Sarasehan Unik Temani Warga Barepan Petakan Potensi Wisata

Sarasehan unik berkonsep gala dinner digelar di sepetak kebun warga di dusun Barepan, Desa Wanurejo, Kecamatan Borobudur, Magelang, (22/9) malam. Sarasehan yang merupakan kolaborasi warga Barepan dengan MGM FM Borobudur, CRI dan Radio FMYY Jepang tersebut bertujuan untuk memetakan potensi wisata yang ada di Dusun Barepan.

Dibuka dengan penampilan meriah tarian Dayak oleh 9 pemuda setempat, sarasehan tersebut dihadiri seluruh elemen warga Dusun Barepan, mulai dari anak-anak, ibu-ibu dari komunitas perajin batik “Dewi Wanu”, perangkat dusun, pemuda-pemudi, hingga pemilik home stay. Konsep gala dinner yang baru pertama kalinya digelar tersebut merupakan inisiasi dari warga dan pemuda-pemudi Dusun Barepan yang tergabung dalam komunitas Amoeba (Anak Moeda Barepan). Konsep tersebut dipilih sebagai bagian dari upaya untuk menggali potensi wisata di dusun mereka. Tidak tanggung-tanggung, konsep yang dipersiapkan satu minggu sebelumnya itu sukses membuat sepetak kebun warga menjadi taman lampion nan manis dengan temaram cahaya lilin lampion, gelaran tikar, display batik, dan tentu saja kudapan dan makan malam sederhana ala desa.

“Ini pertama kalinya kami menggelar acara dengan konsep gala dinner seperti ini. Nantinya, acara seperti ini akan kami kembangkan lagi untuk wisata,” terang salah seorang warga, (22/9).

Sejatinya, Barepan memiliki potensi menjadi tujuan utama untuk wisata di kawasan Candi Borobudur. Selain kemudahan akses lokasi yang hanya berjarak kurang dari satu kilometer dari Candi Borobudur, dusun ini juga memiliki potensi unggulan lain. Tengok saja potensi kerajinan bambu, batik, kuliner desa, dan banyak hal lainnya bisa dikembangkan lagi untuk menjadi aset wisata dusun. Home stay yang bertebaran di dusun ini juga menjadi pendukung konsep wisata desa. Hanya saja, selama ini potensi-potensi menjanjikan tersebut belum digarap dengan optimal. Alhasil, belum banyak wisatawan yang berkunjung ke Dusun Barepan. Jikapun ada, itu bukan sebagai tempat tujuan wisata yang utama.

“Bule (wisawatan mancanegara) sering datang. Tapi mereka sekedar lewat dan foto-foto saja, tidak ada sesuatu yang greget (menarik untuk dilihat),” papar Ayuk, salah seorang pemudi dari Komunitas Amoeba dengan semangat dan antusias.

Membaca kondisi demikian, CRI bersama Radio FMYY Jepang pun menginisiasi digelarnya sarasehan bertajuk “Pemetaan Potensi Wisata Desa Barepan.” Sebagai lembaga yang memiliki komitmen untuk mengembangkan potensi wisata lokal di kawasan candi Borobudur melalui pemanfaatan media komunitas, baik CRI maupun FMYY Jepang mendorong warga Dusun Barepan untuk terus menggali dan meningkatkan potensi yang mereka miliki. Sarasehan ini bertujuan untuk memetakan potensi-potensi unggulan dusun ini yang bisa dikembangkan lagi untuk menarik lebih banyak wisatawan. Harapannya, Dusun Barepan tidak lagi sekedar menjadi tempat singgah wisatawan untuk waktu singkat, namun menjadi tempat tujuan utama wisatawan menghabiskan waktu liburannya.

“Ada 2 tujuan tempat wisata, yakni menjadi ampiran atau sekedar tempat mampir saja dan menjadi jujugan atau tujuan utama karena ada sesuatu yang ingin dilihat oleh wisatawan. Tentu saja, kita berharap Dusun Barepan ini tidak lagi sekedar menjadi ampiran, namun akan menjadi jujugan wisatawan,” urai Andrew Dananjaya dari divisi Pasar Komunitas CRI, (22/9) yang menjadi salah satu fasilitator dalam sarasehan tersebut.

Warga memetakan potensi-potensi wisata yang ada di Dusun Barepan.

Warga mengakui, kendala terbesar dalam menarik kunjungan wisatawan ke Dusun Barepan adalah kemampuan bahasa asing warga yang masih minim. Sarasehan tersebut menjadi tonggak bagi mereka untuk memantapkan niat menguasai bahasa asing agar kelak bisa menjelaskan banyak hal tentang potensi dusun mereka kepada para wisatawan mancanegara.

