor memerankan diri tidak saja berperan sebagai  hiburan dan penyalur informasi namun sekaligus menjadi media pendidikan dan  resolusi konflik bagi semua pihak. Dengan demikian kran-kran informasi yang selama ini tersumbat dan berdampak pada kerawanan sosial dapat dihindarkan.

Dengan adanya berbagai kontributor di wilayahnya, maka peran radio komunitas sebagai salah satu media  yang mendorong terjadinya resolusi konflik semakin kuat. Di titin ini, khalayak semakin percaya kepada keberadaan radio komunitas, dan pengelola sendiri semakin terasah kepekaan sosialnya serta terasah keterampilannya dalam mengelola informasi dan komunikasi.

Disisi lain pelajaran  yang dapat dipetik dari dinamika di lapangan adalah betapa pentingnya legalitas bagi kontributor, berupa surat tugas dan kartu pengenal. Hal ini disebabkan identitas mereka masih sering dipertanyakan oleh narasumber, terutama dari kalangan birokrasi.

Hal ini berdampak pada keakuratan, keberimbangan dan aktualitas isi berita, sehingga kontributor menunda pengunggahan tulisannya ke situs suara komunitas.

Contoh kasus:
Kontributor/Jurnalis Rakom Pantura FM dan Suara Genem Meenrten FM, keduanya berprofesi sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) pada saat mereeka mengkonfirmasi materi berita kepada narasumber yang ada  di kalangan birokrasi bahkan seara kebetulan pada instansi dimana mereka berdua bertugas, maka terjadi hambatan emosinal ketika legalitas mereka sebagai jurnalis di ragukan.

Berdasarkan pengalaman para jurnalis warga Suara Komunitas  di wilayah Lombok,  kita dapat memetik pelajaran bahwa dibutuhkan berbagai mediu agar sebuah berita memiliki dampak bagi masyarakatnya. Kemudian pengorganisasian simpul informasi sangat penting untuk menjangkau wilayah kecamatan yang begitu luas, serta memperoleh informasi terbaru. Tidak mudah memang. Namun para jurnalis warga SK telah berjuang untuk masyarakatnya.Salut! *** (Sarwono)

COMBINE Hadiri Jambore JRK Jawa Barat

Jambore Jaringan Radio Komunitas (JRK) Jawa Barat diselenggarakan pada 3-6 Februari 2011 di Radio Komunitas Ruyuk FM, Cinunjang, Mandala Mekar, Jatiwaras, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Jambore JRK Jawa Barat diikuti oleh 21 radio komunitas. Kegiatan ini juga dihadiri oleh sejumlah peninjau seperti VHR, COMBINE Resource Institution, Walhi, Jarik Cirebon, dan JRKI.
Mandala Mekar terletak di pegunungan bagian selatan Kota Tasikmalaya. Untuk menjangkau daerah ini, Anda harus menyusuri jalanan berbatu dan mendaki. Akibat kondisi jalan yang rusak dan naik-turun maka waktu tempuhnya bisa mencapai 3-4 jam dari Tasik.

Keberangkatan Peserta
Peserta bertemu di Terminal Tipe A Tasikmalaya pukul 13.00. Sebagian besar peserta datang dengan angkutan umum Bandung-Tasik, lainnya ada yang dari Cirebon, Yogyakarta, Garut, dengan kendaraan sendiri atau angkutan umum. Di Terminal Tasikmalaya, ada panitia yang menyiapkan dua angkutan Isuzu Elf yang membawa peserta ke lokasi Jambore.

Setengah jam perjalanan, peserta mampir di sebuah rumah makan. Hujan turun sedikit lebat sehingga peserta harus memakai jaket karena udara mulai menusuk kulit. Sajian makannya adalah ayam goreng dan bakar. Rasanya istimewa karena ayam yang dimasak adalah ayam kampung. Antar peserta saling berkenalan dan berbagi pengalaman mengenai pengelolaan radionya. Makan siang ini menjadi pemanasan untuk diskusi selanjutnya di Jambore.

Satu jam berlalu, peserta meneruskan perjalanan. Jalanan mulai naik turun menyusuri lekuk pegunungan Tasikmalaya yang menghijau. Setelah satu jam perjalanan, rombongan memasuki daerah Kecamatan Jatiwaras. Daerah ini  terletak di sebelah selatan kota Tasik.

Pembukaan Jambore
Pembukaan Jambore sangat sederhana. Kru Ruyuk FM menampilkan seni tradisional Cianjuran. Seni Cianjuran merupakan gabungan seni musik dan suara khas sunda. Alat musik yang dimainkan terdiri dari rincik, kecapi, dan seruling. Seluruh lagu yang nyanyikan berbahasa sunda, ada lagu rakyat ada juga lagu ciptaan sendiri. Pentas seni ini bisa dinikmati oleh seluruh warga karena disiarkan secara langsung melalui Ruyuk FM di frekwensi 107.8.

