Tunggul Harwanto: Masa Awal RLI Berdiri Berdarah-darah, tapi Senang

Mengelola gerakan atau organisasi berbasis komunitas di kawasan rural bukanlah perkara mudah. Tantangan sumber daya manusia, kondisi geografis, hingga dana kerap menjadi pemicu ketidakberlanjutan gerakan yang diinisiasi oleh komunitas.

Combine Resource Institution (CRI) berkesempatan melakukan wawancara dengan Tunggul Harwanto, salah satu pendiri Rumah Literasi Indonesia (RLI), sebuah organisasi berbasis komunitas yang terus mengupayakan perkembangan literasi di Banyuwangi dan sekitarnya. RLI merupakan salah satu contoh organisasi komunitas yang masih mampu bertahan bahkan berkembang di tengah berbagai tantangan yang harus dihadapi. Wawancara dilakukan oleh Fiahsani Taqwim, Staf Komunikasi CRI pada bulan Februari 2022.

Bagaimana awal mula berdirinya RLI? Boleh diceritakan dengan agak detail?

RLI berdiri dengan latar belakang kesadaran para pendiri akan kebutuhan pendidikan di kampung halamannya, di Ketapang, Banyuwangi. Angka perceraian yang tinggi, ditambah masalah pernikahan dini yang banyak ditemukan di sana membuat Nurul Hikmah, salah satu pendiri RLI merasa terpanggil untuk menyelamatkan masa depan anak-anak melalui pendidikan. Awalnya, kira-kira tahun 2011, Hikmah membuka rumah bimbel (bimbingan belajar) untuk beberapa anak. Dari anak-anak inilah kemudian rumah bimbel itu menjadi ramai, karena anak-anak ini sistemnya getok tular. Melihat antusiasme itu, akhirnya diputuskan untuk melembagakan rumah bimbel ini menjadi taman baca.

Pada tahun 2014, Hikmah mulai mengumpulkan para anak muda dan siapa pun yang bersedia dijadikan mitra di Banyuwangi untuk merumuskan program peduli literasi untuk anak-anak dan pemuda. Saya termasuk salah satu relawan yang tertarik untuk mendukung ide Hikmah. Dia punya keyakinan bahwa pasti ada banyak daerah lain yang membutuhkan taman baca seperti yang sudah didirikannya di Ketapang itu. Dari sanalah, mulai ada inisiasi pendirian Rumah Literasi Banyuwangi, yang kemudian berubah menjadi Rumah Literasi Indonesia yang kita kenal hari ini.

Tiga tahun masa awal RLI berdiri, kami gunakan dana pribadi, karena belum ada yang men-support. Lumayan berdarah-darah, tapi senang. Kami enjoy menjalankan itu. Setelah RLI semakin banyak dikenal orang dan mulai sering mendapatkan tawaran kerja sama, akhirnya kami para founder memutuskan untuk mendaftarkan RLI sebagai sebuah organisasi berbadan hukum/resmi.

Apa harapan dan tujuan RLI didirikan?

Cita-cita besar RLI adalah mewujudkan generasi yang berwawasan dan berkepribadian. RLI berharap anak-anak dan pemuda Banyuwangi mendapatkan pendidikan literasi dan berdaya di kampung halaman atau rumahnya sendiri. RLI ingin senantiasa mengembalikan fungsi utama rumah dan keluarga sebagai tempat yang paling indah dan aman untuk belajar. Jadi, RLI ada sebagai tempat belajar yang nyaman bagi anak-anak Banyuwangi.

Siapa saja pegiat atau kontributor RLI?

RLI mempunyai relawan tetap. Artinya, para relawan ini direkrut dengan perjanjian kontrak kerelawanan selama satu tahun dan nantinya akan diperpanjang bila yang bersangkutan bersedia. Para relawan tetap inilah yang aktif dilibatkan dalam penyusunan peta jalan (roadmap) program-program gagasan RLI. Mereka tidak dibayar, namun sebagai gantinya, RLI menghargai mereka dengan berbagai agenda kelas belajar dan capacity building yang rutin dilakukan tiga bulan sekali, bahkan terkadang sebulan sekali.

