SIAR Bangkit Sebarkan Informasi Warga

Saluran Informasi Akar Rumput (SIAR) bangkit akan kembali setelah delapan bulan mengalami kemandegan. Tampilan situs mereka diganti dengan gaya tidak seformal sebelumnya. Mereka pun menambah amunisi jaringan dengan menambah anggota baru.

Tampilan Portal Siar yang terkini lebih elegan dan ringan

Demikian hasil pertemuan SIAR wilayah Provinsi Yogyakarta di Rumah Makan Mataram, Jalan Wonosari (14/5), Berbah, Sleman. Pertemuan ini dihadiri oleh anggota-anggota jaringan SIAR, seperi Radio Balai Budaya Minomartani (BBM FM), Radio Angkringan Timbulharjo, Radio Suara Malioboro, Radio Panagati Terban, dan lain-lainnya.

Menurut Sarwono, Koordinator Program SIAR, pertemuan tersebut dilakukan untuk mengumpulkan jaringan SIAR setelah delapan bulan mandeg. Kemandegan SIAR terjadi karena server SIAR mengalami kerusakan dan lambatnya generasi penerus di beberapa radio komunitas. Namun, setelah hadirnya anggota-anggota baru, SIAR akan kembali menyebarkan informasi warga kepada publik.

Sementara itu, Budi Hermanto, pakar media komunitas, yang hadir pada pertemuan itu mendorong para pegiat radio komunitas untuk terus menggali dan mengembangkan potensi sukarelawan. Menurutnya, sukarelawan adalah modal radio komunitas yang tidak dimiliki oleh radio niaga atau publik. Apabila radio komunitas mengabaikan sukarelawan maka ibarat bunuh diri, karena ruhnya telah hilang. Acara masih terus berlangsung saat berita ini diturunkan (Yossy Suparyo)

Dorong Keterlibatan Perempuan di Radio Komunitas

COMBINE Resource Institution (CRI) Yogyakarta mendorong keterlibatan perempuan dalam pengelolaan radio komunitas melalui diskusi kelompok terarah dan lokakarya. Kegiatan itu diselenggarakan di Wisma Disaster Oasis, Jalan Kaliurang Km. 20, Sleman (17/6/2009) dengan narasumber Bianca Migliretto, pegiat Isis International-Philipina dan Damai Ria Pahpahan, pendiri Rumpun Cut Nyak Dien-Jogjakarta.

Peserta tengah membahas permasalahan keterlibatan perempuan di radio komunitas

Pada diskusi kelompok terarah yang diikuti oleh para pegiat organisasi perempuan di Jogjakarta, Bianca menyajikan hasil penelitiannya tentang penggunaan teknologi informasi di lima negara, yaitu India, Thailand, Fiji, Philipina, dan Papua Nugini. Radio menempati posisi teratas (49%) sebagai media yang banyak dipergunakan oleh perempuan, menyusul media teater (36%), film (25%), pertemuan (16%), dan lain-lain. Radio menjadi teknologi yang paling efektif sebab teknologi ini murah dan mudah dipergunakan, sebagian besar keluarga memilikinya, dan menjangkau area yang luas

Bianca Migliretto, pegiat Isis International-Philipina menggunakan fasilitas alihbahasa

Sementara itu, Damai Ria Pahpahan, mengemukakan media pertama kali yang dipergunakan pegiat perempuan di Indonesia adalah pertemuan. Setelah itu, pamflet dan selebaran menjadi pilihan selanjutnya. Pengarusutamaan isu perempuan di surat kabar di mulai pada 1990-an yang memicu gerakan feminisme secara luas. Pemanfaatan radio masih sebatas pengiriman isi siaran atau talkshow di stasiun radio niaga.

Pada acara lokakarya yang diikuti para pegiat radio komunitas, Bianca meyakinkan para pegiat radio untuk memperhatikan keterlibatan perempuan dalam pengelolaan informasi. Menurutnya, keterlibatan perempuan membuat posisi radio makin kuat di komunitas sebab sebagian besar pendengar radio adalah kaum perempuan. Keterlibatan perempuan di radio komunitas memang lebih maju dibanding media arus utama (45%) tapi posisi mereka dalam mengambil keputusan hanya sebesar 28 persen. (Yossy Suparyo)

Jurnalisme Warga Kunci Demokratisasi Informasi

Perkembangan jurnalisme warga yang pesat akan mendorong terciptanya demokratisasi informasi. Warga tidak sekadar objek pemberitaan media massa, tapi mampu memberitakan peristiwa di lingkungannya. Akibatnya, ruang publik tidak dimonopoli oleh pendapat orang-orang besar, pendapat warga biasapun bisa muncul.