“Kami sangat antusias untuk membuka dusun kami menjadi jujugan wisatawan. Kendala yang saat ini kami hadapi adalah keterbatasan kemampuan bahasa Inggris maupun bahasa asing lainnya. Padahal, kalau kami bisa menguasai bahasa asing, kami bisa menjelaskan banyak hal kepada tamu-tamu,” tutur Retno Ningtyas dari komunitas ibu-ibu perajin batik Dewi Wanu, (22/9).

Pada awal September lalu, sejumlah mahasiswa dari Osaka University melakukan kunjungan ke Dusun Barepan untuk belajar tentang komunitas wisata di sana. Kunjungan tersebut sekaligus menjadi debut dusun ini menjadi jujugan wisatawan mancanegara. Berbagai kegiatan digelar untuk menyambut para tamu tersebut, mulai dari pembuatan origami untuk anak-anak hingga cooking class (kelas memasak) dari ibu-ibu yang menyebut diri mereka “Lotek Rempong” (yang juga merupakan anggota dari komunitas Dewi Wanu). Aktivitas ala desa tersebut ternyata sangat disukai oleh para mahasiswa tamu itu.

“Yang dilakukan tidak mengubah yang ada di Barepan, namun menghadirkan kegiatan wisata yang ada di dusun ini. Kegiatan tersebut bisa dilakukan dengan memberdayakan warga, baik ibu-ibu dengan cooking class-nya, outbond oleh karang taruna, membuat kerajinan, maupun aktivitas lainnya,” papar Hatta, selaku fasilitator dari komunitas MGM FM Borobudur.

Untuk semakin menguatkan gambaran potensi wisata Dusun Barepan, Andrew Dananjaya sengaja memutarkan video dokumenter kunjungan mahasiswa Osaka University di awal sesi sarasehan tersebut. Video berdurasi tak lebih dari 5 menit tersebut rupanya disambut gegap gempita oleh warga.

“Video ini bisa menjadi model promosi wisata Dusun Barepan dengan mengunggahnya melalui Youtube agar potensi wisata dusun ini bisa dikenal masyarakat dunia,” kata Andrew Dananjaya.

Sarasehan ini menghasilkan kesepakatan semua pihak untuk meningkatkan lagi potensi-potensi yang dimiliki Dusun Barepan. Selain penguasaan bahasa asing, mereka juga bersepakat untuk semakin intens berkoordinasi dalam mengelola wisata di dusun mereka. Koordinasi tersebut tentunya akan dilakukan antar warga dan komunitas serta paguyuban yang ada di dusun Barepan, termasuk para pemilik home stay yang berkomitmen meningkatan pelayanan untuk tamu-tamu yang menginap. Tidak berhenti sampai di situ, menjalin jaringan dengan komunitas dan pelaku wisata lain di luar dusun juga menjadi poin yang mereka sepakati. (AS)

Penutupan Program Penerapan SID di 10 Desa Percontohan di Kebumen

Program penerapan Sistem Informasi Desa (SID) di 10 desa percontohan di Kabupaten Kebumen berakhir pada bulan September 2015. Penutupan program yang diprakarsai CRI dan Formasi dengan dukungan SEATTI – HIVOS itu digelar di Hotel Benteng Van der Wijk pada Selasa, 22 September 2015. Hadir dalam workshop itu perwakilan dari 10 desa percontohan, 2 desa peserta Sekolah SID, pemerintah kabupaten, kecamatan, dan lembaga jaringan CRI serta FORMASI.

Elanto Wijoyono selaku manager program Divisi Lumbung Komunitas CRI yang menangani program SID memaparkan capaian dan manfaat penerapan SID di 10 desa penerap program. “Selama 18 bulan penerapannya, aplikasi ini telah menjadi basis pengelolaan data kependudukan dan verifikasi data kemiskinan,” papar Elanto, “Hasil dari verifikasi tersebut digunakan untuk intervensi program penanggulangan kemiskinan desa. Data-data dalam SID juga digunakan untuk bahan pertimbangan perencanaan pembangunan infrakstruktur internet desa,” sambungnya, (22/9).

Yang terbaru, SID juga telah dikembangkan untuk publik display di kantor desa yang bisa diakses masyarakat. Namun yang tak kalah pentingnya, aplikasi ini juga mendukung berkembangnya jurnalisme warga sehingga penyebaran informasi di masyarakat pun semakin merata.

