Perkawinan Wikipedia dan Radio Komunitas

Perkawinan Wikipedia dan radio komunitas berawal dari pemikiran untuk membumikan segudang pengetahuan yang berada di Wikipedia Indonesia. Begitu banyak informasi yang tersimpan di Wikipedia dan seharusnya dapat disebarkan ke masyarakat luas. Namun oleh karena masih sulitnya akses internet di lingkungan pedesaan dan kota-kota kecil, maka dibutuhkan suatu media lain yang dapat menjembatani penyebaran pengetahuan tersebut. Dalam konteks inilah,  COMBINE Resource Institution berusaha memperluas akses itu melalui program siaran Wikipedia di radio komunitas.

Selain memperluas akses, program ini bertujuan untuk membumikan pengetahuan. Program siaran akan dibuat dalam bahasa daerah sehingga warga mudah memahami isinya. Pada tahap ujicoba,  CRI telah melakukan kerjasama dengan Himpunan Mahasiswa Cilacap di Yogyakarta (HIMACITA) untuk program siaran berbahasa Banyumas, Keluarga Pelajar dan Mahasiswa (KPM) Jawa Barat untuk program siaran berbahasa Sunda.
Kini, Wikipedia telah memanfaatkan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar ilmu pengatahuan. Ada Wikipedia yang berbahasa Banjar, Jawa, Aceh, Banyumas, dan Sunda. Pemanfaatan bahasa daerah menyebabkan ilmu pengetahuan akan semakin dekat dengan masyarakat kebanyakan. Kegiatan konvergensi ini mencoba menghadirkan ilmu pengetahuan di telinga pendengar radio komunitas di pelosok-pelosok desa yang masih sulit memperoleh akses internet.

Ada tiga mitra utama dalam pengembangan program perkawinan wikipedia dan radio komunitas, yaitu wikimedia Indonesia, radio komunitas, dan organisasi mahasiswa daerah di Yogyakarta.

Wikimedia Indonesia adalah pengelola Wikipedia di Indonesia. COMBINE Resource Institution melakukan kolaborasi dengan Wikimedia Indonesia. Radio komunitas merupakan mitra utama dalam program ini. Produk-produk ilmu pengetahuan dalam bahasa daerah yang dibuat oleh organisasi mahasiswa daerah disebarluaskan lewat radio komunitas.

Dalam program ini, tahapan yang telah dilakukan adalah pelatihan, produksi audio untuk bahasa sunda, banyumas, dan lombok. Namun tahap penyiaran konten wikipedia oleh radio komunitas belum terlaksana. Kemudian pada bulan April telah diadakan pertemuan kembali dengan para organisasi mahasiswa daerah dari Jawa Barat, Cilacap, dan Radio Komunitas di DIY yang tergabung dalam SIAR. Dalam pertemuan ini dibahas soal target baru program dimana masing-masing daerah harus menghasilkan 20 konten audio selama kurun waktu 2 bulan.

Setelah melewati proses pemilihan konten, rekaman pembacaan konten oleh mahasiswa daerah, dan mixing serta editing maka kini ada  80 konten audio yang siap disiarkan di daerah Jawa Barat, Lombok, DIY, dan Cilacap. (Ade Tanesia)

Pewarta Warga

Jurnalisme warga memungkinkan antar warga dapat berbagi informasi, saling belajar, berbagi keluh kesah dan mencari jalan keluarnya. Proses ini bisa mendorong perubahan tata kehidupan warga ke arah yang lebih baik. Dari sudut pandang komunikasi massa, ini menjadi tahapan penting untuk meraih demokrasi sejati.

Panduan ini dapat penjadi rujukan bagi para pewarta warga dalam membuat berita yang benar. Jurnalisme mengacu pada prinsip-prinsip yang diatur dalam UU No 40 Tahun 2009 tentang Pers agar menghasilkan berita yang dapat dipercaya. Seluruh elemen materi panduan ini disusun berdasarkan pengalaman pewarta warga, sehingga dapat mengatasi berbagai persoalan yang sering mereka hadapi. Panduan ini telah diujicobakan pada lokalatih Pengelolaan Informasi di berbagai daerah.

Diskusi Publik UU Penyiaran di Peringatan 78 Tahun Harsiarnas

Surakarta – Memperingati 78 tahun Hari Siar Nasional (Harsiarnas, 1 April 1933–1 April 2011), COMBINE Resource Institution bekerjasama dengan Jaringan Radio Komunitas Indonesia (JRKI)  dengan beberapa lembaga lain menggelar diskusi publik bertema “Masa Depan Penyiaran Komunitas di Indonesia” di Komplek Gedung Gramedia, Jl. Slamet Riyadi No. 284, Surakarta.

Ketua Panitia Sinam M. Sutarno, mengatakan, selain sebagai apresiasi terhadap Harsiarnas, diskusi ini sebagai sanggar pertemuan bagi pegiat media komunitas ketika posisi media penyiaran komunitas sekarang ini tidak jelas, pun untuk menggagas ide bagaimana menguatkan media komunitas melalui advokasi Undang-Undang Penyiaran No 32/ 2002 yang saat ini sedang proses revisi.
“JRKI rencananya sedang melakukan konsolidasi wilayah, rencananya 18 provinsi, sekarang sudah dapat 9 provinsi. Dan advokasi dengan pihak-pihak lain juga kita lakukan, seperti Komite Independen untuk Demokratisasi Penyiaran,” jelas Sinam yang juga menjadi koordinator adhoc Pengantar Wilayah JRKI.


