Pelatihan Keamanan Menyeluruh: Sebuah Usaha untuk Menciptakan Ruang Aman bagi Aktivis di Akar Rumput

oleh Aris Harianto and Ferdhi F. Putra

Dengan jaringan dan lingkup kerja terbatas (hiperlokal), insiden keamanan terhadap aktivis di akar rumput kerap luput dari perhatian publik.

Saat ini kebanyakan dari kita mungkin tidak bisa “hidup normal” tanpa gawai kita. Dunia kita seolah-olah terangkum dalam kotak kecil yang kita bawa kemana-mana, bahkan ke kamar mandi. Kotak kecil tersebut memberikan kita banyak kemudahan, mulai dari mencari penghidupan, melayangkan protes hingga mencari teman hidup. Syaratnya cukup mudah yakni; terhubung dengan internet dan kita rela menduplikasi diri kita dalam akun-akun virtual dengan mengunggah data pribadi kita.

Apa yang terjadi jika kita kehilangan gawai kita? Mungkin kita akan merasa biasa saja karena kita masih memiliki gawai cadangan. Namun bagaimana jika sehari-hari kita menggunakan gawai itu untuk bertransaksi, menghubungi teman atau keluarga, bekerja atau mungkin menggalang aksi-aksi sosial? Yang jelas kita tidak hanya kehilangan gawai tapi juga berpotensi kehilangan data, yang mungkin sangat penting, yang ada di gawai tersebut. Sampai pada satu titik peristiwa tersebut akan memengaruhi kondisi psikis kita.

Tentang Keamanan Menyeluruh: Sebuah Konsep

Keamanan Menyeluruh (Holistic Security) adalah sebuah konsep keamanan yang pertama kali diperkenalkan oleh Tactical Tech, sebuah organisasi nirlaba internasional yang fokus pada eksplorasi dan kampanye mitigasi dampak teknologi terhadap masyarakat. Konsep keamanan menyeluruh ditujukan bagi mereka para pejuang hak asasi manusia (HAM). Konsep ini mengintegrasikan tiga aspek yakni, keamanan fisik, keamanan digital dan keamanan psikososial. Sebagaimana diilustrasikan di atas, jika kita kehilangan gawai, maka tidak hanya gawai kita yang secara fisik tidak lagi dalam kendali kita, namun semua data yang ada di dalamnya, yang berpotensi disalahgunakan pihak lain. Tidak sampai di situ, peristiwa ini akan memengaruhi kondisi psikis kita. Maka mitigasi yang harus dilakukan harus mencakup tiga aspek tersebut.

Dalam implementasinya, konsep ini tidak mengharuskan para fasilitator untuk menjadi ahli dalam tiga aspek (keamanan fisik, digital dan psikososial). Namun implementasi konsep ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan memperkuat pengetahuan dan praktik paling dasar dari ketiga aspek tersebut berdasarkan pengalaman para peserta. Selain itu, implementasi konsep ini juga bertujuan untuk mendorong adanya pendekatan baru, kerangka kerja dan pemahaman bersama yang konsisten di antara semua pihak yang terlibat, baik di level individu maupun di level organisasi.

Kenapa Media Komunitas dan para Pegiat Isu Sosial di Akar Rumput

Dari Januari hingga Maret 2022 kami telah mengadakan Pelatihan Keamanan Menyeluruh di tiga kota: Lombok Timur, Banyuwangi dan Semarang. Pada pelatihan di tiga kota tersebut kami melibatkan para pegiat media komunitas, jurnalis profesi media lokal, pegiat literasi, dan aktivis lembaga bantuan hukum setempat.

Hasil survei yang kami lakukan sebelum pelatihan menunjukkan bahwa semua partisipan sering mengalami intimidasi, baik secara fisik maupun daring. Sebagai contoh, para pegiat media komunitas di Lombok Timur dan Pekalongan sering kali diprotes oleh orang-orang yang tidak berkenan dengan berita yang mereka angkat. Bentuk intimidasinya bermacam-macam. Mulai dari kata-kata kasar hingga ancaman kekerasan. Patut diketahui bahwa meskipun para pegiat media komunitas bekerja berdasarkan prinsip-prinsip jurnalistik, namun mereka tidak dilindungi oleh Undang-Undang Pers. Undang-undang Pers hanya mengakui perusahaan pers dan jurnalis yang bekerja untuk perusahaan pers, sedangkan media komunitas bukan perusahaan pers.

Hal yang sama juga banyak dialami oleh para jurnalis profesional media lokal. Bedanya mereka masih mendapatkan bantuan dari perusahaan pers tempat mereka bekerja, meskipun di sisi lain mereka kerap merasakan beban kerja yang berlebih dari perusahaan mereka. Intimidasi sejenis juga sering dirasakan oleh para pegiat literasi dan aktivis lembaga bantuan hukum yang terlibat dalam pelatihan ini.

Dari survei yang sama, kami juga menemukan bahwa tingkat pengetahuan mereka tentang keamanan digital sangat beragam. Masih banyak dari mereka yang tidak memiliki password yang kuat atau menggunakan password yang sama untuk banyak akun; tidak menerapkan otentifikasi dua langkah; dan menggunakan satu akun digital, misalnya akun media sosial organisasi, secara bersama-sama. Kebiasaan-kebiasaan ini termasuk kebiasaan yang rawan dan memicu terjadinya insiden keamanan digital. Kabar baiknya, sebagian kecil dari mereka termasuk orang-orang yang peduli tentang keamanan digital.