Sejak diterapkannya SID, berbagai manfaat dirasakan oleh 10 desa penerap tersebut. Kini, baik warga maupun perangkat desa mulai merasakan semakin mudah dan cepatnya pelayanan dan pengelolaan data administrasi dan kependudukan dan informasi aset desa dan warga. Bahkan, informasi desa kini juga semakin terbuka untuk publik. Tak berhenti sampai di situ, SID secara khusus juga berperan untuk menjaring data dan informasi hukum antar desa, promosi produk usaha desa dan promosi potensi wisata desa.

Program Penerapan SID di Kabupaten Kebumen pertama kali dicanangkan pada tanggal 14 Mei 2014 di Balai Pendopo Rumah Dinas Bupati Kabupaten Kebumen dengan merangkul 10 desa sebagai percontohan. Setelah 18 bulan program bertajuk “Pelembagaan Perencanaan dan Penganggaran Wilayah berbasis Partisipasi Desa dalam Integrasi dengan Sistem Informasi Desa dan Sistem Open Data” ini berjalan, Pemerintah Kabupaten Kebumen berkomitmen dengan membentuk Tim Pengembangan SID Kabupaten Kebumen. Selanjutnya, SID menjadi sistem formal yang dibangun di seluruh desa di Kabupaten Kebumen. Sistem ini mendukung verifikasi data kemiskinan Kabupaten Kebumen tahun 2014 dan tahun 2015.

“Semangat penerapan SID ini adalah transparansi dan partisipasi, bukan sekedar aplikasi. Penutupan dan evaluasi program ini bukan akhir dari segala kegiatan yang selama ini telah dilakukan,” papar Imung Yuniardi selaku direktur CRI, (22/9).

Imung menambahkan, keberlanjutan dan pengembangan SID harus terus diupayakan ke depannya. Oleh karena itu, pembagian peran antar pemerintah daerah, pemerintah desa, lembaga pendamping, dan masyarakat perlu dirumuskan.

Penerapan SID di Kabupaten Kebumen telah memiliki payung regulasi Peraturan Bupati Nomor 48 Tahun 2015 tentang Sistem Informasi Desa di Kab Kebumen. SID telah menjadi bagian tak terpisahkan dalam tata kelola pemerintahan desa.

“Penerapan SID difungsikan secara optimal dapat mendukung tata kelola pemerintahan. Mulai dari perencanaan hingga pengelolaan keuangan desa, bahkan sampai pada peningkatan ekonomi masyarakat,” jelas Yusuf Murtiono selaku perwakilan Formasi, (22/9). (AS/My)

Sekolah SID, Langkah Membangun Kemandirian Desa

Combine Resource Institution resmi menggelar Sekolah Sistem Informasi Desa (SID) pada 14 – 17 September 2015 di kantor CRI, Bantul, Yogyakarta. Sekolah angkatan I ini diikuti oleh perwakilan pemerintah desa dari 5 desa di Kabupaten Kebumen dan satu desa dan lembaga dari Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.

Mengusung semangat “Sekolah SID, Langkah Membangun Kemandirian Desa,” sekolah ini mengajak para pebelajar untuk menggali, mengorganisir, dan memanfaatkan data dan informasi di desanya untuk membangun desa secara mandiri. Tak hanya itu, pebelajar Sekolah SID juga belajar tentang penyebaran informasi untuk memastikan warga dapat mengakses data.

Untuk mengoptimalkan kompetensi di atas, maka sekolah ini pun terbagi menjadi 2 kelas, yakni kelas Olah Data dan kelas Jurnalisme Warga. Seperti namanya, kelas Olah Data berfokus pada bagaimana mengolah dan mengelola data dalam aplikasi SID. Sementara kelas Jurnalisme Warga berkonsentrasi pada bagaimana menggali dan menyebarkan informasi melalui SID.

Lahirnya Sekolah SID tak lepas dari upaya CRI untuk menjawab kebutuhan sumber daya manusia dalam mengelola aplikasi SID secara lebih optimal. SID sendiri menjadi salah satu media efektif dalam mewujudkan desa yang mandiri seperti termaktub dalam UU No. 6 Tahun 2014 tentang kemandirian desa untuk mengelola sumber daya.

“Identifikasi dan pengelolaan data sangat penting dalam menentukan arah pembangunan desa. Itulah kenapa sekolah ini penting untuk digelar. Harapannya, peserta dapat memiliki kemampuan dalam mengelola sumber daya desa menggunakan SID untuk menunjang kemandirian desa,“ jelas Imung Yuniardi, direktur CRI selaku pengelola Sekolah SID, (14/9).