Diskusi gotong-royongan JRKI dengan empat lembaga ini: Radio Komunitas  Jawa Tengah, Saluran Informasi Akara Rumput (SIAR), JRKY, ; menghadirkan narasumber dari beragam kalangan mulai dari lembaga penyiaran (publik dan komunitas), komisi penyiaran, masyarakat pengawas regulasi media, sampai akademisi. Salah satu narasumber, Muzayin Nazaruddin, pengajar Program Studi Ilmu Komunikasi UII Yogyakarta, menyampaikan dalam materinya, “Mewaspadai Kembalinya Rezim Otoritarian dalam Revisi UU Penyiaran” bahwa draft revisi UU Penyiaran versi Kominfo sudah amat gamblang menguatkan peran pemerintah, dimana dalam beragam hal cenderung menyegarkan lembaga penyiaran swasta (pasar). Bagaimana dengan posisi lembaga penyiaran komunitas dalam revisi UU Penyiaran? “Hanya anak bawang, tidak banyak digubris,” kata Muzayin.
Salah seorang peserta diskusi dari Bandung, Eni Maryani, berpendapat yang sebenar-benarnya dibutuhkan sekarang justru implementasi UU, bukan revisi bolak-balik tiada hilir. Ia pun menukas mungkin keberpihakan revisi UU Penyiaran tidak seperti yang diharapkan.
“UU Penyiaran harus berpihak kepada media komunitas dikala keberadaan media mainstream yang tidak sesuai harap, dan media komunitas harus mampu memberi pilihan yang baik kepada masyarakatnya,” tegas Eni, yang merupakan Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Komunikasi Universitas Padjajaran, Bandung.
Guna menajamkan gerakan mengawal revisi UU Penyiaran dan mengidekan penguatan media komunitas, misalnya, JRKI sekarang sedang menghimpun kisah sukses radio-radio komunitas yang ada. Upaya demikian diharap mampu mendongkrak posisi tawar media komunitas yang selama ini masih dilirik sambil lalu saja dan tentu semoga dapat menjadi pengawal UU Penyiaran.
Hujan deras yang turun sejak awalan diskusi turut mereda kala obrolan bakal berakhir.

Budhi Hermanto, dari Combine Resource Institution (CRI) Yogyakarta, selaku salah satu narasumber menutup bincang-bincang , “Buat kawan-kawan media komunitas semangatnya mestinya sama dengan 10 tahun lalu (terbitnya UU-red.). Sepuluh tahun yang lalu kita cukup heroik. Semoga tahun ini masih punya semangat yang sama untuk mengawal proses perubahan Undang-Undang ini.”

Diskusi lanjutan bakal diagendakan lagi di Yogyakarta sebagai upaya mengawal revisi UU Penyiaran. Tinggal menyelakan waktu dan tempat tepat. Jakarta sudah bergerak. Yogyakarta pun juga. Bagaimana dengan Surakarta? Wilayah lain berminat menyusul? (Kairul Anam)

Merancang Strategi Komunikasi Suarakomunitas.net

Cirebon, 31 Maret 2011. Pertemuan nasional editor suarakomunitas.net menggelar sesi mengenai  merancang strategi komunikasi agar isu yang diangkat bisa tepat sasaran. Selama ini suarakomunitas.net telah memiliki 350 kontributor dari seluruh Indonesia. Pada tahun 2010 ada sekitar 2023 tulisan yang diunggah oleh para kontributor, dan hingga tahun 2010 portal ini telah dikunjungi oleh 14.719 pengunjung.

Namun pertanyaan selanjutnya adalah apakah dengan banyaknya pengunjung ke website, terjadi perubahan yang signifikan dalam komunitas. Hal ini penting untuk dicermati karena tujuan utama suara komunitas adalah memediasi suara warga di berbagai daerah untuk bisa diperhatikan oleh berbagai pemangku kepentingan serta menghasilkan adanya perubahan. Berdasarkan pemikiran inilah maka perlu dirancang sebuah strategi bersama agar isu yang diangkat memang tepat sasaran.
Dalam sesi ini, Ade Tanesia dari COMBINE Resource Institution memaparkan tentang tahapan merancang strategi komunikasi, yaitu pentingnya merumuskan tujuan komunikasi, menentukan sasaran atau target audiens, mengenali berbagai jenis media, memetakan penggunaan media di masyarakat, dan akhirnya memilih penggunaan media yang tepat sasaran.  Setelah memberikan contoh jenis media dan pilihan yang digunakan untuk kepentingan masyarakat, maka peserta diminta untuk berdiskusi kelompok. Dibagi 3 kelompok dengan tugas memilih sebuah isu, dan mulai merancang strategi komunikasi agar suatu isu bisa ditindaklanjuti oleh pihak terkait.

M.Syairi dari Radio Komunitas Primadona, di Lombok Utara misalnya, mengangkat isu mengenai relokasi masyarakat pinggir pantai di Desa Anyar yang wilayahnya akan dibangun pelabuhan. Awalnya sangat sederhana, warga bertemu dengan M.Syairi dan meminta agar persoalan mereka diangkat ke media suarakomunitas.net. Persoalannya adalah mereka telah diminta untuk pindah sejak 3 tahun silam, tetapi harga beli tanah dari pemerintah sangat rendah. Kemudian mereka harus membeli lahan relokasi yang ukurannya tidak sama dengan rumah mereka sebelumnya. Di lahan tersebut juga belum diratakan, tidak ada fasilitas sumur maupun listrik. Hal seperti ini telah dibiarkan selama 3 tahun, dan akhirnya diangkat oleh Rakom Primadona ke suarakomunitas.net , maka media lokal lalu ikut mengangkat kasus ini. Kemudian diadakan pertemuan antara pihak desa, kecamatan, warga, dan anggota DPR. Dampak dari pertemuan itu cukup membawa perubahan, yaitu pemerataan tanah dan sudah dibangun sumur. Namun persoalan pengukuran belum tertuntaskan, sehingga editor suarakomunitas.net mengangkat isu ini lagi dengan judul “Tempat Relokasi Warga Labuhan Carik Perlu Diukur Ulang” pada tanggal 11 maret 2011.  Untuk menyebarkan isu ini maka informasi ini disebarluaskan ke warga melalui radio komunitas Primadona. Kemudian untuk kalangan pemerintah, digunakan media suarakomunitas.net yang kemudian diangkat oleh harian koran lokal. Pertemuan formal dengan pihak pemangku kepentingan terkait sangat penting untuk akhirnya bisa menghasilkan suatu keputusan yang berpihak pada kepentingan masyarakat. Inilah strategi komunikasi yang dilakukan oleh editor dari Lombok Utara. Dalam kasus ini memang belum digunakan jejaring sosial seperti twitter, facebook, karena sasaran yang hendak dibidik juga belum menjadi pengguna.