Dalam aspek psikososial, kami juga menemukan fakta bahwa mayoritas para peserta menyadari jika mereka sedang mengalami stres akibat pekerjaan mereka berlebih, namun tidak banyak dari mereka yang memahami bahwa hal tersebut penting dan harus segera diatasi. Hal ini tentu mengkhawatirkan karena jika stres terakumulasi maka akan ada kondisi di mana mereka tidak lagi dapat mengendalikannya. Hal ini tentu akan sangat merugikan, tidak hanya bagi mereka tapi juga keluarga dan lembaga tempat mereka bekerja.

Hasil survei tersebut meyakinkan kami bahwa konsep keamanan menyeluruh sangat relevan bagi mereka. Ditambah lagi fakta bahwa ada kecenderungan meningkatnya ancaman, terutama secara digital, bagi para pegiat isu sosial. Sepanjang tahun 2020, SAFEnet mengklasifikasi latar belakang para korban serangan digital dan menemukan bahwa terdapat 30 insiden serangan digital dengan korban warga umum, 26 serangan dengan korban jurnalis, 25 aktivis, 19 mahasiswa dan 15 serangan digital dengan korban organisasi masyarakat sipil. Selain itu sepanjang tahun tahun 2021, Amnesty International Indonesia juga mencatat terdapat 95 kasus serangan terhadap aktivis HAM dengan korban sebanyak 297 orang. Hal ini akan menambah tekanan psikologis bagi para pembela HAM karena berisiko mengalami kriminalisasi.

Fakta-fakta tersebut menjadi salah satu latar belakang bagi kami mengadakan pelatihan keamanan menyeluruh bagi para aktivis di akar rumput. Dengan jaringan dan lingkup kerja terbatas (hiperlokal), insiden keamanan terhadap aktivis di akar rumput kerap luput dari perhatian publik. Oleh karena itu kami mendesain pelatihan di setiap kota sebagai proyeksi untuk menciptakan sebuah ekosistem atau ruang yang aman bagi para aktivis di akar rumput. Paling tidak, dalam setiap pelatihan di tiga kota tersebut, kami melibatkan peserta dengan latar belakang media, aktivis, peminat teknologi informasi dan hukum. Dengan komposisi tersebut kami menargetkan adanya kolaborasi di antara mereka. Belajar dari insiden-insiden keamanan yang dihimpun SAFEnet dan banyak lembaga lain menurut kami kolaborasi tersebut akan memberikan ruang yang aman bagi para aktivis di level akar rumput.[]


Sumber gambar: Tactical Tech

Liputan jalannya kegiatan pelatihan Keamanan Menyeluruh di Banyuwangi, Jawa Timur, oleh Agus Wiratama dapat dibaca di sini.


Pemutakhiran: Artikel ini mengalami pembaruan pada 13 Juli 2023, pukul 11.07 WIB. Ada penambahan informasi mengenai liputan jalannya kegiatan pelatihan di Banyuwangi.

Simalakama Aplikasi Kencan

Aplikasi kencan menjadi wahana baru mencari teman di era digital. Akan tetapi, ada beberapa hal yang musti diperhatikan agar tidak terjerumus dalam kejahatan digital.

Aplikasi Kencan (dating apps) makin laris manis diserbu peminat. Era digital, yang mengubah cara hidup konvensional dengan banyak pertemuan fisik menjadi serba daring, adalah penyebabnya. Hasil kajian yang dilakukan oleh Pew Research Center, sebuah lembaga riset yang berbasis di Washington D.C., Amerika Serikat, menunjukkan bahwa pengguna dating apps di Amerika mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Tercatat sebanyak 11 persen orang dewasa di Amerika yang menggunakan dating apps pada 2013 bertambah jumlahnya menjadi 23 persen pada 2019.

Pandemi COVID-19 yang melanda sejak 2020 lalu tampaknya juga punya andil besar dalam pesatnya perkembangan dating apps. Dalam artikel yang berjudul Social Impact of online dating platform. A case study of Tinder, Maria Stoicescu, mahasiswi doktoral Program Studi Sosiologi, University of Bucharest, menyatakan bahwa kaum lajang mengakses Tinder, salah satu jenis dating apps, untuk mengatasi tekanan pembatasan sosial. Jika sebelum pandemi aplikasi percakapan seperti WhatsApp, Facebook, dan Line menjadi cara baru berkomunikasi, maka sejak pandemi aplikasi kencan seolah menemukan momentumnya. Dating apps boleh jadi merupakan alternatif solusi bagi mereka yang ingin mencari kenalan, teman, bahkan pasangan di tengah sepinya pertemuan offline saat pandemi.

Ada beragam jenis dating apps dengan kekhasan masing-masing. Misalnya, aplikasi Bumble, yang memberikan kesempatan bagi para pengguna perempuan untuk terlebih dahulu mengirim pesan perkenalan. Selanjutnya, ada OkCupid (OKC) yang menyiapkan ratusan pertanyaan berbagai tema bagi penggunanya untuk menentukan persentase kecocokan – yang biasa dikenal dengan istilah match. Selain yang telah disebutkan, tentu saja sebagian dari kita tidak asing dengan Tinder, Tantan, Coffee Meets Bagel, bahkan Line yang juga menyediakan ruang bertemu untuk orang-orang baru. Yang menjadi penting untuk dikritisi kemudian adalah, seberapa jauh beraneka dating apps tersebut menjamin keamanan penggunanya?

Potensi pelecehan digital

Seorang narasumber, sebut saja namanya Sakura (26), seorang pekerja di salah satu klinik hewan di Tangerang, Banten, menceritakan tentang pengalamannya saat menggunakan dating apps. Dia menyampaikan bahwa dirinya pernah mendapatkan gambar kurang menyenangkan dari teman baru yang dikenalnya lewat dating apps. “Aku langsung hapus gambarnya,” papar Sakura sambil tertawa pelan saat kami berkomunikasi via panggilan video beberapa waktu lalu. Meski dia bercerita dengan cengar-cengir, namun Sakura tidak memungkiri bahwa apa yang dialaminya tersebut merupakan kejadian yang membuat hatinya seperti diiris-iris ketika mengingatnya.

