Kunjungan Belajar RINDI ke Kebumen

Combine Resource Institution (CRI) dan SIGAB Yogyakarta turut mendampingi delapan desa percontohan program Rintisan Desa Inklusi (RINDI) melaksanakan kunjungan belajar ke desa penerap SID di Kebumen. Kunjungan belajar ini dilaksanakan pada Rabu-Kamis, 13-14 April 2016 ke Desa Pasir, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen.

Program RINDI yang diterapkan di Kabupaten Sleman dan Kulonprogo ini, saat ini sudah memasuki tahap pembangunan dan pemanfaatan oleh perangkat desa. Beberapa kegiatan pun telah dilaksanakan mulai dari visioning sistem informasi desa, review assesment desa, pengenalan SID dan sharing tata kelola data dan informasi, pembuatan kelompok pengembang SID, mini workshop assessment desa, pembentukan tim kerja sistem informasi desa, pelatihan dasar SID,dan beberapa aktivitas terkait pendataan difabel.

Kunjungan belajar kali ini diikuti oleh perangkat, pengelola SID, Kader Desa, Kader Difabel Desa, dan Fasilitator Desa. Kunjungan ini sebagai langkah lanjutan untuk melihat praktik baik pengelolaan dan pemanfaatan SID untuk perencanaan pembangunan di Desa Pasir. (My/IA)

Workshop Penguatan Kapasitas Teknik Sistem Informasi Desa

Delapan desa percontohan program Rintisan Desa Inklusi (RINDI) mengikuti Workshop Penguatan Kapasitas Teknik Sistem Informasi Desa pada Selasa, 29 Maret 2016 di Kantor Combine Resource Intitution. Program RINDI yang diinisiasi oleh Sasana Integrasi dan Advokasi Difabel (SIGAB) dan Combine Resource Institution (CRI) bertujuan untuk membangun sebuah sistem data dan informasi di tingkat desa yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung pengelolaan isu inklusivitas, khususnya terkait difabilitas.

Program yang dimulai pada akhir tahun 2015 ini saat ini sudah memasuki tahap pembangunan dan pemanfaatan oleh perangkat desa. Awal Maret lalu telah diadakan Workshop Pengumpulan Data Penduduk dan instalasi SID. Data-data dari berbagai sumber tersebut nantinya akan dimasukkan ke SD. Sebagai tindak lanjut kegiatan selanjutnya diperlukan penguatan kapasitas teknik Sistem Informasi Desa (SID). Pada kegiatan ini akan mendiskusikan permasalahan dan kendala operasional SID, praktik mengatasi permasalahan dan kendala yang dihadapi, serta kebutuhan menu-menu yang ada di SID untuk memfasilitasi pengembangan potensi desa.

Pelatihan ini diikuti oleh sekitar 30 orang perwakilan aparat desa yang telah menjadi operator SID, fasilitator desa, dan SIGAB. Irman Ariadi dari CRI dan M. Syafi’ie dari SIGAB memfasilitasi acara ini. (My)

Assesment Desa dan Pembentukan Tim SID

Sasana Integrasi dan Advokasi Difabel (SIGAB) gandeng Combine Resource Institution (CRI) untuk mewujudkan program Rintisan Desa Inklusi (RINDI) di delapan desa di Sleman dan Kulonprogo. Program Rintisan Desa Inklusi menjadi sebuah kebutuhan yang bisa dikembangkan di desanya untuk menuju terwujudnya masyarakat inklusi dan bersiap mendukung implementasi UU Desa. Salah satunya dengan penerapan Sistem Informasi Desa (SID).

“SIGAB mendorong desa untuk melalui sistem informasi, untuk itu perlu Sistem Informasi Desa. Kerja ini adalah kerja kolaboratif untuk kebaikan semuanya”, ucap M. Syafi’ie perwakilan dari SIGAB dalam pembukaan acara Assesment Desa dan Pembentukan Tim SID di Sendangadi Sleman (16/4).

“Kami menyambut baik penerapan Sistem informasi Desa untuk kebaikan Desa, dulu informasi itu sulit, sekarang sudah mudah. Dengan hadirnya ini bisa selangkah lebih maju lagi, informasi mudah didapatkan, inilah manfaat yang tidak ternilai”, terang Purwantoro Sekdes Sendangadi menguatkan pernyataan M.Syafi’ie

Program RINDI telah diawali pada akhir tahun 2015 kemarin, dan saat ini sudah sampai pada tahap assesment desa dan pembentukan tim SID. Empat hari di pertengahan Februari ini diadakan rangkaian Assesment Desa dan Pembentukan Tim SID di delapan desa di Sleman dan Kulonprogo. Kegiatan ini dihadiri sekitar dua puluh peserta perwakilan dari perangkat desa, fasilitator desa, kader desa, dan karang taruna.