Irman Meilandi, pegiat Ruyuk FM mengatakan radionya menaruh perhatian besar pada komunikasi pembangunan dan pelestarian budaya Sunda. Hal itu terlihat dari komposisi program siaran Ruyuk yang menggabungkan pengelolaan informasi desa, ajang saling sapa, dan hiburan khas sunda. “Radio ini meraih dukungan masyarakat karena mendorong program pembangunan desa. Ada pelestarian budaya, ada juga informasi kegiatan warga desa,” ujarnya.

Peserta Menyatu dengan Penduduk

Penyelenggaraan Jambore JRK 2011 sangat unik. Lebih dari 60 peserta jambore tinggal di rumah-rumah penduduk, lalu sajian yang dihidangkan berasal dari makanan khas Desa Mandala Mekar, seperti ampyang, kembang goyang, kripik ketela, dan pisang.

“Semua keperluan jambore disediakan oleh para pendengar radionya, ada yang menyumbang beras, ikan, bumbu masak, makanan ringan, dan buah-buahan,” jelas Irman.

Hal itu dikuatkan oleh Ayat, penyiar Ruyuk FM. Radio mendorong pemanfaatan tanah desa menjadi hutan desa. Kerja keras Ruyuk tidak sia-sia. Mandala Mekar mendapat Juara II Hutan Lestari tingkat provinsi Jawa Barat dan mendapatkan penghargaan dari Pemerintah Amerika Serikat. Akibatnya, banyak warga dari daerah lain berkunjung dan berlatih di daerah ini.

“Kita senang bisa berbagi pengalaman. Warga papua sering berlatih pertanian di sini, mereka belajar mencangkul dan bercocok tanam selama tiga bulan,” jelas Ayat.

Para peserta jambore mengaku senang dengan cara penyelenggaraan Jambore 2011. Dini Gusmayanti , utusan dari Purwakarta kagum dengan prestasi Ruyuk FM dalam meraih dukungan warga. “Tadi, saya makan sayur jantung pisang dan pakis. Enak banget. Gak ada makanan seperti ini di rumah makan,” ujarnya.

Hal serupa disampaikan oleh Akhmad Rovahan, Ketua Jarik Cirebon. Menurutnya, Ruyuk FM bisa menjadi model radio komunitas yang baik. Ruyuk mampu mendorong warga untuk membangun desanya meskipun Mandala Mekar terletak di daerah pegunungan yang sulit dijangkau oleh angkutan umum. “Salut! Kita bawa pengalaman dari sini ke Cirebon,” tegasnya.

Musyawarah Luar Biasa JRK Jabar
Jumat pagi (4/2/2011), setelah makan pagi bermenu nasi goreng, peserta telah diangkut ke Gedung Olahraga Desa Mandala Mekar yang terletak sekitar 1,5 Km dari studio Ruyuk FM. Jaringan Radio Komunitas (JRK) Jawa Barat menggelar Musyawarah Anggota Luar (Musyanglub) biasa karena ketua mereka, Haris Irnawan mengundurkan diri. Haris memilih fokus pada pekerjaannya sebagai karyawan di sebuah Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Kegiatan ini diikuti oleh 21 radio komunitas.

Acara Musyanglub diawali dengan pendaftaran ulang peserta dan pembacaan surat pengunduran diri. Surat pengunduran diri ketua dibacakan oleh Iwan Kurniawan, Koordinator Advokasi JRK Jabar, karena Haris Irnawan tidak bisa hadir.

“Saya ingin fokus pada pekerjaan dan keluarganya. Setiap Sabtu dan Minggu dia sering ke luar daerah sehingga perhatian ke keluarga saja kurang, apalagi pada JRK Jabar,” demikian alasan Haris Irnawan sebagaimana dibacakan oleh Iwan.

Setelah pembacaan surat pengunduran diri, presidium sidang yang terdiri dari Latif Rohyana, Gini Gusnayanti, Yana Noviandi membacakan laporan inventaris dan keuangan JRK Jawa Barat, tata terbit musyawarah dan agenda sidang Musyanglub.

JRK Jabar Kritisi RUU Penyiaran

Setelah menuntaskan penguatan kelembagaan lewat Musanglub, Jambore JRK Jawa Barat membahas Rancangan Perubahan Undang-Undang Penyiaran yang telah masuk dalam Program Legislasi Nasional 2011 Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. JRK Jawa Barat menyayangkan pasal yang membahas penyiaran komunitas sangat sedikit, bahkan cenderung menempatkannya dalam ruang yang sangat terbatas.

Ketua Jaringan Radio Komunitas Indonesia (JRKI), Iman Abda (36), menjelaskan RUU penyiaran lebih mewakili kepentingan penyiaran niaga. Padahal penyiaran komunitas telah menjadi saranan penting warga untuk menyuarakan aspirasi dan berperanserta dalam pembangunan daerah.

“Radio komunitas menjadi media warga untuk bertukar gagasan. Pemerintah seharusnya mendukung lembaga penyiaran komunitas, bukan mempersempit ruang geraknya.

Penggalangan Dana lewat Organ Tunggal
Penggalangan dana lewat seni musik organ tunggal  hampir gagal dilakukan karena aliran listrik dari PLN mati. Aliran listrik mati sejak pukul 17.00 hingga 20.00. Panitia mencoba menggunakan generator sendiri, namun ada masalah dengan mesin sehingga aliran listrik menyala generator gagal diperbaiki.