Narasumber lainnya, Lili (25), bukan nama asli, yang sedang menempuh pendidikan master jurusan seni menyampaikan kekesalannya terhadap seorang lelaki yang mengomentari tampilan fisiknya di tengah obrolan daring mereka. “Ada pengalaman dikomentari wajahku. Dia bilang di wajahku ada banyak flek hitamnya. Aku kesal!,” terangnya. Tanpa terlebih dahulu memaki lelaki yang telah melecehkannya, Lili memutuskan untuk memblokir dan melaporkan akun tersebut. Seperti halnya beberapa platform sosial media, dating apps juga menyediakan fitur lapor (report) untuk melaporkan akun-akun yang dianggap mengganggu.

Kisah Sakura dan Lili jelas bukanlah akhir dari kisah pelecehan digital yang dijembatani oleh dating apps. Sayangnya, kedua perempuan tersebut tidak mampu berbuat apa-apa ketika menghadapi pelecehan atau kekerasan berbasis gender online (KBGO) yang sedang mereka alami. Sakura mengaku tidak berpikir untuk melaporkan akun lelaki yang telah melecehkannya, sebab dia bahkan tidak paham kalau dirinya telah menjadi korban pelecehan yang “difasilitasi” oleh dating apps. Sementara itu, Lili yang sempat melaporkan akun lelaki yang melecehkannya juga belum puas karena dia tidak pernah tahu bagaimana tanggapan dating apps atas laporannya.

Eksploitasi data pengguna

Dalam sebuah diskusi daring berjudul Aplikasi Kencan dan Persoalan Ke(ny)aman yang disiarkan lewat Instagram PurpleCode Collective, aktivis pemerhati gender dan teknologi, Dhyta Caturani menjelaskan bahwa dating apps mengakses data-data pribadi penggunanya seperti nama, e-mail, foto, status gender, lokasi domisili, bahkan pandangan sosial-politik. Semakin banyak kita menjawab pertanyaan yang telah disiapkan oleh dating apps, maka semakin banyak pula data kita yang dieksploitasi. Dhyta juga mengungkapkan bahwa tiap dating apps punya caranya sendiri untuk merayu penggunanya untuk mengobral data pribadi mereka. “Ada catch phrase, ada frasa-frasa yang membuat kita ingin mengisi data-data di dating apps itu,” kata Dhyta.

Ditambah lagi, dating apps ternyata juga punya kemampuan melacak dan menganalisis kebiasaan serta aktivitas para penggunanya. Hasil rekaman dan analisis tersebut kemudian dimanfaatkan untuk tujuan komersial. Mesin analisis dating apps akan menawarkan iklan yang telah disesuaikan dengan kebiasan yang dilakukan oleh masing-masing pengguna yang sebelumnya telah terlacak. Dengan demikian, terjadilah eksploitasi data pengguna dating apps. “Dari aktivitas dan habit kita di dating apps, kemudian dikembangkanlah persona atau profil kita masing-masing. Tujuannya, agar mereka bisa menawarkan iklan yang pas,” jelas Dhyta.

Perlukah kita menginstal dating apps?

Setelah membongkar berbagai risiko penggunaan dating apps, lalu apakah sebaiknya kita berhenti memakainya dan mencoba kembali cara lama untuk berinteraksi secara offline atau luring saja?

Lili maupun Sakura sepakat bahwa mereka tidak takut untuk melanjutkan aktivitas berjejaring melalui dating apps walau keduanya sempat mendapat pelecehan. Bagi dua perempuan itu, urgensi pemakaian dating apps hari ini cukup penting mengingat semakin minimnya kesempatan untuk berkenalan dengan orang-orang baru di dunia nyata. “Aku masih lanjut mencari teman ngobrol di Tinder, di Coffee Meets Bagel juga,” kata Sakura. Sementara itu, Lili mengaku enggan menghapus dating apps di smartphone-nya karena dia beranggapan bahwa masih ada banyak cerita indah para pasangan yang bertemu lewat dunia maya. Dia menceritakan tentang beberapa temannya yang bertemu dan menjalin hubungan serius dengan orang-orang yang dikenal melalui dating apps. “Teman-temanku banyak yang sukses dapat jodoh lewat dating apps. Banyak juga kok pengalaman positif di sana. Yang penting hati-hati,” tandasnya.

Adanya kebutuhan penggunaan dating apps juga disampaikan oleh Dhyta Caturani. Dia menjelaskan bahwa penggunaan aplikasi kencan online bukanlah hal yang dapat dihindari karena kita sedang berada di era digital. “Kalau mau pakai, ya pakai aja. Dating apps ini bukan sesuatu yang bisa dihindari di digital age. Sekarang memang cara ketemu banyak lewat dating apps atau sosial media,” tutur Dhyta. Dia kemudian mengingatkan bahwa penggunaan dating apps harus disertai dengan beberapa trik mitigasi untuk meminimalisir risiko.

Dhyta menyampaikan beberapa tips keamanan digital yang dapat dipraktikkan oleh user dating apps, di antaranya: gunakan e-mail khusus untuk dating apps; hindari pemakaian nomor telepon untuk login; dan kalau sudah menemukan match yang berlanjut pada aktivitas chatting, jangan sekali-kali bersedia untuk mengirim foto dan data pribadi sebelum bertemu terlebih dahulu. Satu tips lagi dari Dhyta, jangan ragu untuk mengambil screenshot profil dan bukti percakapan orang-orang yang kiranya melakukan pelecehan kepada kalian.