Assesment dan pembentukan tim SID ini merupakan langkah awal pembentukan komitmen dari aparat desa untuk mendukung program RINDI setelah sebelumnya melalui berbagai langkah-langkah untuk membangun pemahaman dari desa bahwa Program RINDI menjadi sebuah kebutuhan yang bisa dikembangkan di desanya.
Assesment yang dilakukan kali ini menganalisa profil desa, kapasitas desa, profil pembangunan di tingkat desa dan profil penanggungjawab SID.

Dody Selaku fasilitator desa Sendangadi menyebutkan bahwa prinsip SID yang partisipatif, inklusi, transparan, akuntabel dan berkelanjutan sangat sesuai dengan apa yang akan dikembangkan di desanya.

Pembentukan tim SID seyogyanya merupakan kolaborasi antar stakeholder yang ada di desa. Jumlah dan komposisi tim di serahkan kepada desa sesuai dengan kesepakatan. Perlu dipastikan juga keterwakilan dari semua perwakilan perangkat desa, lembaga kemasyarakatan desa dan kelompok warga menjadi pengelola sesuai dengan perannya.

Pemenang Lomba Fotografi dan Tulisan Jurnalistik : Perempuan dan Lingkungan

Combine Resource Institution (CRI) sebagai lembaga yang fokus mendorong warga bersuara melalui media telah menggelar Lomba Fotografi dan Tulisan Jurnalistik bertema “Perempuan dan Lingkungan” bagi para jurnalis warga dan pegiat media komunitas. Lomba ini digelar sejak Agustus – Oktober 2015.

Sebagai tahap terakhir dari lomba ini, proses penjurian telah dilakukan selama November. Tim juri yang terdiri dari perwakilan CRI dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Yogyakarta telah memilih karya yang dipandang mewakili tema.

Lomba semacam ini baru pertama kali diselenggarakan oleh CRI. Sebagai langkah rintisan, dengan jangka waktu publikasi yang terbatas, lomba kali ini berhasil mengumpulkan sejumlah karya foto dan tulisan jurnalistik dari para jurnalis warga dari sejumlah pulau di Indonesia. Total ada 12 peserta yang mengirimkan karya, baik berupa foto maupun tulisan. Satu peserta bisa mengirim antara satu hingga tiga karya.

Dari total karya yang masuk, sebagian besar peserta mengirimkan karya berupa foto. Adapun karya berupa tulisan jurnalistik hanya berjumlah tiga tulisan. Oleh karena itu, mengingat jumlah tulisan yang minim sehingga tidak memungkinkan untuk dinilai secara proporsional, panitia dan tim juri sepakat bahwa proses penjurian hanya diberlakukan pada peserta lomba foto.

Berikut adalah nama pemenang Lomba Fotografi Jurnalistik bagi jurnalis warga dan pegiat media komunitas bertema “Perempuan dan Lingkungan” 2015 :

Juara 1 : Mengumpulkan Sampah Sungai (Hajad Guna Roasmadi/ Speaker Kampung/ Lombok Timur, NTB)
Juara 2 : Menanam Pohon (Abdul Wahab/ Arla FM/ Aceh Barat, NAD)
Juara 3 : Pembuat Tikar (Rahma Mariana/ Hapsari FM/ Deli Serdang, Sumatera Utara)
Menanam Mangrove (Muslim/ Medan, Sumatera Utara)

Selain para pemenang, tim juri juga telah memilih daftar foto yang dipandang layak untuk mendapat apresiasi berdasarkan nilai kumulatif tertinggi. Selain itu, dua karya tulisan jurnalistik juga mendapat apresiasi dari tim juri. Daftarnya sebagai berikut :

