Tak Usah Menunggu jadi Korban untuk Peduli Keamanan Digital

Hingga akhir November 2020 ini saya belum pernah mendapatkan informasi adanya insiden serangan digital terhadap pewarta warga maupun pegiat media warga.

Meskipun demikian, melihat maraknya serangan digital terhadap kelompok kritis di Indonesia, para pegiat media warga juga harus lebih waspada. Apalagi, media warga memang memiliki kerentanan terhadap serangan semacam ini.

Berdasarkan pemantauan Southeast Asia Freedom of Expression Network (SAFEnet) selama April – November 2020, serangan digital terhadap kelompok kritis menempati urutan pertama di antara korban-korban lain di Indonesia. Jumlahnya mencapai lebih dari 75 persen dari 84 insiden serangan yang tercatat oleh tim pemantauan di mana saya juga terlibat di dalamnya. Kelompok kritis itu termasuk aktivis, jurnalis, dan mahasiswa.

Bentuk serangan paling banyak berupa pengambilalihan (hijacking) akun media sosial seperti Twitter dan Instagram serta aplikasi percakapan ringkas WhatsApp. Sebagian kecil adalah peretasan (hacking) situsweb sebagaimana terjadi pada Tempo.co, Tirto.id, serta situsweb penggalangan dana Walhi. Ada juga serangan terhadap akun Twitter Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) dan akun Instagram Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bali.

Serangan Politis

Seperti sudah beberapa kali saya sampaikan, misalnya di The Jakarta Post, serangan-serangan semacam ini semakin memperlihatkan adanya perubahan motivasi serangan digital. Dari semula didominasi motif mendapat keuntungan ekonomi seperti pemerasan, serangan digital saat ini makin bersifat politis. Jika serangan bermotif ekonomi lebih bersifat acak, maka serangan digital dengan tujuan politis lebih menyasar kelompok tertentu. Pelakunya dengan sadar memilih sasaran serangan digital tersebut.

Serangan bermotif politik juga berbeda dengan serangan bermotif personal, seperti balas dendam atau fitnah. Jika serangan bermotif personal lebih banyak dilakukan oleh orang-orang terdekat korban, misalnya mantan pasangan atau bekas kolega, maka serangan bermotif politik dilakukan oleh orang-orang yang tidak dikenal langsung oleh korban. Serangan digital bermotif politik pun lebih bersifat asimetris. Tidak bisa dilihat hanya seolah-olah melibatkan dua pihak; pihak yang dikritik dan yang mengkritik.

Kita tidak bisa membuktikan siapa pelaku-pelaku serangan digital tersebut, tetapi jika melihat latar belakang korban yang sebagian besar adalah kelompok yang kritis terhadap pemerintah, maka kita bisa menduga-duga siapa di baliknya. Apalagi serangan digital bersifat kasar (hard attack), semacam pengambilalihan akun media sosial dan nomor WhatsApp, juga memerlukan teknologi yang tidak sembarang orang bisa membeli dan kuasai. Serangan juga makin masif terjadi ketika muncul isu kontroversial seperti pengesahan Undang-Undang (UU) Cipta Kerja yang memicu penolakan dari masyarakat sipil, terutama buruh, aktivis, dan mahasiswa.

Serangan secara kasar—seperti peretasan dan pengambilalihan—semacam itu biasanya diikuti pula dengan serangan secara halus (soft attack), misalnya penyebarluasan data pribadi tanpa izin (doxxing) atau penyerbuan melalui media sosial (trolling) oleh mereka yang mati-matian mendukung pemerintah. Hal ini sebagaimana terjadi pada aktivis cum-jurnalis Dandhy Dwi Laksono yang aktif mengkritik kebijakan pemerintah melalui video-video dokumenter maupun ekspresinya di media sosial.

Tergantung Internet

Sekali lagi, hingga akhir November 2020 ini kami belum mendapatkan adanya serangan digital terhadap media warga. Namun, serangan semacam itu mungkin hanya soal waktu. Apalagi karakter media warga memang termasuk dalam kategori berisiko tinggi, sebagaimana yang selama ini kami pantau.

Kelompok berisiko tinggi ini merupakan kelompok yang karena pekerjaan atau kepeduliannya, aktif menggunakan Internet untuk berekspresi, dan cenderung bersuara kritis. Media warga jelas masuk dalam pengelompokan itu jika merujuk pada kegiatan dan isu-isu yang mereka angkat di medianya. Media warga, secara umum, lahir karena kepedulian terhadap isu-isu di sekitarnya. Karena merasa suara warga kurang terwakili oleh media-media arus utama, maka mereka mengelola media sendiri oleh warga dan untuk warga.

Secara ideologis, media warga lahir sebagai media kritis. Lahir untuk kepentingan warga, bukan kapital atau pejabat pembual. Media warga memang harus kritis terhadap kebijakan pembangunan yang meminggirkan warga, informasi yang tidak transparan, diskriminasi terhadap kelompok marjinal, dan ketidakadilan lainnya. Dengan posisi ideologis semacam itu, media warga jelas berisiko tinggi dari sisi keamanan digital.

Dari waktu ke waktu, media warga ini juga semakin tergantung pada Internet seperti juga terjadi pada hampir semua media arus utama saat ini. Semula lebih banyak yang menggunakan media cetak seperti kalawarta (newsletter) dan radio komunitas, kini media-media warga mulai beralih ke media digital. Prinsip Internet yang bersifat terbuka dan setara (meski ini juga perlu dipertanyakan di tengah dominasi raksasa korporasi digital) membuat media-media warga lebih leluasa.

Media-media warga kini aktif menggunakan Internet sebagai platform untuk mengelola publikasinya. Selain situsweb, mereka juga aktif menggunakan akun-akun media sosial seperti Twitter, Instagram, Facebook, YouTube, dan seterusnya. Jika situsweb menjadi muara utama (landing page), maka akun-akun media sosial menjadi kanal-kanal yang aktif menjangkau sekaligus menyalurkan suara warga. Tanpa media digital, dinamika media warga tak akan sehidup sekarang.

Media digital jelas menjadi aset utama bagi media warga.

Rendahnya Kesadaran

Namun, secara diametral, kesadaran dan keterampilan pegiat media warga terkait keamanan digital justru masih rendah. Asumsi saya merujuk pada temuan Remotivi dalam survei literasi keamanan digital pada jurnalis. Hasil survei terhadap 110 jurnalis pada 7-8 Juli 2020 menunjukkan bahwa jurnalis Indonesia memiliki kesadaran dan keterampilan rendah dalam keamanan digital.

Survei itu menjelaskan lebih detail bahwa 54,5 persen jurnalis responden masih terbiasa mengakses wi-fi publik, seperti di kafe atau ruang media (press room), tanpa perlindungan jaringan virtual personal (VPN). Selain itu, jurnalis yang menjadi responden juga masih menggunakan aplikasi-aplikasi yang paling sering mengalami serangan digital, seperti Instagram, WhatsApp, dan Gmail, tetapi baru sekitar 9 persen yang menggunakan otentikasi dua faktor.

Rendahnya kesadaran dan keterampilan jurnalis media arus utama, yang tentu saja lebih memiliki akses dan kapasitas dibandingkan pegiat media warga, bisa menjadi rujukan bahwa hal serupa pun terjadi di kalangan pegiat media warga dan organisasi masyarakat sipil lain. Isu keamanan digital belum menjadi prioritas bagi mereka meskipun risiko yang mereka hadapi juga tinggi.

Pengalaman saya empat tahun terakhir belajar keamanan digital dapat mengonfirmasi, bahwa isu ini memang relatif baru di kalangan masyarakat sipil, termasuk pegiat media warga dan bahkan media arus utama sekalipun. Sebagian besar aktivis dan jurnalis belum terlalu peduli pada keamanan digital hingga mereka mengalami serangan digital itu sendiri. Jurnalis dan aktivis masih senang mengumbar data-data pribadinya ke media sosial, seperti lokasi, keluarga, dan hal-hal personal lain yang membuat posisi mereka lebih rentan terhadap serangan digital seperti doxing. 

Inilah salah satu tantangan dalam keamanan digital; kebutuhan pencitraan pada sebagian orang, sadar atau tidak, justru membuat posisinya lebih rentan.

Strategi dan Aksi

Pertanyaannya kemudian apa yang bisa dilakukan pegiat media warga untuk mengurangi risiko menjadi korban serangan digital? Menurut saya, ada dua bentuk mitigasi yang bisa dilakukan, yaitu di tingkat strategi dan aksi.