Yet Kahar, salah seorang kontributor  suarakomunitas.net dari Pariaman, Sumatera Barat mengungkapkan bahwa sekitar 27 LSM dan organisasi masyarakat di Sumatera Barat membentuk sebuah jaringan bernama Lumbung Derma. Pada saat merespon bencana gempa dan tsunami di Mentawai, maka Lumbung Derma membuka posko di sana bekerjasama dengan Yayasan Citra Mandiri. Mereka juga memanfaatkanr radio komunitas yang ada untuk memberikan informasi seputar bantuan. Kini isu terakhir di Mentawai yang merebak adalah rencana untuk merelokasi warga pinggir pantai ke daerah hutan. Sebenarnya warga sudah bersedia untuk dipindah, karena meskipun mereka tinggal di dekat pantai, sebenarnya mereka tetap mengelola ladang di hutan. Namun ternyata dinas kehutanan belum sepakat dengan relokasi ini karena kawasan hutan di Mentawai akan dijadikan lahan kelapa sawit oleh sebuah konglomerat besar di Indonesia. Mengetahui persoalan ini, Lumbung Derma langsung melakukan penyebaran informasi dan gerakan melalui facebook dengan membuat grup bernama “Koalisi Tolak Kepala Sawit di Sumatera Barat”. Melalui grup FB ini mereka saling memberikan informasi terbaru soal rencana perkebunan kelapa sawit yang ditolak karena sangat berdampak pada pemanasan global.  Kemudian mereka juga menggunakan twitter dengan akun lumbungderma.  Media online lain yang digunakan untuk penyebaran informasi adalah melalui suarakomunitas.net dan yang menarik mereka sering memberikan komentari di buku tamu website pemerintah. Menurut Yet Kahar, media ini cukup efektif karena langsung menyasar ke aparat pemerintah. Media konvensional seperti pertemuan, radio komunitas tetap digunakan untuk warga dan aparat pemerintah yang tidak bisa mengakses internet.

Adapun kesimpulan dari sesi ini ialah strategi komunikasi mutlak untuk dilakukan oleh setiap kontributor. Namun hal yang juga penting adalah membangun jejaring dengan berbagai pihak agar dapat membangun isu bersama dan melakukan advokasi. (Ade Tanesia)

#3G Merapi (Guyub Gugur Gunung), 18 Maret 2011

COMBINE Resource Institution bersama Jalin Merapi,  ICT Watch, Internet Sehat, Komunitas Blogger Bengawan, Joglo Abang, menyelenggarakan sebuah acara bertajuk #3G Merapi yang terdiri dari berbagai acara. Utamanya adalah mengingatkan warga Jogja akan masih berlangsungnya kesulitan yang dihadapi warga merapi. Oleh karena itu acara ini hendak mendorong rasa solidaritas warga Jogja kembali terhadap korban bencana erupsi merapi dan lahar dingin. Di samping itu, acara ini juga menggelar pemutaran film berjudul “Linimas(s)a yang memaparkan peran sosial media dalam gerakan masyarakat akar rumput. Dalam film tersebut juga terdapat dokumentasi mengenai Jalin Merapi.

Adapun acara selengkapnya:

Tempat: Taman Budaya Yogyakarya, Jl. Sriwedani 1
Tanggal: 18 Maret 2011
Waktu: 15.00 s/d 22.00 WIB
HTM: Rp seikhlasnya (untuk donasi)

Acara:

Pertunjukan Seni Rakyat 
Jatilan Cangkringan
Orkes Anak Jalanan
Wayang Kampung Sebelah

Donasi 
Buku & alat sekolah untuk anak merapi; Sembako; Bibit Penghijauan

Lomba 
Lomba Twit (hashtag #3Gmerapi), Lomba Artikel Blog (resensi film & diskusi)
Hadiah: Ponsel Qwerty, Voucher Belanja, Produk AntiVirus

Lelang Foto 
Kemal Jufri (Pemenang World Press Photo 2011)
Achmad Ibrahim (Fotografer Associated Press)

Nonton Bareng
Putar  Film Linimas(s)a
Film dokumenter pertama tentang gerakan sosial media di Indonesia yang mampu memantik sejumlah gerakan perubahan di tingkat akar rumput. Sejumlah kisah disampaikan langsung oleh pelakunya, dari tukang becak hingga petinggi KPK, dari komunitas difabel hingga relawan Merapi.

Diskusi Lesehan: “Posisi Media Sosial dalam Masyarakat Berdaya”
Narasumber Diskusi:
@anasir – admin jalinmerapi
@blontankpoer –  blogger bengawan
@dandhy_laksono – sutradara film linimas(s)a
@harryvanyogya – pengendara becak ber-FB
@spangerapan – asosiasi ISP indonesia

Fasilitator Diskusi:
@donnybu – praktisi internet sehat
@onnowpurbo – penasehat ict watch

Web: http://3gmerapi.linimassa.org/

Lokakarya “Memikir Ulang Desa – Kota; Jalan Menuju Kelestarian”: Pengumuman bagi Peserta

Lokakarya “Memikir Ulang Desa – Kota; Jalan Menuju Kelestarian” yang diadakan di Desa Kandangan, Temanggung, Jawa Tengah, akan berlangsung hari Jumat, 4-6 Maret 2011. Adapun tujuan dari lokakarya ini adalah membuka ruang  belajar bersama untuk memikir ulang hubungan  antara perdesaan dan perkotaan dalam kerangka kerja pembangunan komunitas berbasis aset dan pelestarian.