Jadi bagaimana? Perlukah kita ikut-ikutan mencoba berjejaring lewat dating app atau kembali ke tradisi lama?


Daftar Pustaka


Foto: Sarah Perez lewat techcrunch.com

Yang Tak Tampak di Jagat Digital

Beberapa waktu lalu sempat ramai perbincangan mengenai film Penyalin Cahaya. Ada beberapa isu keamanan digital yang bisa jadi pengingat buat kita.

Kalau WeTV beberapa waktu yang lalu berhasil meramaikan jagat bioskop daring dengan serial Layangan Putus, maka Netflix tidak mau kalah lewat Penyalin Cahaya. Tidak berseri, tontonan tersebut adalah film yang berdurasi dua jam lebih sedikit. Film yang dirilis pada pertengahan Januari 2022 ini bertahan cukup lama di top ten Neflix Indonesia. Dalam ajang Festival Film Indonesia (FFI) yang digelar pada akhir 2021 silam, buah karya Wregas Bhanuteja ini memborong setidaknya dua belas penghargaan. Tema cerita tentang pelecehan seksual di kampus yang belakangan menjadi topik hangat pemberitaan, adalah kunci daya pikatnya. Ditambah lagi, alur menegangkan yang susah ditebak betul-betul membawa angin segar bagi penikmat film Indonesia. Maka, tidak heran kalau tanggal penayangannya yang perdana amat dinanti-nanti oleh pemirsa.

Di tengah euforia menyambut tanggal penayangannya di Netflix, kabar mengejutkan perihal skandal pelecehan seksual yang dilakukan oleh salah satu kru film ini viral. “Masak kru film bertema pelecehan seksual malah jadi pelaku pelecehan,” begitu celetuk salah seorang teman saat kami larut dalam kehebohan pemberitaannya. Sempat ada prediksi bahwa tontonan ini bakal tak laku akibat cerita kelam kreatornya. Akan tetapi prediksi itu tidak terjadi, sebab Penyalin Cahaya malah bertahan cukup lama di jajaran film paling dicari pada Januari—Februari 2022.

Saya tidak mau berpanjang-panjang membahas berita miring tentang kru yang bekerja di belakang kesuksesan film ini. Terlepas dari berita mengejutkan tersebut, saya tetap menikmati dan mendapat banyak pelajaran lewat Penyalin Cahaya. Salah satu isu penting yang disampaikan melalui film ini adalah fenomena pelecehan seksual dan ruang aman bagi kaum marginal. Aktivis perempuan Kalis Mardiasih, misalnya, yang sempat mengatakan bahwa absennya ruang aman di dunia daring (online) yang digambarkan melalui film tersebut merupakan lanjutan dari persoalan ketimpangan relasi kuasa di dunia luring (offline).

Melanjutkan pendapat Kalis soal ruang aman jagat daring, maka saya mencoba menguraikan sedikit tentang apa saja ancaman digital yang bisa ditemukan dalam film ini. Di dua puluh menit pertama, penonton akan diperkenalkan pada tokoh utama serta konflik cerita yang sangat kontekstual dengan jagat digital. Suryani, protagonis dalam film ini harus kehilangan beasiswa lantaran foto dirinya yang tengah mabuk di sebuah pesta tersebar melalui media sosial. Apa yang dialami oleh Sur seketika menyadarkan saya terhadap bahaya jejak digital yang di era ini dapat dengan mudahnya diakses oleh banyak orang. Siapa yang mengira, bahwa menyimpan swafoto di gadget pribadi yang seolah-olah lumrah dan tidak bakal memicu bahaya nyatanya berdampak pada masa depan.

Konflik kian meruncing tatkala dalam proses memperjuangkan kembali beasiswanya, Sur malah mendapati dirinya telah menjadi korban pelanggaran privasi dan keamanan data pribadi. Tanpa dia duga, tokoh Amin–seorang penjaga fotokopi kampus–yang merupakan orang kepercayaan Sur untuk membantu menyelesaikan permasalahan beasiswanya, justru berkhianat. Amin ternyata telah membobol foto-foto pribadi Sur, juga beberapa pelanggan jasa fotokopi di lapaknya. Parahnya lagi, foto-foto pribadi Sur dan beberapa orang korban lainnya kemudian diberikan kepada pihak lain demi memperoleh keuntungan. Saya ngeri sendiri membayangkan bahwa diri ini juga bisa saja menjadi korban pencurian data pribadi sekaligus pelanggaran privasi akibat memakai jasa print di gerai fotokopi. Saya tidak pernah benar-benar tahu seberapa besar jaminan keamanan data pribadi saat sedang mencolokkan flashdisk atau smartphone di komputer fotokopian.

Hampir semua korban pencurian data dan pelanggaran privasi yang dilakukan oleh Amin adalah mahasiswi. Dari ilustrasi tersebut, semakin tergambar bahwa ancaman kekerasan di ruang digital lebih banyak dialami oleh perempuan. Istilah “Kekerasan Berbasis Gender Online” (KBGO) tentu saja menjadi materi penting yang juga tidak boleh dilupakan dalam film ini.

Setelah menonton film ini, saya bertanya-tanya pada diri sendiri: seberapa besar, sih, kesadaran masyarakat akan bahaya dunia digital yang makin hari makin bervariasi? Berapa banyak orang, sih, yang sudah paham tentang pesatnya perkembangan teknologi era kini yang sebetulnya berbanding lurus dengan kian maraknya ancaman dunia online yang terkadang luput disadari? Menurut saya, ide cerita film tersebut sangat brilian. Bukan cuma sebagai sebuah karya seni yang menyerukan kritik terhadap kekerasan seksual, tetapi film ini juga menyiarkan pentingnya literasi keamanan digital. Belum banyak film Indonesia yang mengangkat tema bahaya perkembangan digital. Namun, lewat film ini, penonton akan disadarkan pada urgensi untuk mulai melek digital.[]


Gambar “Penyalin Cahaya” (2021) diambil dari imdb.com.