Dengan diampu oleh pengajar profesional, Sekolah SID tak hanya menyajikan pembelajaran di dalam kelas saja. Untuk memaksimalkan pemahaman tentang pemanfaatan SID, para pebelajar pun diajak untuk mengunjungi desa penerap SID yakni Desa Nglegi di Patuk, Gunungkidul dan Desa Dlingo pada Selasa, (15/9). Di Desa Nglegi, para pebelajar belajar bagaimana pemerintah desa memanfaatkan data SID salah satunya untuk Analisis Kemiskinan Partisipatif (AKP). Sedangkan di Desa Dlingo, para pebelajar mempelajari bagaimana SID dimanfaatkan untuk mengelola potensi unggulan desa seperti wisata, kuliner, kerajinan, dan sebagainya.

“Saya sangat bersemangat ingin belajar bagaimana SID dimanfaatkan untuk meningkatkan akurasi data kependudukan dan mengembangkan potensi wisata. Nantinya, saya ingin bisa memanfaatkan ilmu yang saya dapatkan di sini (Sekolah SID-red) untuk mengembangkan potensi khususnya potensi wisata yang ada di desa saya,” jelas salah satu peserta asal Kabupaten Boyolali. (AS/ASDP)

Gelar Pelatihan Fasilitator SID Untuk Kebencanaan

Kota Batu, Bhirawa, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang bekerjasama dengan Kelud Recovery Support Project – United Nations Development Programme (UNDP) mengadakan Pelatihan Fasilitator Sistem Informasi Desa (SID) untuk Kebencanaan yang dilaksanakan di Hotel Kusuma Agrowisata, Kota Batu. Acara Pelatihan Fasilitator SID untuk Kebencanaan yang dibuka oleh Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Kabid RR) BPBD Kabupaten Malang, Ir Atok Irianto, MSi, kemarin.

Kegiatan diikuti oleh 15 orang dari perwakilan Desa Pandansari, Kecamatan Ngantang, Desa Pondokagung, Kecamatan Kasembon, perwakilan Pemerintah Kecamatan Ngantang dan Kecamatan Kasembon, Bappeda Kabupaten Malang, Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Malang dan Dishubkominfo Kabupaten Malang.

Dalam sambutannya, Atok  mengatakan, menyambut baik program pengembangan SID untuk kebencanaan yang dilakukan di dua desa percontohan yaitu Desa Pandansari, Kecamatan Ngantang dan Desa Pondokagung, Kecamatan Kasembon. Diharapkan program ini dapat dikembangkan di desa-desa lain yang rawan bencana sebagai kesiapsiagaan data dalam menghadapi bencana. Ia menambahkan, SID ini diharapkan tidak hanya dijadikan kesiapsiagaan data, tetapi bisa dimanfaatkan untuk semua siklus bencana yaitu saat pra-bencana, saat bencana dan pasca-bencana.

Acara ini didampingi oleh 3 (tiga) orang pelatih yaitu Mart Widarto dari UNDP, Elanto Wijoyono dari LSM Combine Resource Institution (CRI) dan Triyono Aswad dari Pengelola SID Desa Tamanagung, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang. Dalam paparannya, Mart Widarto menyampaikan, kegiatan ini diharapkan peserta memahami konsep dan visi SID sebagai upaya kesiapsiagaan data untuk kebencanaan serta memfasilitasi penggunaan dan pemanfaatan Aplikasi SID di desa masing-masing. Elanto Wijoyono pelatih yang juga seorang aktivis di Jogjakarta mengatakan, SID ini pertama kali dikembangkan di Desa Balerante, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten yang merupakan desa yang berbatasan langsung dengan Gunung Merapi, pada tahun 2009 bersama dengan LSM CRI.

“Pada tahun 2010 pada saat erupsi Merapi, Pemerintah  Desa Balerante memanfaatkan SID ini untuk pelayanan pemerintahan darurat di tempat pengungsian. Selain itu juga sebagai rujukan data bantuan dari pemerintah dan penggantian ternak yang mati. Karena di dalam SID ini ada database kependudukan dan database aset, termasuk data ternak,” terang Joyo sapaan akrabnya, Minggu (6/9) kemarin.

Selanjutnya Triyono Aswad memaparkan pemanfaatan SID untuk mendukung program Desa Bersaudara (Sister Village) antara desa yang akan mengungsi dengan desa yang menerima pengungsi. Ia menambahkan, dengan SID ini database kependudukan dan asset dapat dijadikan rujukan dalam penanganan pengungsian ketika terjadi Erupsi Merapi.