Di samping relawan tetap, ada pula relawan yang tidak diikat oleh perjanjian kontrak, sebutannya relawan simpatisan. Mereka adalah relawan yang direkrut sebagai eksekutor program dan akan secara otomatis bukan relawan lagi ketika program usai. Para relawan tetap maupun simpatisan ini berasal dari Kabupaten Banyuwangi, Jember, Bondowoso, dan Situbondo. RLI memberikan ruang bagi siapa saja yang ingin mengembangkan diri lewat kegiatan sosial untuk bergabung menjadi relawan. RLI dapat menjadi tempat yang nyaman bagi para relawan ini untuk mengembangkan skill dan pengetahuan mereka.

Siapa saja mitra kerja RLI?

Mulanya yang tertarik bekerja sama dengan RLI cuma orang-orang yang tertarik untuk membuat rumah atau taman baca saja. Namun setelah berproses akhirnya pemda (pemerintah daerah-red) dan beberapa pihak swasta yang tertarik dengan program RLI juga menjadi mitra.

Program atau kegiatan apa yang menjadi milestone di RLI?

Milestone RLI adalah program gerakan 1000 rumah baca. Fokus program ini adalah bagaimana caranya agar rumah-rumah baca di Banyuwangi bisa menjadi ruang untuk meningkatkan pengetahuan bahkan skill anak-anak dan pemuda di berbagai aspek. RLI menggunakan pendidikan literasi untuk memberdayakan anak-anak dan pemuda yang singgah di rumah baca. Pada tahun 2015, setahun setelah RLI memulai gerakan peduli literasi, ada 15 rumah baca berhasil didirikan di seluruh Banyuwangi. Jumlah itu kemudian berkembang menjadi 50-an rumah baca dalam kurun waktu tiga tahun. Program tersebut juga mendapatkan dukungan dari banyak pihak. Najwa Shihab dan Narasi TV adalah salah satu pendukung gerakan 1000 rumah baca yang dikelola RLI.

Manfaat apa yang sudah dicapai dari program atau kegiatan tersebut terhadap kehidupan warga?

Di masa pandemi, gerakan rumah baca yang dikelola RLI membantu meringankan beban para murid dan orang tua yang tidak siap dengan mekanisme sekolah daring. Dari data yang dikumpulkan RLI, 70 hingga 80 persen siswa di Banyuwangi tidak mendapatkan akses internet, bahkan 25 persen responden mengaku kalau mereka tidak punya gawai. Bagaimana mereka bisa menyerap materi kalau gawai dan internet saja tidak mereka punya. Rumah baca menyediakan tempat dan akses bagi anak-anak ini. Rumah baca juga menjadi tempat bagi para murid untuk bersama-sama mengulas kembali materi pelajaran dari sekolah formal yang belum sepenuhnya mereka pahami akibat adanya kebijakan sekolah daring. Keberadaan rumah baca yang menawarkan sekolah berbasis komunitas juga menjadi alternatif jalan keluar bagi para orang tua yang kesulitan mendampingi anaknya mengikuti kelas-kelas daring.

Tantangan apa yang kerap dihadapi sepanjang perjalanan di RLI?

Ada tantangan internal, misalnya soal kaderisasi relawan dan bagaimana caranya mempertahankan rumah-rumah baca yang telah didirikan. Relawan adalah kunci pertahanan rumah baca, sehingga kalau tidak terus dikader dan dikembangkan skill individunya, bisa menyebabkan kejatuhan banyak rumah baca.

Tantangan internal lainnya adalah SOP (standard operating procedure). RLI belum punya SOP yang kuat untuk internal organisasi maupun dalam menjalankan program-program, sehingga itu menjadi PR besar yang harus segera diselesaikan.