Konsep penggalangan dana sederhana melalui lelang lagu. Apabila di malam sebelumnya, Kru Ruyuk yang  menghibur, pada malam ini peserta Jambore mengambilalih peran itu. Acara ini tetap disiarkan secara langsung lewat radio. Secara bergiliran peserta dan warga  bernyanyi lagu-lagu dangdut , baik sunda, melayu, ataupun koplo.  Peserta memberikan sawer atau sumbangan uang agar lagu yang dimintanya itu segera dimainkan. Uniknya, saweran kali ini sembari menyisipkan pesan-pesan pelestarian lingkungan.

“Siapa yang ingin menyumbang pohon? Harga  bibit pohon Rp 1500,-” ungkap seorang Ketua  RT sembari memberikan saweran 2 ribu rupiah.

“Untuk dapat dua pohon butuh satu ribu lagi, siapa yang ingin menambahi  agar pak RT dapat 2 pohon,” lanjut  pembawa acara.

Begitu terus menerus hingga terkumpul dana sebesar Rp 480.000,- pada akhir acara. Dana itu diserahkan pada pegiat Ruyuk FM untuk menggalakan pelestarian hutan di daerah tersebut. Mandala Mekar berhasil menyelamatkan mata air lewat penghijauan swadaya warga yang dikenal dengan Hutan Mandiri. (Yossy Suparyo)

COMBINE Hadir dalam Konferensi AMARC 10, Argentina

AMARC adalah organisasi radio komunitas dunia yang setiap empat tahun sekali menyelenggarakan konferensi yang dihadiri oleh praktisi radio komunitas dan lembaga swadaya masyarakat yang mendampingi radio komunitas. Pada tahun 2010 ini, AMARC menggelar konferensinya yang ke-10 di La Plata, Argentina. AMARC Argentina telah menjadi pelaksana konferensi tersebut. AMARC berdiri 27 silam dan menggelar konferensi pertamanya di Nikaragua.

Konferensi yang dibuka pada tanggal 8 November 2010 ini dihadiri lebih dari 500 peserta dari 87 negara yang terdiri dari praktisi radio komunitas dan berbagai pemangku kepentingan. Inilah untuk pertama kalinya AMARC menyelenggarakan konferensinya di Amerika Selatan. Untuk AMARC, penyelenggaraan ini sangat penting mengingat sejarah perjuangan radio komunitas dimulai di Bolivia, salah satu negara di Amerika Latin.

Steve Buckley, Presiden AMARC membuka konferensi ini dengan memaparkan berbagai aspek yang telah dicapai AMARC selama masa kepemimpinannya. Ia menegaskan bahwa AMARC bekerja untuk memfasilitasi solidaritas internasional diantara pengelola radio komunitas, melindungi radio komunitas ketika mereka berada di bawah ancaman, dan untuk mempromosikan kiprah radio komunitas dalam gerakan sosial. Dalam beberapa tahun terakhir ini telah terjadi kemajuan di bidang regulasi seperti yang terjadi di Argentina, Bangladesh, Colombia, India, jordania, Spanyol, Uruguay, dan yang terbaru adalah Nigeria. Baru pada tanggal 19 Oktober 2010, Presiden Nigeria mensahkan keberadaan radio komunitas di negara yang populasinya terbesar di Afrika. Keputusan ini tidak lepas dari upaya advokasi AMARC sejak berakhirnya diktator militer dan kembalinya sistem pemerintahan yang lebih demokratis. AMARC juga sangat aktif untuk melakukan advokasi bagi radio komunitas yang berada di bawah ancaman, seperti yang terjadi pada radio komunitas di Honduras setelah terjadi kudeta militer. Radio komunitas dari Honduras telah menghadapi represi selama masa-masa tersebut. Dengan terjadinya perubahan iklim dan berbagai bencana yang terjadi di berbagai belahan dunia, maka AMARC pun secara khusus telah mendukung peran radio komunitas dalam mitigasi dan respons terhadap pengurangan resiko bencana. Hal ini dilakukan dalam bentuk penelitian, workshop, analisis, dan juga intervensi langsung ke negara yang terkena bencana seperti Indonesia, Haiti, Pakistan, dan Chili.

Konferensi ini  mengangkat berbagai tema dari mulai hak masyarakat  berkomunikasi  untuk menciptakan kondisi dunia lebih baik sampai dengan peran radio komunitas dalam perubahan iklim, kesetaraan jender, pengelolaan bencana, resolusi konflik, bahasa yang tersingkirkan, perjuangan masyarakat asli, dan lain-lain.  Dalam konferensi ini, peserta dari COMBINE Resource Institution, Ade Tanesia terlibat sebagai komentator dalam sesi panel diskusi mengenai peran radio komunitas dalam pengurangan resiko bencana. Selain itu juga memberikan presentasi mengenai peran radio komunitas dalam membangun perdamaian di wilayah konflik. Ranggoaini Jahja terlibat sebagai narasumber dalam diskusi dengan tema keberlanjutan radio komunitas.