Hal-hal strategis ini, misalnya, berupa penilaian risiko dan pembuatan kebijakan keamanan digital. Penilaian risiko merupakan bagian penting untuk menumbuhkan kesadaran kita terhadap pentingnya keamanan digital, termasuk risiko dan potensi serangan terhadap aset-aset digital. Penilaian risiko, antara lain, dengan mengidentifikasi apa saja aset-aset digital yang dimiliki, seperti akun surel (e-mail), akun media sosial atau data-data sensitif lain. Mulailah membuat apa saja bentuk risiko keamanan digital yang mungkin terjadi pada aset-aset digital dan sejauh mana risiko serangan itu akan terjadi.

Tiap aset digital akan memerlukan penanganan berbeda; surel sebagai kunci utama tentu memiliki tingkat risiko lebih tinggi dibandingkan dengan, katakanlah, foto kegiatan; daftar hadir sebuah pelatihan tentu berbeda dengan akun admin situsweb sebagai muara utama dan representasi media warga.

Identifikasi aset digital dan risiko keamanan digital juga perlu diikuti dengan peningkatan kapasitas kita dalam hal mitigasi. Pegiat media warga juga perlu memiliki kemampuan teknis setidaknya yang bersifat mendasar (basic skill) dalam keamanan digital. Misalnya, memisahkan identitas pribadi ketika beraktivitas untuk hal-hal personal dengan pekerjaan sensitif.

Bagi sebagian besar orang, kapasitas ini seolah-olah sesuatu yang bersifat teknis dan rumit, tetapi anggapan ini tidak sepenuhnya benar. Dalam kasus tertentu, katakanlah pengamanan situsweb agar tidak diretas, kita memang memerlukan kemampuan lebih teknis, seperti pengubahan alamat pintu masuk situsweb (login) hingga penambahan plugin atau bahkan penggantian sistem pengelolaan konten (content management system/CMS). Namun, dalam hal lain, kemampuan teknis itu relatif mudah, termasuk bagi mereka yang tidak memiliki kemampuan khusus di bidang keamanan digital.

Secara umum, kemampuan dasar mitigasi serangan digital meliputi empat hal. Pertama, mengurangi pengungkapan data-data pribadi di media digital. Data-data pribadi ini contohnya nama ibu, anak, atau pasangan. Juga termasuk kegiatan-kegiatan privat lain, katakanlah ulang tahun, liburan, dan semacamnya, terutama jika itu dilakukan secara real time. Semakin banyak jejak digital tertinggal, semakin rentan posisi kita.

Kedua, mengendalikan sejauh mana data kita akan tersebar di media digital. Ini memang tak sepenuhnya menjadi jaminan, karena Internet bagaimanapun adalah dunia tanpa batas dan kita tidak bisa sepenuhnya mengendalikan data-data pribadi kita. Namun, pengaturan secara spesifik—siapa yang bisa mengakses atau menyimak apa yang kita sebar di Internet—akan mengurangi potensi penyebaran data-data kita secara lebih luas. Kecuali jika tujuan kita memang untuk menyebarluaskan data tersebut.

Ketiga, melindungi data kita, baik identitas maupun aset-aset digital. Saat ini sebagian besar platform digital sudah memiliki fasilitas tersebut, sehingga kita lebih mudah untuk memberikan perlindungan terhadap data-data tersebut. Misalnya dengan kata sandi lebih rumit dibandingkan sekadar kata sandi dengan struktur “nama-akun-tanggal-lahir” atau “nama-akun-tahun-pembuatan”. Tak cukup dengan kata sandi lebih rumit, perlindungan ini juga bisa dilakukan melalui pengamanan lapis kedua (2-factor authentication/2FA) atau penyembunyian alamat IP (IP address) kita dengan menggunakan VPN.

Keempat, memilih layanan alternatif yang lebih menjamin keamanan dan privasi kita sebagai pengguna. Misalnya, dibandingkan menggunakan sistem operasi bajakan karena kita tidak mampu atau tidak mau membeli, cobalah beralih ke sistem operasi terbuka dan gratis (free and open-source software/FOSS) seperti Linux. Jika toh tetap memakai sistem operasi tertutup, cobalah gunakan program lain seperti LibreOffice sebagai pengganti perangkat lunak untuk bekerja yang berbayar. Begitu pula dengan layanan surel, aplikasi pesan ringkas, dan beragam platform lain untuk pekerjaan sehari-hari.

Hal penting lainnya kemampuan dasar di atas pada akhirnya memerlukan keseriusan kita untuk menerapkannya dalam kegiatan sehari-hari. Dan, inilah salah satu tantangan besar saat ini: banyak pegiat media warga dan kelompok berisiko tinggi lainnya terlalu nyaman menggunakan apa yang selama ini sudah mereka gunakan. Hingga ketika mengalami serangan digital sendiri, barulah kemudian mereka berpikir pentingnya keamanan digital. Kesadaran yang biasanya sudah terlambat.[]


Ilustrasi oleh Aliem Bakhtiar

Inisiatif dan Siasat Warga Hadapi Corona

Tidak pernah ada yang siap menghadapi pandemi. Namun, dari ketidaksiapan tersebut, warga terus bersiasat untuk tetap berdaya dengan menciptakan berbagai alternatif.

Pandemi Covid-19 tidak hanya berefek pada kualitas kesehatan masyarakat. Karakter virus yang memiliki tingkat penularan tinggi menyebabkan pemerintah menghimbau masyarakat untuk mengurangi semua aktivitas di luar yang melibatkan banyak orang.

Hal tersebut memberikan dampak yang signifikan bagi warga dalam berbagai aspek seperti sosial, ekonomi, pendidikan, bahkan ritual keagamaan. Semua orang perlahan-lahan belajar untuk beradaptasi dengan pandemi. Namun begitu, berbagai tantangan tentu dihadapi oleh warga. Oleh karenanya, warga pun terus bersolidaritas dan bersiasat.

Cerita-cerita baik tentang keterlibatan warga dalam menghadapi pandemi tergambar dari antusiasme peserta Anugerah Jurnalisme Warga (AJW) 2020. Praktik-praktik baik warga ini mencakup hal yang sangat personal maupun kolektif. Mulai dari bagaimana warga berinisiatif menggalang donasi berbagi nasi (terutama untuk warga yang kehilangan penghasilan karena pekerjaan mereka bersifat informal), menyusun tata kelola informasi terkait Covid-19 di tingkat terkecil seperti Rukun Tetangga (RT), menyelenggarakan sekolah alternatif bagi siswa yang kesulitan belajar online, hingga pengalaman-pengalaman personal seseorang yang terpaksa menyelenggarakan tradisi atau ritual secara daring.

Salah satu kisah menarik mengenai bagaimana warga menghadapi sistem pembelajaran online dirasakan oleh warga di sekitar Banyuwangi. Sistem pembelajaran online memang sudah kerap diselenggarakan. Namun begitu, sistem ini rupanya menjadi tantangan tersendiri, baik bagi guru, orang tua, maupun anak. Pola pikir orang tua saat ini masih melihat bahwa pendidikan anak adalah tugas guru dan sekolah. “Padahal selepas mereka pulang dari sekolah, orang tua pun juga memiliki tanggung jawab untuk mendidik anak-anaknya,” kata Tunggul Harwanto, Pegiat Rumah Literasi Indonesia (RLI).

Persoalan ini memang menjadi perbincangan hangat para orang tua, tentang sistem belajar online yang dirasa kurang bersahabat dan menyulitkan. Tidak hanya itu, karut-marutnya sistem belajar online juga dilatarbelakangi oleh berbagai faktor. Melalui RLI, Tunggul dan kawan-kawannya melakukan survei mengenai sistem belajar online di tengah pandemi. “Pertama keluarga yang tidak memiliki akses, baik akses terhadap internet maupun alat. Kedua orang tua memiliki akses tetapi tidak dapat mengoperasikan alat, dan terakhir adalah kejenuhan yang menyebabkan anak mengalami stres,” jelas juara pertama AJW 2020 kategori video ini.

RLI sebenarnya telah mengusung gagasan mengenai pentingnya peran orang tua dalam pendidikan anak setelah jam di luar sekolah. Hal tersebut telah mereka gagas sejak lama, tepatnya sejak 2017. Untuk mengatasi persoalan-persoalan yang terjadi karena pola pikir tersebut, RLI menggagas Sekolah Pengasuhan Berbasis Komunitas.