Ada juga tantangan pada aspek fundraising, di mana sulit sekali menumbuhkan jiwa wirausaha para pengelola rumah baca. Mereka cenderung masih mengharapkan bantuan dari desa atau dana hibah dari pihak lainnya. Padahal, langkah fundraising dengan berwirausaha adalah bagian dari strategi keberlanjutan sebuah rumah baca. Tapi RLI selalu optimis menghadapi berbagai tantangan dan percaya bahwa itulah proses yang harus dilalui.[]

Bergerak Bersama Warga: Usaha Membangun Kesadaran Literasi

Sore hari di penghujung November 2018, kami berkumpul. Dingin gerimis di luar tak mampu menerobos hangat obrolan tentang aktivitas literasi dari berbagai tempat. Di depan deretan gamelan full set milik Balai Budaya Minomartani, kami duduk melingkar.

Obrolan itu saya awali dengan membuat kesepakatan bersama mengenai literasi. Dalam rumusan Pusat Bahasa, literasi adalah kemampuan individu dalam mengolah informasi dan pengetahuan untuk kecakapan hidup. Dengan definisi ini, pemaknaan literasi menjadi sangat luas dan tidak terbatas hanya pada aktivitas membaca dan menulis. Maka kita mengenal berbagai istilah sertaan literasi seperti literasi baca tulis, literasi digital, literasi finansial, literasi gizi, literasi informasi, literasi internet, literasi keuangan, literasi media, literasi numerasi, literasi sains, literasi visual, dan lain sebagainya.

Paparan berlanjut pada pengalaman saya sebagai pegiat literasi di tiga lini, yaitu komunitas, desa, dan sekolah. Saya percaya bahwa apa pun dan di mana pun komunitasnya, proses literasi pasti berjalan di dalamnya. Bertukar pengalaman dan pengetahuan saja sudah merupakan bagian dari aktivitas literasi itu sendiri.

Di lini komunitas ini, biasanya ada dua kategori seperti gambar berikut :

Bagan 1

Pada bagian pertama (sebelah kiri), sebuah komunitas menyadari adanya proses literasi dalam berbagai interaksi di dalamnya sehingga menumbuhkan kesadaran untuk berbagi pengetahuan lebih luas. Kegelisahan anggota komunitas akan merangsang produk-produk literasi yang bisa disampaikan kepada masyarakat umum, tidak terbatas anggota komunitas saja. Sementara komunitas kedua (sebelah kanan) cenderung berhenti sebagai sebuah pengalaman dialog atau terbatas pada komunitas.

Literasi di desa cenderung lebih rumit daripada di komunitas. Kompleksnya kehidupan sosial di dalamnya membuat kita harus lebih hati-hati dalam menyelipkan agenda-agenda literasi. Pada dasarnya masyarakat menyadari pentingnya literasi, namun penerimaannya tak semudah ketika kita menyodorkan nasi bungkus.

Salah satu langkah strategisnya adalah dengan bekerja sama dengan pemangku kepentingan setempat, misalnya, pemerintah desa. Namun itu pun tidak menjadi jaminan apabila pemerintah desa tidak memiliki semangat yang sama. Jika cara ini berhasil, kita bisa menyusupkan agenda literasi melalui lembaga (di bawah naungan) desa, kegiatan-kegiatan desa, pelatihan atau lokakarya, sosialisasi, website desa, dan lain sebagainya.

Literasi di sekolah menjadi paparan terakhir saya. Sayangnya, pengalaman saya dengan unit ini tidak terlalu bagus. Saya bertemu dengan sekolah yang kurang memperhatikan literasi meski ia sendiri adalah lembaga literasi (formal). Sekolah cenderung mengikuti instruksi-instruksi dari dinas terkait daripada membuat inisiatif-inisiatif yang berbasis literasi. Tahunya sekadar mengeluarkan anggaran untuk kegiatan literasi, selebihnya diserahkan kepada pendamping ekstrakurikuler literasi.

Paparan di atas menjadi pemantik diskusi lebih lanjut. Taman Baca Masyarakat (TBM) Guyub Rukun (Dusun Jambon, Bantul), Rumah Baca Komunitas (RBK) (Sleman, DIY), Media Komunitas Warta Desa (Pekalongan, Jawa Tengah), Radio Komunitas Balai Budaya Minomartani (BBM) (Sleman, DIY), TBM Rumah Asa (Mergangsan, Yogyakarta), dan Radio Komunitas Wijaya FM (Sleman, DIY) berbagi pengalaman proses berliterasi bersama warga di lingkungan masing-masing. Dari ladang yang berbeda, masing-masing menemukan persoalan dan kemudian menciptakan berbagai gagasan serta inovasi untuk bertahan dan akhirnya menjadi penggerak sosial di lingkungannya.