Salah seorang peserta dari Desa Pondokagung, Sudarmanto (48) menyambut gembira kegiatan pelatihan SID. Sebab kegiatan ini yang akan mempermudah pemerintah desa dalam mempercepat pelayanan publik serta penyediaan data kebencanaan dengan cepat dan tepat.  [sup]

Sumber : http://harianbhirawa.co.id/2015/09/gelar-pelatihan-fasilitator-sid-untuk-kebencanaan/

Gandeng CRI, KKN Tematik UKDW Dampingi Pemanfaatan SID di Bantul

Pemerintah Kabupaten Bantul dan Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) menggandeng CRI dalam program pendampingan pemanfaatan Sistem Informasi Desa (SID). Dalam program kerjasama tersebut, 6 desa di Kabupaten Bantul akan menjadi desa dampingan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik mahasiswa UKDW pada paruh kedua tahun 2015 ini.

Melalui KKN tematik tersebut, tim mahasiswa diharapkan akan berperan membantu desa mengelola konten informasi desa. Nantinya, informasi-informasi desa, termasuk isu penanggulangan kemiskinan itu akan dikelola dengan SID.

Sebagai persiapan, CRI mendampingi tim mahasiswa UKDW mengunjungi Desa Dlingo, Bantul, (7/9), sebagai salah satu dari 6 desa dampingan program. Pemilihan Desa Dlingo pada pendampingan KKN tematik ini bukannya tanpa alasan. Sejak menerapkan SID tahun 2014 lalu, Dlingo terus mengoptimalisasi pemanfaatan SID untuk memperkenalkan potensi desa khususnya pariwisata.

“Desa Dlingo menjadi rujukan kunjungan karena desa ini telah memanfaatkan SID dengan optimal dan tepat guna. Sorotan utamanya adalah tentang strategi Desa Dlingo mengelola modal sosial desa agar tujuan pembangunan desa dengan dukungan pemanfaatan SID bisa tercapai,” papar Elanto Wijoyono selaku Manajer Divisi Lumbung Komunitas dari CRI.

Sebelumnya, CRI telah membekali tim mahasiswa KKN tematik UKDW mengenai konsep dan arah pemanfaatan SID di Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UKDW, (5/9). Rencananya, pendampingan pemanfaatan SID dalam program KKN tematik UKDW ini akan berlangsung pada 9 September hingga awal November 2015. (Angela/ AS).

Lebih Atraktif Mengelola Informasi Kebencanaan melalui APIK

Audio Pengelolaan Informasi Kebencanaan atau yang disingkat APIK menjadi media bagaimana informasi kebencanaan diproduksi dan dikelola dengan cara yang lebih atraktif. Juga dikenal sebagai DMAM atau Disaster Management Audio Material, APIK ini mengemas materi audio berisi informasi kebencanaan dengan sentuhan budaya lokal.

“Konten APIK adalah penggabungan informasi dengan musik tradisional, sketsa komedi, drama, iklan layanan masyarakat (ILM) atau budaya lokal lainnya yang digunakan untuk lebih menarik perhatian,” jelas Muhammad Amrun, koordinator Divisi Manajemen Informasi Kebencanaan CRI, (2/9).

Melalui APIK, informasi kebencanaan dengan sentuhan budaya lokal lebih dekat dan mudah dipahami oleh masyarakat. Pendekatan budaya lokal ini terlihat misalnya saja melalui penggunaan bahasa daerah dalam ILM yang memuat informasi kebencanaan. Memutar ILM tersebut secara berulang-ulang melalui radio komunitas (rakom) di kawasan bencana akan menguatkan informasi di dalam masyarakat, baik dalam tahap pra bencana, saat bencana, maupun pasca bencana. Dari sinilah rakom memegang peranan penting dalam upaya meningkatan kapasitas masyarakat tangguh bencana.

Untuk memaksimalkan peran, fungsi dan pengelolaan rakom, CRI berkolaborasi dengan FMYY Jepang menggelar pelatihan APIK pada tanggal 1 hingga 3 September 2015. Bertempat di Balai Desa Perteguhen dan Balai Desa Batu Karang, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, pelatihan ini menggandeng berbagai elemen masyarakat seperti pengelola rakom, relawan, karang taruna, tokoh masyarakat dan pemerintah desa.

Pelatihan ini juga merupakan tindak lanjut dari rangkaian tanggap darurat erupsi Gunung Sinabung tahun 2014 silam. Saat itu, CRI bersama dengan FMYY Jepang melakukan respon tanggap darurat bencana dengan memfasilitasi pendirian rakom Dia Emerdiate FM di Desa Batu Karang dan rakom Kekelengan FM di Desa Perteguhen.