Program ini melibatkan sekolah, rumah baca dan orang tua sebagai elemen yang berkolaborasi untuk membangun ekosistem pendidikan yang positif. Saat ini RLI berjejaring dengan 57 rumah baca yang tersebar di Banyuwangi dan Jember. Dalam perkembangannya, orang tua pun terlibat aktif dalam penyusunan kurikulum. “Sekarang sudah ada sekitar sembilan kurikulum, di antaranya mencakup literasi media, literasi finansial, hingga persoalan-persoalan tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT),” jelasnya.

Tunggul juga menjelaskan bahwa kesadaran akan pentingnya peran orang tua dalam pendidikan anak baru benar-benar terpicu karena adanya pandemi. “Pandemi ini membuat banyak orang tua sadar bahwa tanggung jawab pendidikan anak tidak hanya dipikul oleh guru dan sekolah,” katanya.

Situasi pandemi juga menyebabkan beberapa tradisi dan ritual keagamaan yang awalnya dilakukan secara kolektif dan di tempat terbuka, mesti tertunda atau bahkan dibatalkan. Selain salat Id yang tidak diselenggarakan seperti tahun-tahun sebelumnya, umat Hindu juga mengalami hal serupa terkait dengan beberapa ritual yang semestinya dilakukan secara kolektif.

Hal ini dirasakan oleh Kadek Doi Rahayu yang menyelenggarakan acara otonan untuk putrinya di masa pandemi secara daring. Otonan adalah upacara peringatan hari kelahiran dengan melaksanakan upacara Yadnya berdasarkan satu tahun Wuku setiap 210 hari. Jatuhnya otonan akan bertepatan sama persis dengan; Hari, Panca Wara, dan Wuku yang sama. Menurut tradisi umat Hindu di Bali, dalam upacara ‘ulang tahun’ ini dilaksanakan dengan penuh doa-doa kebaikan untuk si anak yang diupacarai agar “Lantang tuwuh, mauwat kawat, mabalung besi”. “Di video yang saya kirimkan untuk AJW juga saya tuliskan serupa, doa agar anak kami bertumbuh dengan sehat, diberikan kekuatan dan semangat dalam mengarungi kehidupan,” jelasnya.

Bagi Kadek, otonan kali ini terasa istimewa karena pelaksanaannya dilakukan secara daring. Ketika pandemi terjadi, ia dan  keluarganya menetap di Tangerang Selatan. “Padahal kami sudah siap untuk pulang kampung ke Bali,” ujarnya.

Pada umumnya tigang (3) oton adalah salah satu upacara yang dirayakan beramai-ramai dengan sanak saudara dan karena tergolong upacara yang besar maka dipimpin oleh Pinandita (orang suci). Tapi dengan segala penyesuaian akhirnya format acara diubah dengan lebih sederhana, dirayakan oleh beberapa keluarga yang terhubung lewat video call dan dipimpin oleh sang ayah mertua di rumah keluarga besar. “Keputusan ini tidak serta merta kami ambil begitu saja, ada proses komunikasi dan konsultasi yang panjang sebelumnya dengan para tetua,” jelasnya.

Sebagai salah satu Pemenang AJW 2020, Kadek Doi merasa sangat terbantu dengan adanya wadah-wadah jurnalisme warga di daerah. Beberapa kali, ia sempat mengadakan dan mengikuti webinar kolaborasi antarinstitusi dan menulis mengenai partisipasi dan solidaritas warga dalam menghadapi masa sulit sebagai kunci utama. Salah satu isu yang menjadi perhatiannya adalah kesehatan mental keluarga. 

Kesehatan mental keluarga ini erat kaitannya dengan literasi digital. Sebab, situasi pandemi yang mengharuskan setiap orang harus online membuat mereka mesti memahami bagaimana memanfaatkan teknologi digital dengan baik dan benar. “Keadaan sekarang ini mengharuskan kita untuk paham literasi digital dan berinternet yang sehat. Mengajak orang tua untuk ikut cerdas memanfaatkan teknologi sangat penting dalam menjaga kewarasan dari ‘hoax dan tsunami informasi’ di portal berita atau grup sosmed keluarga,” jelasnya.

Menurut Kadek, literasi digital menjadi semakin penting terutama dalam upaya melindungi anak dari kejahatan di dunia maya. Kesehatan mental menjadi penting jika dikaitkan pula dengan beberapa kebijakan yang membatasi pergerakan dan mengharuskan agar tetap di rumah saja. “Adalah sebuah keharusan bagi kita semua untuk menciptakan atmosfer yang aman dan nyaman dalam keluarga. Sedih sekali saya membaca berita jika kasus KDRT meningkat. Upaya-upaya untuk menumbuhkan kebersamaan dalam keluarga harus lebih digencarkan lagi,” ujarnya.


Foto adalah publikasi rumahliterasiindonesia.org. Foto diambil pada tahun 2019.

Merayakan Jurnalisme Warga di Tengah Pandemi

Pada mulanya “Tut Bahari Handayani”, tetapi sejak virus korona menyerang, Anugerah Jurnalisme Warga 2020 berganti tema menjadi “Urun Daya Warga Menghadapi Corona”.

Pandemi Covid-19 yang memengaruhi dan mengubah ritme aktivitas orang di berbagai negara dunia, termasuk Indonesia, membuat panitia memutuskan untuk menyesuaikan tema AJW 2020 agar tetap relevan dengan situasi yang sedang dihadapi warga.

“Sebagai media warga, kami ingin memberikan tempat kepada narasi-narasi warga yang bersama-sama menghadapi Covid-19 meskipun mereka juga menghadapi tantangan berat akibat pandemi ini,” kata Iin Valentine, penyelenggara AJW 2020 BaleBengong, seperti dilansir balebengong.id.

Tidak hanya tema yang berganti. Malam puncak anugerah yang biasanya diselenggarakan dengan meriah dan menyajikan banyak acara, baik hiburan maupun diskusi, diubah format menjadi daring. Jika tahun-tahun sebelumnya malam puncak penganugerahan diadakan di Taman Baca Kesiman, Denpasar, tahun ini malam puncak “diadakan” di YouTube, Instagram, Facebook dan Twitter.

Meski tidak ada tatap muka, cengkrama dan gelak tawa yang biasa menghiasi malam puncak AJW, kemeriahan dan antusiasme AJW 2020 tidak hilang. Sebanyak 94 karya yang terdiri dari 56 artikel, 20 video, dan 18 ilustrasi dilombakan menunjukkan antusiasme media dan jurnalis warga mengikuti gelaran ini. 

“Saya sangat mengapresiasi karena peserta sangat semangat dan kreatif dalam merangkai karya-karyanya. Saya sampai mengalami kesulitan menilai karena karyanya bagus-bagus,” kata Ni Made Ras Amanda, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Udayana yang menjadi salah satu juri AJW 2020. Sementara itu, ratusan orang menyaksikan acara malam puncak yang disiarkan melalui berbagai platform media sosial. 

Peserta AJW 2020 tidak hanya datang dari Bali, tetapi juga dari Jakarta, Bogor, Surabaya, Banyuwangi, dan Lombok. Selain beragam secara geografis, karya peserta pun memiliki ragam perspektif dalam melihat dan merespons wabah Covid-19. Beragam kisah urun daya warga, seperti saling bantu dan berbagi, berjemur bersama hingga dukungan moral yang diberikan kepada warga positif Covid-19 menjadi topik pemberitaan media dan jurnalis warga tersebut.

“Tiap peserta memiliki pengalaman sendiri-sendiri dan mampu menceritakan maupun menggambarkan dengan cantiknya,” lanjut Ni Made Ras Amanda.

Berikut karya-karya terbaik AJW 2020

Kategori Artikel

Juara I : Kholik Mawardi dengan karya Perjalanan Sehari dan Sesari Kecil

Juara II: Pringgo Anggono dengan karya Lawan Corona Lewat Pemean of the Day dan Pembagian Masker

Juara III: Excel Bagaskhara dengan karya Membangun Solidaritas Melalui Humor dan Dapur di Perkampungan Miskin Kota

Kategori Video

Juara I: Tunggul Harwanto dengan karya Kolaborasi Rumah Literasi Di Masa Pandemi

Juara II: Niskala Project dengan karya Urun Daya dari Rumah

Juara III: Kadek Ridoi Rahayu dengan Virtual Otonan Cha

Kategori Ilustrasi

Juara I: Komo Studio dengan karya Tata Cara Ngelidin Corona

Juara II: Wode Raka dengan karya Dulu dan Sekarang

Juara III: IB Gede Nara Digda dengan karya Udah Cuci Tangan?