Dari seluruh proses masing-masing komunitas dari awal hingga perjalanannya kini, nyaris memiliki pola yang sama.

Bagan 2

Bergerak Bersama Masyarakat

Sejak awal, masing-masing komunitas telah menyadari dengan siapa mereka berhadapan. Bukan satu atau dua orang, melainkan masyarakat (jamak). Akan tetapi, mereka mengambil segala risiko demi terwujudnya cita-cita bersama. Tak ada perjuangan yang berjalan mulus, berbagai tentangan dan pandangan miring bahkan sering mereka terima.

TBM Guyub Rukun, misalnya. Bukan perkara mudah meminta masyarakat untuk memilah sampah, yang pada akhirnya akan bermanfaat bagi mereka sendiri. Apalagi bagi masyarakat perdesaan, tidak ada tempat khusus untuk membuang sampah. Limbah rumah tangga itu biasanya hanya dikumpulkan lalu dibakar. Kalau tidak, dibuang ke kali.

Namun, pandangan pesimis ini mampu diubah oleh sekawanan anak muda di Sedayu di bawah komando Triyanto, pendiri TBM Guyub Rukun. Melalui penyelenggaraan TBM yang aktif dan partisipatif, mereka berhasil mengambil hati masyarakat. Program-program kreatif mereka justru banyak diminati.

Selain pengelolaan sampah, yang cara-caranya dipelajari dari buku, mereka berhasil menyelenggarakan bimbingan belajar (bimbel). Di desa yang jauh dari keramaian, kegiatan bimbel tentu hal yang asing. Namun kegigihan mereka akhirnya dapat diterima dan murid pun semakin banyak.

Uniknya, untuk membiayai berbagai kegiatan, mereka kerap meminta sumbangan barang bekas kepada warga untuk dijual. Hasil berjualan itulah yang kemudian dapat menjadikan mereka mandiri hingga saat ini.

Pengalaman serupa kita temukan pada kisah Indra, pengelola TBM Rumah Asa. Menghadirkan perpustakaan di lingkungan yang notabene kota, tidak serta-merta dapat disambut baik. Kecurigaan yang cenderung politis diterimanya. Namun Indra memang keras kepala. Ia masih saja melanjutkan aktivitas literasinya itu. Indra mengaku, TBM akan tetap menjadi core dari seluruh kegiatan yang ia gawangi.

Jika Triyanto menjadikan sampah sebagai pupuk kompos, Indra memilih memanfaatkannya untuk literasi sains dengan produk batik ecoprint. Bedanya, sampah yang dimaksud adalah sampah alam seperti dedaunan. Sampah itu dikelola untuk menghasilkan warna yang akan dipindahkan ke kain.

Melalui media sosial dan berbagai pameran produk, lingkungan Indra kini dikenal sebagai Kampung Sains. Produksi batik ecoprint pewarna alam pun menigkat. Konsekuesinya, kampung mereka menjadi rujukan wisata edukatif yang kemudian memunculkan tantangan lain. Pengelolaan pariwisata menjadi PR besar.

Keprihatinan literasi pun dirasakan oleh Kuncoro, pegiat Radio Komunitas Balai Budaya Minomartani (BBM). Meski tinggal di pinggiran kota yang ramai dan padat–bahkan sebagian merupakan kompleks perumahan–tak menjadikan masyarakatnya sadar literasi. Padahal, tak kurang-kurang lembaga pendidikan mengelilingi lingkungan mereka. Pun ada banyak pengajarnya tinggal di sana.

Meski demikian, Kuncoro tak merasa bahwa yang dilakukan BBM adalah bagian dari laku literasi. Literasi budaya, begitu para aktivis literasi menyebut segala kegiatan Kuncoro. Bersama kroninya, ia mengambil bentuk seni pertunjukan sebagai media dakwah literasinya. Dengan modal seperangkat gamelan, BBM menyampaikan literasi luhur milik moyang dengan beragam variannya.