Jagongan Melek Digital 2021: Perempuan Bercerita, Berbagi, Berdaya

Tahun 2021 menjadi tahun perdana gelaran Jagongan Melek Digital (JMD) yang kami gagas. Berharap dapat membantu menyebarluaskan gagasan tentang pentingnya keamanan digital.

Kita semua tahu, pandemi mengubah cara orang berkomunikasi, dan hampir semua bergantung pada perangkat digital. Meningkatnya aktivitas di dunia digital selama masa pandemi kian membuat ancaman di dunia maya juga makin besar. Perempuan menjadi salah satu yang paling rentan mengalami kejahatan siber. Mulai dari KBGO, pinjaman online, hingga hoaks. Berangkat dari situ kami terdorong untuk mengadakan kegiatan yang (semoga) dapat meningkatkan kesadaran akan pentingnya keamanan digital, terutama bagi kaum perempuan dalam situasi pandemi melalui. JMD adalah salurannya.

Kegiatan ini tersusun atas dua acara inti, yaitu kompetisi video kreatif dan rangkaian diskusi publik daring. Tahun ini, JMD mengusung tema “Perempuan Bercerita, Berbagi, Berdaya”. Perempuan menjadi jantung dari tema gelaran ini, di mana mereka diberikan ruang untuk membagi pengalaman dan memberdayakan diri di jagad keamanan digital. Para perempuan yang pernah mendapatkan ancaman dalam dunia digital seperti terjerat kasus pinjol, pelecehan berbasis gender, hingga menjadi korban hoaks diajak untuk berbagi pengalamannya dan menjadi insipirasi bagi perempuan-perempuan lainnya agar lebih memahami tentang pentingnya menjaga keamanan dalam dunia daring.

Pinjol dan persoalan keamanan data pribadi

JMD 2021 menyajikan rangkaian diskusi publik yang digelar empat kali beruntun selama September hingga Oktober 2021. Diskusi pertama berjudul “Perempuan, Pinjol, dan Keamanan Data Pribadi”, yang berlangsung pada 10 September 2021. Mengundang para perempuan yang pernah menjadi korban pinjaman online (pinjol), para peserta diskusi diajak untuk mengetahui lebih jauh tentang bagaimana dampak ekonomi maupun psikis yang harus ditanggung oleh korban yang terjerat. Para korban pinjol mengalami berbagai intimidasi, pelecehan, pencemaran nama baik, pelanggaran data pribadi, hingga kerugian materi.

“Di sini, data-data pribadi saya disalahgunakan, nama baik saya dicemarkan, dan saya mengalami kerugian materi,” jelas Deliana, salah satu narasumber yang pernah menjadi korban pinjol.

Diskusi juga dihadiri oleh Citra Referandum, pengacara publik Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta yang telah banyak memberi pendampingan hukum kepada korban pinjol, serta Teguh Aprianto  dari Ethical Hacker Indonesia yang kerap berbagi informasi tentang keamanan digital kepada khalayak. Baik Citra maupun Teguh banyak memberikan gambaran tentang bagaimana langkah preventif maupun solusi bagi mereka yang terjerat pinjol. Langkah preventif yang ditawarkan adalah dengan mengupayakan pencegahan mandiri kebocoran data dan privasi di dunia daring.

“Setiap kita menyerahkan foto KTP atau selfie, dikasih saja watermark. Jadi ketika terjadi kebocoran data, kita tahu, sumber bocornya ini dari mana,” kata Teguh, menjelaskan salah satu langkah pencegahan mandiri untuk mengamankan data pribadi.

Sementara untuk solusi bagi mereka yang sudah telanjur terjerat pinjol, tidak perlu takut untuk menyuarakan atau melaporkan berbagai pelanggaran hak data pribadi kepada lembaga bantuan hukum seperti LBH. Citra menegaskan bahwa LBH Jakarta akan senantiasa terbuka bagi para korban di seluruh Indonesia.

“Teman-teman bisa cek di (website) YLBHI (Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia) yang terdekat dengan domisilii teman-teman, dan mengadu secara gratis,” jelasnya.

Melek digital, lawan KBGO

Diskusi sesi kedua digelar pada 17 September 2021 dengan mengangkat tema “KBGO Meningkat Selama Pandemi: Bagaimana Mengatasinya?” Sama halnya pada sesi pertama, diskusi yang kedua ini juga menghandirkan para perempuan yang pernah mengalami kekerasan berbasis gender online atau KBGO. Lewat diskusi ini publik diajak mempelajari berbagai bentuk ancaman yang sekaligus hambatan dalam mendapatkan perlindungan yang dialami oleh para penyintas KBGO. Dalam kasus KBGO, korban kerap mendapatkan penghakiman atau victim blaming saat berusaha mencari bantuan hukum di kantor polisi.

Sesi diskusi kedua ini didukung dengan hadirnya para penanggap yang telah berpengalaman dalam memberikan pendampingan kepada penyintas KBGO. Mereka adalah Linda Tagie dari Komunitas Lowewini Kupang, NTT, dan Uli Pangaribuan dari LBH APIK Jakarta. Uli menjelaskan bahwa menyimpan bukti KBGO itu penting agar memudahkan korban dalam memperoleh bantuan hukum. Adapun Linda berpesan bahwa penting bagi para perempuan untuk tidak sembarangan menyebarkan data pribadinya seperti foto wajah, nama lengkap, alamat rumah, hingga nomor telepon demi membentengi diri dari potensi KBGO. Sebab, data pribadi yang tersebar ini dapat memicu terjadinya KBGO dan trauma.