Karya terbaik mendapatkan hadiah uang tunai dan plakat. Kegiatan ini juga didukung oleh Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo), lembaga dari Swiss SpendeDirekt, Combine Resource Institution, Conservation International Indonesia, Mongabay Indonesia, dan berbagai organisasi dan komunitas.

“Apresiasi ini semoga bisa menyuntikkan semangat kepada para pegiat media warga bahwa meski menghadapi banyak tantangan, kita tetap bisa memberikan inspirasi kepada publik melalui karya-karya kita,” pungkas Iin.

Tentu kita semua berharap agar wabah ini segera berakhir. Selain alasan kerinduan beraktivitas tanpa merasa waswas, tentu agar Anugerah Jurnalisme Warga tahun depan dapat diselenggarakan seperti tahun-tahun sebelumnya.[]


Foto:  Niskala Project

Esensi Memperingati Hari Pers

Kami sadar betul bahwa hingga hari ini, peringatan Hari Pers Nasional yang jatuh pada tanggal 9 Februari—ditetapkan di masa Orde Baru—masih menjadi polemik. Namun kami ingin beranjak dari polemik tersebut untuk melihat hal yang lebih krusial perihal situasi pers nasional.

Pada akhir 2019, catatan kasus kekerasan terhadap pegiat pers dan jurnalis masih tinggi. Hingga 23 Desember 2019, kasus kekerasan terhadap jurnalis mencapai 53 kasus. Kekerasan ini tidak hanya bersifat verbal, intimidasi, maupun kekerasan fisik, tetapi juga sampai menyebabkan kematian. Kasus pembunuhan yang terjadi pada jurnalis baru-baru ini terjadi pada November 2019, menimpa Maraden, mantan wartawan mingguan lokal, Pilar Indonesia Merdeka (Pindo Merdeka). LSM internasional yang fokus pada advokasi kebebasan pers dan informasi, Reporter Without Borders, mengategorikan kebebasan pers di Indonesia ke dalam ‘situasi yang sulit’, berada pada ranking 124—bahkan di bawah Malaysia (123) dan Afghanistan (121).

Bertahun-tahun hari pers diperingati, baik skala nasional maupun internasional, kekerasan terhadap jurnalis di Indonesia belum juga mereda. Keberadaan regulasi, seperti UU Pers, yang bertujuan melindungi kepentingan pers—termasuk para aktornya, nyatanya belum memberi jaminan keamanan. Di sisi lain, ada entitas pers ‘pinggiran’ seperti jurnalis warga dan pegiat media komunitas yang tak kalah rentannya, terlebih karena tidak ada perlidungan hukum yang jelas bagi mereka.

Mereka juga kerap dihalang-halangi dan dianggap sebagai media abal-abal karena tidak berstatus badan hukum atau dianggap sebagai bukan media profesional. Hal ini semakin menjadi pelik, lantaran di era digital mereka juga harus waspada terhadap Undang-Undang Transaksi Elektronik (UU ITE) yang dapat disalahgunakan untuk mengkriminalisasi jurnalis warga dan pegiat media komunitas.

Kebebasan pers seharusnya dapat dinikmati oleh semua pihak; tidak hanya pekerja media tetapi juga warga yang terbukti memberi cukup banyak kontribusi dalam proses produksi informasi melalui teknologi digital dan Internet—UUD 1945 menjamin hak setiap warga negara untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah dan menyampaikan iformasi dengan segala saluran yang tersedia (Pasal 28F).

Saat ini semua orang dapat melakukan praktik jurnalisme tanpa harus bekerja di media massa atau perusahaan pers berbadan hukum. Melalui gawai masing-masing, mereka dapat menyiarkan informasi kepada warga yang lain. Maka sudah semestinya, jurnalis warga dan pegiat media komunitas diberi tempat dalam regulasi agar hak mereka sebagai warga negara bisa diwujudkan. Apresiasi juga patut diberikan kepada mereka karena berkat inisiatifnya, telah memungkinkan warga di sekitarnya untuk mendapatkan informasi yang relevan dengan kehidupan hariannya.

Terlepas dari perdebatan kapan hari pers semestinya diperingati, jaminan keamanan bagi jurnalis—baik bagi jurnalis profesi maupun jurnalis warga—masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu didorong untuk segera diatasi oleh negara.[]

Edisi 74: Anugerah Jurnalisme Warga, Jer Basuki Mawa Desa

Anugerah Jurnalisme Warga (AJW) 2019 tuntas digelar pada Juni silam. AJW merupakan gelaran penting dalam upaya mendorong ekosistem media dan informasi yang lebih sehat di Indonesia. 

Untuk pertama kalinya, kami terlibat dalam penyelenggaraan AJW, gelaran rutin yang diprakarsai oleh media jurnalisme warga BaleBengong yang bermarkas di Denpasar, Bali. AJW merupakan sebuah bentuk apresiasi terhadap warga biasa yang memproduksi informasi baik secara individual (pewarta warga) maupun kolektif (media komunitas) di Indonesia.

Ada beberapa alasan mengapa kami terlibat dalam gelaran AJW kali ini. Pertama, sejak awal berdiri, kami berkomitmen untuk mendorong keberadaan media-media yang dipelopori oleh kelompok warga. Bagi kami, jurnalisme warga dan media komunitas merupakan elemen penting dalam upaya menjaga demokrasi; keberagaman konten, keberagaman kepemilikian, dan tentu saja suara-suara alternatif. Kedua, tidak banyak gelaran sejenis di Indonesia. Bahkan boleh jadi AJW merupakan satu-satunya ruang apresiasi terhadap kerja-kerja jurnalis warga dan media komunitas di Indonesia. 

Dahulu pernah ada penghargaan Kusala Swadaya yang diinisiasi oleh LSM Bina Swadaya, namun tampaknya berhenti pada 2015. Kusala Swadaya merupakan penghargaan yang diberikan kepada orang-orang yang telah berinisiatif dan kreatif melakukan upaya-upaya peningkatan keberdayaan masyarakat, baik melalui aktivitas di berbagai bidang. Salah dua kategorinya adalah kategori media dan kategori penulis, terutama jurnalis warga. 

Langkanya apresiasi terhadap kerja-kerja jurnalis warga dan media komunitas di Indonesia salah satunya disebabkan oleh minimnya pengakuan–dan pengetahuan–terhadap keberadaan entitas ini. Media komunitas masih disalahkaprahi sebagai media massa kebanyakan yang berorientasi profit. Lebih menyedihkan, di era ketika disinformasi dan misinformasi merajalela, media komunitas dan jurnalis warga kerap dikambinghitamkan sebagai penyebar hoax, hanya karena dianggap orang/media tersebut bukan profesional dan tidak berbadan hukum. Padahal profesionalitas (kemampuan bertindak secara profesional–bukan profesi) tidak melulu ditentukan oleh sertifikasi oleh otoritas. Tidak jarang praktik media arus utama, yang dianggap profesional, juga menyimpang dari prinsip dan kode etik jurnalistik. Yang perlu diingat, jurnalisme warga bukan barang baru di Indonesia. Sejarah mencatat, praktik jurnalistik yang dilakukan warga biasa dengan beragam profesi–bukan hanya wartawan–bahkan sudah ada sejak Indonesia masa pra-kemerdekaan (Adam, 1995).

Maka semestinya, nila setitik tidak membuat rusak susu sebelanga. Keberadaan media dan pewarta warga abal-abal memang tidak bisa dimungkiri, dan patut dieliminasi. Namun kita juga tidak bisa mengabaikan keberadaan media-media warga (media komunitas, media jurnalisme warga, pers mahasiswa, media alternatif, dan sejenisnya) yang berkomitmen pada kemaslahatan warga, yang hadir untuk membuat iklim media lebih demokratis dan beragam. Yang perlu ditegaskan adalah tujuan dari kehadiran media komunitas dan jurnalisme warga, yang hadir untuk turut menjaga marwah jurnalisme yang independen, loyal pada kepentingan publik, dan tentu saja, kebenaran.

Pada gelaran AJW 2019, ada tiga kategori apresiasi, yakni pewarta warga, media warga dan pegiat literasi digital. Dari tiga kategori tersebut, sebanyak 111 individu/kelompok yang mendaftar, yang terdiri dari 31 kelompok media warga, 31 individu pewarta warga, dan 49 individu/kelompok pegiat literasi digital. Tidak hanya penyerahan anugerah, AJW 2019 juga diisi dengan diskusi penting yang melibatkan parapihak untuk membahas persoalan perlindungan hukum bagi media komunitas dan jurnalis warga.

