2023 Annual Report

In what ways may democracy be jeopardized?

The fate of a nation’s democracy can be determined by coups, natural catastrophes, or unexpected technical breakthroughs, according to David Runciman (2018). Even in established democracies, crises can lead to democratic failure. Democracy may not be flawless, but it has proven time and time again to be the most effective system for maintaining liberty, innovation, peace, and economic growth. One important aspect is that, unlike other forms of governance, democracy can actually examine itself and make adjustments as needed.

In Indonesia, too, the truth of the matter is plain to see. Democracy in this nation has shown, particularly since the reform period, that Tocqueville was right: more mistakes happen in democracies, but more mistakes are effectively put out or fixed. Civil society’s outsized influence is one of the contributing elements

Established in 2001 amidst the reform frenzy after the New Order administration, Combine Resource Institution (CRI) is still striving to be relevant. Democracy and democratic governance are central to CRI’s ideology, mission, and principles as a Civil Society Organization (CSO). Despite being in its 22nd year, CRI is still facing new and old obstacles in the pursuit of its objective. In addition to being necessary for the accomplishment of advocacy goals, CRI is anticipated to enhance the ability to adapt and endure adverse conditions.

Both Indonesia as a country and CRI as part of CSOs have significant momentous occurrences in 2023. In this time leading up to the political year, incumbents put pressure on development agendas and insist on security interest agendas to maintain power at the national and regional levels. Whether CSOs continue down the road of struggle or move on to the stage of interest depends on their relevance and importance. In order to maintain its responsiveness to external democratic dynamics and enhance the quality of internal governance, CRI must achieve the purpose of the strategic plan in the second year, which it will do throughout this period.

In line with Jane Addams’s belief that democracy is based not only on representation but also on wisdom (social ethics) and citizenship, CRI has become an even more formidable institution that can assist other CSOs and community networks in enhancing their information literacy and holistic security. The development of integrated village-regional information systems for development governance is another area where CRI routinely pioneers new approaches. This is supposed to show that CRI keeps making important contributions to the democracy we need to keep living in.

Laporan Tahunan 2023

Apa saja yang sebenarnya bisa mengancam dan mengakhiri demokrasi?

David Runciman (2018) menuliskan bahwa kudeta, bencana, atau inovasi teknologi yang mengejutkan bisa mempengaruhi hidup matinya demokrasi sebuah negara. Namun, kegagalan demokrasi juga bisa terjadi akibat krisis dari sebuah demokrasi yang sudah matang sekalipun. Terlepas dari segala ketidaksempurnaannya, demokrasi tetap memiliki rekam jejak yang lebih baik dibandingkan bentuk pemerintahan lainnya dalam mempertahankan perdamaian, kebebasan, inovasi, dan kesejahteraan. Faktor penyebabnya, terutama, adalah kemampuan demokrasi untuk mempertanyakan diri sendiri dan mengoreksi diri sendiri, yang tidak terdapat dalam sistem pemerintahan lain.

Gambaran situasi tersebut secara realita juga terjadi di Indonesia. Terutama sejak era reformasi, kehidupan demokrasi di negara ini membuktikan ucapan Tocqueville bahwa ada lebih banyak kesalahan yang terjadi di negara demokrasi, tetapi lebih banyak pula kesalahan yang berhasil dipadamkan atau diperbaiki. Salah satu faktornya adalah kehadiran peran signifikan masyarakat sipil.

Combine Resource Institution (CRI) didirikan pada 2001 dalam euforia reformasi pascarezim Orde Baru, hingga kini terus mencoba memperkuat relevansinya. Sebagai Organisasi Masyarakat Sipil (OMS), CRI pun mendudukan demokrasi dan tata kelola yang demokratis sebagai ideologi, misi, dan prinsipnya. Dalam usia CRI ke-22 tahun, perjuangan pemenuhan misi organisasi tidak berhenti dan bahkan terus mendapat tantangan-tantangan baru. CRI tidak hanya dituntut mampu memenuhi tujuan-tujuan advokasi, tetapi diharapkan juga dapat meningkatkan kapasitas adaptasi dan resiliensi.