“Sebisa mungkin jangan pernah bagikan data pribadi, apalagi foto dan video teman-teman kepada orang-orang yang meminta, sekali pun itu adalah orang terdekat yang mungkin dia adalah pacar atau bahkan suami,” jelasnya.

Mengapa orang mudah termakan hoaks?

Berlanjut pada sesi diskusi ketiga berjudul “Hoaks dan Keamanan Dunia Maya” yang diselenggarakan pada 24 September 2021. Pada sesi ini, Winda Azri, pegiat media komunitas Speaker Kampung (Lombok Timur, NTB) berbagi cerita tentang hoaks yang beredar di lingkungannya, termasuk tentang COVID-19. Diskusi juga dihadiri oleh dr. Gina Anindyajati, psikiater dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta yang menjelaskan tentang motif di balik penyebaran hoaks dari sudut pandang psikologis. Gina menjelaskan bahwa motif penyebaran hoaks adalah kombinasi atas faktor alamiah manusia yang cenderung malas berpikir dan kurangnya pemahaman literasi digital.

“Makanya kita perlu melatih diri kita untuk sedikit saja rajin berpikir. Tanya sendiri pada diri sendiri apakah kita perlu menyebarkan berita itu untuk orang lain atau tidak,” katanya.

Selain Gina, ada pula Heru Tjatur, pakar teknologi informasi dan komunikasi dari ICT Watch. Tjatur menegaskan bahwa penyebaran hoaks yang masif tidak bisa dilepaskan dari fakta pandemi yang mengharuskan banyak orang untuk semakin dekat dengan gadget. Para pemegang gadget dengan wawasan digital yang minim sangat berpotensi sebagai penyebar hoaks. Oleh sebab itu, perlu diberikan literasi digital bagi para pengguna gadget agar mereka lebih bijak dalam bertindak di dunia daring.

“Sebenarnya ada tools untuk melakukan recheck informasi. Tapi kita tidak terbiasa melakukan itu, sehingga dalam beberapa kegiatan literasi digital, kita mendorong orang untuk paling tidak mempunyai basic pemahaman tentang bagaimana menggunakan gadget yang ada di tangan mereka,” imbuh Tjatur.

Galakkan literasi digital melalui video kreatif

Sesi keempat dan terakhir diskusi berlangsung pada 7 Oktober 2021 dengan topik bahasan “Video sebagai Medium Literasi Kemanan Digital”. Diskusi ini menjadi ajang pertemuan dan pertukaran gagasan bagi para peserta kompetisi dan juri. Selama sebulan penuh masa pendaftaran kompetisi, tercatat sebanyak 25 partisipan, baik individu maupun kelompok telah mengumpulkan karya.

Dalam perlombaan ini, CRI menggandeng Pitra Hutomo dari Task Force KBGO, Rachma Safitri dari Yayasan Kampung Halaman, serta Iin Valentine dari media warga BaleBengong (Bali) sebagai juri. Proses penjurian yang ketat menghasilkan keputusan tiga pemenang. Juara pertama diraih oleh Halusinema.id dengan video kreatif mereka yang berjudul “Wiweka”. Karya mereka mengangkat tema tentang pentingnya menjaga keamanan data pribadi yang disampaikan dengan smooth dan dibumbui unsur jenaka, video ini berhasil mencuri hati para juri.

“Kalian menggunakan pengalaman-pengalaman dekat yang kadang diabaikan. Itu bagus banget. Kami juga mengapesi pilihan komedi yang kalian sebut. Pendekatan komedi memang cocok untuk menyampaikan hal-hal yang sebenarnya rumit dan penting,” jelas Rachma Safitri mewakili para juri saat menjelaskan mengapa video karya Halusinema.id layak menjadi juara.

Juara kedua diraih oleh SMI Official melalui karya mereka yang berjudul “Story of Melisa”. Video ini mengajak agar kita mendukung dan bersimpati kepada korban KBGO. Sementara juara ketiga berhasil diraih oleh peserta individu Isnawati Kurniastuti lewat karya animasinya yang berjudul “KBGO?”. Video tersebut menjelaskan dengan rinci perihal apa itu KBGO hingga bagaimana mitigasinya.

Selain itu, kontes ini juga memberikan kesempatan bagi publik untuk menentukan karya favorit mereka. Dari puluhan video yang masuk, juri memilih enam terbaik yang menjadi nominasi. Keenam karya tersebut adalah tiga karya yang menjadi juara menurut keputusan juri, ditambah tiga karya lainnya, yaitu: “Salaq Selahkarya Speaker Kampung; “Bijak Gunakan KTP” karya NAFLA; dan Relationsick karya RVP. Dari 1802 pemilih, karya NAFLA memperoleh 30,3 persen atau 546 pemilih dan berhasil menjadi juara favorit.

JMD adalah upaya untuk memperluas keterlibatan masyarakat dalam memahami isu literasi digital. Dengan gelaran ini, diharapkan agar semakin banyak pihak yang terjamah oleh wawasan literasi keamanan digital, terutama para perempuan akar rumput sebagai pihak yang rentan mengalami kekerasan di dunia maya. Sampai jumpa di gelaran JMD berikutnya![]

Menjawab Ancaman Dunia Daring melalui “Jagongan Melek Digital”

Jagongan Melek Digital (JMD) adalah upaya untuk mencari solusi dan antisipasi ancaman di dunia digital dengan menggunakan sudut pandang penyintas.