Demikian pendapat Yossy Suparyo, Staf Manajemen Pengetahuan Combine Resource Institution (CRI) dan Redaktur Suarakomunitas, sebuah portal yang mengembangkan jurnalisme warga, dalam perkuliahan di Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora, Universitas Islam Negeri (UIN) Yogyakarta (5/5/2009). Menurutnya, jurnalisme warga mampu menutupi kekurangan materi berita media massa umum yang lebih mengutamakan besaran peristiwa.

Munculnya jurnalisme warga dipicu oleh isi pemberitaan media massa umum yang tidak memberikan ruang yang cukup pada pemberitaan aktivitas warga. Sebaliknya, media massa umum dipenuhi oleh peliputan peristiwa-peritiwa besar yang narasumbernya dimonopoli oleh para elit masyarakat. Berita warga disajikan lewat berita peristiwa kriminal, kecelakaan, dan kekerasan.

“Warga biasa dijadikan sumber berita pada berita kecelakaan, perampokan, dan kriminal. Tapi untuk pemberitaan pembangunan dan permasalahan publik mereka terlupakan,” ujar Yossy.

Media massa yang memanfaatkan kerja-kerja jurnalistik yang dilakukan warga memiliki keunggulan pada hal kecepatan. Pada banyak peristiwa bencana, para pegiat video amatir mampu merekam kejadian lebih cepat dibanding reporter media umum. Hasil peliputan jurnalis warga juga mengutamakan kedekatan materi pemberitaan dengan pembacanya. Maka, warga tidak saja menjadi objek dan konsumen pemberitaan, namun warga mampu menjadi subjek yang memberitakan peristiwa yang terjadi.

“Melalui jurnalisme warga petani biasa bisa menjadi narasumber untuk berita pertanian. Petani bisa mengemukakan pendapatnya untuk mengimbangi pendapat dinas pertanian yang acapkali menjadi narasumber media-media umum. Pembaca mendapatkan informasi yang lengkap, tidak sepotong-sepotong,” lanjutnya.

Rekruitmen Staf Peneliti di Aceh

COMBINE Resource Institution, sebuah organisasi nirlaba, non-pemerintah yang berkedudukan di Yogyakarta, membutuhkan tenaga peneliti utama untuk melakukan penelitian terhadap dampak program Aceh Reconstruction Radio Network (ARRnet) yang berada di wilayah Nanggroe Aceh Darussalam dan Pulau Nias (www.arrnet.or.id).

Persyaratan:

  1. Pendidikan minimal S1 dengan pengalaman penelitian minimal 2 tahun
  2. Memiliki minat, pengetahuan, dan pengalaman di bidang Teknologi informasi-komunikasi dan media komunitas
  3. Berpengalaman dalam merancang desain penelitian kualitatif dan kuantitatif
  4. Memiliki hasil penelitian dan publikasi ilmiah yang telah diterbitkan atau diterbitkan secara terbatas
  5. Mampu berbahasa Inggris baik lisan maupun tulisan lebih diutamakan
  6. Bersedia melakukan perjalanan luar kota
  7. Memiliki kendaraan roda dua dan SIM dan serta memiliki waktu kerja yang dinamis dan fleksibel
  8. Mampu bekerja dgn supervisi minimal dan dalam waktu yg mendesak

Kirimkan lamaran dan CV paling lambat 7 Desember 2008 ke alamat :

COMBINE Resource Institution
Jl. Ngadisuryan No. 26 Kraton, Yogyakarta 55133 Indonesia
Telp./faks. : 0274-418 929
e-mail : office@combine.or.id

Peluang sebagai Staf Teknologi Informasi di CRI

COMBINE Resource Institution, sebuah organisasi nirlaba,  non-pemerintah, yang berkedudukan di Yogyakarta, membutuhkan staf baru full  time untuk posisi sebagai STAF TEKNOLOGI INFORMASI

Persyaratan:

  1. Pendidikan minimal D III dengan pengalaman 3 tahun atau S1 dengan pengalaman 2 tahun
  2. Memiliki minat, pengetahuan, dan pengalaman di bidang Teknologi informasi-komunikasi
  3. Berpengalaman dalam merancang dan memelihara/mengelola situs web dan WAP
  4. Menguasai PHP, SQL, RDBMS dan MySQL sebagai DB Engine
  5. Menguasai bahasa pemrograman Java lebih diutamakan
  6. Bisa Shell programming sebagai nilai tambah
  7. Memahami jaringan komputer dan web server
  8. Mampu berkomunikasi efektif secara lisan maupun tulisan
  9. Mampu berbahasa Inggris baik lisan maupun tulisan lebih diutamakan
  10. Bersedia melakukan perjalanan luar kota
  11. Memiliki kendaraan roda dua dan SIM dan serta memiliki waktu kerja yang dinamis dan fleksibel
  12. Mampu bekerja dgn supervisi minimal dan dalam waktu yg mendesak
  13. Memiliki komitmen pada free-open source software (FOSS)

Kirimkan lamaran dan CV paling lambat 23 Desember 2008 ke alamat :

COMBINE Resource Institution
Jl. Ngadisuryan 26 Yogyakarta 55133 Indonesia
Telp/fax : 0274-418929
e-mail : office@combine.or.id

Dua Fasilitator Radio Komunitas Siap Bertugas

Menyinergikan Telecenter dan Radio Komunitas di Lereng Semeru

Dua orang fasilitator dari COMBINE Resource Institution (CRI) selama bulan September hingga Oktober 2008 ini akan berada di Telecenter Semeru, Pasrujambe, Lumajang, Jawa Timur. Mereka akan membantu mengelola program optimalisasi radio komunitas yang ada di Telecenter Semeru untuk kepentingan pemberdayaan masyarakat. Radio komunitas di telecenter itu sendiri sudah berdiri sejak tahun 2007 lalu sebagai keluaran dari proses pelatihan yang difasilitasi oleh CRI.

Namun, ada beberapa kendala yang menyebabkan kegiatan radio komunitas di lereng Semeru itu belum bisa berlangsung maksimal. Dalam jadwal, radio itu bersiaran pada pukul 08.00 – 12.00 dan dilanjutkan pada malam hari pukul 19.00 – 22.00. Kadang juga sampai dini hari. Namun, ternyata, masyarakat setempat lebih banyak mendengarkan radio di waktu subuh hingga pukul 07.00 pagi. Semnetara, pengelola radio komunitas masih kesulitan mencari penyiar pada waktu tersebut.

Selain itu, kendala selanjutnya adalah dari sisi teknis, ruang studio yang kecil dan peralatan yang tidak lengkap; tidak ada mixer dan microphone.Jangakuannya pun masih terbatas. Dari sisi pengelolaan kegiatan, acara di radio tersebut masih dipandang kalah menarik daripada radio siaran lainnya. Kemampuan pengelola radio dalam mengakses informasi di masyarakat juga terbatas, dibarengi dengan tidak cukup kuatnya semangat para penyiarnya, sehingga memunculkan kurangnya rasa tanggung jawab dan menyebabkan banyak jadwal siaran yang kosong.

M. Amrun dan Eko Prasetyo Anwar yang akan datang sebagai fasilitator CRI akan bertugas untuk membantu pengelola radio komunitas dan telecenter untuk mengaasi berbagai kendala tersebut. Amrun sehari-hari adalah pegiat Radio Komunitas Angkringan FM di Bantul, D.I. Yogyakarta yang berpengalaman dalam penguatan hal-hal teknis siaran radio. Sementara, Eko adalah pegiat Radio Komunitas Shakti FM di Banjarnegara, Jawa Tengah yang berpengalaman dalam mengelola program kegiatan onair dan offair, serta mengelola berbagai produk jurnalistik untuk disiarkan oleh radionya. Kedua radio komunitas ini juga telah berpengalaman mengelola informasi dari dan untuk website. Keduanya adalah kontributor untuk beberapa website jaringan komunitas yang dikembangkan oleh CRI. Bahkan, Radio Komunitas Angkringan juga telah memiliki website sendiri di http://angkringan.web.id. Dengan segudang pengalaman tersebut, diharapkan keduanya mampu menyinergikan potensi besar yang dimiliki oleh Telecenter dan Radio Komunitas Semeru. Bagaimana proses dan hasilnya? Tunggu saja selama dua bulan ke depan. (ew)

Lowongan Terbuka Fasilitator Telecenter Semeru

CRI (Combine Resource Institution) adalah lembaga nirlaba yang bergerak pada bidang pengembangan informasi dan komunikasi khususnya di level akar rumput. Untuk lebih lengkapnya silakan kunjungi website kami di localhost/cri/. Saat ini kami sedang mencari kandidat yang akan mengisi posisi Fasilitator Pengorganisasian Masyarakat untuk jangka waktu 1,5 bulan.