AJW adalah ikhtiar yang patut didukung. Dengan adanya kegiatan semacam ini, publik dan pengambil kebijakan diharapkan mau menengok dan memberi perhatian lebih pada entitas ini. Dan yang juga penting, AJW dapat menjadi ajang silaturahmi jurnalis warga dan pegiat media komunitas yang selama ini hanya bermain di “bawah tanah” (below-the-radar). Sudah saatnya mereka tampil  ke permukaan dan membangun jejaring untuk dapat saling menginspirasi dan menguatkan. Meminjam slogan yang kerap kita temui di momen aksi, “media komunitas bersatu, tak bisa dikalahkan!”[]

[VIDEO] Anugerah Jurnalisme Warga (AJW) 2019

Anugerah Jurnalisme Warga (AJW) 2019 adalah kerja kolaborasi antara media jurnalisme warga BaleBengong dan Combine Resource Institution (CRI) untuk memberikan apresiasi terhadap media-media komunitas.
Tema AJW 2019 adalah Jer Basuki Mawa Desa, mengabarkan praktik baik dan inspiratif dari desa. Melalui tema ini, AJW 2019 ingin memberikan lebih banyak ruang dan apresiasi bagi kabar-kabar baik dari desa, termasuk para pemberdaya ataupun cerita perubahan di desa, seperti tata kelola pemerintahan, kesukarelawanan, transparansi, pelestarian lingkungan, akses disabilitas, dan lainnya.
AJW merupakan kegiatan tahunan BaleBengong sejak 2016 untuk memberikan apresiasi pada pewarta warga maupun media yang mampu mewakili warga dalam karya-karyanya.
Info selengkapnya sila kunjungi : www.balebengong.id, localhost/cri/

 

AJW 2019 dan Cerita-Cerita Menarik dari Desa

Malam Anugerah Jurnalisme Warga (AJW) 2019 sukses digelar pada Sabtu, 29 Juni 2019. Media warga Warta Desa dari Pekalongan dan Radio Komunitas Marsinah FM membawa pulang penghargaan AJW 2019.

AJW awalnya merupakan agenda tahunan BaleBengong, salah satu media warga di Bali, untuk mengapresiasi para pewarta warga. Namun, melalui kolaborasi dengan Combine Resource Institution dan ICT Watch, AJW 2019 menambah dua kategori nominasi, yakni Media Warga dan Pegiat Literasi Digital. “Tujuan penyelenggaraan AJW ini untuk mengapresiasi pegiat jurnalis dan media warga,” jelas Anton Muhajir, salah satu penunggu–istilah yang mereka gunakan untuk menyebut para pegiatnya–BaleBengong.

Sejak pendaftaran dan penominasian dibuka pada April 2019, terdapat 87 karya/komunitas mendaftarkan diri. Daftar tersebut terdiri dari 25 kelompok media warga, 16 orang pewarta warga, dan 47 individu/kelompok pegiat literasi digital. Dari sekian banyak, juri menetapkan dua pemenang untuk Kategori Media Warga, dua pemenang Kategori Pewarta dan satu pemenang Kategori Pegiat Literasi Digital. 

Masing-masing pemenang adalah Sugihermanto yang meraih penghargaan Pewarta Warga subkategori Video, dan I Wayan ‘Gendo’ Suardana yang mendapat penghargaan Pewarta Warga subkategori Artikel. Untuk Kategori Media Warga, Warta Desa meraih penghargaan subkategori Daring (Online) dan Radio Komunitas Marsinah FM untuk subkategori Elektronik. Pada kategori Pegiat Literasi Digital yang berkolaborasi dengan ICT Watch, Rumah Literasi Indonesia keluar sebagai pemenang. 

AJW 2019 ditujukan sebagai wadah apresiasi sekaligus kontemplasi untuk pegiat media/pewarta warga dan literasi digital. Menjadi pewarta/media warga adalah salah satu upaya untuk memberdayakan komunitas melalui informasi. Di era internet, kanal-kanal informasi semakin beragam. Situasi ini mendorong warga agar mampu mandiri atas informasi dan tidak lagi bergantung pada media arus utama. 

Keberadaan media/pewarta warga sendiri kian mewarnai keragaman informasi. Namun keberadaan media warga menjadi lebih relevan dengan kebutuhan warga oleh karena adanya kedekatan (proximity) dengan komunitas. AJW 2019 memberikan contoh konkret bagaimana media/pewarta warga hadir untuk memberdayakan komunitasnya. 

Warta Desa, misalnya, adalah salah satu contoh media warga yang mampu mengisi ruang kosong informasi bagi warga di Pekalongan dan sekitarnya. Ketika sedikit atau tak ada media yang memberitakan mengenai banjir dan dampak pembangunan jalan tol, Warta Desa muncul dan menghadirkan suara-suara warga yang selama ini tidak disorot media. “Berita seperti itu jarang sekali diekspos oleh media arus utama. Padahal informasi terkait hal tersebut sangat dibutuhkan oleh warga,” ungkap Didiek Harahab yang mewakili Warta Desa pada Malam Anugerah AJW 2019.

Pemenang Kategori Pewarta Warga subkategori Artikel, I Wayan Suardana atau yang akrab disapa Gendo, menceritakan pengalamannya mengikuti proses perjuangan Desa Peladung yang menolak eksploitasi air. Gendo tidak hanya menginformasikan apa yang sedang dihadapi Desa Peladung tetapi juga turut terlibat dalam advokasi warga yang bergerak melawan upaya privatisasi air oleh salah satu perusahaan air mineral di Bali. Melalui mekanisme adat, warga Desa Peladung akhirnya memenangi pertarungan tersebut. “Waktu itu saya meminta warga agar mendesak perusahaan melakukan voting. Setelah hasil voting keluar, hari itu juga Aqua angkat kaki dari desa,” jelasnya.

Kedua peristiwa tersebut menunjukkan bahwa baik Warta Desa maupun Gendo telah menjalankan perannya sebagai warga yang tidak hanya menjadi pengelola informasi tetapi juga menjadi pengentas masalah (problem solver). 

Pewarta dan media warga merupakan kanal informasi utama bagi komunitas, ketika media arus utama tidak dapat menampung suara mereka. Di Jakarta, tepatnya di sekitar Kawasan Berikat Nasional (KBN) Cakung, Radio Komunitas Marsinah FM menjadi ruang aspirasi bagi para buruh perempuan. Sama seperti yang dilakukan oleh Warta Desa dan Gendo, Marsinah FM tidak hanya mewartakan informasi penting terkait buruh, tetapi juga mengadvokasi buruh perempuan agar lebih berdaya. “Kami tidak hanya bersiaran tetapi juga turun langsung ke jalan dan memberikan pelatihan/edukasi untuk buruh perempuan,” jelas Dian Septi.

Dalam hal ini, buruh sering kali dibingkai secara negatif dalam pemberitaan-pemberitaan media arus utama yang berdampak pada jeleknya citra perjuangan kaum buruh. “Marsinah FM menjadi ruang bagi buruh untuk menyuarakan aspirasinya,”  ungkap Dian, yang menerima penghargaan mewakili Radio Komunitas Marsinah FM.

Selain buruh yang seringkali ditampilkan bias di media-media arus utama, kelompok penyandang disabilitas juga kerap tersisih. Kehadiran kaum difabel di media arus utama kerap tak sesuai dengan realita. Hal inilah yang menjadi alasan Sugihermanto bergerak menjadi pewarta warga dan fokus terhadap isu-isu kelompok penyandang disabilitas.

Sugihermanto, atau kerap dipanggil Sugi mengungkapkan, bahwa menjadi reporter adalah cita-citanya sejak kecil. Namun, dengan kondisinya sebagai penyandang low-vision, ia ragu ada perusahaan media yang mau menerimanya. “Media arus utama mana yang mau menerima penyandang disabilitas?” ujar Sugi pada saat menerima penghargaan AJW 2019, Sabtu (29/06).

Namun demikian, tekad Sugi untuk mewartakan hal-hal di sekitarnya tetap kuat. Melalui perkembangan teknologi yang semakin mudah dan terjangkau, Sugi memilih menjadi pewarta warga. Upaya ini merupakan alternatif baginya untuk mewujudkan impian masa kecil sekaligus menjadi sarana baginya untuk menyuarakan hak-hak kaum difabel. Karyanya yang memenangkan AJW 2019 sendiri bercerita mengenai rekreasi dan tempat wisata dalam perspetif penyandang disabilitas, khususnya tuna netra. Salah satu juri, Dandhy Laksono, menyebut kekuatan karya Sugi ada pada paradoks yang dimunculkannya. Dalam video bertajuk “Pantai Parang Tritis, Keindahan dalam Kegelapan” Sugi berkisah tentang keindahan dari sudut pandang orang yang justru tidak bisa melihat keindahan itu dengan mata. Sesuatu yang mungkin muskil hadir di media yang mengutamakan profit.