Lokakarya ini terselenggara atas kerjasama COMBINE Resource Institution (CRI) di Yogyakarta dengan Rujak Center for Urban Studies (RCUS) di Jakarta dan Magno – Piranti Works di Temanggung. Kami telah mengundang dan membuka pendaftaran terbuka untuk menghimpun peserta dari beragam latar belakang disiplin ilmu dan pengalaman kerja bersama komunitas.

Terkait dengan pelaksana lokakarya tersebut, nama Bapak/Ibu/Saudara telah tercatat sebagai undangan dan/atau peserta terpilih. Sekretariat CRI dalam dua hari ini (28/02 – 01/03) sudah akan menghubungi Bapak/Ibu/Saudara melalui telepon dan/atau e-mail untuk melakukan pemberitahuan dan konfirmasi keikutsertaan dalam lokakarya ini. Jika belum, mohon sampaikan konfirmasi keikutsertaan langsung dengan membalas e-mail ini atau menghubungi nomor sekretariat CRI di 0274 – 411 123 (Rani) atau Elanto Wijoyono (0815 7865 8586).

Kepada para undangan dan peserta lokakarya, kemudian kami arahkan untuk mengikuti beberapa hal di bawah ini:

1. Undangan dan peserta dapat hadir langsung ke tempat acara atau  berangkat bersama dari  kantor COMBINE.

2. Tempat acara di kediaman Bapak Singgih S. Kartono di Dusun Krajan 1 RT 02 RW 07 Desa Kandangan, Temanggung,  Jawa Tengah 56281 Indonesia

3. Kantor COMBINE beralamat di Jl. K.H. Ali Maksum No. 183 Pelemsewu, Panggungharjo, Sewon, Bantul, D.I. Yogyakarta 55188 Indonesia

4. Undangan dan peserta menanggung sendiri biaya transportasi dari tempat asal ke kantor COMBINE di Yogyakarta (jika turut bergabung  di kantor COMBINE) dan sebaliknya. Akomodasi undangan peserta  selama di Yogyakarta tidak ditanggung oleh penyelenggara lokakarya. Transportasi undangan dan peserta dari Yogyakarta ke Temanggung dan sebaliknya ditanggung oleh COMBINE.

5. Undangan dan peserta yang datang langsung dari tempat asal ke Desa  Kandangan di Temanggung, Jawa Tengah membiaya sendiri transportasi menuju dan dari Temanggung.

6. Undangan dan peserta akan menginap di Hotel Indraloka Jl. Suwardi No. 3 Temanggung, Jawa Tengah pada hari Jumat dan Sabtu (4  dan 5 Maret 2011); check out hari Minggu. 6 Maret 2011 pagi.

7. Keperluan lain yang bersifat pribadi dan/atau  penambahan/pengalihan akomodasi selama acara tidak ditanggung oleh penyelenggara. Penyelenggara sebatas dapat memberikan rekomendasi pilihan akomodasi jika diperlukan.

8. Undangan dan peserta mempersiapkan alat kerja pribadi (laptop, alat tulis, alat dokumentasi, perlengkapan observasi lapangan)  untuk digunakan sendiri selama pelaksanaan lokakarya.

9. Undangan dan peserta diharapkan siap dengan perlengkapan pribadi,  termasuk jas hujan dan jaket, karena udara di Temanggung cukup dingin.

10. Informasi teknis berikutnya akan disampaikan ke undangan dan peserta.

11. Kontak penyelenggara: Elanto Wijoyono — COMBINE Resource Institution Yogyakarta (joyo@combine.or.id – 0815 7865 8586)

Daftar peserta dan undangan lokakarya “Memikir Ulang Desa – Kota; Jalan Menuju Kelestarian”

1. Akhmad Nasir (COMBINE Resource Institution — Yogyakarta)
2. Alexander Irwan (Ford Foundation – Jakarta)
3. Antariksa (KUNCI Cultural Studies Center — Yogyakarta)
4. Ardian Pratomo (Solo Kota Kita)
5. Dambung Lamuara Djaya (Konsultan Pengembangan Wilayah, Pakar Pemetaan Risiko Bencana – Yogyakarta)
6. Elanto Wijoyono (COMBINE Resource Institution — Yogyakarta)
7. Ferry Agusta Satrio (Tim Supervisi Program Jalinkesra Bapemas Provinsi Jawa Timur)
8. Heidi Arbuckle (Ford Foundation – Jakarta)
9. Hizrah Muchtar (peneliti Building and Urban Design in Development)
10. Iman Abdurrahman (Jaringan Radio Komunitas Indonesia)
11. Marco Kusumawijaya (Rujak Center for Urban Studies — Jakarta)
12. Mart Widarto (COMBINE Resource Institution)
13. Miftahul Arozaq (Pusat Studi Lingkungan Univ. Muhammdiyah Surakarta — Solo)
14. Rama Wisnu Putra (Program Magister Lingkungan dan Perkotaan UNIKA Soegijapranata — Semarang)
15. Saiful Bachtiar (COMBINE Resource Institution — Yogyakarta)
16. Shollahuddin Aly (Manajer Program Advokasi dan Jaringan Kerja Seknas Kaukus 17++ – Solo)
17. Sindu Dwi Hartanto (Manajer Program Peningkatan Kapasitas Seknas Kaukus 17++ – Solo)
18. Suci Handayani (Seknas Kaukus 17++ – Solo)
19. Sudirman Alfian (Kepala Desa Terong, Dlingo, Bantul, D.I. Yogyakarta)
20. Sukiman Mochtar Pratomo (Radio Komunitas Lintas Merapi FM Klaten, Jalin Merapi)
21. Surame (Kepala Desa Tejosari, Ngablak, Magelang, Jawa Tengah)
22. Suryono Herlambang (Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Tarumanegara — Jakarta)
23. Susi Permanawati (Seknas Kaukus 17++ – Solo)
24. Tanti Budhi Suryani (Tifa Foundation — Jakarta)
25. Wasingatu Zakiyah (Institute for Development and Economics Analisys — Yogyakarta)
26. Yuli Kusworo (Jaringan Arsitek Komunitas Yogyakarta)

COMBINE Gelar Rapat Kerja 2011

COMBINE Resource Institution (CRI) saat ini telah memasuki tahun ke-10. Dari waktu ke waktu selalu mencoba untuk menyesuaikan diri dengan perubahan situasi internal maupun eksternal lembaga.