Kita tengah berada di zaman di mana berbagai aktivitas daring kian mendominasi. Kegiatan daring makin meningkat seiring dengan munculnya pandemi COVID-19. Sebagai konsekuensi atas banyaknya aktivitas daring, semakin besar pula potensi ancaman di dunia digital.

Salah satu ancaman di dunia digital yang sering kita temui adalah hoaks. Selama pandemi, misalnya, tak terhitung banyaknya hoaks yang beredar. Bahkan, hoaks-hoaks tersebut tidak jarang merenggut nyawa orang-orang yang terbuai olehnya. Selain itu ada banyak ancaman kejahatan siber seperti pencurian data pribadi yang berimbas pada penyalahgunaan data pribadi, penipuan, jeratan pinjaman online (pinjol) ilegal, hingga kekerasan gender berbasis online (KBGO). 

Merespons situasi tersebut, Combine Resource Institution (CRI) menggelar Jagongan Melek Digital yang akan diselenggarakan pada 16 Agustus hingga 30 September 2021. Tahun ini, JMD mengambil tema “Perempuan Bercerita, Berbagi Berdaya”. Acara ini terdiri atas dua kegiatan utama, yaitu kompetisi video kreatif bertema “perempuan dan keamanan digital” dan pekan diskusi dengan mengangkat isu-isu kejahatan di dunia digital. Dan dalam konteks ini, perempuan menjadi kelompok paling rentan. Berbagai penelitian telah membuktikan itu. Untuk itulah, kegiatan ini mengambil sudut pandang perempuan, terutama yang berasal dari masyarakat akar rumput. 

Kompetisi Video Kampanye Literasi Digital

Dengan pertimbangan bahwa audio visual merupakan medium yang efektif sebagai alat penyampai pesan, CRI mengadakan kompetisi video untuk mengkampanyekan pentingnya keamanan digital.

Partisipan kompetisi ini bersifat kelompok. Mereka mesti berasal dari komunitas atau organisasi, bukan individu. Adapun video yang diikutsertakan dalam kompetisi ini merupakan karya orisinil dan belum pernah dipublikasikan atau dilombakan. Untuk informasi lebih jelas mengenai kompetisi video kreatif, silakan klik di sini. Ada total hadiah Rp 12 juta untuk para pemenang.

Pekan Diskusi Keamanan Digital

Diskusi dengan berbagai tema kejahatan siber akan digelar seminggu sekali selama empat pekan selama bulan September. Diskusi ini akan menghadirkan para perempuan penyintas kejahatan siber untuk berbagi pengalaman yang pernah mereka hadapi. Agar semakin lengkap, forum ini akan menghadirkan pakar dan praktisi yang menekuni bidang tersebut atau mereka yang pernah atau sedang mendampingi penyintas. Informasi lebih lengkap mengenai rangkaian diskusi tersebut akan kami umumkan pada 30 Agustus mendatang.

Informasi lebih lanjut

Website: localhost/cri/
Twitter: @combineri
Instagram: @combine_ri
Facebook: Combine Resource Institution
Surel: jmd@combine.or.id
Narahubung : Fifi (0818 0438 9000)

Laporan Tahunan 2020

Pandemi Covid-19 membawa dampak berbeda bagi setiap orang dan juga organisasi. Tidak mudah bagi kami untuk merumuskan apapun bila basisnya adalah ketidakpastian. Kami memang mendapat bantuan, misalnya berupa asistensi teknis, untuk melakukan perubahan perencanaan dan penganggaran karena hal ini benar-benar baru bagi kami.

Namun kami tetap mengalami kesulitan, sebab perubahan tersebut tidak bisa berdiri sendiri. Kami tetap harus memproyeksikan faktor di tahun-tahun berikutnya, terkait bisa atau tidaknya capaian tahun ini dikompensasikan. Masalahnya adalah faktor-faktor yang terkait pandemi belum dapat dipastikan. Kontrol terhadap faktor-faktor tersebut, misalnya saja soal vaksin, berakhirnya pembatasan dsb., tidak berada pada kami.

Bagaimanapun basis aktivitas kami, baik terkait penguatan lembaga maupun implementasi program, adalah pertemuan tatap muka dan kegiatan berjejaring yang memerlukan mobilitas tinggi. Kami memang tetap mencoba menggantinya dengan pertemuan daring. Namun seperti sudah diduga, efektivitasnya terbentur banyak hal mulai dari kultur mitra hingga faktor teknis seperti jaringan internet yang tidak stabil dan merata.

Meski terlihat serba buntu, kami tetap mencoba fokus pada hal-hal yang bisa kami kontrol. Itulah yang kemudian kami dorong agar tetap muncul semangat dan hasil yang positif. Beberapa capaian penting pun tetap bisa kami gapai selama 2020, yang bisa dilihat di laporan ini.

Dalam hal kapasitas lembaga, misalnya, kini kami resmi memiliki keahlian manajemen server data bersertifikat. Keahlian ini menjadi penting sebab berdasarkan pengalaman selama ini, kebutuhannya selalu muncul saat kami mendorong terwujudnya integrasi data di daerah.

Kami juga tetap menjaga komitmen pada literasi digital, khususnya keamanan digital bagi perempuan di wilayah rural. Justru situasi pandemi makin membuat literasi digital bagi perempuan rural semakin esensial.

Beberapa kemajuan terkait upaya mewujudkan satu data dari desa di beberapa daerah juga terjadi selama 2020. Kami membayangkan, bahkan yakin, andai integrasi data telah terealisasi maka persoalan seputar penanganan pandemi akan lebih efektif. Mulai dari pengucuran bantuan, penelusuran pasien hingga pemberian vaksin, akan lebih sinkron dan tertata. Mestinya pandemi ini menjadi momentum bagi pihak terkait tata kelola data di negara ini untuk benar-benar mengubah paradigma dan kebijakannya.