Foto :
– Nurmi Menyulam Tikar (Muswarman Abdullah – Kembang FM, Pidie Jaya, NAD)
– Membersihkan Gabah (Muswarman Abdullah – Kembang FM, Pidie Jaya, NAD)
– Jamilah Pembuat Tikar Pandan (Samsyul Qamar, Kembang FM, Pidie Jaya, NAD)
– Perempuan Penambang Batu Apung (Fikri Sanusi – Kesa FM, Lombok Timur, NTB)
– Menanam Kangkung di Sungai (Hajad Guna Roasmadi – Speaker Kampung, Lombok Timur, NTB)
– Mbah Jono Membelah Kayu Bakar (Wasno – Gema Merapi FM, Sleman, DIY)
– Menguras Banjir (Risvande Lubis – Medan, Sumatera Utara)
– Jalan Rusak di Kebun Sawit (Hadi Siswoyo – Semart FM, Labuhanbatu Utara, Sumatera Utara)
– Memanen Padi (Lukman Hamarong – Luwu Utara, Sulawesi Selatan)
– Ibu-ibu Panen Kacang (Muswarman Abdullah – Kembang FM, Pidie Jaya, NAD)

Tulisan :
– Desaku yang Subur, Desaku yang Terlupakan (Rahma Mariana/ Hapsari FM/ Deli Serdang, Sumatera Utara)
– Ibu Empat Anak Penyiar Setia Radio Komunitas Surasuta (Siti Halijah/ Surasuta FM/ Kapuas Hulu, Kalimantan Barat)

Seluruh foto pemenang serta foto dan tulisan yang mendapat apresiasi akan dipublikasikan dalam buku dengan tema yang sama.

CRI mengucapkan terimakasih kepada seluruh jurnalis warga maupun pegiat media komunitas yang telah mengirimkan karyanya dalam lomba ini. Selamat bagi para pemenang.

Warga Lereng Merapi Belajar Mitigasi Bencana ke Jepang

Bersama 3 perwakilan radio komunitas (rakom) yang tergabung dalam Jalin Merapi di lereng Gunung Merapi, Combine dan FMYY Jepang melakukan kunjungan belajar ke Jepang, 1 – 11 Oktober 2015. Kunjungan belajar ini betujuan untuk berbagi pengalaman tentang mitigasi bencana dan pengelolaan radio komunitas dalam pengurangan resiko bencana dengan komunitas Meister Toya-Usu Geopark di lereng Gunung Usu & pemerintah lokal di Hokkaido, Jepang.

Dalam kunjungan tersebut, Okada selaku sesepuh komunitas Meister Toya-Usu Geopark menjelaskan keterlibatan pemerintah lokal dan komunitas serta warga dalam pengelolaan geopark untuk pendidikan mitigasi bencana. Okada mengungkapkan pentingnya mengenali karakteristik gunung api agar warga dapat melakukan tindakan mitigasi bencana secara mandiri. Ia mencontohkan saat Gunung Usu erupi tahun 2000 lalu. Erupsi saat itu menyebabkan kampung yang hanya berjarak 300 meter dari puncak gunung mengalami deformasi (pengangkatan tanah) hingga 80 meter. Pendidikan mitigasi bencana yang mereka rintis ternyata mampu meminimalisir jumlah korban jiwa. Meski kampung tersebut termasuk padat penduduk, tercatat hanya ada 3 warga yang menjadi korban.

“Saya pernah ke Indonesia dan belajar dari Indonesia tentang pengurangan resiko bencana, gunung api dan tentang pemetaan kawasan rawan bencana. Apa yang saya pelajari saya terapkan di Jepang dengan membuat sistem pembelajaran dan penyadaran mitigasi bencana. Sistem itu berjalan dengan baik sekali di sini. Indonesia memang sangat maju dan berpengalaman dalam pengelolaan kebencanaan,” jelas Okada.

Tak sekedar dukungan dalam mitigasi bencana, baik pemerintah lokal Hokkaido maupun komunitas Meister Toya-Usu Geopark juga memfasilitasi pengelolaan sisa harta milik warga yang terkena dampak letusan Gunung Usu. Mereka melindungi dan menjaga keutuhan dan keaslian sisa harta warga terdampak erupsi tanpa menghilangkan kearifan lokal.

Sisa harta warga terdampak erupsi Gunung Usu Jepang dijaga keutuhan dan kelestariannya oleh
pemerintah lokal Hokkaido, komunitas Meister Toya-Usu Geopark dan warga sekitar.

Rakom Berbagi Pengalaman

Para peserta kunjungan belajar kali ini merupakan peserta yang lolos seleksi setelah memaparkan essay mereka tentang pengalaman mitigasi bencana di Merapi beberapa waktu sebelumnya. Ketiganya yaitu Sukiman Mohtar yang mewakili rakom Lintas Merapi FM di Klaten, Widodo dari Geminastiti FM, Boyolali, dan Temon Temu Selamet dari Gema Merapi FM, Sleman.