Pada Kategori Pegiat Literasi Digital, Rumah Literasi Indonesia (Banyuwangi) menjadi nominasi terbaik. Penghargaan Pegiat Literasi Digital merupakan diberikan kepada individu/komunitas yang giat memberikan edukasi literasi di lingkungannya–baik secara daring maupun luring. Menurut Tunggul Harwanto, salah satu pegiat yang hadir di Malam Anugerah AJW 2019, mengatakan Rumah Literasi Indonesia memulai gerakan literasi dengan gerakan rumah baca. Mereka mengajak anak-anak muda untuk lebih peka teradap isu-isu sosial lingkungan, terutama mengenai pariwisata. 

Persoalan pariwisata menjadi hal yang cukup pelik di Banyuwangi. Tunggul menceritakan bahwa Banyuwangi terus-menerus dicitrakan sebagai situs wisata wajib kunjung, akan tetapi perhatian pemerintah terhadap warganya minim. Selain itu, kearifan lokal dan budaya di Banyuwangi hanya dikomersialisasikan saja tanpa ada pelibatan warga. “Ruang untuk dialektika mengenai isu-isu tersebut belum ada. Media arus utama belum memberikan ruang bagi urusan-urusan publik yang sebetulnya penting untuk warga. Rumah Literasi Banyuwangi mencoba membuat ruang melalui media warga tersebut,” jelasnya

Dalam hal ini, Rumah Literasi Indonesia juga bergerak mengadvokasi warga, khususnya untuk persoalan Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang sempat marak diperbincangkan di media sosial. Mereka memanfaatkan media sosial untuk menumbuhkan kesadaran anak-anak muda terkait dengan hak-hak warga mengenai RTH.

Penerima AJW 2019 Kategori Pegiat Literasi Digital (Balebengong.id)

Di samping penyerahan penghargaan, gelaran AJW 2019 juga diramaikan dengan berbagai aktivitas seperti, meplalianan (bermain bersama) dan megibung (makan bersama) yang mencerminkan semangat kebersamaan dan kesetaraan ala komunitas, serta suguhan musik akustik. Selain itu ada juga diskusi mengenai media warga yang dipantik oleh Dian Septi (Marsinah FM). Didiek Harahap (Warta Desa), Ferdhi F. Putra (CRI) dan Donny BU (Tenaga Ahli Kementerian Komunikasi dan Informatika RI). 

Pada pagi sebelum penyerahan anugerah juga digelar kelompok diskusi terarah (FGD) yang melibatkan para pihak seperti pewarta dan media warga, organisasi masyarakat sipil dan perwakilan Kementerian Kominfo, yang bertujuan untuk merancang model perlindungan hukum bagi pewarta dan media warga. Dewan Pers pun diundang dalam FGD tersebut, namun tidak dapat hadir.

Penerima AJW 2019 kategori Pewarta Warga (BaleBengong.id)

Anugerah Jurnalisme Warga untuk Pewarta Warga dan Pegiat Literasi Digital

Tidak ada kesejahteraan tanpa desa. Demikian maknaJer Basuki Mawa Desa, tema yang diangkat Anugerah Jurnalisme Warga (AJW) tahun 2019 ini. Kali ini akan memberikan apresiasi pada pewarta warga, media warga, dan pegiat literasi digital di seluruh Indonesia.

AJW tahun ini dilaksanakan oleh BaleBengong dan Combine Resource Institution (CRI), dua organisasi pengampanye media warga yang berbasis di Denpasar dan Yogyakarta. BaleBengong adalah media jurnalisme warga di Bali dan membuat sejumlah program peningkatan kapasitas warga serta literasi digital sejak 2007. Sementara CRI  telah bergiat bersama media komunitas di seluruh nusantara selama delapanbelas tahun serta turut mengembangkan sistem informasi desa (SID) sejak tahun 2008.

Dalam AJW tahun ini, warga diundang mengirimkan karya baik tulisan, video, dan audio terkait praktik baik dan inspiratif dari desa seperti tata kelola pemerintahan, kesukarelawanan, transparansi, pelestarian lingkungan, akses disabilitas, potensi desa, dan lainnya. Ada tiga kategori yang bisa diikuti yakni pewarta warga, media warga, dan pegiat literasi digital.Media Warga adalah media yang diprakarsai dan dikelola secara mandiri oleh kelompok warga non-perusahaan pers (non profit), tidak berafiliasi dengan partai politik, maupun pejabat publik. Selain mendaftarkan diri, warga juga bisa mengusulkan media warga favoritnya yang berkontribusi terhadap perubahan sosial di komunitasnya.

Sementara kategori Pewarta Warga bisa diikuti siapa saja yang memiliki produk jurnalistik yang dipublikasikan melalui media daring (online) dan non daring (offline) tergantung aksesibilitas di media warga seluruh Indonesia. Pendaftar menunjukkan minimal satu produk jurnalistik yang dinilai telah membawa perubahan bagi komunitasnya. Karya dapat berupa tulisan, video, foto, dan ilustrasi (komik, infografis, dll).

Kategori Pegiat Literasi Digital adalah individu atau komunitas yang mendorong perubahan aktif dan memadukan penggunaan media daring (online) dan aktivitas luring (offline). Perubahan aktif ini terkait praktik baik dan inspiratif dari desa, atau menyebarkan literasi digital yang dilakukan atau digaungkan melalui media daring seperti media sosial, blog, dan lainnya.

Uraian syarat dan ketentuan, serta form pendaftaran bisa diunduh di website balebengong.id dan combine.or.id paling lambat 15 Juni 2019. Atau mengirimkannya ke email: kabar@balebengong.id dan redaksi@combine.or.id.

Pengumuman peraih apresiasi AJW akan dilaksanakan saat puncak AJW 2019, 29 Juni di Bali. Pemenang juga akan diundang ke Bali menghadiri sejumlah kegiatan. Di antaranya diskusi bersama Dewan Pers tentang situasi dan kondisi media warga serta pertemuan nasional pegiat media warga.

AJW tahun ini mengundang Dandhy Dwi Laksono (Videografer), Ahmad Nasir (Pegiat Media Warga), Luh De Suriyani (BaleBengong), dan ICT Watch sebagai penyeleksi karya. ICT Watch, perintis kampanye Internet Sehat ini adalah lembaga pendukung AJW 2019 khususnya di kategori Pegiat Literasi Digital.

Masa depan media warga

Internet memberikan banyak peluang, termasuk bagi berkembangnya media-media komunitas di  Indonesia. Seiring tumbuhnya media-media berorientasi bisnis, subur pula media-media berbasis sangat lokal (hyper local) yang dikelola secara nirlaba. Media-media ini tumbuh sebagai wakil warga atau ruang warga untuk bersuara.

Secara sederhana karakter media komunitas ini antara lain dikelola dari oleh untuk warga, tidak berafiliasi kepentingan ekonomi korporasi maupun politik praktis, dan menjadi alat untuk advokasi warga sekitarnya. Dalam aras yang sama media komunitas ini bisa berupa media jurnalisme warga ataupun yang dikelola komunitas.

“Untuk memudahkan, kami menyebutnya media warga (citizen media), di mana media jurnalisme warga dan media komunitas, termasuk di dalamnya,” ujar Anton Muhajir, Pemimpin Redaksi BaleBengong.

Namun, media-media warga ini menghadapi banyak tantangan. Selain tantangan keberlanjutan, media-media yang sebagian berbasis internet ini juga menghadapi risiko kriminalisasi terhadap pengguna internet (warganet). Tidak hanya kepada pengelolanya itu sendiri, tetapi juga pada warga sebagai kontributor.

Penyebabnya, antara lain, karena belum adanya pengakuan secara legal formal terhadap media warga seperti halnya perusahaan media dari Dewan Pers. Media warga masih ditempatkan di kuadran “abu-abu”. Media warga diharuskan memenuhi syarat administratif yang sama dengan media arus utama. 

Padahal, dalam perjalanannya, media-media warga ini bisa menjadi penyeimbang ketika media-media arus utama makin terjebak pada komersialisasi. Dengan karakter khasnya, dikelola secara nirlaba dan terbuka pada partisipasi warga, media-media komunitas mampu memperjuangkan kepentingan warga, menyampaikan kabar baik, atau mengawasi pelayanan publik yang mereka alami sendiri sehari-hari. Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia sendiri beberapa tahun ini sudah merangkul pewarta warga sebagai anggota dengan syarat khusus misalnya memiliki karya minimal 12 per tahun, mendapat rekomendasi, dan lainnya.