“Selain menghibur warga dengan konten budaya lokal dan lagu daerah, kehadiran 2 rakom tersebut diharapkan bisa membantu warga yang berada di zona rawan bencana erupsi Sinabung untuk mendapatkan informasi terkait aktivitas vulkanik Gunung Sinabung, termasuk kemungkinan banjir lahar dingin yang mengancam sewaktu-waktu,” papar Fathur Rochman selaku fasilitator Divisi Manajemen Informasi Kebencanaan CRI, (2/9). (AS)

Edisi 63 : Butuh Pengelolaan Informasi Kebencanaan yang Lebih Serius

Dalam buku ”Belajar dari Gempa Bumi Besar Jepang Bagian Timur 2011”, disebutkan bahwa informasi bencana yang akurat menjadi pijakan yang berharga untuk pengambilan keputusan evakuasi dan penyelamatan.

Mereka sangat menganggap serius pengelolaan informasi kebencanaan agar tersampaikan secara tepat, cepat dan akurat pada publik. Ini dapat dilihat antara lain dari adanya grup kerja khusus dalam struktur Markas Kendali Bencana di Tohoku, termasuk penyiapan bagan mekanisme kerja pengelolaan informasi yang disandingkan dengan tata kalanya (timeline).

Bila menilik struktur BNPB pun, ada bagian Pusat Data, Informasi dan Humas. Namun saat meneliti per bagian, maka di bagian informasi pengelolanya lebih berkonsentrasi pada jaringan akses komunikasi. Demikian pula saat ajang besar tahunan Peringatan Bulan PRB 2015, dari sekian puluh diskusi dan lokakarya, hampir bisa dibilang tidak ada yang secara khusus membahas tata kelola informasi kebencanaan. Bahkan di seluruh gerai pameran BPBD, nyaris memajang barang yang sama yang merujuk pada kebutuhan tanggap darurat.

Tidak ada yang memajang bagaimana skema informasi dari pinggir sungai rawan lahar hujan hingga ke warga desa sekitarnya misalnya. Pasti akan muncul argumentasi bahwa pengelolaan informasi akan melekat pada penanganan bencana itu sendiri, sehingga tidak perlu dibicarakan terpisah. Tapi sebetulnya dengan logika itu, sulit mendapatkan skema standar pengelolaan informasi kebencanaan saat prabencana, tanggap darurat dan
pascabencana.

Standar yang dimaksud mulai dari jenis informasi dan kemasannya, sasaran sosialisasi, media penyampaiannya, uji coba alur informasi saat bencana datang agar tidak simpang siur serta dapat segera dirilis, dan sebagainya. Sebagai contoh, seberapa banyak warga di sekitar lahan terbakar yang pernah menerima informasi utuh tentang bahaya pembakaran lahan, termasuk dari sisi regulasi?

Atau seberapa sering informasi komprehensif tentang seringnya Yogyakarta terkena gempa disampaikan pada warga agar mereka tidak perlu panik? Dalam beberapa pengalaman terjun di situasi bencana, inilah yang dihadapi Combine Resource Institution. Penggunaan radio komunitas, SMS Gateway, handytalkie, website hingga aplikasi android tidak lebih adalah alat. Yang lebih penting adalah pemetaan kultur media di warga secara menyeluruh dan kemudian perencanaan yang matang. Kapasitas SDM yang mengurusi ini harus disiapkan betul, tidak lantas mengikuti irama klasik birokrasi yaitu siap dimutasi tanpa perlu transfer pengetahuan. Inisiatif yang telah ada di warga maupun kelompok masyarakat sipil, hendaknya jangan lantas dijadikan satu-satunya andalan pemerintah, melainkan justru harus diorkestrasi dalam satu skema yang utuh.

Sederhananya, informasi yang disampaikan terus menerus sebelum bencana akan tertanam lebih kuat dan menjadi salah satu faktor yang membuat warga lebih siap. Sedangkan saat bencana datang, informasi akurat dan cepat menjadi kunci keselamatan. Bahkan pengalaman Jepang yang ditulis di buku itu menyebutkan, ”kita telah melakukan persiapan semaksimal mungkin, tapi ternyata belum cukup..”. Nah, apalagi kalau tidak disiapkan dan tidak dianggap penting.