Wayang, mocopat, karawitan, pertunjukan teater merupakan beberapa aktivitas BBM. Seluruhnya melibatkan pengetahuan kearifan budaya lokal. Bahkan, dari komunitas ini, lahir buku sejarah Desa Minomartani yang selama ini masih abu-abu. Tak ayal jika dengan beragam kegiatannya, BBM mampu menarik banyak komunitas untuk berproses bersama. BBM pun menjadi salah satu kantong budaya di Yogyakarta yang diperhitungkan. Lingkupnya tak lagi hanya lokal, melainkan sudah melebar lebih luas.

Gesekan dengan masyarakat yang paling kuat dirasakan oleh Rumah Baca Komunitas (RBK). Tanaman yang mereka gadang-gadang sebagai salah satu bentuk kemandirian dan ketahanan pangan komunitas, dibabat habis oleh salah seorang warga. Situasi ini boleh jadi disebabkan status mereka sebagai pendatang di Dusun Kanoman, Banyuwaden, Gamping, Sleman. 

Dengan tiga jargon “membaca, menulis, menanam” RBK giat dalam aktivitas literasi. Dengan dukungan relawan mahasiswa, sasaran kegiatan tak hanya masyarakat di lingkungan mereka, melainkan jauh lebih luas. Beberapa agenda rutin mereka adalah RBK for Kids, RBK On the Streets, Diskusi Reboan, dan tentu saja ecoliterasi. Beberapa program lain diusahakan berdasarkan kebutuhan masyarakat. Di luar kegiatan ini, RBK juga melakukan pendampingan terhadap kaum miskin kota.

Kasus yang cukup berbeda saya dapatkan dari cerita Buono, warga Pekalongan yang mengelola Media Komunitas Warta Desa. Ia bersama teman-temannya bersentuhan dengan warga tidak sebagai kerumunan seperti peserta lainnya, melainkan hadir sebagai media warga. Dulu, ia mengelola radio komunitas, dan kini beralih ke portal daring.

Portal daring ini menyediakan diri sebagai corong warga dengan beragam persoalannya. Namun kehadiran mereka tak sepenuhnya dimanfaatkan warga. Sebagian wagra masih beranggapan bahwa mereka tidak bedanya dengan media lain; semua media sama sehingga membentangkan jarak. Padahal Warta Desa telah menyediakan diri sebagai tameng dan berpihak kepada warga.

Keputusan pengelola portal untuk tidak menerima iklan sebetulnya menjadi persoalan tersendiri. Di satu sisi ada keinginan menjaga independensi, di sisi lain mereka membutuhkan biaya operasional yang tidak sedikit.

Ragam persoalan yang dihadapi oleh komunitas di atas seolah menegaskan bahwa perjuangan sosial tidak pernah sendirian. Combine Resource Institution mempertemukan komunitas-komunitas ini tidak hanya untuk saling berbagi pengalaman, melainkan juga untuk saling meneguhkan. Kita tidak pernah sendirian, meski berada di rel masing-masing.

PR Besar vs Idealisme

PR sebagian besar lembaga ini memang terkesan klasik lantaran mencoba mempertahankan idealisme komunitas dan secara tidak sadar menutup diri dari peluang untuk mendapatkan pemasukan finansial. Misalnya, usul salah satu peserta untuk membuka iklan di website komunitas. Mengapa harus dibenturkan dengan idealisme, seolah nilai-nilai perjuangan akan tereduksi dengan adanya iklan? Padahal tidak selalu demikian. Jika toh iklan mengganggu, pembaca punya pilihan untuk menutup iklan tersebut dan tetap bisa melanjutkan membaca. Iklan tidak akan mengurangi substansi perjuangan komunitas.

Pun demikian dengan membuka peluang publik untuk berdonasi, tidak akan merendahkan suatu komunitas sebagai sekumpulan orang kere. Justru dengan kedua cara ini kita sedang menunjukkan indepedensi suatu komunitas. Kita hanya perlu menguatkan posisi dan daya tawar komunitas kepada masyarakat untuk dapat terus bertahan.