Struktur organisasi CRI pun mengalami pembenahan, dengan formasi empat unit; Unit Pelaksana Program, Unit Pendukung Program, Unit Strategis, dan Unit Sekretariat. Masing-masing bagian dalam tubuh organisasi CRI bersifat saling tergantung (interdependent). Masing-masing unit telah menyusun rencana program. Namun rencana masing-masing unit perlu dirumuskan menjadi program bersama yang bersifat utuh. Program yang telah direncanakan akan berjalan dengan baik jika didukung oleh manajemen organisasi yang memadai.

Untuk mewujudkan poin-poin diatas, maka pada tanggal 22-23 Februari CRI mengadakan rapat kerja periode 2011 di Hotel Brongto, Jl. Suryadiningrat, Yogyakarta. Hadir dalam rapat ini Delima Kiswanti sebagai salah satu board CRI, Didi Sugandi sebagai pendiri CRI, dan Dodo Juliman sebagai pendiri sekaligus Direktur CRI.

Dodo Juliman menegaskan bahwa COMBINE Resource Institution harus mampu menghadapi perubahan yang begitu cepat terjadi di negara maupun dunia. Bahwa saat ini masyarakat dunia semakin menjadi masyarakat informasi (in the making of information society) sehingga lembaga perlu mengeksplorasi model pengembangan masyarakat jejaring yang mampu memecahkan berbagai persoalan yang kini sedang dihadapi oleh masyarakat.  Sebagai contoh bagaimana masyarakat jejaring juga dapat menciptakan ekonomi jejaring yang lebih adil.

Secara singkat digariskan bahwa seluruh platform program COMBINE mengacu pada tujuan besar tertentu. Pasar Komunitas bertujuan untuk kesejahteraan rakyat, Suara Komunitas untuk mendorong kebebasan dalam menyampaikan pendapat, TIKUS DARAT yang fokus pada sistem informasi dan komunikasi kebencanaan memiliki tujuan keselamatan, dan Lumbung Komunitas mendorong terjadinya kemandirian pada program. Inilah 4 khaidah yang akan dijalankan oleh CRI melalui program-programnya. Berdasarkan program inilah maka implementator program menerjemahkannya dalam sebuah rancangan kerja di tahun 2011.

Adapun hal yang baru pada strategi lembaga di tahun 2011 ialah mulai dikembangkannya unit strategis. Unit ini akan melakukan riset, pengembangan model di satu wilayah, serta bekerjasama dengan pemerintah terkait untuk melakukan ujicoba model yang nantinya bisa diterapkan atau menjadi kebijakan yang mampu  memberikan solusi pada masyarakat. Di tahun 2011, COMBINE juga ingin mengembangkan strategi jaringan dan komunikasi yang lebih tertata. Dengan adanya penguatan visi, penajaman rancangan kerja, maka diharapkan tim COMBINE dapat lebih berperan dalam kehidupan masyarakat. ***

Refleksi Jaringan Suara Komunitas di Nusa Tenggara barat

Dinamika situs www.suarakomunitas.net  salah satunya di warnai oleh kehadiran berbagai tulisan yang di kontribusikan oleh anggota-anggota yang ada  di wilayah NTB. Di satu sisi ada kontributor yang berperan begitu aktif dalam mengunggah materi tulisan. Sementara di sisi lain ada yang sangat pasif. Suara Komunitas merasa perlu untuk mengadakan sebuah pertemuan untuk mengidentifikasi hambatan dan tantangan yang dirasakan oleh jaringan kontributor di NTB.

Pertemuan ini  dilaksanakan pada tanggal 4-6 Februari di Balai Pelatihan MTS Model Lombok Timur, tepatnya di jalan Pancor-Masbagik, Dusun Gelang, Kecamatan Sukamulia- Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Lokasi ini berjarak sekitar 56 km kearah timur dari Kota Mataram  Ibukota Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Ada 28 radio komunitas yang diundang, dari total 32 rakom anggota JRK-NTB.  Mereka adalah radio komunitas yang masih aktif melayani komunitasnya. Dari 28 rakom yang diundang, 21 radio komunitas mengirimkan perwakilannya dan selebihnya berhalangan hadir karena terkendala cuaca. Radio komunitas yang hadir yaitu: Ninanta, BKL, Priss, Kompak, Gelora, Spentura, Mitra, Rujakngalun, Talenta, Ampera, SGS, Rakola, Forest, Simponi, Bragi, Pesona, Pantura, SGM, Primadona, dan Melodys.

Pada hari pertama fasilitator mempresentasikan statistik tulisan dari kontributor SK yang ada di wilayah NTB dimana per 31 Januari 2011 terdapat tiga rakom yang memiliki grafik pengunggahan  tulisan yang cukup signifikan yakni:

Gita Swara FM sebanyak 139 tulisan
Bragi FM sebanyak 63 tulisan dan
Talenta FM sebanyak 60 tulisan serta

Adapun grafik yang paling tinggi adalah Primadona FM yang telah mengunggah 488 tulisan. Berangkat dari interval capaian produksi tulisan yang sangat lebar tersebut,  maka fasilitator menggali pengalaman dari radio komunitas yang produktif untuk membagi pengalamannya.

Belajar  dari Radio Komunitas Primadona
Melalui sharing pengalaman tersebut terungkap bahwa kunci keberhasilan Radio Komunitas Primadona   dalam mengangkat berita-berita lokal adalah strategi Primadona dalam menjaring kontributor dari berbagai kalangan, mulai dari tokoh masyarakat, tokoh pemuda, kalangan pemerintah, guru, yang ada di kecamatan Bayan.  Dan pada tahun 2009 terhimpun 35 orang tokoh yang kemudian di ajak berdiskusi tentang berbagai kesenjangan yang ada di tengah masyarakat akibat tersumbatnya arus infotrmasi. sehingga diperoleh kesepakatan bahwa 35 orang tokoh tersebut harus dibekali pengetahuan jurnalistik untuk menghimpun informasi yang berkembang ditengah masyarakat.