Tugas Utama

Fasilitator akan ditempatkan di Telecenter Semeru (http://tcsemeru.wordpress.com/) selama satu setengah bulan penuh yang berlokasi di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Terdapat beberapa tugas utama yang akan dilaksanakan oleh fasilitor, yaitu:

  • Mendesain dan melakukan pengorganisasian masyarakat lokal agar lebih mengenal dan memanfaatkan Telecenter Semeru.
  • Menggunakan dan memaksimalkan radio komunitas yang ada di Telecenter Semeru untuk kepentingan pemberdayaan masyarakat
  • Mendorong pengelola radio komunitas dan atau Telecenter Semeru untuk memproduksi dan menganalisa berita-berita lokal.
  • Membuat laporan dari hasil fasilitasi yang telah dilakukan selama sebulan

Kualifikasi yang Dibutuhkan

Untuk melaksanakan tugas-tugas utama di atas, ada beberapa kualifikasi yang harus dimiliki oleh fasilitator pengorganisasian masyarakat, yaitu:

  • Memiliki kemampuan dalam teknik fasilitasi forum atau pelatihan.
  • Memiliki pengetahuan tentang jurnalistik. Kemampuan jurnalisme radio komunitas akan lebih diutamakan.
  • Mahir menggunakan dan memanfaatkan internet.
  • Memiliki kemampuan komunikasi yang baik.
  • Fleksibel dalam hal waktu bekerja di lapangan.
  • Memiliki kemampuan analisis sosial khususnya pada masyarakat pedesaan
  • Bersedia menjalani masa orientasi selama 3 hari di luar masa kontrak kerja (1,5 bulan)

Silakan mengirimkan Curriculum Vitae (CV) dan Cover Letter yang menjelaskan secara singkat kemampuan yang dimiliki sesuai dengan tugas utama yang akan dilaksanakan.

Kirimkan kepada Ketut Sutawijaya di alamat e-mail ketut[at]combine.or.id, di-CC ke: ketutsutawijaya[at]gmail.com.

Lamaran paling lambat dikirim pada tanggal 23 Juni 2008.

Manajemen dan Produksi Radio Komunitas

Sebagian besar masyarakat belum banyak mengenal apa itu radio komunitas. Wajar saja, karena radio komunitas dari banyak hal sangat berbeda dibanding dengan radio pada umumnya. Radio yang didirikan oleh komunitas untuk kepentingan komunitasnya cukup dikenal oleh komunitasnya saja.

Buku ini merupakan materi dasar yang sederhana lanjutan dari Buku Mengapa Radio Komunitas, Bagaimana Radio Komunitas. Dalam buku ini secara jelas membedakan manajemen dan produksi radio komunitas berbeda dengan yang terjadi pada radio jenis lain. Berisi manajemen radio komunitas, perencanaan program dan format siaran, produksi siaran, penyediaan prasarana dan pengelolaan alat-alat siaran, sumber daya manusia dan ditutup dengan administrasi siaran dan pembiayaan operasional.

Mengapa Radio Komunitas ?

Sebagian besar masyarakat belum banyak mengenal apa itu radio komunitas. Wajar saja, karena radio komunitas dari banyak hal sangat berbeda dibanding dengan radio pada umumnya. Radio yang didirikan oleh komunitas untuk kepentingan komunitasnya cukup dikenal oleh komunitasnya saja.

Buku ini merupakan materi dasar yang sederhana tentang kebutuhan masyarakat akan media yang independen dan bebas dari kepentingan yang lain.
Dilanjutkan alasan-alasan penting mengapa radio komunitas itu perlu ada, bagaimana radio komunitas berjuang baik di Indonesia maupun negara lain dan bagaimana memahami radio komunitas. Buku ini juga dilengkapi dengan peraturan mendirikan radio komunitas.

Bagaimana Radio Komunitas ?

Sebagian besar masyarakat belum banyak mengenal apa itu radio komunitas. Wajar saja, karena radio komunitas dari banyak hal sangat berbeda dibanding dengan radio pada umumnya. Radio yang didirikan oleh komunitas untuk kepentingan komunitasnya cukup dikenal oleh komunitasnya saja.

Buku ini merupakan materi dasar yang sederhana lanjutan dari Seri 1 : Mengapa Radio Komunitas. Berisi langkah-langkah mendirikan radio komunitas yang dikemas menarik seperti membaca sebuah cerita. Mulai dari perencanaan hingga ke teknis mendirikan stasiun radio.