Seks, Gender, dan Kesetaraan Gender

“Jika saya menjadi laki-laki, saya akan pergi berkebun, ambil kayu, kasih makan babi, mencabut sawi untuk dijual di pasar, makan lalu istirahat. Saya perempuan,  maka saya biasa memasak, mencuci piring dan pakaian, menyapu rumah, urus babi, tutu (menumbuk-red) jagung, timba air, semprot ulat (hama tanaman jambu mete -red),  lalu menenun.”

Demikian dilontarkan para perempuan perajin tenun pada hari pertama pelatihan “Pengarusutamaan Gender dan Media Komunitas Bagi Pelaku Usaha Kecil” di Uma Pege atau “Rumah Pintar”, Desa Kandahu Tana,  Kodi Utara, Sumba Barat Daya, NTT,  (26/8). Melalui permainan “Jika saya menjadi laki-laki” di atas,  para peserta pelatihan yang digelar Combine Resource Institution bekerjasama dengan Yayasan Donders ini belajar mengenali perbedaan seks dan gender.  Mereka, para perempuan perajin tenun dari Desa Kandahu Tana, Kalena Rongo, dan Homba Karipit ini, menyadari bahwa perempuan bisa melakukan tugas yang biasanya dilakukan oleh laki-laki semisal mendukung ekonomi keluarga lewat menenun. Demikian halnya dengan tugas perempuan  yang bisa dilakukan oleh laki-laki.

“Perempuan dan laki-laki mempunyai peran sosial yang sama. Inilah yang disebut dengan kesetaraan gender,” jelas Andrew Dananjaya selaku fasilitator dari CRI.

Para peserta  mengakui peran mereka sebagai ibu rumah tangga sangat vital di dalam keluarganya.  Tak hanya mengurus anak dan rumah saja, mereka juga memberdayakan diri untuk mendukung suami dalam meningkatkan ekonomi keluarga. Menenun adalah usaha rumahan yang umum dilakukan para perempuan Sumba. Mereka biasanya menenun ketika tugas-tugas rumah tangga telah selesai setiap hari.

“(Menenunnya) bisa sebelum masak di pagi hari atau siang dan sore setelah tugas rumah selesai. Jadi kalau bapak (suami) istirahat, kami menenun.” Demikian ungkap para ibu perajin tenun ini.

Pelatihan yang diinisiasi oleh divisi Pasar Komunitas CRI ini berlangsung tanggal 26 hingga 29 Agustus 2015. Mengikuti pelatihan selama 4 hari tentu menjadi tantangan tersendiri bagi para peserta. Di samping harus mengurus keluarganya sebelum berangkat ke pelatihan,  mereka juga harus menempuh perjalanan hingga sejauh 10 kilometer berjalan kaki yang ditempuh selama 2 jam. Namun demikian, antusiasme para perempuan perkasa ini untuk mengikuti pelatihan tidak main-main.

“Kami ingin belajar bisnis terutama bagaimana menjual kain tenun kami agar bisa dijual lebih  mahal sehingga bisa meningkatkan pendapatan kami. Kami ingin belajar bagaimana pemasarannya dan memperkaya motif tenun, ” jelas Lusia,  peserta dari Desa Kalena Rongo, (26/8). 

Mengenalkan CRI pada Mahasiswa Asing

Combine Resource Institution berpartisipasi dalam pameran bertajuk “Informasi LSM dan Sukarelawan di Yogyakarta” di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, (21/8). Tak kurang dari 21 organisasi dan lembaga swadaya masyarakat di Yogyakarta mengikuti pameran yang digelar oleh ACICIS (Australian Consortium for ‘In-Country’ Indonesian Studies) ini.

“CRI ikut berpartisipasi dalam program ini untuk memperkenalkan program-program CRI kepada mahasiswa asing seperti program pendampingan media komunitas perajin tenun NTT, SID (Sistem Informasi Desa-red), dan lain-lain,” jelas Maryani dari CRI.

ACICIS merupakan lembaga konsorsium non-profit di Yogyakarta yang beranggotakan 24 universitas dari negara Australia, Selandia Baru, Inggris, dan Belanda. Setiap semester ACICIS memfasilitasi mahasiswa asing, terutama yang universitasnya menjadi anggota konsorsium,untuk menjalani studi selama satu atau dua semester di instansi pendidikan Indonesia seperti Universitas Gadjah Mada, Universitas Sanata Dharma, dan Universitas Islam Indonesia.
Pameran tersebut digelar untuk memperkenalkan mahasiswa asing itu untuk bergabung dan berkontribusi dengan lembaga, LSM atau organisasi lokal sebagai sukarelawan. Bentuk bantuan yang dapat diberikan oleh mahasiswa ACICIS antara lain tugas administrasi, terjemahan, riset, pengumpulan data, outdoor activities serta mengajar Bahasa Inggris. Menariknya, tak hanya mahasiswa asing dari ACICIS, namun mahasiswa UGM pun turut antusias menghadiri pameran tersebut.