Langkah selanjutnya, secara swadaya  dilakukan pelatihan jurnalistik bagi 35 orang tersebut  yang difasilitasi oleh teman-teman dari  JRK-NTB. Dengan penghargaan sertifikat jurnalistik dasar. Setelah memiliki pemahaman yang cukup, ke-35 orang tersebut menjadi simpul informasi (Informan) bagi Rakom Primadona. Informasi dari informan ke Rakom Primadona disampaikan via surat, SMS dan telpon. Informasi tersebut kemudian di edit oleh Radio Komunitas Primadona  dan diunggah ke Web Suarakomunitas, koran Berita, Radar Lombok, Suara NTB dan Acara Lintas Selabar di Rakom Primadona.

Disamping itu pendekatan emosional kepada masyarakat sekitar terus dilakukan, dengan cara  setiap berita yang termuat di Web, Radio dan Koran  dipublikasikan melalui Buletin Rakom yang disebarkan ke setiap simpul informasi/informan serta di pajang di papan informasi PNPM.  Hal ini berdampak pada meningkatnya kepercayaan masyarakat kepada radio komunitas. Terlebih lagi, berita yang dimuat memiliki dampak positif bagi subyek yang diberitakan.

Contoh kasus :
Merebaknya polemik seputar pemangku adat Kecamatan Bayan yang dimuat di berberapa media cetak lokal namun tidak dibarengi dengan pemuatan hak jawab dari salah satu pihak yang berpolemik. Kemudian Web Suara Komunitas memuat hak jawab yang bersangkutan sehngga permasalahan tersebut menjadi jernih dan dapat diterima semua pihak.

Kasus  tersebut adalah salah satu dari berbagai kasus dilapangan yang secara langsung atau tidak langsung berkaitan dengan hajat hidup khalayak/publik, seperti: Kasus ketidak terbukaan Dishubparkominfo dalam mengelola Web Resmi Kabupaten Lombok Utara,  Kasus pernyataan salah seorang anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang terkesan mendiskreditkan radio komunitas,   Kasus penyimpangan PNPM Mandiri, Kasus perubahan besaran dana PNPM GS loloan, dan lain-lain. Seluruh kasus ini direspons sehingga memperoleh solusi yang menguntungkan masyarakat.

Dari kasus tersebut terlihat bagaimana rakom/kontributor memerankan diri tidak saja berperan sebagai  hiburan dan penyalur informasi namun sekaligus menjadi media pendidikan dan  resolusi konflik bagi semua pihak. Dengan demikian kran-kran informasi yang selama ini tersumbat dan berdampak pada kerawanan sosial dapat dihindarkan.

Dengan adanya berbagai kontributor di wilayahnya, maka peran radio komunitas sebagai salah satu media  yang mendorong terjadinya resolusi konflik semakin kuat. Di titin ini, khalayak semakin percaya kepada keberadaan radio komunitas, dan pengelola sendiri semakin terasah kepekaan sosialnya serta terasah keterampilannya dalam mengelola informasi dan komunikasi.

Disisi lain pelajaran  yang dapat dipetik dari dinamika di lapangan adalah betapa pentingnya legalitas bagi kontributor, berupa surat tugas dan kartu pengenal. Hal ini disebabkan identitas mereka masih sering dipertanyakan oleh narasumber, terutama dari kalangan birokrasi.

Hal ini berdampak pada keakuratan, keberimbangan dan aktualitas isi berita, sehingga kontributor menunda pengunggahan tulisannya ke situs suara komunitas.

Contoh kasus:
Kontributor/Jurnalis Rakom Pantura FM dan Suara Genem Meenrten FM, keduanya berprofesi sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) pada saat mereeka mengkonfirmasi materi berita kepada narasumber yang ada  di kalangan birokrasi bahkan seara kebetulan pada instansi dimana mereka berdua bertugas, maka terjadi hambatan emosinal ketika legalitas mereka sebagai jurnalis di ragukan.

Berdasarkan pengalaman para jurnalis warga Suara Komunitas  di wilayah Lombok,  kita dapat memetik pelajaran bahwa dibutuhkan berbagai mediu agar sebuah berita memiliki dampak bagi masyarakatnya. Kemudian pengorganisasian simpul informasi sangat penting untuk menjangkau wilayah kecamatan yang begitu luas, serta memperoleh informasi terbaru. Tidak mudah memang. Namun para jurnalis warga SK telah berjuang untuk masyarakatnya.Salut! *** (Sarwono)

COMBINE Hadiri Jambore JRK Jawa Barat

Jambore Jaringan Radio Komunitas (JRK) Jawa Barat diselenggarakan pada 3-6 Februari 2011 di Radio Komunitas Ruyuk FM, Cinunjang, Mandala Mekar, Jatiwaras, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Jambore JRK Jawa Barat diikuti oleh 21 radio komunitas. Kegiatan ini juga dihadiri oleh sejumlah peninjau seperti VHR, COMBINE Resource Institution, Walhi, Jarik Cirebon, dan JRKI.
Mandala Mekar terletak di pegunungan bagian selatan Kota Tasikmalaya. Untuk menjangkau daerah ini, Anda harus menyusuri jalanan berbatu dan mendaki. Akibat kondisi jalan yang rusak dan naik-turun maka waktu tempuhnya bisa mencapai 3-4 jam dari Tasik.

Keberangkatan Peserta
Peserta bertemu di Terminal Tipe A Tasikmalaya pukul 13.00. Sebagian besar peserta datang dengan angkutan umum Bandung-Tasik, lainnya ada yang dari Cirebon, Yogyakarta, Garut, dengan kendaraan sendiri atau angkutan umum. Di Terminal Tasikmalaya, ada panitia yang menyiapkan dua angkutan Isuzu Elf yang membawa peserta ke lokasi Jambore.