Berangkat dari tantangan tersebut, media jurnalisme warga BaleBengong dan Combine Resource Institution (CRI), berkolaborasi untuk memberikan apresiasi melalui Anugerah Jurnalisme Warga (AJW) 2019. “Semoga semangat warga berdaya meluas, meningkatkan kualitas karya, dan memberi dampak langsung,” pungkas Imung Yuniardi, Direktur CRI.[]

Anugerah Jurnalisme Warga 2019: Mengabarkan Praktik Baik dan Inspiratif dari Desa

“Walau lahan sudah menjadi milik kota

Bukan berarti desa lemah tak berdaya

Desa adalah kekuatan sejati

Negara harus berpihak pada para petani”


–Desa, Iwan Fals (2004)

Desa kerap diposisikan sebagai kawasan nomor dua setelah kota dan dianggap sebagai penunjang kebutuhan kota belaka. Bahkan di media, desa hanya menghiasi sebagian kecil ruang yang didominasi oleh informasi dan berita dari atau tentang kota. Padahal, tidak sedikit cerita-cerita baik atau inspiratif datang dari desa. Maka, desa sudah selayaknya mendapat apresiasi yang lebih besar.

Itulah alasan mengapa Anugerah Jurnalisme Warga (AJW) 2019 mengangkat tema “Jer Basuki Mawa Desa, mengabarkan praktik baik dan inspiratif dari desa.” Media jurnalisme warga BaleBengong dan Combine Resource Institution (CRI) selaku penyelenggara menilai tema ini mampu mengakomodasi suara-suara dari desa melalui media warga.

Anton Muhajir, pegiat BaleBengong, media jurnalisme warga yang rutin menggelar acara ini menjelaskan bahwa dengan tema tersebut, AJW diharapkan menjadi ruang dan ajang apresiasi bagi kabar-kabar baik dari desa. “Termasuk para pemberdaya ataupun cerita perubahan di desa, seperti tata kelola pemerintahan, kesukarelawanan, transparansi, pelestarian lingkungan, akses disabilitas, dan lainnya,” jelasnya.

Melalui media warga, kabar-kabar baik tersebut disebarluaskan kepada masyarakat lokal dan global. Media warga yang dimaksud adalah media yang dikelola dari oleh untuk warga yang bersifat sangat lokal (hyper local), tidak berafiliasi kepentingan ekonomi korporasi maupun politik praktis, menjadi alat untuk advokasi warga sekitarnya. 

Akan tetapi, di tengah optimisme terhadap tumbuh dan pentingnya media warga, mereka juga menghadapi ancaman. Mereka kerap menghadapi berbagai persoalan, mulai dari keberlanjutan hingga potensi kriminalisasi. Berangkat dari kondisi tersebut, AJW 2019 diharapkan dapat menjadi wadah untuk memberikan apresiasi terhadap perjuangan media warga yang telah aktif dalam menyampaikan kabar-kabar baik dari desa.

Dalam perjalanannya, media-media warga telah menjadi penyeimbang ketika media-media arus utama makin terjebak pada komersialisasi. Dengan karakter khasnya, dikelola secara nirlaba dan terbuka pada partisipasi warga, media-media komunitas mampu memperjuangkan kepentingan warga, menyampaikan kabar baik, atau mengawasi pelayanan publik yang mereka alami sendiri sehari-hari.

Saat ini, media warga masih ditempatkan di kuadran “abu-abu” bahkan kadang dituding sebagai sumber hoax. Dalam hal ini, media warga pun seringkali diharuskan memenuhi syarat administratif yang sama dengan media arus utama. Demikian juga dengan pewarta warga yang, misalnya, harus mendapat sertifikasi agar dianggap sah untuk melaporkan. “Dengan kondisi yang demikian, media warga memiliki potensi yang besar mendapatkan kriminalisasi,” jelas Ferdhi F. Putra, Manajer Unit Pengelolaan Informasi Komunitas CRI.

Nantinya, AJW akan menjadi ruang pertemuan nasional media-media komunitas yang bertujuan untuk membuka ruang bagi pegiat media komunitas di Indonesia untuk berdiskusi terkait perlindungan hukum bagi aktivitas jurnalistik media komunitas maupun jurnalisme warga. Pertemuan nasional ini sendiri akan diselenggarakan pada hari-H gelaran AJW 2019 di Bali.

Sementara itu, kegiatan utama AJW 2019 akan sedikit berbeda dengan tahun sebelumnya. Jika tahun-tahun sebelumnya hanya menyertakan kategori pewarta warga, tahun ini penyelenggara menyertakan tiga kategori, yakni pewarta warga, media warga, dan pegiat literasi digital.

Anugerah pewarta warga akan diberikan kepada warga yang karya jurnalistiknya di media warga merujuk pada tema Jer Basuki Mawa Desa atau terkait dengan kabar-kabar baik dari desa. Pendaftaran dapat dilakukan dengan mengirimkan karya ke email: kabar@balebengong.id dan tembusan (cc) ke redaksi@combine.or.id dengan melampirkan bukti identitas pengirim.

Sementara itu, anugerah media warga akan diberikan kepada media komunitas atau media jurnalisme warga yang dianggap konsisten mengusung suara-suara warga, serta mendorong perubahan melalui media warga.  Sila untuk mendaftar pada tautan berikut: Google Form atau unduh formulir Form Nominasi Media Warga AJW 2019.

Anugerah pegiat literasi digital diberikan kepada pengguna Internet yang berhasil menggunakan Internet, media sosial, ataupun aplikasi lain dalam memberdayakan warga. Untuk pendaftaran pada mengisi formulir pada tautan berikut Google Form atau mengunduh formulir Form Nominasi Pegiat Literasi Digital AJW 2019.

Seluruh pegiat media warga dan literasi digital dapat mendaftarkan diri atau komunitasnya sebelum tanggal 20 Mei 2019. Untuk panduan teknis sila unduh Panduan Teknis AJW 2019. Pihak-pihak yang terpilih akan diundang pada acara puncak AJW 2019 untuk menerima penghargaan.

Rekam Jejak Media Komunitas dalam Tanggap Bencana

Hanya berselang beberapa jam setelah terjadinya gempa Lombok pada 29 Juli 2018 lalu, media komunitas Speaker Kampung langsung melaporkan situasi terbaru pascagempa di Desa Sambelia, Kecamatan Sambelia, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat melalui jejaring media sosial Facebook. Laporan terkait kondisi lapangan pascagempa tidak hanya diwartakan pada hari itu saja tetapi terus diperbarui secara berkala hingga tulisan ini dibuat (04/10/2018). Laporan-laporan tersebut memuat informasi mengenai berbagai hal terkait kondisi lapangan pascagempa, mulai dari jumlah korban, posko pengungsian, hingga kebutuhan logistik.

“Rumah Rusak dan Dua Orang Korban Akibat Gempa di Sambelia” adalah judul laporan pertama yang diwartakan oleh para pegiat media komunitas Speaker Kampung beberapa jam setelah terjadi gempa. Mereka bergerak cepat untuk segera mewartakan informasi terkini meski juga menjadi korban. Salah satu kebutuhan penting dalam situasi tanggap bencana adalah adanya akses informasi dan komunikasi yang memadai. Adanya akses yang layak akan membantu pemulihan pascabencana dengan lebih efektif dan tepat sasaran.

Meski demikian, kebutuhan informasi seringkali tidak dipenuhi dengan baik oleh media massa. Bahkan, informasi dari media arus utama juga kerap terbawa pada pola mendramatisasi situasi bencana. Padahal, kebutuhan informasi yang paling penting adalah informasi tentang mitigasi bencana dan data terkait kebutuhan penyintas sehingga distribusi dapat berjalan dengan baik. Media arus utama kerap “terlena” pada pola pemberitaan yang menunjukkan kesedihan, mengumbar penderitaan, tragedi, hingga mengaitkan bencana dengan hal-hal mistis.

Menyikapi hilir mudik informasi dari media arus utama yang kerap tak memosisikan diri sebagai penyedia informasi dalam kasus bencana, media komunitas mengambil peran signifikan dalam memberikan informasi terkini yang ada di lapangan kepada berbagai pihak. Media komunitas memiliki peran strategis dalam memberitakan bencana karena memahami permasalahan dan kebutuhan warga terdampak dengan lebih baik.