Lalu, upaya apa yang perlu dilakukan agar komunitas memiliki daya tawar tinggi di masyarakat. Berikut beberapa tawaran dari saya :

Pertama, menyadari jebakan angan-angan.
Kerap kali, suatu komunitas merasa memiliki nilai lebih tinggi daripada yang lain. Komunitas itu berusaha membandingkan dengan kelompok-kelompok serupa yang menginduk pada suatu korporasi, yang seolah haram bagi mereka.

Dengan demikian, komunitas ini merasa memiliki nilai lebih tinggi karena rela dalam kondisi yang sengsara dan kere. Padahal apa yang dilakukan sebenarnya tidak begitu dibutuhkan masyarakat, tetapi dengan pembenarannya sendiri, menganggap telah mewakili dan mengentaskan persoalan suatu masyarakat.

Proyek idealisme ini justru akan menjebak komunitas dalam kubangan angan-angan ingin menjadi besar dan disegani banyak orang. Suatu komunitas yang berhasil mestilah bergerak dengan arah, metode, dan model yang jelas serta terukur.

Kedua, perbanyak portofolio.
Portofolio tak hanya penting untuk pencari kerja. Dalam sebuah komunitas atau lembaga, portofolio dapat kita sebut sebagai arsip, baik berupa catatan, dokumen, maupun dokumentasi.

Komunitas yang bekerja tanpa arsip akan tumbuh lamban dan kehilangan arah. Jika ditanya, pentingkah arsip? maka semuanya menjawab penting. Tetapi, arsip juga ihwal yang paling diabaikan. Bahkan kerap berada hanya satu strip di atas sampah.

Dalam arsip itu, portofolio sebuah komunitas akan tampak jelas, apakah terus bergerak atau diam-diam bunuh diri.

Ketiga, penguatan jaringan.
Salah seorang peserta memberi saran, “jangan dihindari, tetapi jangan diharapkan.” Saran tersebut muncul dalam perbincangan tentang bantuan dari pemerintah.

Hal ini sebenarnya tak berlaku pada jaringan pemerintah saja, melainkan pada seluruh jaringan. Sebab, sikap utama komunitas adalah independen. Dengan selalu mengharapkan bantuan, produktivitas tak akan pernah tumbuh dengan baik.

Sebuah komunitas mestinya dapat memperlakukan seluruh jaringannya secara sejajar. Entah donatur atau jaringan lembaga. Dalam suatu kesempatan jaringan lembaga dapat membantu kita lebih besar daripada pendanaan dari donatur. Pada prinsipnya, jaringan ini menjadi modal sosial dan kultural yang akan memberikan banyak kontribusi kepada komunitas kita. Semakin banyak jaringan, semakin luas pula kesempatan untuk berkembang lebih pesat.

Keempat, memaksimalkan potensi.
Kerap kali suatu komunitas sulit berkembang karena tidak dapat memetakkan potensinya sendiri, pun potensi personelnya; atau sudah merasa memetakkan potensi, tetapi masih sulit untuk berkembang. Dalam kondisi ini, sebuah komunitas membutuhkan pandangan orang lain agar semakin dalam mengetahui potensi, peluang, serta ancaman apa saja bagi komunitas tersebut.

Tugas selanjutnya adalah mencari metode untuk mengembangkan potensi tersebut. Potensi yang besar tidak akan menjadi apa-apa jika tidak digerakkan dengan metode yang tepat. Metode inilah yang kemudian menentukan indikator keberhasilan program-program yang dilaksanakan.

Di akhir obrolan, kami menyadari bahwa komunitas yang selama ini kami geluti masih menyimpan dan menyisakan berbagai PR. Perkaranya bukan terletak pada kecil atau besarnya PR, melainkan bagaimana PR itu diselesaikan dan dengan cara apa? PR itu tidak akan pernah selesai, hingga kami dinyatakan lulus, entah oleh siapa. Yang kami tahu, kami mestilah terus bergerak.