Setengah jam perjalanan, peserta mampir di sebuah rumah makan. Hujan turun sedikit lebat sehingga peserta harus memakai jaket karena udara mulai menusuk kulit. Sajian makannya adalah ayam goreng dan bakar. Rasanya istimewa karena ayam yang dimasak adalah ayam kampung. Antar peserta saling berkenalan dan berbagi pengalaman mengenai pengelolaan radionya. Makan siang ini menjadi pemanasan untuk diskusi selanjutnya di Jambore.

Satu jam berlalu, peserta meneruskan perjalanan. Jalanan mulai naik turun menyusuri lekuk pegunungan Tasikmalaya yang menghijau. Setelah satu jam perjalanan, rombongan memasuki daerah Kecamatan Jatiwaras. Daerah ini  terletak di sebelah selatan kota Tasik.

Pembukaan Jambore
Pembukaan Jambore sangat sederhana. Kru Ruyuk FM menampilkan seni tradisional Cianjuran. Seni Cianjuran merupakan gabungan seni musik dan suara khas sunda. Alat musik yang dimainkan terdiri dari rincik, kecapi, dan seruling. Seluruh lagu yang nyanyikan berbahasa sunda, ada lagu rakyat ada juga lagu ciptaan sendiri. Pentas seni ini bisa dinikmati oleh seluruh warga karena disiarkan secara langsung melalui Ruyuk FM di frekwensi 107.8.

Irman Meilandi, pegiat Ruyuk FM mengatakan radionya menaruh perhatian besar pada komunikasi pembangunan dan pelestarian budaya Sunda. Hal itu terlihat dari komposisi program siaran Ruyuk yang menggabungkan pengelolaan informasi desa, ajang saling sapa, dan hiburan khas sunda. “Radio ini meraih dukungan masyarakat karena mendorong program pembangunan desa. Ada pelestarian budaya, ada juga informasi kegiatan warga desa,” ujarnya.

Peserta Menyatu dengan Penduduk

Penyelenggaraan Jambore JRK 2011 sangat unik. Lebih dari 60 peserta jambore tinggal di rumah-rumah penduduk, lalu sajian yang dihidangkan berasal dari makanan khas Desa Mandala Mekar, seperti ampyang, kembang goyang, kripik ketela, dan pisang.

“Semua keperluan jambore disediakan oleh para pendengar radionya, ada yang menyumbang beras, ikan, bumbu masak, makanan ringan, dan buah-buahan,” jelas Irman.

Hal itu dikuatkan oleh Ayat, penyiar Ruyuk FM. Radio mendorong pemanfaatan tanah desa menjadi hutan desa. Kerja keras Ruyuk tidak sia-sia. Mandala Mekar mendapat Juara II Hutan Lestari tingkat provinsi Jawa Barat dan mendapatkan penghargaan dari Pemerintah Amerika Serikat. Akibatnya, banyak warga dari daerah lain berkunjung dan berlatih di daerah ini.

“Kita senang bisa berbagi pengalaman. Warga papua sering berlatih pertanian di sini, mereka belajar mencangkul dan bercocok tanam selama tiga bulan,” jelas Ayat.

Para peserta jambore mengaku senang dengan cara penyelenggaraan Jambore 2011. Dini Gusmayanti , utusan dari Purwakarta kagum dengan prestasi Ruyuk FM dalam meraih dukungan warga. “Tadi, saya makan sayur jantung pisang dan pakis. Enak banget. Gak ada makanan seperti ini di rumah makan,” ujarnya.

Hal serupa disampaikan oleh Akhmad Rovahan, Ketua Jarik Cirebon. Menurutnya, Ruyuk FM bisa menjadi model radio komunitas yang baik. Ruyuk mampu mendorong warga untuk membangun desanya meskipun Mandala Mekar terletak di daerah pegunungan yang sulit dijangkau oleh angkutan umum. “Salut! Kita bawa pengalaman dari sini ke Cirebon,” tegasnya.

Musyawarah Luar Biasa JRK Jabar
Jumat pagi (4/2/2011), setelah makan pagi bermenu nasi goreng, peserta telah diangkut ke Gedung Olahraga Desa Mandala Mekar yang terletak sekitar 1,5 Km dari studio Ruyuk FM. Jaringan Radio Komunitas (JRK) Jawa Barat menggelar Musyawarah Anggota Luar (Musyanglub) biasa karena ketua mereka, Haris Irnawan mengundurkan diri. Haris memilih fokus pada pekerjaannya sebagai karyawan di sebuah Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Kegiatan ini diikuti oleh 21 radio komunitas.

Acara Musyanglub diawali dengan pendaftaran ulang peserta dan pembacaan surat pengunduran diri. Surat pengunduran diri ketua dibacakan oleh Iwan Kurniawan, Koordinator Advokasi JRK Jabar, karena Haris Irnawan tidak bisa hadir.

“Saya ingin fokus pada pekerjaan dan keluarganya. Setiap Sabtu dan Minggu dia sering ke luar daerah sehingga perhatian ke keluarga saja kurang, apalagi pada JRK Jabar,” demikian alasan Haris Irnawan sebagaimana dibacakan oleh Iwan.

Setelah pembacaan surat pengunduran diri, presidium sidang yang terdiri dari Latif Rohyana, Gini Gusnayanti, Yana Noviandi membacakan laporan inventaris dan keuangan JRK Jawa Barat, tata terbit musyawarah dan agenda sidang Musyanglub.

JRK Jabar Kritisi RUU Penyiaran

Setelah menuntaskan penguatan kelembagaan lewat Musanglub, Jambore JRK Jawa Barat membahas Rancangan Perubahan Undang-Undang Penyiaran yang telah masuk dalam Program Legislasi Nasional 2011 Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. JRK Jawa Barat menyayangkan pasal yang membahas penyiaran komunitas sangat sedikit, bahkan cenderung menempatkannya dalam ruang yang sangat terbatas.