Dalam kunjungan tersebut, ketiganya belajar tentang pengelolaan radio di Rakom Wi FM Jepang. Rakom yang berdiri 30 April 2015 itu menjadi perpanjangan tangan pemerintah lokal untuk menyiarkan informasi darurat saat bencana terjadi. Dalam kondisi normal sehari-hari, Wi FM tetap aktif memberikan informasi lokal baik tentang pendidikan maupun hiburan kepada warga. Selain bersiaran secara langsung, Wi FM juga mengadakan pelatihan kepada warga dalam upaya peningkatan ekonomi dan pariwisata. Buletin pun dibuat rakom ini untuk bisa menggaet sponsor.

Berbagi pengalaman tentang mitigasi bencana erupsi gunung berapi di rakom Wi FM, Jepang.

Tak hanya belajar saja, para peserta kunjungan belajar juga berbagi pengalaman mereka memanfaatkan rakom untuk mitigasi bencana di lereng Gunung Merapi. Sukiman, perwakilan rakom Lintas Merapi FM di Klaten, memaparkan peran rakom adalah menyadarkan masyarakat akan pentingnya mitigasi bencana, baik sebelum bencana, saat bencana, maupun setelah bencana.

“Sebelum bencana terjadi, rakom memberikan pendidikan pengurangan bencana. Lalu saat bencana terjadi, rakom bersama masyarakat melakukan tindakan mitigasi bencana atau pengungsian mandiri. Sementara pasca bencana, bersama masyarakat, rakom melakukan rehabilitasi dan rekonstruksi berbasis kearifan lokal untuk kemudianmemulihkan kegiatan perekonomian warga,” urai Sukiman. (FR/AS)

Edisi 64 : Berpikir Global, Bertindak Lokal Ala Komunitas

Istilah berpikir global bertindak lokal (think global act local) yang begitu terkenal itu akhirnya memang bisa diartikan dalam konteks apa saja, terma­suk yang belakangan paling sering ada­lah di bidang pemasaran global. Namun sejatinya istilah ini muncul dalam kon­teks sosial.

Rasanya boleh juga diterje­mahkan bahwa istilah ini bentuk peng­akuan pada kekuatan komunitas lokal. Namun agaknya penganut istilah ber­ pikir global bertindak lokal ini rujukan utamanya tetap konsep dan pemikiran global yang diterjemahkan sesuai kon­disi lokal. Misalnya di negara asalnya ju­alan utamanya hamburger, begitu di In­donesia jadi nasi, ayam goreng dan per­kedel. Padahal sesungguhnya konsep global, termasuk di dalamnya ada sebut­an kapitalisme global, sudah terbukti ka­lah “sakti” dengan kebijaksanaan lokal.

Saat krisis ekonomi global melanda pada 2008, Usaha Kecil Menengah dan Mikro (UMKM) membuktikan diri mam­pu bertahan dan bahkan ikut menopang Indonesia dari kejatuhan yang dalam. Demikian pula sebelumnya saat senja­kala orde baru 1997-1998. Mereka ini ter­masuk para pedagang yang mengan­ dal­kan proses transaksinya dengan cara tradisional, tanpa utang pada bank tapi konsumennya boleh utang berbasis ke­percayaan dan catatan di secarik kertas, serta menjual barang yang memang be­nar-benar dibutuhkan oleh warga di se­kitarnya dan bukan menciptakan ke­butuhan. Mereka ini jumlahnya jutaan orang, dan merekalah sebenarnya tulang punggung ekonomi Indonesia.

Perkembangan teknologi komunikasi dan jaman yang serba modern membuat para pengambil kebijakan dan pengu­asa bisnis kelas gurita kerap melupakan kekuatan komunitas ini. Menjejalkan tam­bang di daerah pertanian, membi­arkan stasiun-stasiun televisi menyebar­kan keburukan melalui beragam prog­ ram siarannya yang mengambil jatah frekuensi publik, hingga membiarkan harga buku menjadi sangat mahal ada­lah segelintir contohnya.

Bila tak ada aral melintang, April men­datang CRI akan menghadirkan realitas ini melalui Jagongan Media Rakyat, aca­ra dua tahunan yang menginjak kali ke­ empat. Seperti tersaji dalam edisi ini, kita butuh kembali diingatkan oleh ko­munitas bahwa mereka memiliki kemam­puan luar biasa dan terkadang hanya bu­tuh teman, bukan tuan.