“Melalui pameran ini, kami ingin memperkenalkan NGO-NGO (Non-Government Organization/ Lembaga Swadaya Masyarakat-red) kepada mahasiswa asing yang sedang belajar di Yogyakarta. Nantinya, mereka akan melakukan internship program (magang-red) di salah satu NGO tersebut,” jelas Citra, salah satu perwakilan dari ACICIS.

Pada pameran yang sama tahun lalu, salah satu mahasiswi ACICIS, yakni Lushani Wewelwela Hewage tertarik dengan isu kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Akhir semester lalu, mahasiswi asal Australia itu menyelesaikan program magangnya di CRI dengan bergabung dalam program Pasar Komunitas yang menyoroti pada Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan di Borobudur melalui media komunitas. (Angela).

Lomba Fotografi dan Tulisan Jurnalistik: Perempuan dan Lingkungan

Ketika membicarakan media dan perempuan, setidaknya ada dua hal pokok yang penting untuk dibahas. Pertama soal bagaimana media saat ini menampilkan perempuan, dan kedua soal bagaimana peran perempuan dalam mengelola media, termasuk apakah para perempuan yang bergelut di media telah menyuarakan isu-isu perempuan dalam medianya.

Secara umum, saat ini perempuan masih sekadar menjadi obyek bagi media arus utama. Ini bisa dilihat dari cara media yang cenderung menonjolkan sisi penampilan fisik perempuan baik dalam program berita (liputan) maupun non berita seperti iklan, sinetron, acara komedi, dan sebagainya. Di sisi lain, jumlah perempuan yang terlibat dalam pengelolaan media, apalagi yang memiliki peran sentral dalam menentukan kebijakan sebuah media, relatif masih minim. Dari jumlah yang minim itu, banyak di antaranya yang tidak paham soal isu-isu riil yang dihadapi perempuan sehingga keberadaan mereka sebagai pengelola media tidak banyak berpengaruh terhadap cara media arus utama menampilkan perempuan.

Dalam konteks ini, media komunitas menyediakan ruang tak terbatas bagi isu-isu perempuan. Media komunitas bisa berperan sebagai sarana menyuarakan isu-isu riil yang dihadapi perempuan di level akar rumput, sarana pendidikan kritis bagi perempuan, juga untuk mendorong perubahan kebijakan yang tidak berpihak pada perempuan.

Mendorong perempuan untuk mengangkat isu-isu perempuan di media menjadi hal penting karena isu perempuan adalah isu tentang kehidupan itu sendiri. Perempuan sangat dekat dengan isu-isu seperti kesehatan reproduksi, kesehatan anak, ekonomi, hingga lingkungan yang kesemuanya berdampak pada kualitas kehidupan semua orang.

Untuk itu perlu upaya untuk mengajak semua pihak membagikan kisah perempuan melalui media yang ada, khususnya media komunitas dengan berbagai bentuknya. Media komunitas menjadi ruang yang tepat, karena di media inilah kisah-kisah perempuan yang jarang ditampilkan di media arus utama bisa mendapat tempat.

Guna mendorong kepedulian semua pihak untuk menyuarakan isu perempuan melalui media komunitas, maka Combine Resource Institution (CRI) mengadakan kompetisi menulis dan fotografi dengan mengangkat tema “Perempuan dan Lingkungan”.

Tema ini dipilih karena perempuan sangat dekat dengan isu lingkungan. Selain itu, akhir-akhir ini di sejumlah wilayah terjadi eksploitasi sumber daya alam yang pada akhirnya sangat merugikan perempuan. Oleh karena itu, di banyak tempat perempuan kerap tampil menjadi pelopor pelestarian lingkungan. Melalui tema ini, CRI ingin mengajak semua pihak untuk mempertimbangkan risiko kerusakan lingkungan dan dampaknya bagi kehidupan dalam segala rencana proyek pembangunan.

Lomba menulis dan fotografi ini ditujukan bagi pewarta warga dalam jaringan Suara Komunitas serta pewarta warga umum, khususnya pewarga warga perempuan yang bergiat di media komunitas. Lomba ini akan melibatkan jurnalis, fotografer dan aktivis perempuan sebagai juri.

Form pendaftaran dapat diunduh di sini:

Formulir lomba fotografi (khusus pewarta suarakomunitas.net)

Formulir lomba penulisan (khusus perempuan pegiat media komunitas)