Hal itulah yang antara lain dilakukan oleh media komunitas Speaker Kampung selama situasi pascagempa berlangsung di Lombok. Tidak hanya berkontribusi dalam memberikan informasi, Speaker Kampung juga berkontribusi secara nyata dalam penanganan gempa. Mulai dari melakukan penggalangan donasi, mengadakan trauma healing untuk anak-anak dengan permainan tradisional hingga membuat rumah hunian sementara dari bambu.

Speaker Kampung melaporkan hasil liputannya baik melalui tulisan, foto maupun video untuk diunggah di akun Facebook mereka. Facebook menjadi pilihan utama dalam menyebarkan informasi karena warga yang dilayani media komunitas ini umumnya familiar dengan platform media sosial tersebut. Selain itu, mereka juga mengunggah berita di website resmi speakerkampung.net dan mengunggah video di akun Youtube.

Terdapat dua gempa terbesar yang dialami oleh Pulau Lombok, yakni pada 29 Juli 2018 dan 05 Agustus 2018 serta berbagai gempa susulan lain. Setidaknya selama kurang lebih satu minggu sesudah gempa pertama pada 29 Juli 2018 dan gempa kedua pada 05 Agustus, Speaker Kampung telah memberitakan sebanyak 78 berita.

Pemberitaan maupun laporan informasi terkait bencana tidak hanya dilakukan oleh Speaker Kampung, tetapi juga Radio Komunitas Primadona FM. Sejak gempa 29 Juli, para pegiat radio komunitas yang bertempat di Desa Karangbajo di Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara tersebut langsung merasakan dampaknya. Banyak warga yang menjadi pengungsi. Ditambah dengan gempa pada 5 Agustus, hampir seluruh rumah di desa itu hancur. Kabupaten Lombok Utara memang menjadi daerah terparah yang terdampak gempa Lombok. Otomatis, para pegiat Primadona FM pun menjadi pengungsi. Dalam situasi yang penuh keterbatasan, mulai dari aliran listrik yang mati, ketersediaan air yang minim, tidak banyak hal yang bisa dilakukan oleh Primadona FM beberapa hari pascagempa.

Sebelum gempa, Primadona FM rutin memberikan informasi kepada warga baik melalui siaran maupun berita tertulis yang diunggah ke blog. Namun, gempa membuat studio Primadona FM rawan roboh sehingga para pegiatnya tidak berani masuk. Sampai informasi ini ditulis, Primadona FM belum siaran kembali.

Primadona FM kemudian memanfaatkan media sosial sebagai salah satu wadah arus informasi. Media sosial yang dipilih adalah Facebook karena warga juga lebih familiar dengan aplikasi tersebut. Sehari setelah gempa, yakni pada 06 Agustus 2018, pegiat Radio Primadona FM merilis berita berjudul “Gempa 7 SR di KLU Regang Nyawa 65 Jiwa”. Sampat saat ini, mereka masih terus memperbarui informasi terkait pascagempa secara berkala di Facebook. Selama kurang lebih dua minggu, sebanyak 59 laporan telah diunggah ke Facebook Primadona FM dengan beragam bentuk, mulai dari teks, foto, video, hingga siaran langsung.

Sama seperti Speaker Kampung, Primadona FM juga memanfaatkan berbagai jenis bentuk dan pemberitaan, mulai dari teks, penggunaan foto hingga video yang kemudian diunggah ke akun “Rakom Primadona Ef Em” dan laman Facebook “Rakom Primadona FM”. Primadona FM juga memanfaatkan Youtube sebagai salah satu wadah arus informasi berbasis video.

Selain itu, para pegiat Primadona FM yang menjadi penyintas bencana juga menjadi motor bagi para relawan yang mengelola posko pengungsian utama di Desa Karangbajo. Mereka melakukan berbagai upaya mulai dari menghimpun serta mendistribusikan bantuan, mendata jumlah warga terdampak beserta kerugian akibat gempa, melakukan trauma healing khususnya bagi anak-anak, hingga membantu pengadaan hunian sementara bagi para tetangganya.

Infografis Media Komunitas Tanggap Bencana di Lombok (Olah data: Lamia Putri Damayanti, olah visual: Hamzah Ibnu Dedi)

Jalin Merapi, Peran Media Komunitas dalam Konteks Bencana

Rekam jejak media komunitas dalam merespons bencana tidak hanya dilakukan oleh Speaker Kampung maupun Primadona FM melainkan oleh berbagai media komunitas di daerah lainnya di seluruh Indonesia. Salah satunya adalah kolaborasi dari berbagai media komunitas yang terbentuk dalam Jaringan Informasi Lingkar (Jalin) Merapi. Jalin Merapi merupakan saluran informasi yang diperuntukkan sebagai respons dampak erupsi Merapi sejak tahun 2006 di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Jawa Tengah. Jaringan tersebut awalnya bergerak dari jaringan antarpegiat radio komunitas di sekeliling Merapi yakni Lintas Merapi FM (Kemalang, Klaten), MMC FM (Selo, Boyolali) dan KFM (Dukun, Magelang).

Pada saat itu, masyarakat di lereng Merapi merasa tidak mendapatkan informasi yang sesuai dengan kebutuhan mereka dari media arus utama. Dilansir dari tulisan Elanto Wijoyono berjudul “Menantang Bencana: Gerak Radio di Komunitas di Kaki Merapi” dalam buku “Mengudara Menjawab Ancaman” terbitan Combine Resource Institution tahun 2009, sebagian besar masyarakat di sekitar lerang Merapi seperti di Desa Sidorejo, Kemalang, Klaten, Jawa Tengah berprofesi sebagai petani dan penambang pasir. Namun, tidak ada satu pun informasi dari media arus utama yang berkaitan dengan mata pencaharian maupun kondisi lingkungan hidup di wilayah yang mereka tempati saat itu.

Media arus utama memang beberapa kali menyiarkan informasi terkait Merapi. Namun, informasi tersebut tidak dilakukan secara rutin dan hanya berdasarkan momen tertentu, misalnya saat erupsi. Ketika Merapi dalam kondisi “tenang”, media arus utama cenderung abai dalam proses pemberitaannya. Padahal, informasi-informasi mengenai Merapi, baik ketika aktif maupun tenang sangat dibutuhkan oleh masyarakat di sekitarnya.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa warga memerlukan media yang mampu mewadahi informasi yang terus-menerus terkait Merapi baik ketika gunung itu aktif maupun saat tenang. Ketika Merapi aktif, media tersebut akan mampu menjembatani informasi dan komunikasi antarwarga agar bisa berkoordinasi secara cepat. Dalam kondisi tenang, media tersebut bisa dikelola untuk mendukung tukar informasi yang memberdayakan warga, mulai dari pemberitaan tentang komoditi lokal hingga masalah kebijakan di tingkat lokal khususnya yang terkait dengan pengurangan risiko bencana erupsi Merapi.

Pada masa tanggap darurat Merapi di tahun 2010, jalinan informasi yang sudah dirintis Jalin Merapi menampakkan hasilnya. Jalin Merapi menjadi gerakan yang terbukti bisa menghubungkan warga terdampak di berbagai titik pengungsian dengan banyak pihak yang ingin menyalurkan bantuan.

Warga bekerja sama untuk mengelola informasi dengan sukarela. Tidak hanya warga lokal saja yang berdaya mengumpulkan dan menyampaikan informasi tetapi juga para relawan. Mereka terhubung melalui internet dan media sosial sehingga dapat bertukar informasi dengan lebih cepat.

Jalin Merapi menunjukkan bahwa pengorganisasian warga sejak pra-bencana menjadi kunci penanganan pascabencana, khususnya di masa tanggap darurat. Teknologi informasi mendukung kerja-kerja yang dilakukan dalam gerakan tersebut sehingga bisa lebih cepat, real time, serta menjangkau banyak kalangan.

Menurut Zaki Habibi dalam tulisannya yang berjudul “Jalin Merapi: Ketika Kepekaan Sosial Bertemu Ketepatan Media,” yang diterbitkan di Majalah Kombinasi Edisi 35 Tahun 2010, ada dua hal yang menjadi kunci sukses kerja Jalin Merapi, yaitu (1) penggunaan medium yang beragam sinergi yang tepat, dan (2) berbasis komunitas dengan melibatkan pelaku-pelaku yang banyak, beragam, dalam cakupan luas, dan tidak terbatasi oleh sekat-sekat sosial.

Jalin Merapi sebagai Saluran Informasi dari dan oleh Warga (olah data: Lamia Putri Damayanti, olah visual: Hamzah Ibnu Dedi)