Sekolah Sistem Informasi Desa Angkatan 2: Saatnya Belajar (Kembali) ke Desa

Combine Resource Institution (CRI) kembali menggelar Sekolah Sistem Informasi Desa (SSID) periode 2015 angkatan ke-2 pada tanggal 6-9 Oktober 2015 di kantor CRI, Bantul, Yogyakarta. Pelatihan kali ini diikuti oleh 14 perwakilan unsur pemerintah desa dan masyarakat dari 7 desa di Kabupaten Kebumen, yakni Desa Tambaharjo, Pesuningan, Sidoharum, Ampel Sari, Blater, Rowokele, dan Sidototo. Para pebelajar SSID terbagi menjadi 2 kelas, yakni Kelas Olah Data dan Kelas Jurnalisme Warga.

Setelah mendapatkan bekal teori tentang Jurnalisme Warga maupun Olah Data pada pelatihan hari pertama, (6/10), pebelajar mengunjungi 2 desa penerap Sistem Informasi Desa (SID) di Kabupaten Gunungkidul dan Bantul, Yogyakarta, (7/10). Desa Nglegi di Kecamatan Patuk, Gunungkidul menjadi desa pertama yang dikunjungi pebelajar SSID angkatan ke-2 ini. Di desa yang menjadi desa penerap SID pertama di Kabupaten Gunungkidul ini, pebelajar belajar tentang pemanfaatan SID untuk Analisis Kemiskinan Partisipatif (AKP). Disambut langsung oleh Kepala Desa Nglegi yakni Arifin, para peserta diajak untuk berdialog dan saling berbagi pengalaman dari desa masing-masing.

Dalam dialog tersebut, Arifin menjelaskan tentang pengalaman selama proses pendataan AKP yang melibatkan masyarakat di desanya. Pendataan tersebut bertujuan untuk menguatkan data BPS (Badan Pusat Statistik) yang telah ada. Kini, hasil pendataan AKP yang lebih valid dari data BPS itu digunakan sebagai rujukan dalam pengambilan keputusan.

“Pendataan ini bukan untuk mempengaruhi bantuan dari pemerintah, tapi untuk menguatkan data. (Biaya) 10 hingga 15 juta untuk membangun data yang valid kami rasa murah jika dibandingkan kebermanfaatannya”, ungkap Arifin saat berdiskusi dengan para pebelajar di Balai Desa Nglegi, (7/10).

Jika pebelajar di Kelas Olah Data belajar tentang pengolahan data di desa kunjungan, pebelajar di Kelas Jurnalisme Warga belajar menggali dan menulis informasi seputar desa kunjungan. Maka tak heran, pada kunjungan tersebut mereka belajar menggali informasi dengan mewawancarai sejumlah perangkat desa dan warga Desa Nglegi.

Idha Saraswati selaku pemateri dalam sesi Pengantar Jurnalisme Warga di Kelas Olah Data mengatakan, dalam konteks SID, jurnalisme warga berfungsi sebagai pengawas pemerintah desa dan partisipasi warga desa. Fungsi pengawasan dalam jurnalisme warga ini bertujuan agar warga bisa melakukan verifikasi berita dari pemerintah desa dengan fakta yang ada di lapangan. Sementara fungsi partisipasi membuka kesempatan bagi seluruh warga desa untuk berpartisipasi memperkaya data yang nantinya dikelola dalam SID.

“Berkaitan dengan peran, jurnalisme warga dalam SID berperan untuk mengelola dan mengemas data menjadi informasi yang mudah dipahami masyarakat serta mendistribusikan informasi pada warga. Esensinya adalah jurnalis warga menjadi jembatan yang menghubungkan antara warga negara dengan SID,” urai Idha Saraswati, (6/10).

Dialog antara Pemerintah Desa Nglegi yang diwakili Kepala Desa Nglegi, Arifin, dengan pebelajar SSID angkatan II dan CRI di Balai Desa Nglegi, (7/10)

Di hari yang sama, kunjungan belajar SSID dilanjutkan ke Desa Dlingo, Bantul. Di desa yang telah menerapkan SID sejak 2014 lalu itu, pebelajar belajar tentang pemanfaatan SID untuk mengembangkan potensi unggulan desa. Desa Dlingo sendiri telah memanfaatkan SID untuk mengembangkan potensi – potensi unggulan di desanya, terutama potensi wisatanya.