Seperti halnya sebagian warga dunia, tidak mudah bagi kami menjaga asa, daya dan stamina justru ketika kami mencoba menerapkan protokol kesehatan dengan patuh. Dibutuhkan ketahanan mental, sebab situasi personal yang dihadapi tiap staf maupun mitra tentu berbeda. Sejauh ini kami mencoba mengatasinya dengan komunikasi. Komunikasi yang terbuka, jujur, saling menghargai dan saling menyemangati. Bukan yang menghakimi, penuh asumsi dan pretensi, apalagi menganggap diri paling benar dan suci.

Selamat menikmati laporan ini. Kami yakin terutama di masa pandemi yang tak kunjung usai ini, yang kita butuhkan adalah saling percaya, saling menguatkan, respek dan sinergi. Sikap menghakimi, arogan apalagi dipenuhi semangat “yang penting aku selamat” sama sekali tidak membantu di masa ini.

Dan kami juga yakin seperti cuplikan lagu “You’ll Never Walk Alone”, at the end of the storm there’s a golden sky.[]

[VIDEO] Mengapa Literasi Keamanan Digital Itu Penting untuk Perempuan?

Perkembangan teknologi digital yang kian masif menjadikan literasi keamanan digital sebagai sesuatu yang penting dikuasai oleh para penggunanya.

Ada banyak pihak yang menganggap bahwa teknologi digital memberi keuntungan bagi peradaban, namun ada juga yang mencoba menelaah “sisi gelap”-nya. Salah satunya, misalnya, tentang bagaimana teknologi digital memberi dampak terhadap kaum perempuan. Oleh karena itu kami memilih untuk fokus pada isu keamanan digital untuk perempuan.

Menurut berbagai penelitian dan amatan terhadap komunitas yang menjadi jejaring kami, perempuan merupakan kelompok rentan dalam isu keamanan digital. Kami telah melakukan kampanye dan penguatan kapasitas untuk perempuan di ranah ini sejak 2018, dengan sasaran utama para ibu rumah tangga. Untuk menjangkau mereka kami bekerja sama dengan taman baca masyarakat (TBM).

Tentu itu hanya salah satu upaya. Di masa yang akan datang kami membuka peluang untuk berkolaborasi dengan elemen warga lain untuk menjangkau kelompok sasaran utama kami; perempuan ibu rumah tangga.[]

Mengapa 2-FA Penting?

Password atau kata sandi yang rumit tidak cukup untuk melindungimu di dunia digital. Pertahanan kedua yang harus kamu lakukan adalah dengan menggunakan otentikasi dua faktor.

Otentifikasi dua faktor atau Two-factor authentication (2FA) adalah metode untuk mengkonfirmasi identitas yang diklaim pengguna dengan menggunakan kombinasi dari dua faktor yang berbeda: 1) sesuatu yang mereka tahu; 2) sesuatu yang mereka miliki. Di era digital ini, semua akunmu harus diamankan dengan 2FA.

Yuk simak mengapa 2FA penting!

Apa Itu Privasi?

Di Indonesia dan banyak negara Asia, nyaris tak memiliki konsep privasi. Namun, era digital mau tak mau membuat kita harus memahami privasi, sebab memiliki implikasi signifikan dalam kehidupan harian kita, terutama yang berkaitan dengan penggunaan internet maupun teknologi lainnya.

Misalnya, kita harus paham bahwa setiap aplikasi di internet mewajibkan kita memberi mereka akses ke tempat penyimpanan data-data kita, seperti galeri foto hingga kontak. Ini adalah konsekuensi riil dalam penggunaan internet. Lalu, apa yang harus kita lakukan? Kami memiliki penjelasan penting soal apa itu konsep privasi dan tips dalam pengelolaannya.[]

Mengapa Jurnalis Warga Harus Peduli Keamanan Digital?

Selamat Hari Internet Aman Sedunia! Eh, sekarang Hari Pers Nasional juga, ya? Omong², kita bisa ngga sepakat dg penetapan hari pers buatan Orde Baru itu, tapi kami mau sedikit ngomongin tentang pentingnya keamanan digital buat jurnalis warga di #SaferInternetDay ini.

Kita semua tau, dunia maya makin rawan bagi setiap orang yg menggunakannya. Bbrp tahun belakangan, serangan digital terjadi kian masif. Mulai dr peretasan, doxing, persekusi, hingga penyadapan ilegal. Kalian pernah mengalami?

Nah, dari data yg dikumpulkan SAFEnet, serangan digital thdp kelompok kritis menempati urutan pertama. Siapa saja kelompok kritis? aktivis, jurnalis dan mahasiswa. Memang blm ada data serangan thdp jurnalis warga. Tapi bukan berarti ngga ada atau ngga akan terjadi, kan?

Padahal, jurnalis warga bisa dibilang tergolong kelompok kritis–coba deh tanya BaleBengong, media jurnalis warga di Bali yg barangkali punya pengalaman terkait ini. Sudah semestinya keamanan digital jd perhatian jurnalis warga atau pegiat media warga. Jadi, harus antisipasi!

Kalo mau lebih banyak tentang pentingnya keamanan digital bagi jurnalis warga, coba cek artikelnya Anton Muhajir di sini.

Oya, selain data yg dikumpulkan SAFEnet, survei Remotivi tentang keamanan digital di kalangan jurnalis juga bisa jd rujukan. Ancaman thdp jurnalis media arus utama maupun media warga adalah nyata!

Dunia maya, sebagaimana dunia nyata, semestinya aman bagi semua orang. Ya, ngga? #SaferInternetDay