Ketua Jaringan Radio Komunitas Indonesia (JRKI), Iman Abda (36), menjelaskan RUU penyiaran lebih mewakili kepentingan penyiaran niaga. Padahal penyiaran komunitas telah menjadi saranan penting warga untuk menyuarakan aspirasi dan berperanserta dalam pembangunan daerah.

“Radio komunitas menjadi media warga untuk bertukar gagasan. Pemerintah seharusnya mendukung lembaga penyiaran komunitas, bukan mempersempit ruang geraknya.

Penggalangan Dana lewat Organ Tunggal
Penggalangan dana lewat seni musik organ tunggal  hampir gagal dilakukan karena aliran listrik dari PLN mati. Aliran listrik mati sejak pukul 17.00 hingga 20.00. Panitia mencoba menggunakan generator sendiri, namun ada masalah dengan mesin sehingga aliran listrik menyala generator gagal diperbaiki.

Konsep penggalangan dana sederhana melalui lelang lagu. Apabila di malam sebelumnya, Kru Ruyuk yang  menghibur, pada malam ini peserta Jambore mengambilalih peran itu. Acara ini tetap disiarkan secara langsung lewat radio. Secara bergiliran peserta dan warga  bernyanyi lagu-lagu dangdut , baik sunda, melayu, ataupun koplo.  Peserta memberikan sawer atau sumbangan uang agar lagu yang dimintanya itu segera dimainkan. Uniknya, saweran kali ini sembari menyisipkan pesan-pesan pelestarian lingkungan.

“Siapa yang ingin menyumbang pohon? Harga  bibit pohon Rp 1500,-” ungkap seorang Ketua  RT sembari memberikan saweran 2 ribu rupiah.

“Untuk dapat dua pohon butuh satu ribu lagi, siapa yang ingin menambahi  agar pak RT dapat 2 pohon,” lanjut  pembawa acara.

Begitu terus menerus hingga terkumpul dana sebesar Rp 480.000,- pada akhir acara. Dana itu diserahkan pada pegiat Ruyuk FM untuk menggalakan pelestarian hutan di daerah tersebut. Mandala Mekar berhasil menyelamatkan mata air lewat penghijauan swadaya warga yang dikenal dengan Hutan Mandiri. (Yossy Suparyo)

COMBINE Hadir dalam Konferensi AMARC 10, Argentina

AMARC adalah organisasi radio komunitas dunia yang setiap empat tahun sekali menyelenggarakan konferensi yang dihadiri oleh praktisi radio komunitas dan lembaga swadaya masyarakat yang mendampingi radio komunitas. Pada tahun 2010 ini, AMARC menggelar konferensinya yang ke-10 di La Plata, Argentina. AMARC Argentina telah menjadi pelaksana konferensi tersebut. AMARC berdiri 27 silam dan menggelar konferensi pertamanya di Nikaragua.

Konferensi yang dibuka pada tanggal 8 November 2010 ini dihadiri lebih dari 500 peserta dari 87 negara yang terdiri dari praktisi radio komunitas dan berbagai pemangku kepentingan. Inilah untuk pertama kalinya AMARC menyelenggarakan konferensinya di Amerika Selatan. Untuk AMARC, penyelenggaraan ini sangat penting mengingat sejarah perjuangan radio komunitas dimulai di Bolivia, salah satu negara di Amerika Latin.

Steve Buckley, Presiden AMARC membuka konferensi ini dengan memaparkan berbagai aspek yang telah dicapai AMARC selama masa kepemimpinannya. Ia menegaskan bahwa AMARC bekerja untuk memfasilitasi solidaritas internasional diantara pengelola radio komunitas, melindungi radio komunitas ketika mereka berada di bawah ancaman, dan untuk mempromosikan kiprah radio komunitas dalam gerakan sosial. Dalam beberapa tahun terakhir ini telah terjadi kemajuan di bidang regulasi seperti yang terjadi di Argentina, Bangladesh, Colombia, India, jordania, Spanyol, Uruguay, dan yang terbaru adalah Nigeria. Baru pada tanggal 19 Oktober 2010, Presiden Nigeria mensahkan keberadaan radio komunitas di negara yang populasinya terbesar di Afrika. Keputusan ini tidak lepas dari upaya advokasi AMARC sejak berakhirnya diktator militer dan kembalinya sistem pemerintahan yang lebih demokratis. AMARC juga sangat aktif untuk melakukan advokasi bagi radio komunitas yang berada di bawah ancaman, seperti yang terjadi pada radio komunitas di Honduras setelah terjadi kudeta militer. Radio komunitas dari Honduras telah menghadapi represi selama masa-masa tersebut. Dengan terjadinya perubahan iklim dan berbagai bencana yang terjadi di berbagai belahan dunia, maka AMARC pun secara khusus telah mendukung peran radio komunitas dalam mitigasi dan respons terhadap pengurangan resiko bencana. Hal ini dilakukan dalam bentuk penelitian, workshop, analisis, dan juga intervensi langsung ke negara yang terkena bencana seperti Indonesia, Haiti, Pakistan, dan Chili.

Konferensi ini  mengangkat berbagai tema dari mulai hak masyarakat  berkomunikasi  untuk menciptakan kondisi dunia lebih baik sampai dengan peran radio komunitas dalam perubahan iklim, kesetaraan jender, pengelolaan bencana, resolusi konflik, bahasa yang tersingkirkan, perjuangan masyarakat asli, dan lain-lain.  Dalam konferensi ini, peserta dari COMBINE Resource Institution, Ade Tanesia terlibat sebagai komentator dalam sesi panel diskusi mengenai peran radio komunitas dalam pengurangan resiko bencana. Selain itu juga memberikan presentasi mengenai peran radio komunitas dalam membangun perdamaian di wilayah konflik. Ranggoaini Jahja terlibat sebagai narasumber dalam diskusi dengan tema keberlanjutan radio komunitas.