Melalui kunjungan belajar tersebut, baik pebelajar SSID angkatan 2 maupun pemerintah desa dan warga desa tujuan kunjungan dapat saling berbagi pengalaman dalam membangun desa. “Desa sebenarnya memiliki potensi luar biasa jika dikelola dengan maksimal. Melalui Sekolah SID ini, kami ingin belajar dari desa-desa lain dan juga Combine untuk mengembangkan desa kami nantinya,” demikian ungkapan salah satu pebelajar, (7/10). Kunjungan belajar ke desa penerap SID memang diharapkan dapat menginspirasi pebelajar untuk mengembangkan desa mereka menjadi desa yang mandiri dan lebih baik lagi. (AS/Ang.)

Desa Berbagi Cerita : Berdaya dengan Sistem Informasi Desa

Mengenalkan sesuatu yang baru, meyakinkan manfaatnya hingga mendorong penggunaannya secara berlanjut bukanlah peker­jaan sekali jadi. Bahkan mie instan pun tidak bisa langsung di­ makan, butuh proses tertentu. Inilah yang menjadi tantangan enam desa yang mengawali pengembangan Sistem Informasi Desa (SID) bersama CRI.

Butuh motivasi dan komitmen luar biasa menjaga asa mengerja­kannya, seiring dengan banyaknya waktu yang harus dihabiskan untuk diskusi demi diskusi, uji coba demi uji coba, pelatihan demi pelatihan. Tak perlu menjelaskan soal minimnya dukungan dari level pemerintahan yang lebih tinggi, sebab bussiness as usual ma­sih menjadi dogma mereka. Maka bayangan waktu yang seakan menjadi sangat lambat pengembangan SID pun mulai muncul.

Selama sebuah sistem informasi sudah dipasang di komputer desa, data sudah dimasukkan sesuai petunjuk, laman desa sudah daring (online) maka desa itu dianggap sah disebut sebagai pe­nerap sistem. Padahal proses seperti yang dijalani Desa Dlingo, Balerante, dan Nglegi seperti termuat dalam buku ini yang se­benarnya benar dan utuh, setidaknya dari kacamata SID yang dikembangkan CRI.

Empat desa yang dikisahkan dalam buku ini berbeda dari segi kerangka waktu proses penerapan SID. Dua desa termasuk pe­rintis sedangkan satu desa termasuk yang paling akhir. Praktik baik yang mereka bagikan sesungguhnya adalah oasis, tempat bertemunya cita-cita, teori, semangat yang semuanya dibung­kus niat baik, yaitu demi kemandirian dan kedaulatan desa. Ini­lah yang akan dicapai ketika pemahaman tentang SID adalah sebuah proses utuh dan saling terkait, bukan sekedar alat atau teknologi. Baik pemerintah maupun warga desa memiliki ruang dan tanggung jawab masing masing di pengelolaan data dan informasi. Manfaatnya pun dikejar dan dirasakan dengan penuh kesadaran oleh kedua belah pihak dalam visi yang sama.

Workshop Village Website for Everyone untuk Tata Informasi Lebih Baik

Dalam upaya mempercepat penyebaran informasi desa, CRI menggelar workshop bertajuk Village Website for Everyone Kabupaten Kupang pada 28 September hingga 4 Oktober 2015. Workshop yang berlangsung di Hotel Brenton II Penfui Kupang, Nusa Tenggara Timur itu mengajak masyarakat desa di Kupang untuk melakukan tata kelola informasi berbasis media online melalui saluran komunikasi digital baru. Saluran media berbasis online tersebut akan memudahkan masyarakat desa dalam mengakses berita, data, dan informasi.

Hadir dalam workshop ini perwakilan pemerintah desa serta masyarakat dari 11 desa, pemerintah kecamatan, perwakilan organisasi setempat, serta dari SKPD (Satuan Kerja Pemerintah Daerah) dan Dinas di Kabupaten Kupang. Kesebelas desa yang hadir dalam workshop ini merupakan desa percontohan yang diharapkan dapat mengelola website desa masing-masing.

Didampingi 2 fasilitator CRI, yakni Irman Ariadi dan Zani Noviansyah, workshop ini bertujuan untuk memaksimalkan potensi Sumber Daya Manusia (SDM) dalam melakukan konvergensi media analog ke media digital dan pemanfaatan media online bersama. Media online tersebut akan memudahkan masyarakat desa dalam mengakses berita, data dan informasi. Dengan adanya keterbukaan dan arus informasi tersebut, partisipasi masyarakat untuk mengembangkan desanya akan semakin meningkat. Di samping itu, workshop ini diharapkan juga dapat memudahkan dan memperluas pelayanan publik baik secara saluran pelayanan informasi maupun keterjangkauan informasi. (Ang/ AS).