Tahun 2023 memiliki banyak momentum penting bagi Indonesia sebagai bangsa, dan bagi CRI sebagai bagian dari OMS. Periode ini adalah momentum menjelang tahun politik, yang diwarnai dengan tekanan agenda-agenda pembangunan dari petahana maupun desakan agenda-agenda pengamanan kepentingan untuk melanggengkan kekuasaan, di tingkat nasional maupun daerah. Relevansi dan signifikasi OMS diuji untuk tetap bertahan di jalur perjuangan atau bergeser ke panggung kepentingan. Periode ini juga menjadi ujian bagi CRI untuk menuntaskan misi rencana strategis di tahun kedua, agar tetap bisa responsif terhadap dinamika demokrasi di eksternal maupun meningkatkan kualitas tata kelola di internal.

Sepakat dengan pemikiran Jane Addams bahwa demokrasi itu tidak terbatas pada urusan perwakilan (representative), tetapi juga terutama pada hikmat kebijaksanaan (social ethics) dan kerakyatan (citizenship), CRI semakin mengukuhkan kapasitas sebagai lembaga yang mampu memberikan dukungan pengembangan literasi informasi dan keamanan holistik bagi sesama OMS dan jejaring komunitas. CRI juga tetap konsisten berinovasi dalam pengembangan keterpaduan sistem informasi desa-daerah dalam tata kelola pembangunan. Hal ini diharapkan menjadi bukti bahwa CRI terus berupaya secara konsisten memberikan kontribusi bagi demokrasi yang harus terus kita hidupi.

Merebut Makna Demokrasi: Merespons Situasi Politik Elektoral 2024

Menghitung jam menuju momen monumental 14 Februari, kita fasih menelan pertanyaan; “Pesta Demokrasi” ini milik siapa? Sebab frasa tersebut tak pernah dirasakan warga.

Pemilu adalah proses panjang yang tak hanya berlangsung sehari, begitu pula dengan rekayasa politik yang mengekori. Menilik ke belakang, praktik kecurangan demokrasi telah berjalan secara sistematis. Intervensi dan intimidasi kian menguat jelang Pemilu, termasuk tekanan terhadap kepala desa, ancaman kebebasan berekspresi kepada aktivis, hingga kepakaran akademisi yang direndahkan.

Sementara aparat menjelma instrumen kekuasaan yang terang-terangan menyalahgunakan fasilitas negara. Politisasi bansos mencapai angka 500 triliun—melebihi anggaran Pandemi Covid di tahun 2020. Distribusi ini dilancarkan atas nama elite politik yang sedang bersaing dalam Pemilu, padahal bansos diambil dari APBN; uang rakyat! Tata Kelola Bansos diterabas. Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) tak lagi punya arti.

Terlebih gurita oligarki masif bercokol di segala sisi, memperparah proses demokrasi yang kian jauh dari kata ideal. Kemunduran demokrasi ini tentu berdampak panjang di masa mendatang.

Lantas di mana posisi warga ketika kita hanya direduksi sebagai sekadar angka? Demokrasi bukan semata ritual elektoral yang eksis di level pusat. Ia adalah prakarsa yang tumbuh dari bawah, bukan urusan yang diperintahkan dari atas sebagai formalitas lima tahunan belaka. Demokrasi mesti hadir dari lingkup terdekat, lingkungan tempat tinggal, pekerjaan, serta laku keseharian. Kesadaran kritis inilah yang penting untuk kita gelorakan.

Kesadaran kritis berdemokrasi sejak di lingkup komunitas akan menjadikan kita sebagai warga paham akan posisi peran, hak, dan kewajiban. Hal itu akan sangat dibutuhkan dalam mengembangkan ekosistem kewargaan, mengelola sumber daya bersama secara berkeadilan. Pembelajaran dari level ini yang diharapkan dapat diperluas skalanya ketika berhadapan dengan agenda demokrasi dan pembangunan di tingkat desa, daerah, hingga negara.

Suara warga yang bersatu adalah napas panjang yang tak akan bisa dibungkam. Begitulah harapan itu akan terus ada. Mari rayakan pesta ini dengan perlawanan. Rebut makna demokrasi yang sejatinya ialah milik kita.

Tetap saling jaga dan mari kawal bersama!


Foto: Aksi Gejayan Memanggil Lagi, 12 Februari 2024 oleh Ferdhi Putra.